Tampilkan postingan dengan label RAGAM PAPUA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RAGAM PAPUA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Januari 2022

Tokoh Pemuda Merauke Sebut Pemekaran Provinsi Segera Dilakukan

wrtsh papua


Dalam rentetan peristiwa aksi penolakan pembentukan provinsi baru dinilai oleh salah seorang Tokoh Pemuda sebagai cara yang sengaja dilakukan olehnkelomppl separatis untuk menghentikan upaya pemerintah dalam mensejahterakan rakyat Papua. 

Alex Gebze dalam keterangannya mengatakan bahwa upaya pemekaran akan dianggap oleh kelompok separatis sebagai bentuk ancaman tersendiri bagi pergerakannya. 

"Kuncinya adalah kesejahteraan bagi rakyat di Papua, jika hal itu terwujud maka gerakan separatis akan hilang sehingga sudah pasti mereka yang sekarang ada berusaha untuk menolaknya. Saya katakan demikian sebab kelompok separatis sudah pasti akan terdesak dan tidak lagi mendapat simpati raiyat," 

Meski demikian, Gebze menambahkan agar negara tetap diminta mewaspadai aksi penolakan yang tidak menutup kemungkinan akan berdampak menjadi perkara yang lebih luas. Dirinya menyoroti upaya kelompok separatis yang juga menggandeng influencer dan elit politik untuk menciptakan kegaduhan. 

"Saya yakin negara punya caranya sendiri, sebab harus kita sadari bahwa kelompok separatis ini punya banyak cara dan alasan. Bahkan kita kenal disana ada nama Natalius Pigai, sebagai seorang elit politik juga influencer yang dikenal kerap membuat kegaduhan atas setiap permasalahan yang terjadi," 

Sebagai generasi penerus dirinya menjelaskan bahwa pemekaran provinsi adalah salah satu harapan baru bagi Orang Papua untuk mendapatkan kesetaraan dan menerima hak-haknya sebagai warga negara. Alex juga menjelaskan bahwa Papua bagian selatan dianggapnya jarang mendapat perhatian dari pemerintah provinsi. 

"Bisa dibilang Papua bagian selatan ini tumbuh dan besar atas inisiatif orang-orangnya sendiri. Sebab disini kami jarang mendapat perhatian dari orang-orang di provinsi. Tentu dengan pemekaran itu menjadi harapan baru bagi kami khususnya orang Papua yang berada di bagian selatan untuk mendapatkan kesetaraan," 

Alex bahkan mengkritik kinerja seorang kepala daerah setingkat provinsi terkait kehadirannya untuk sekedar menengok langsung kondisi di wilayahnya. Selain faktor jarak yang cukup jauh, faktor terkait administrasi juga membuat Papua bagian selatan jarang terekspos untuk dikembangkan potensi-potensinya. 

"Coba hitung saja berapa kali gubernur mau datang ke Merauke untuk melihat langsung kondisi yang terjadi. Sehingga pemekaran itu penting dilakukan, untuk memangkas birokrasi, mempersingkat waktu, dan juga meningkatkan pelayanan masyarakat sehingga lebih aktif dan tepat sasaran,"

Senin, 27 Desember 2021

Janji Palsu Redupkan Gerakan ULMWP

wrtsh papua


Eksistensi ULMWP dianggap tidak lagi mendapat perhatian besar, selepas mengkampanyekan Green State Vision (GSV) mendapat banyak pertentangan dari berbagai pihak. Menurut salah seorang tokoh senior Papua, Franz Korwa mengatakan keberadaan ULMWP jangan hanya sibuk membodohi rakyat Papua.

“ULMWP punya agenda-agenda yang sudah direncanakan, tapi ternyata setelah kampanye Green State Vision itu pergerakannya justru meredup. Akhirnya semua terbuka kalau ULMWP hanya sibuk membodohi rakyat Papua,”

ULMWP dibawah kepemimpinan Benny Wenda juga didesak tidak bisa terus menerus menjanjikan kemerdekaan bagi Papua. Ditambahkan oleh Korwa bahwa janji-janji yang diumbar Benny Wenda tidak pernah sama sekali pernah terrealisasi.

“Cara Benny Wenda mencari keuntungannya pasti selalu mengumbar janji, dimana-mana berjanji, tapi sampai sekarang tidak pernah terjadi. Coba saja hitung sudah berapa agenda yang dilakukan ULMWP namun tidak pernah ada hasilnya,”

Korwa menyarankan agar ULMWP lebih fokus untuk memerangi kemiskinan di Papua tanpa iming-iming dusta, sebab kondisi tersebut sudah nyata-nyata terjadi dan terlihat dengan mata kepala Benny Wenda sendiri. Benny Wenda juga diminta untuk jangan gelap mata, dan mulai berpikir dengan realistis.

“Jangan lupa kalau di Papua masih berjuang dalam kemiskinan. Lebih baik dia pikirkan itu, dengan catatan tidak perlu menjual harapan merdeka. Kalau masih menjanjikan merdeka tentu percuma, itu tidak tulus. Benny punya kepentingan lain lagi kalau Papua merdeka,”

Jumat, 24 Desember 2021

Topik Pengungsian Jelang Natal sebagai Propaganda Rutin Kelompok Separatis

wrtsh papua


Jelang penutupan tahun 2021 Tokoh Masyarakat Adat Wilayah La Pago meminta agar permasalahan mendasar di Papua dapat segera diselesaikan. Yulius Yikwa dalam sebuah keterangannya menilai jika permasalahan tersebut adalah carut-marut yang menyangkut aksi separatisme. (24/12)

“Permasalahan paling mendasar adalah separatisme, kelompok tersebut selalu berseberangan dengan pemerintah. Sehingga yang terjadi sampai saat ini adalah Papua ini seakan tidak pernah damai,”

Yulius menambahkan bahwa permasalahan terkait aksi separatisme sudah semakin menyematkan stigma bahwa Papua adalah wilayah rawan konflik. Menurutnya Papua seolah-olah hanya diperjual belikan dengan memanfaatkan sorotan negatif.

“Hanya karena sudut pandang tentang Papua itu besar dilihat karena ada kelompok separatis, anggapan itu muncul. Saya menduga kalau Papua ini sedang dijual-belikan untuk kepentingan-kepentingan,”

Yulius juga mengatakan jika kabar terkait pengungsian selalu menjadi perhatian jelang perayaan natal di Papua. Dirinya menegaskan jika aksi tersebut hanya merupakan propaganda yang gencar dilakukan kelompok separatis, bahkan Yulius menelaah jika aksi tersebut terjadi dan lebih disebabkan karena eksistensi kelompok separatis.

“Setiap akhir tahun dan natal itu pasti ada saja berita tentang pengungsian, tapi yang perlu kita semua sadari bahwa mengapa pengungsian itu bisa terjadi? jawabannya adalah karena ada pengaruh kelompok separatis disana,”

Yulius sebagai Tokoh Adat La Pago juga menegaskan kepada kelompok separatis bahwa jangan seolah-olah menjadi korban dari sebuah peristiwa, padahal kelompok tersebut adalah pelaku utama yang menyesatkan. Dirinya mengatakan bahwa sudah banyak dampak buruk yang terjadi hanya dikarenakan aksi buruk dari kelompok separatis.

“Jangan berpura-pura menjadi korban, mereka (kelompok separatis) itu justru pelakunya. Jangan mengorbankan orang Papua, sampai sekarang ini sudah banyak orang yang menderita hanya untuk menuruti kemauan kelompok separatis,”

Senin, 20 Desember 2021

ULMWP Hanguskan Kepercayaan Rakyat Papua

wrtsh papua


Deklarasi New Guinea Raad (NGR) di Kabupaten Dogiyai diketahui sebagai bentuk perlawanan terhadap ULMWP. NGR juga mengisyaratkan bahwa ULMWP tidak lagi mendapat dukungan dari rakyat Papua.

Juru Bicara Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Ones Suhuniap dalam keterangannya menyebutkan jika deklarasi NGR tersebut telah difasilitasi KNPB. Dirinya menambahkan jika upaya tersebut berkaitan untuk mengganti peran Parlemen Rakyat Daerah (PRD).

"Memang kami juga ikut masuk dalam kegiatan itu, tujuan utamanya memang mau menggantikan PRD yang selama ini sudah gagal. PRD tidak bekerja dan wajar jika perjuangan ini jalan di tempat,"

Ones juga menegaskan jika kedudukan NGR bersifat berdiri sendiri tanpa ada intervensi dari pihak manapun termasuk ULMWP. Hal tersebut yang dianggapnya akan memantik pergerakan levih masif tanpa adanya kepentingan lain yang akhirnya hanya akan menghambat.

"NGR tidak punya kepentingan dengan pihak manapun, tidak ada yang bisa mengganggu upaya dari NGR, termasuk yang datang dari ULMWP juga. Semua murni pemikiran orang-orang kami dalam memperjuangkan hak orang Papua,"

Ones juga menjelaskan bahwa saat ini ULMWP sedang mengalami masa krisis sebab sudah tidak lagi memiliki dukungan bahkan dari rakyat Papua pada 7 wilayah adat. Menurut Ones hal tersebut diakibatkan ULMWP hanya memanfaatkan peluang untuk kepentingan pribadi.

"Rakyat sudah pernah dibuat percaya, tapi dalam perjalanannya semua habis begitu saja. ULMWP tidak mampu menjaga mandat itu, akhirnya rakyat yang pergi dan tidak lagi percaya,"

Ones bahkan menganggap jika pergerakan yang dilakuka  ULMWP sudah sangat keterlaluan dan semaunya sendiri. Padahal dalam memperjuangkan pembebasan Papua dikenal juga upaya dalam pergerakan senjata ataupun jalur-jalir diplomasi lainnya.

"ULMWP tidak pernah mengakui organisasi lain, mereka ini keterlaluan. Bahkan organisasi yang dianggap tidak mendukung ULMWP akan terus dilemahkan lewat penciptaan organisasi lain sehingga membentuk dualisme yang kacau,"

Jumat, 10 Desember 2021

Pembunuhan Nakes Dilupakan, Aksi Hari HAM Tidak Murni Dukung HAM

wrtsh papua


Orasi dalam peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia yang digelar oleh para mahasiswa Universitas Cenderawasih di halaman Gedung Pasca Sarjana dinilai sebagai karena salah presepsi dalam memahami dinamika di Papua. aksi tersebut juga dianggap sarat kepentingan terkait dukungan gerakan separatisme di Papua. (10/12)

Salah seorang tokoh senior Papua Agustinus R mengatakan bahwa aksi mahasiswa tidak didasari oleh keadaan yang sebenarnya, sebab seluruh isi pendapat yang dikemukakan hanya semata-mata untuk mendukung pihaknya sendiri.

“Hari ini kalian bicara HAM, genosida, pembunuhan, operasi militer, tapi kalian lupa bicara kalau ada tenaga kesehatan yang harus menemui ajalnya dengan cara yang tidak manusiawi karena dibunuh bahkan sebelumnya sempat diperkosa oleh gerombolan TPNPB-OPM, genosida itu adanya di Australia,”

Agustinus juga mendesak atas peristiwa kematian Pdt. Masmur yang dibunuh dengan cara tidak wajar karena polemik atas kepentingan. Bahkan kasus kematian Pdt. Masmur diketahui sempat menyeret nama Ketua Sinode KINGMI yang Lama, Benny Giay.

“Jangan karena Benny Giay adalah salah satu orang yang memihak gerakan separatis maka kalian tidak mau membahasnya. Padahal kamatian Pdt. Masmur itu sudah tidak wajar, dia dibunuh, artinya ada pelanggaran HAM disana,”

Agustinus menambahkan bahwa aksi yang dilakukan oleh mahasiswa Uncen tersebut tidak akan mendapat perhatian lebih dari dunia luar. Dirinya menuduh mahasiswa hanya pintar berbicara tanpa mampu bekerja dan berbuat lebih untuk kesejahteraan masyarakat di Papua.

“Memang paling mudah itu hanya menuduh, saking sibuknya menuduh mereka lupa diri sendiri. Kalian bicara tinggi tapi tidak mungkin bisa melaksanakannya, kalian cuma terlihat pintar karena banyak bicara. Saya yakin aksi ini tidak akan dapat banyak perhatian karena omong kosong saja semua isinya,”

Aksi yang diketahui juga tersisipkan kampanye tentang Papua merdeka tersebut juga membuat Agustinus merasa geram. Dirinya justru mempertanyakan tujuan mahasiswa menuntut kemerdekaan bagi Papua.

“Kalian hanya sibuk teriak merdeka, padahal orang lain sudah beranjak untuk bekerja dan tentu meninggalkan kalian orang-orang yang tidak mau maju. Kalian memang tidak mampu bersaing, makanya hanya bisa melihat kesuksesan orang lain dengan iri dan dengki,”

Sebab Agustinus berkeyakinan bahwa kemerdekaan bagi Papua bukan satu-satunya faktor yang dapat membuat masyarakat menjadi sejahtera. Sebab etos kerja dari masyarakatnya sendiri yang akan membuktikan bagaimana daerah tersebut dapat terpacu untuk berkembang. Agustinus menganggap jika janji-janji yang diumbar oleh Benny Wenda telah mempengaruhi pola pikir masyarakat Papua.

“Mereka yang bangga menjadi bagian dari aksi separatis sudah dibutakan janji-janji yang selalu disuarakan Benny Wenda, padahal mau Papua merdeka atau tidak, kalau orang-orangnya tidak mau bekerja ya pasti tidak akan berubah, kalian pikir kalau merdeka makanan bisa datang sendiri?”

Kamis, 09 Desember 2021

Mahasiswa Rawan Dimanfaatkan Kepentingan Elit Papua

wrtsh papua


Tokoh senior Papua mengingatkan agar kedudukan mahasiswa tidak mudah dipermainkan oleh elit politik. Franz Korwa menilai mahasiswa di Papua rawan dimanfaatkan demi kepentingan.

"Peran mahasiswa memang besar, tapi jangan pernah kalian dimanfaatkan. Elit politik itu punya seribu cara untuk kepentingannya,"

Mahasiswa juga dianggap perlu objektif untuk menilai peristiwa di Papua. Kecuali mahasiswa adalah bagian dari kelompok separatisme yang sudah menjadi momok di Papua.

"Jangan ketika mahasiswa dapat untungnya saja baru ramai melakukan aksi. Mahasiswa harus objektif, buktikan kalau kalian memang generasi yang berpendidikan, kecuali memang mereka bagian dari kelompok separatis itu,"

Sebab menurut Korwa peristiwa penyerangan yang dilakukan kelompok separatis kepada tenaga kesehatan di Kabupaten Pegunungan Bintang bahkan tidak pernah ditentang atau mendapat protes dari mahasiswa.

"Kalau memang mahasiswa itu sebagai aktivis kemanusiaan, dimana mereka kemarin waktu kelompok separatis membabi buta melakukan aksi tidak manusiawi kepada tenaga kesehatan di Kiwirok? Kenapa tidak bikin aksi?"

Korwa kemudian meminta kepada mahasiswa untuk fokus dan lebih mementingkan proses belajar demi masa depan yang lebih baik.

"Ingat kalau mahasiswa itu generasi penerus, jadi lebih baik kalian belajar saja yang rajin. Bawa Papua menjadi daerah yang lebih maju lewat peran positif yang kalian miliki,"

Sambut Hari HAM, Pastor John Bunay Himbau Ibadah dari Rumah

wrtsh papua


Cnnindonesia.com
Tokoh Agama Minta Jaga Protokol Kesehatan Selama Desember
09/12/21 10:46

Pastor John Bunay menampik adanya informasi terkait undangan kepada masyarakat di Jayapura untuk menghadiri kegiatan doa jalan salib dan ibadah oikumene di Lapangan Zakeus Tunas Harapan Padang Bulan. (9/12)

"Memang sebelumnya kami agendakan demikian, tapi panitia penyelenggara punya pertimbangan lain dengan masa pandemi ini. Jadi panitia memutuskan untuk melakukan ibadah dari rumah saja"

Dirinya juga mengungkapkan jika pandemi virus corona menjadi pertimbangan yang sangat serius.

"Kami yakin karena bulan Desember ini adalah bulan yang dinanti-nanti, kemungkinan dari antusiasme masyarakat pasti banyak. Makanya ini harus dipertimbangkan, apalagi terkait pandemi"

Meski demikian, Pastor John mengatakan bahwa ibadah yang direncanakan akan digelar pada 10 Desember tetap dapat dilakukan oleh masyarakat namun di rumah masing-masing.

"Kita bisa beribadah dan berdoa  kapan saja, dan dimana saja, silakan besok beribadah di rumah masing-masing, kita hindari kerumunan yang bisa berdampak kepada penyebaran covid-19"

Dirinya juga menegaskan yang terpenting adalah kita bisa berdoa untuk tanah Papua agar lebih aman dan damai.

Seruan Doa Dalam Rangka Memperingati Hari HAM Sedunia.

wrtsh papua


Syaloom, salam dalam kasih Kristus untuk kita semua umat pilihan Allah di atas tanah Papua, saya Pastor Jhon Bunay. Pr, bersama ini mengajak dam menghimbau kepada saudara - saudara saya umat pilihan Allah di atas tanah Papua untuk bersama - sama dapat mengambil bagian dalam kegiatan doa dalam memperingati hari HAM sedunia besok hari Jumat 10 Desember 2021 dengan cara mengambil langkah untuk berdoa dalam penanganan HAM di atas tanah Papua, doa dilakukan secara serentak di rumah masing - masing pada hari Jumat tanggal 10 Desember 2021, tepat Pukul. 10.00 WIT hingga pukul. 11.00 WIT.

Saatnya kita umat pilihan Allah bergerak dan bertindak menunjukan kasih Kristus di atas tanah ini dalam permasalahan HAM dan sekarang waktunya panji - panji Kristus ditegakkan dalam penanganan HAM di Papua ini, kita semua umat pilihan Allah harus bersatu didalam doa dan biarkan kuasa Allah mengalir di atas tanah ini.

INGAT!! Hari Jumat tanggal 10 Desember 2021, pukul. 10.00 WIT - 11.00 WIT, sempatkan waktumu untuk berdoa dari rumah masing-masing untuk tanah Papua.

Jayapura, 9 Desember 2021.

Pastor Jhon Bunay., Pr.

Senin, 29 November 2021

Tolak 1 Desember, Tokoh Adat Papua Serukan Pernyataan Sikap

wrtsh papua


Peringatan 1 Desember yang diklaim sebagai hari kemerdekaan bagi kelompok separatis di Papua nyatanya tidak sepenuhnya mendapat pengakuan dan dukungan dari orang Papua. Selain aksi yang dilakukan selalu berkaitan dengan tindak kekerasan dan intimidasi, menurut sejumlah Tokoh Adat di Kabupaten Keerom, bahwa saat ini sudah bukan menjadi era untuk berselisih terkait perebutan status wilayah/negara.

Tokoh Adat Papua Wilayah Kabupaten Keerom dalam sebuah pernyataan dihadapan media mengungkapkan bahwa eksistensi kelompok separatis telah ditentang dan tidak lagi didukung oleh masyarakat Papua. Menurutnya masyarakat sudah tumbuh kesadaran karena merasa hanya dimanfaatkan oleh kelompok separatis dalam aksi-aksinya.

“Karena memang tidak ada yang didapat dari mendukung aksi separatis itu, akhirnya masyarakat mulai sadar dan tidak lagi peduli. Jadi untuk 1 Desember kami rasa itu bukan lagi ancaman, hari akan terus berjalan dan terlewat begitu saja,”

Herman Yoku bersama dengan empat empat Tokoh Adat Papua yang bahkan salah satu diantaranya adalah mantan pemimpin Organisasi Papua Merdeka (OPM) juga menegaskan jika 1 Desember tidak akan mendapatkan simpatik dari masyarakat. Meski demikian, dirinya tetap meminta kepada aparat keamanan untuk terus menjaga situasi keamanan karena faktor ancaman yang mungkin masih akan terjadi.

“Memang tidak bisa dibilang juga kalau gerakan separatis itu sudah hilang total, hanya orang-orang saja yang sekarang tidak lagi simpatik. Kalau memang ada, mungkin tidak banyak, kami yakin hanya segelintir kelompok saja, jadi tetap kami minta aparat kemanan TNI-Polri untuk terus bersiaga,”

Selain itu Herman juga membacakan lima pernyataan sikap menanggapi situasi menjelang 1 Desember di Papua. Diantara poin-poin tersebut adalah:

1. Mengajak seluruh element masyarakat Papua khususnya dan umumnya masyarakat Indonesia untuk menolak HUT OPM pada tanggal 1 Desember.

2. Meminta kepada semua pihak keamanan agar dapat menindak tegas setiap adanya kelompok yang akan merayakan HUT OPM.

3. Menolak dengan tegas kelompok separatis yang sering menyengsarakan masyarakat dan menghambat pembangunan.

4. Mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, NKRI sudah final dan Papua tetap berada dalam pangkuan NKRI.

5. Papua tetap merah putih, Papua NKRI, Papua Damai.

Sebagai Tokoh Adat yang bertanggung jawab terhadap masyarakat adat di Kabupaten Keerom, Herman Yoku mengungkapkan jika pihaknya mendukung segala upaya negara untuk memajukan Papua. Dirinya menolak dengan tegas kelompok separatis yang hanya bisa melakukan gangguan dan menghambat proses kemajuan.

Pelurusan Sejarah 1 Desember di Papua

wrtsh papua


Momen peringatan tanggal 1 Desember di Papua dianggap oleh salah seorang tokoh senior Papua sebagai bentuk kekeliruan yang mengakar. Menurut Herman Yoku sejarah peringatan 1 Desember yang selalu digaungkan oleh kelompok separatis secara tidak langsung sudah membelenggu pemikiran orang Papua.

“Setiap mendekati 1 Desember itu pasti aktivis-aktivis, simpatisan, atau setiap orang yang mendukung aksi separatisme di Papua selalu mengklaim hari itu sebagai hari kemerdekaan. Padahal faktanya tidak seperti itu, sejarah 1 Desember bukan seperti apa yang mereka pikirkan,”

Menurut Herman Yoku peringatan 1 Desember di Papua harus diluruskan dari sejarah sebenarnya, dirinya mengatakan jika peringatan 1 Desember adalah bentuk propaganda dari Belanda untuk sengaja menciptakan konflik di Papua. Momen tersebut juga dianggap sudah terlalu membodohi sebagian generasi Papua yang tidak memahami sejarah secar autuh.

“Selama ini mereka mengklaim sebagai hari ulang tahun, padahal ada kekeliruan dari pemahaman yang tidak utuh. Sejarah 1 Desember itu ibarat propaganda Belanda yang sengaja menciptakan konflik di Papua, sayangnya sampai hari ini masih ada sebagian generasi di Papua yang mempercayainya,”

Menurut tokoh yang juga merupakan anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) tersebut, simbol Bintang Kejora yang diyakini menjadi bendera negara hanya merupakan kreasi sebagai bendera tim sepak bola asal Nafri.

“Bisa dibilang agak lucu, bendera negara hanya diadopsi dari bendera klub sepak bola. Corak bendera Bintang Kejora itu sudah lebih dahulu digunakan klub sepak bola asal Nafri, jadi dibagian bintang awalnya adalah gambar bola,”

Herman Yoku menegaskan jika sudah saatnya generasi penerus di Papua memahami sejarah dan asal muasal kaumnya. Mendukung aksi separatisme dengan membangga-banggakan simbol Bintang Kejora sudah membangkitkan rasa sakit masa kolonialsme Belanda di Papua. Sebab sejatinya orang Papua adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan seluruh orang-orang di Nusantara. 

Minggu, 28 November 2021

Tokoh Papua Sebut Dewan Gereja Layak Dibubarkan

wrtsh papua


Pergerakan kelompok separatis di Papua diketahui sering melakukan upaya tipu daya dengan menyebarluaskan kabar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Meski muatan berita yang dipublikasi dianggap tidak relevan dengan fakta sebenarnya, hal tersebut dapat mengancam situasi keamanan di Papua.

Menurut salah seorang Tokoh Papua Agustinus R, dirinya menyakini jika upaya kelompok-kelompok yang terafiliasi dengan separatisme sengaja menyebarkan informasi palsu karena dianggap tidak memiliki cara lain untuk mengangkat eksistensi pergerakan. (28/11)

“Memang yang paling mudah itu melakukan klaim atau mengubah konteks informasi untuk kepentingan pribadi. Hal-hal seperti itulah yang sering dilakukan kelompok separatis di Papua. Padahal kalau ditelaah secara mudah saja, kabar yang disebarkan tidak pernah masuk akal,”

Agustinus menyayangkan jika kondisi tersebut juga diperparah oleh keterlibatan para tokoh agama yang menamai kelompoknya sebagai Dewan Gereja Papua. Menurutnya keberpihakan keberpihakan Dewan Gereja kepada kelompok separatis ternodai karena membawa pengaruh agama.

“Sebenarnya memang hak setiap orang untuk berpendapat dan menentukan, termasuk dalam sisi perjuangan bagi Papua. Namun yang sangat keterlaluan adalah cara Dewan Gereja dalam melakukan aksinya, mereka juga menyabarkan berita yang tidak tepat,”

Dirinya juga mengkritisi salah seorang tokoh Dewan Gereja Papua, Socratez S. Yoman dinilai oleh Agustinus sebagai pendeta yang tidak cakap dalam memandang situasi yang terjadi.

“Saya soroti Socratez secara pribadi, sebab sudah sering sekali dia melakukan hal-hal yang sudah merugikan bahkan bagi pihaknya sendiri. Berulang kali juga Socratez ini seolah-olah melakukan somasi atas sebuah peristiwa, namun dia tidak pernah tahu masalah yang sebenarnya. Maka akhirnya yang keluar dari mulut SOcratez hanya provokasi-provokasi,”

Lebih lanjut, Agustinus mengatakan jika masyarakat tidak perlu mempedulikan Socratez ataupun kelompoknya, menurutnya Dewan Gereja hanya sebuah perkumpulan orang yang mengaku sebagai tokoh agama yang mengusung misi lain termasuk upaya ‘mencari panggung’.

“Tidak perlu lagi kita pedulikan orang-orang disana. Masih lebih banyak para pendeta yang penya pemikiran lebih matang untuk menyelesaikan konflik-konflik di Papua. Dewan Gereja ini rawan sekali, mereka juga seperti kelompok politisi yang bergerak hanya kemana mereka akan mendapat untung,”

Agustinus juga menegaskan jika Dewan Gereja yang berlatang belakang sebagai salah satu organisasi yang mendukung aksi separatisme di Papua harus ditolak, bahkan dirinya menyebut jika upaya pembubaran dapat dilakukan demi kebaikan.

“Jika tidak bisa memberi pengaruh lebih, padahal mereka adalah tokoh, maka lebih baik dibubarkan saja. Tentu negara punya mekanismenya nanti, apalagi Dewan Gereja ini organisasi yang berkaitan dengan aksi separatisme menentang NKRI,”

Sabtu, 27 November 2021

Seruan Dewan Gereja Papua Dipersoalkan

wrtsh papua


Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom dalam sebuah keterangannya mengungkapkan jika perjuangan pembebasan Papua jangan dikotori dengan kontestasi dan kepentingan kelompok. Keresahannya tersebut muncul melihat upaya segelintir orang yang seolah-olah sedang menjual nama Papua.

Sebby mengatakan bahwa orang Papua memiliki martabat sejak diturunkan oleh para orang-orang tua terdahulu. Oleh sebab itu dirinya tegas memegang teguh bahwa perjuangan untuk pembebasan Papua tidak boleh dilakukan dengan menjatuhkan nama Papua. (25/11)

“Berjuang itu perlu memang harus ada yang dikorbankan, bisa darah, keringat, pemikiran. Tapi jangan sekali-sekali kita mengemis, itu sudah menjatuhkan martabat orang Papua. Kita punya nama yang besar, jangan malah dijatuhkan oleh orang Papua sendiri seakan kita sedang terpuruk dan tidak berdaya,”

Pernyataan Sebby Sambom tersebut diduga menyinggung soal seruan Dewan Gereja Papua menanggapi dinamika yang terjadi di Papua. Dirinya menilai bahwa aksi tersebut telah melecehkan semangat perjuangan. (21/11)

“Memang punya hubungan dengan ULMWP, kalau konteksnya (berjuang) lewat jalur diplomasi itu cukup bisa dibenarkan. Mereka mengadopsi jalur diplomasi tapi tidak bisa mengimplementasikannya, Dewan Gereja justru melecehkan semangat perjuangan,”

Menanggapi seruan yang dikeluarkan Dewan Gereja Papua, salah seorang tokoh senior menjelaskan jika aksi tersebut hanya sekedar memanfaatkan situasi berkaitan dengan Imam Katolik Keuskupan Timika yang sebelumnya membuka pernyataan atas aksi-aksi separatisme di Kabupaten Intan Jaya. (26/11)

“Yang saya perhatikan juga Dewan Gereja ini cuma sekedar ikut-ikutan seperti yang dilakukan Imam Katolik di Timika (31/10) dulu. Sebab kedua hal itu sangat berbeda, kalau Dewan Gereja memang mereka tidak sedang berbicara demi kebaikan, bisa dikatakan mereka itu provokator,” 

Korwa juga menjelaskan jika narasi miring yang dianggap kontroversi selalu digulingkan kelompok yang terafiliasi dengan gerakan pembebasan Papua ketika aksi-aksi yang bersinggungan dengan penggunaan senjata dianggap mengalami kebuntuan.

“Memang kondisinya harus demikian, saya melihat kalau tidak ada konflik bersenjata maka akan muncul kelompok-kelompok yang membuat panas dengan kontroversi. Kelompok ini (Dewan Gereja) yang membuat Papua terasa tidak pernah terasa damai. Padahal mereka ini tokoh agama, seharusnya punya tanggung jawab moral disana,”

Korwa mengkritik aksi Dewan Gereja yang dimotori oleh Benny Giay, Andrikus Mofu, Dorman Wandikbo, dan Socratez Yoman. Menurutnya kelompok Dewan Gereja yang diisi oleh para pendeta tersebut sudah mencederai hakikat dan prinsip agama yang seharusnya bisa membawa kedamaian.

“Dewan Gereja bukan memberi jalan tengah untuk kedamaian namun justru terus menjaga api konflik, hal seperti ini harus selalu dikritik karena sudah menggeser hakikat dan prinsi dalam agama,”

Korwa juga membantah pernyataan Dewan Gereja terkait pembatasan atas hak-hak dasar orang Papua. Justru menurutnya yang terjadi terhadap orang Papua saat ini adalah momen degradasi mental. Korwa menegaskan jika seluruh orang Papua memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mengembangkan diri.

“Tidak pernah ada pembatasan, semua orang punya kesempatan yang sama. Hanya saja degradasi mental sedang terjadi, kembali lagi pada propaganda dari kelompok separatis misalnya, mereka selalu sesumbar kehidupan yang lebih baik, tentang kekayaan alam yang bisa mensejahterakan Papua, secara tidak langsung opini-opini seperti itu telah membentuk orang Papua menjadi malas,”

Jumat, 19 November 2021

Selamat Tinggal KNPB, Sumber Pembodohan

wrtsh papua


Michelle Kurisi: Banyak Peluang Yang Bisa Dimanfaatkan Bagi Perempuan Papua

"Saya ingin memberikan masukan untuk manajemen Freeport khususnya bagi mereka yang bekerja untuk program CSR agar bisa membuat program yang berdampak langsung terhadap kehidupan perempuan di lingkungan kerja Freeport terutama perempuan asli Papua seperti pengembangan SDM, sekolah untuk menjadi cheff, barista atau ilmu untuk usaha UMKM, biar perempuan Papua bisa bersaing dengan dunia luar," (Ungakapn Michelle Pada Salam Papua 17 November 2021)

Siapa sebenarnya Michelle Kurisi?

Nama lain Michelle adalah Misel Doga Kurisi adalah seorang perempuan asli Papua suku Wamena.

Missel pernah terdaftar dalam pergerakan kelompok KNPB yang banyak menyuarakan isu Papua Merdeka, namun pada tahun 2019 menjadi aktifis dan banyak menyuarakan hak-hak orang asli Papua khususnya perempuan dan anak.

Melihat pergerakan kelompok KNPB yang tidak ada manfaatnya, Missel meninggalkan KNPB, demi orang banyak Missel melakukan perubahan besar dalam hidupnya yang lebih bermanfaat lagi.

Tahun 2020 Missel membuat usaha air mineral dan kopi, dengan usaha yang dimilikinya saat ini Missel telah membuka peluang pekerjaan bagi anak-anak Papua untuk mengembangkan sumberdaya manusia, dan menjadi motivasi bagi anak-anak Papua pada umumnya.

"Merubah pola pikir Politik ke Ekonomi merupakan visi dari Missel"

Dengan perubahan pola pikir Politik menjadi Ekonomi Missel telah mengkaryakan beberapa anak-anak Papua yang sebelumnya punya pandangan dan pemikiran sejalan dengan KNPB.

Beberapa program-program yang dijalankan oleh Missel seperti, kenaggunan perempuan Papua lewat cafe Komoro, 10 Mahasiswa Eksodus menjadi Barista dan instruktur alat berat di Freeport, program cinta bangsa dan Pancasila.

Dengan banyaknya perubahan pola pikir yang meninggalkan organisasi KNPB oleh beberapa anak-anak mantan KNPB, hal ini membuktikan kalau organisasi KNPB tidak memberikan manfaat yang baik dan benar kepada generasi muda Papua kedepannya.

Di hari ini saya mau katakan "Selamat Tinggal KNPB, Organisasi Yang Telah Merusak Orang Papua"

Merubah Pola Pikir Politik Menjadi Ekonomi, Tinggalkan KNPB

#KNPB_OtakKerusuhan

#KNPB_MatiSudah

Minggu, 14 November 2021

Pendekatan Polri yang Persuasif dan Humanis dalam Menjaga Kamtibmas

wrtsh papua


Upaya propaganda yang dilakukan KNPB terkait pertemuan Agus Kossay dengan pihak Kepolisian dianggap sejumlah tokoh sebagai bentuk dramatisir yang berlebihan. Menurut Jan Christian Arebo sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Pemuda Adat Papua, dirinya mengatakan jika konteks pertemuan tersebut hanya bersifat menjaga keharmonisan dan kondusitas situasi keamanan bagi masyarakat. (14/11)

“Misi mencegah, mengantisipasi, dan mengeliminasi dinamika kamtibmas menjadi poin yang penting. Pertemuan itu hanya untuk menjaga harmoni demi kondusifitas situasi keamanan, karena hadirnya rasa aman menjadi hak bagi setiap orang yang dijamin undang-undang,”

Dilihat dari dasar dibentuknya KNPB sebagai organisasi terafilitasi dengan gerakan separatisme, Jan Arebo menyebutkan jika KNPB kerap membuat pernyuataan yang merendahkan institusi bahkan negara, hal tersebut belum termasuk aksi nyata yang dilakukan KNPB. kerusuhan di Jayapura dan Wamena atau di Sorong dan Manokwari adalah akibat yang harus dibayar dari setiap aksi yang ditunggangi KNPB.

“Kerusuhan di beberapa tempat akibat aksi ditunggangi oleh KNPB, atau upaya memaksakan kehendak dengan tuntutan membebaskan Victor Yeimo baru-baru ini juga telah nyata dilakukan KNPB,”

Jan Arebo menyebutkan konflik yang terjadi dengan melibatkan unsur kekerasan tidak bisa selalu dikedepankan, sehingga muncul secara alami istilah resolusi konflik. Menurutnya dalam resolusi konflik ada beberapa tahapan yang bisa dilakukan, yaitu negosiasi, mediasi, dan pengambilan keputusan berdasarkan konsensus. Berdasarkan hal tersebut, menurutnya upaya yang dilakukan oleh Kepolisian masih dalam tahap negosiasi sehingga antar kedua pihak dapat bersepakat untuk tujuan yang saling menguntungkan.

Lebih lanjut, Jan Arebo menjelaskan jika sebelum permasalahan atau konflik terjadi, maka ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meredamnya. Hal tersebut adalah identifikasi dan upaya pencegahan. Namun jika konflik sudah rawan terjadi, upaya yang perlu dilakukan adalah penanganan hingga pemulihan pasca konflik.

“Upaya harus dimulai dari identifikasi potensi konflik, baru pencegahan konflik. Setelahnya penghentian konflik dan pemulihan. Maka upaya kepolisian dalam konteks yang terjadi sudah benar dan sesuai dengan ketentuan undang-undang, KNPB teridentifikasi dan Kepolisian berupaya mencegahnya,”

Dalam pandangannya, setelah mengamati realitas konflik sosial/politik di Papua yang lekat pada perspektif ideologi pembebasan Papua, Jan Arebo juga menambahkan perlu dibentuk sebuah tim terpadu untuk menangani permasalahan yang terjadi jika memang hal tersebut diharuskan.

“Jika memang diharuskan, maka perlu dibentuk sebuah tim terpadu untuk memediasi konflik yang terjadi agar tercipta konsensus politik agar menciptakan situasi kondisi yang kondusif, demi aman terkendalinya kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,”

Sabtu, 06 November 2021

Harapan Baru KINGMI Selepas Digantinya Benny Giay

wrtsh papua


Pdt. Dr. Benny Giay yang memegang kuasa selama dua periode sejak tahun 2010 sebagai Ketua Sinode Gereja KINGMI saat ini secara resmi telah melepas jabatannya. Dalam penyampaiannya pada Konferensi Sinode XI di Gereja KINGMI Jemaat Martin Luther Amungsa, Timika, (4/11) Benny mengatakan jika Gereja KINGMI dianggap mengalami banyak perkembangan dan kemajuan.

Kemajuan yang disampaikan Benny Giay adalah semakin terbukanya pemikiran masyarakat untuk melihat kehidupan. Dirinya meyakini jika sudah semakin banyak keluarga KINGMI yang mulai memiliki kesadaran dan melihat perubahan. Benny sedikit mencontohkan perubahan tersebut adalah sudah banyak keluarga jemaat yang mulai menabung sebagai investasi untuk kehidupan dimasa yang akan datang.

Meski demikian Benny Giay tidak menampik jika terdapat beberapa faktor lain yang dianggapnya masih cukup tertinggal, hal itu disebutkan oleh Benny adalah faktor pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan relasi dalam lingkungan jemaat. Empat 

Pernyataannya tentang empat factor ketertinggalan sebelumnya dianggap beberapa pihak sebagai pernyataan yang tidak tahu malu. Hal itu sama dengan mengubur diri dalam lubang yang digalinya sendiri. Perubahan oleh masyarakat adalah sesuatu yang lumrah terjadi tanpa perlu campur tangan para pemimpinnya. Sebab kebutuhan mendasar secara tidak langsung akan menuntun bagaimana jemaat memilih jalan hidupnya melalui pola pikirnya masing-masing.

10 tahun sudah berlalu tanpa ada aksi nyata yang dilakukan oleh Benny Giay terhadap KINGMI. Benny Giay hanya bisa mengklaim kemajuan dari hal-hal yang tidak substansial. Padahal seharusnya dirinya sadar jika bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi jemaatnya harus dipikirkan. Kedudukannya dianggap tidak memberi pengaruh besar bagi KINGMI, sebab satu dekade waktu yang sudah dihabiskan tidak membuktikan perubahan yang berarti dalam tubuh KINGMI.

Ternyata kingmi tidak lebih besar darinya. Benny Giay dianggap lebih memikirkan eksistensi dirinya sendiri. Benny memilih untuk mencampuri urusan politik dengan menjadikan agama dengan simbol-simbolnya sebagai tameng. Keterlibatan Benny Giay dalam dunia politik praktik tercatat sudah beberapa kali membuat situasi Papua menjadi panas-dingin. Menggerakkan pemikiran dan mendorong kebencian acapkali dilakukan hanya untuk meloloskan kepentingan pribadinya.

Dalam sebuah rekam jejaknya, Benny Giay adalah salah satu tokoh yang vokal bersuara untuk menentang pelaksanaan pemerintahan di Papua. perlu ditekankan bahkan aksinya adalah menentang pemerintahan, bukan sebagai aksi kritik untuk membangun hal yang lebih baik bagi Papua. hal tersebut yang akhirnya mendorong anggapan jika Benny Giay adalah bagian dari aksi separatisme di Papua.

Benny Giay dengan segala kontroversinya lebih tepat disebut sebagai pemberontak, bersama dengan nama-nama lain seperti Socratez Yoman ataupun Dorman Wandikbo, ketiganya telah nyata mengundang kebencian dalam setiap aksi terselubung yang dilakukan. Padahal salah satu fungsi tokoh agama adalah sebagai penangah dalam setiap konflik yang timbul terjadi.

Melihat bagaimana sepak terjang seorang Benny Giay yang tidak takut mengumbar perlawanan untuk terus mendorong konflik agar semakin menjadi-jadi, ditambah dengan sekelumit pernyataannya yang secara terang-terangan berkubu pada kelompok separatis di Papua, membuat banyak pihak hilang respect kepadanya, meski dalam namanya menyandang gelar pendeta ataupun doktor.

Kisah habisnya masa jabatan Benny Giay sebagai Ketua Sinode Gereja KINGMI harus bisa disikapi dengan baik oleh penggantinya. Momentum saat ini harus bisa menjadi batu loncatan bagi KINGMI untuk bisa merintis hal baru yang akan lebih memberi nilai manfaat bagi jemaat, dan kehidupan di Papua secara menyeluruh.

Selasa, 02 November 2021

Menghasut, Menipu dan Merampok Orang Papua, Netizen Bongkar Kebusukan Jeffrey Bomanak

wrtsh papua


Daylipng.nz

Jeffrey Bomanak Tolak Green State Vision yang Digagas ULMWP

2/11/21 14:02

Jelang deklarasi Green State Vision yang akan dideklarasikan oleh ULMWP pada tanggal 4 November mendatang, ditolak Jeffrey Bomanak selaku ketua TPNPB OPM, namun penolakan itu ditentang oleh aktivis ULMWP.

Aktivis ULMWP di media sosial menentang ajakan provokasi dari Jeffrey Bomanak yang mengajak rakyat Papua untuk menolak program kerja dari Benny Wenda selaku ketua ULMWP. Tidak hanya menentang tetapi membongkar keburukan dari pemimpin TPNPB OPM itu.

"Ya, Jeffrey Bomanak itu penipu dan pembohong besar, sebelumnya dia pernah mengatakan ada dukungan 79 Negara ACP untuk perjuangan kemerdekaan west Papua, nyatanya mana dukungan dari negara uni Eropa tersebut, sekarang dia mencoba meyebarkan informasi murahan," tulis Yiluk Maluk Kogo.

Sekarang dia mencoba menghasut rakyat Papua untuk menolak Green State Vision yang akan dideklarasikan oleh ULMWP, padahal program ini adalah program antar negara. Dirinya menyebutkan kalau Jeffrey Bomanak adalah penjilat atau kakitangan dari kolonial Indonesia.

Bahkan keburukan Jeffrey pun dibongkar, diketahui Jeffrey ternyata tukang hisap ganja di PNG dan suka main perempuan, maka tidak salah lagi tuduhan sebby sambom dan Anton terhadap Jeffrey Bomanak pelaku perampokan adalah benar. 

Karena kalau tidak memiliki uang banyak darimana Jeffrey bisa mendapatkan atau membeli ganja dan membayar perempuan di PNG.

Berbeda dengan Kaitanus Ikinia yang  menyebutkan kalau Jeffrey sebenarnya adalah Judas, yang suka memutarbalikkan fakta. Beberapa waktu lalu Jeffrey menuduh Agus Kossay memakan dan PON Papua, sebenarnya dana PON yang didapat dari penguru PON Papua juga diberikan ke Jeffrey Bomanak.

"Dana yang diberikan Yunus Wonda tersebut juga diterima Jeffrey secara diam-diam melalui salah satu aktivis KNPB"

Dirinya menantang Jeffrey Bomanak untuk datang ke west Papua, lihat KNPB yang berjuang secara diplomatik dan sudah paham propaganda yang dibuat oleh Jeffrey dan komplotannya yaitu pengkhianat.

"Kamu kira orang Papua barat itu goblok seperti ko manusia penipu, kalau punya nyali pulang ke Papua, lihat fakta di Papua, jangan cuma tau di medsos lalu bicara besar"

Kaitanus juga menyebutkan kalau Green State Vision adalh visi negara untuk menghadapi ancaman covid-19 dan perubahan iklim, jadi visi ini merupakan visi bersama beberapa negara termasuk west Papua.

Jadi Jeffrey Bomanak Stop berkoar-koar dan menghasut rakyat Papua di medsos kalau tidak tau tujuan dari Green State Vision yang digagas oleh ULMWP pada tanggal 4 November nanti.

Kamis, 28 Oktober 2021

Klarifikasi Dewan Adat Pegubin Terkait Pengungsi

wrtsh papua


Selaku Dewan Adat Kabupaten pegunungan Bintang Anton Uropmabin mengklarifikasi terkait pengungsian yang terjadi di distrik Kiwirok pasca Penyerangan yang dilakukan oleh kelompok Separatis pimpinan Lamek Taplo.

Anton Uropmabin saat dikonfirmasi mengatakan dirinya tidak pernah memberikan pernyataan tentang pengungsian dikiwirok akibat adanya pasukan TNI dan Polri seperti yang diberitakan oleh media online Jubi, yang tayang Jumat, 22/10/21.

"Saya tidak memberikan pernyataan kepada media online Jubi terkait dengan adanya pengungsian akibat dari TNI dan Polri, itu tidak benar," ungkapnya.

Sebaliknya, saya mengatakan keberadaan TNI dan Polri setelah penyerangan yang dilakukan kelompok Lamek Taplo di Kiwirok justru memberikan pelayanan dan perlindungan kepada warga disana.

Dan saya juga menyampaikan pihak gereja telah memberikan bantuan berupa beras sebanyak 6 ton kepada warga yang terkena dampak penyerangan Lamek Taplo.

"Saya juga mengatakan kalau para pengungsi telah menerima bantuan beras sebanyak 6 ton dari pihak gereja melalui kami dewan adat," lanjutnya.

Sebagai dewan adat pegunungan bintang, dirinya menyesalkan adanya berita yang diterbitkan tidak sesuai dengan pernyataan yang disampaikannya, dirinya juga berharap agar media tidak asal membuat berita.

"Jadi sekali lagi saya tegaskan, saya tidak bicara tentang TNI atau Polri yang mengusir masyarakat, Yang saya katakan adalah TNI dan Polri yang berada di Pegubin sama dengan kami Dewan Adat yaitu mengayomi masyarakat," tegas Anton

Anton juga akan membuat pernyataan klarifikasi terkait pemberitaan yang tidak sesuai dengan penyampaiannya yang diterbitkan oleh media online.

Senin, 25 Oktober 2021

Kudeta Militer Sebagai Aksi ULMWP Memuluskan Kapitalisasi

wrtsh papua


Campur tangan ULMWP dianggap mengusik perjuangan TPNPB, hal tersebut yang akhirnya membuat Ketua OPM TPNPB menjadi kesal. Jeffrey Bomanak dalam keterangannya mengungkapkan jika pergerakan yang dibawa ULMWP penuh dengan kepentingan.

“Persatuan yang dibangun ULMWP penuh dengan kepentingan, apa yang dikampanyekan oleh tokoh ULMWP seperti Benny Wenda dan Mathias Wenda persis seperti cara-cara negara barat untuk melancarkan kapitalisasi,”

Misi ULMWP juga dianggap oleh Jeffrey Bomanak tidak pernah membawa roh, sehingga perjalanan ULMWP tidak akan mampu mempersatukan perjuangan.

“Ini yang salah di ULMWP, mereka klaim berjuang tapi melupakan akar perjuangan, mereka tidak membawa roh,”

Jeffrey menambahkan bahwa ULMWP yang baru lahir pada tahun 2012 justru telah merusak perjuangan bangsa Papua yang dianggapnya suci.

“Perjuangan yang dibawa ini suci, tidak pernah bisa dicampuri dengan urusan politik. Keberadaan ULMWP yang baru lahir tahun 2012 kemarin, itu sudah merusak perjuangan yang sesungguhnya,”

Pernyataan Jeffrey juga didasari atas konflik kudeta yang cukup meresahkan pada beberapa waktu terakhir. Dirinya lantas menanyakan TRWP ataupun TNPB sebagai militer bentukan ULMWP tentang dimana lapangan perang, jumlah pasukan, dan perkara siapa musuh yang dilawan.

“TRWP dan TNPB, itu mereka hanya nama atau bagaimana juga kami tidak tahu. Karena mereka itu dimana lapangannya, apa saja aksi yang sudah dilakukan? Atau siapa saja musuhnya?”

Selasa, 19 Oktober 2021

Socratez Yoman Puji PON Papua, “Tidak Tahu Malu”

wrtsh papua


Pasca penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua banyak pihak melontarkan pujian karena dinilai sukses dan berhasil. Suksesnya PON walhasil mematahkan anggapan beberapa pihak yang sebelumnya sempat meragukan perhelatan akbar dalam tingkat nasional tersebut. 

Socratez Yoman dalam laman media sosialnya menyebut jika pelaksanaan PON yang sukses adalah bukti mampunya orang Papua. Namun sebelumnya, Georg Wilhelm Friedrich Hegel seorang filsuf asal Jerman pernah mengungkapkan jika kontradiksi adalah munculnya alasan atas keterbatasan pikiran.

“Waktu yang akan membuktikan bagaimana Socratez mengais kehidupannya dengan cara-cara yang buruk, sekarang hal itu terbukti. Lihatlah dua sisi pemikiran Socratez yang bertolak belakang terkait penyelenggaraan PON,” ungkap salah seorang tokoh senior Papua, Franz Korwa.

Socratez menyebut jika pelaksanaan PON tidak memberi manfaat bagi orang Papua, bahkan dirinya menyinggung persoalan keamanan, gamabaran kesejahteraan orang Papua, atau bahkan isu rasial pun sempat dilontarkannya untuk menolak penyelenggaraan PON. Namun saat ini Socratez malah menyebut jika PON adalah bukti jika orang Papua mampu.

“Memang sebenarnya orang Papua itu diberkati untuk bisa melakukan apa saja, masalahnya dari dulu orang Papua seakan dibungkam. Orang Papua yang mau maju malah diancam, diteror, dijauhi oleh komunitasnya. Mereka kelompok-kelompok anti pemerintah tidak mau Papua maju, termasuk Socratez sendiri,”

Socratez dianggap tidak punya rasa malu ketika mengklaim sepihak atas suksesnya PON Papua yang telah digelar pada awal Oktorber 2021 ini. Tak hanya itu, Korwa juga menyebutkan jika kelompok-kelompok anti pemerintah seperti halnya Socratez Yoman, masih jauh terbelakang dan tidak mampu membawa Papua dalam kesejahteraan di masa yang akan datang.

“Socratez itu manusia tidak tahu malu, setelah sukses PON itu dilaksanakan, baru dia mengklaim dengan berbagai alasan. Padahal apa kontribusinya selain menolak pada awal rencana diadakan PON? Kelompok-kelompok seperti mereka itu tidak akan mampu membawa kesejahteraan bagi Papua,”

Korwa menegaskan jika orang Papua secara mayoritas sudah mengenal arti mengisi kemerdekaan dalam jiwa nasionalisme yang sejati. Keriuhan masyarakat dalam antusiasme mendukung kesuksesan PON telah membuktikan jika orang Papua mendambakan segala bentuk kemajuan yang selama ini dihambat oleh kepentingan-kepentingan kelompok anti pemerintah.

Rabu, 13 Oktober 2021

Lama Tidak Terdengar, Aktivis KNPB Beralih Fokus ke Bisnis Kopi di Wamena

wrtsh papua


Part 1:

Kekayaan melimpah di tanah Papua sudah menjadi rahasia umum di Indonesia. Mulai dari barang tambang, hasil laut, keindahan panorama, hingga perkebunan yang menghasilkan biji kopi yang nikmat. Ada dua kawasan penghasil kopi terbesar di Papua, yaitu di Nabire dan Wamena.Kopi adalah bisnis berkonsep kemitraan yang tumbuh pesat di Indonesia. Seperti brand pendahulunya yakni Foodpedia & Pasta Kangen. 

Perkebunan kopi Papua di Wamena terletak di sepanjang lembah yang letaknya mengelilingi Kota Wamena, Lembah Baliem. Lembah tersebut letaknya ada di sisi timur Gunung Jayawijaya dengan panjang kurang lebih 80 km.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh Steven Itlay Aktivis Komite Nasional Papua Barat setelah sekian lama menghabiskan harinya bersama organisasi KNPB, , yang sudah lama tidak terdengar kabarnya ditemui di Wamena merasa kaget Ketika disapa “Kakak Apa Kabar, Sudah Alih Profesi kah?” Steven yang saat itu tidak menduga langsung tersenyum sambil membalas “Kabar Baik” yang berusaha untuk  menyimpan kegugupannya.

Sebelumnya, kami ke wamena mencari informasi terkait kopi wamena yang akan kami angkat untuk dipromosikan, lewat salah satu warga yang juga kebetulan kerabat dari Steven Itlay menyebutkan kalau Steven Itlay (Aktivis KNPB) ada di disini (Wamena).

”Saat ini kaka Steven Itlay berada di Wamena, kaka dia sedang mengurus kebun kopi, mungkin keberadaan kaka Steven juga bisa diangkat karena selama ini yang kita ketahui kaka Steven sibuk dengan urusan KNPB, namun sudah 3 bulan terakhir ini dia berada di wamena, dan sibuk dengan Kopi,” Ungkapnya.

Keesokan harinya kami mencoba menemui Steven Itlay tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepadanya, dan betul sekali Ketika kami bertemu dengan steven, dia apa adanya sedang berada di lahan kopi.

Lama bercerita dengan Steven, dia mengakui kaalu dirinya saat ini lagi focus kepada lahan kopi yang diolahnya di wamena, entah sampai kapan dirinya tidak tau, namun yang terpenting saat ini dirinya bisa memanfaatkan lahan kopi yang ada di wamena menjadi usahanya nanti.

Terungkap rasa penyesalan yang disampaikan oleh Steven “seharusnya dari dulu kita memanfaatkan sumber daya alam yang kita miliki ini, namun tida ada kata terlambat buat kita, kalau kita mau berubah dan melakukan kegiatan yang baik,” ungkap Steven.

Disinggung soal kegiatan KNPB, Steven saat ini tidak mau berkomentar soal KNPB, dirinya berpikir lebih baik kita membahas kegiatan yang bermanfaat bagi masa depan, baik untuk kita sendiri maupun anak-anak kita serta orang lain.

Steven berpesan, kalau bisa kita memanfaatkan kondisi alam kita menjadi peluang yang dapat memberikan arti bagi kehidupan kedepan, dari pada mengurus sesuatu yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain, lebih baik kita mencoba untuk mengurus kopi yang kita miliki, imbuh steven. 

bersambung (13/10/21)