Tampilkan postingan dengan label PERISTIWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERISTIWA. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Oktober 2021

Dipengaruhi Alkohol, Sekelompok Pemuda di Wamena Hujani Petugas dengan Batu

wrtsh papua


Kapolres Jayawijaya AKBP Muh. Safei menuturkan adanya korban jiwa atas peristiwa penyerangan terhadap anggota Brimob oleh sekelompok pemuda di jalan Pattimura, Kota Wamena (12/10). Dalam kronologi yang diungkapkan, kapolres menjelaskan kejaidan bermula ketika sekelompok pemuda melakukan pelemparan batu terhadap anggota Brimob yang sedang melewati lokasi kejadian.

“Bermula dari anggota yang mau pulang ke rumahnya, tapi dalam perjalanan anggota tersebut dilempari batu oleh sekelompok pemuda,”

Aksi pemuda anarkis tersebut bermula ketika yang bersangkutan menghadiri acara pengucapan syukur atas kelulusan wisuda salah seorang kerabat lainnya. Namun diduga kuat sekelompok pemuda juga mengkonsumsi minuman keras (miras).

“Kami dalami prosesnya, pemuda ini sebelumnya berkumpul untuk merayakan wisuda, dalam acara tersebut diduga mereka mengkonsumsi miras,”

Ditempat yang berbeda PM(35) sebagai salah seorang saksi dalam kejadian tersebut mengungkapkan jika kejadian juga bermula karena adanya provokasi dari salah satu pemuda yang ditegur oleh anggota Brimob.

“Situasinya masih tenang, saya melihat anggota yang sebelumnya dilempar batu minta agar perkumpulan malam itu bubar, tapi salah seorang pemuda lainnya justru marah, sambil berteriak-teriak memprovokasi, akhirnya (kekacauan) pecah, anggota tadi dilempari batu lagi”

PM menambahkan jika petugas mulai terdesak karena massa yang berjumlah belasan mulai bertindak anarkis. Dirinya juga membenarkan jika petugas sudah melakukan tembakan peringatan, namun massa yang terpengaruh alkohol tidak mengindahkan.

“Setelah provokasi itu sudah mulai kacau, pemuda yang mabuk jumlahnya ada belasan. Mereka terus melempari batu ke arah petugas yang mendatangi lokasi padahal sudah diperingatkan beberapa kali,”

Melihat kejadian yang semakin kacau, barulah anggota jaga Polres Jayawijaya berdatangan. Salah seorang pemuda (SW) diketahui dilarikan ke RSUD Kota Wamena, dan pada saat itu penyebabnya belum diketahui. Pasca kejadian tersebut barulah situasi mulai agak tenang.

“Iya, setelahnya anggota dari Polres datang, tapi pemuda-pemuda itu masih terus melawan dengan melempari batu. Setelah salah satu dari mereka ada yang dilarikan ke RSUD, baru situasi agak tenang,”

RSUD Kota Wamena dalam keterangannya menyebut jika korban (SW) tidak terkena tembakan secara langsung. Dari hasil pemeriksaan lanjut tidak ditemukan bukti proyektil, hanya terdapat serpihan pada bagian organ dalam saja.

Senin, 11 Oktober 2021

Jayapura dan Wamena, Saksi Bisu Kebiadaban KNPB di Papua

wrtsh papua


Keterlibatan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dalam berbagai catatan terkait situasi di Papua dianggap oleh salah seorang pengamat sebagai aksi yang telah merugikan. Franz Korwa dalam keterangannya mengatakan kehadiran KNPB membentuk segmentasi yang dapat mengancam stabilitas keamanan.

Korwa menjelaskan jika seluruh elemen di Papua harus waspada dengan berbagai hasutan dan bujukan yang berasal dari KNPB atau berbagai organisasi turunan dan sejenisnya. Dirinya menambahkan utamanya bagi generasi muda yang rawan menjadi target.

“Harus ada kesadaran dari seluruh masyarakat itu sendiri, sama-sama kita yakini jika KNPB organisasi yang mengancam. Terutama untuk anak-anak muda, harus berani menolak ajakan, karena kalau sampai terjerumus, mereka sendiri yang akan rugi,”

Ditambahkan, oleh Korwa yang juga merupakan tokoh senior Papua tersebut bahwa KNPB sudah terkenal dengan aksi-aksi biadabnya. Barisan yang dipimpin oleh Agus Kossay tersebut sudah lama disorot sebagai aktor dari sejumlah kerusuhan yang terjadi di Papua.

“Fakta sudah membuktikan jika KNPB itu dalang dibalik kekacauan Papua. Kota Jayapura dan Wamena yang luluh lantah akibat kerusuhan menjadi saksi bisu bagaimana biadabnya orang-orang KNPB itu,”

Dilain tempat, Korwa bahkan menyebutkan jika KNPB di Kabupaten Maybrat sudah mampu menguasai senjata api dan bergerak untuk melakukan aksi pembunuhan. Korban yang berjatuhan tak hanya dari pihak militer Indonesia namun juga warga sipil setempat.

“Tidak bisa mengelak jika KNPB di Maybat adalah musuh nyata. Dalam dua tahun terakhir saja, eksistensi mereka sudah membuat Maybrat selalu bercucuran darah. Apalagi mereka sudah mempu menguasai senjata api,”

Oleh sebab itu Korwa menegaskan jika KNPB harus segera dihentikan kegiatannya. Hal yang kian krisis menurut Korwa adalah upaya KNPB menyasar generasi muda di Papua. Bahkan KNPB sengaja melibatkan kelompok muda yang mayoritas sebagai pelajar mahasiswa untuk mendongkrak kaderisasi dalam organisasi di wilayah-wilayah setingkat kabupaten.

Sabtu, 09 Oktober 2021

Kerusuhan di Yahukimo Tak Terlepas Campur Tangan KNPB

wrtsh papua


Kepolisian menetapkan 24 orang sebagai tersangka atas kericuhan yang terjadi di Kabupaten Yahukimo. Kapolda Papua Irjen Mathius Fakhiri dalam keterangannya juga mengatakan jika jumlah tersebut masih akan terus bertambah mengingat masih adanya pelaku dalam status pengejaran. (9/10)

“masih ada aktor utam ayang belum ditangkap, saya sudah perintahkan kepada Kapolres untuk segera menangkap. Ada juga aktor intelektualnya,” 

Kapolda dalam penuturannya menyayangkan aksi kerusuhan yang menyasar bangunan ibadah dan rumah-rumah warga, termasuk rumah pendeta yang habis dibakar massa.

"Saya sudah melihat langsung Gereja GIDI yang jadi sasaran pertama penyerangan dan ada empat rumah yang dibakar termasuk rumah pendeta. Di tempat ini lah korban-korban pertama (jatuh), baik meninggal maupun yang luka,"

Menurut salah seorang pengamat Papua, Johan RUmbino dirinya menyebut jika kerusuhan di Yahukimo tidak bisa terlepas dari keterlibatan organisasi KNPB. Hal tersebut diungkapkannya mengingat dari sejumlah pelaku yang ditangkap, terdapat nama Ruben Wakla yang merupakan tokoh KNPB Yahukimo.

“Saya dapati informasi tentang keterlibatan Ruben Wakla dalam aksi penyerangan di Yahukimo, saya bisa pastikan kalau KNPB punya keterlibatan disana,”

Johan menambahkan jika aksi-aksi KNPB di Papua tak ubahnya sebuah organisasi separatis yang terus-menerus menumbuhkan konflik berkepanjangan di Papua. Dirinya menilai jika keberadaan KNPB sudah membuat keresahan bagi masyarakat secara umum.

“Memang KNPB hanya menciptakan konflik di Papua, parahnya konflik itu pasti terus berkepanjangan. Disaat orang-orang Papua mau beranjak menjadi lebih baik, KNPB akan terus menghambat. Jadi mereka lah sumber keterbelakangan di Papua,”

Rabu, 06 Oktober 2021

Setelah Bunuh Tenaga Medis, KKB Kembali Lakukan Teor dengan Menembak Ojek

wrtsh papua


Aksi biadab terkait penyerangan terhadap warga sipil kembali terjadi. Kkb melakukan penembakan terhadap tukang ojek di kabupaten puncak, papua. Atas insiden tersebut dikeahui korban mengalami luka serius dibagian wajah.

Menurut keterangan, disebutkan jika korban bernama J (48), sebelumnya dihadang oleh dua orang KKB di jembatan Kali Ilame, Kampung Wako. Salah satu diantara mereka memaksa untuk diantarkan ke Distrik Gome. Namun sekembalinya ke Kali Ilame korban justru mendapat ancaman, beruntung tembakan bisa dihindari.

“Korban itu awalnya diminta untuk mengantarkan KKB ke Gome. Kemudian waktu kembali lagi ke Kali Ilame (tempat semula), korban justru diancam. Mukanya langsung ditodong pistol dan ditembak,”ujar Awaludin sebagai rekan korban.

Insiden tersebut terus menambah daftar panjang aksi kekerasan yang dilakukan KKB, setelah sebelumnya banyak terjadi rentetan peristiwa terkait aksi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan juga oleh KKB.

Seni Oupdana dalam keterangannya mengenai eksistensi KKB dalam rentang waktu satu bulan terakhir, mengatakan KKB adalah organisasi separatis yang tidak malu melakukan aksi kekerasan terhadap warga sipil. Pernyataan tersebut didasari atas fakta penyerangan sebelumnya, terkait kematian tenaga Kesehatan di Kiwirok, Pegunungan Bintang.

“Rupanya aksi kecaman terhadap KKB setelah kemarin membunuh tenaga kesehatan tidak membuat mereka sadar diri. Kejadian di Puncak ini lagi-lagi tidak bisa dibiarkan, kelompok-kelompok kecil seperti mereka sudah nyata menantang sehingga harus segera ditindak tegas,”

Meski demikian, Oupdana meyakini akan ada aksi pembenaran dari sejumlah elit dan tokoh separatis terkait penembakan terhadap tukang ojek tersebut.

“Kita lihat saja nanti, pasti ada unsur pembenaran. Bisa jadi nanti aka nada tuduhan kalau tukang ojek itu intel, atau TNI yang menyamar. Tuduhan seperti itu selalu digunakan oleh KKB untuk melegalisasi aksi penembakan yang dilakukan, ini kan biadab,”

Senin, 04 Oktober 2021

Penyerangan Puskesmas di Kiwirok Mencirikan Gerakan Terorisme

wrtsh papua


Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) angkat bicara menanggapi aksi kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, Papua.

Menurut Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua Frits Ramandey, kekerasan KKB terhadap petugas kesehatan di Kabupaten Kiwirok melanggar hak asasi manusia. Frits bahkan menyebut kekerasan yang dilakukan KKB itu termasuk aksi teroris.

“Meskipun Komnas HAM keberatan dengan pelabelan teroris terhadap OPM, tindakan berupa pembunuhan terhadap tenaga kesejatan tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai kelompok yang bercirikan teroris,”

Pola yang digunakan KKB disebutkan sama dengan aksi di Kabupaten Nduga pada bulan April lalu, dalam aksi penyerangan tersebut KKB melakukan kekerasan terhadap guru pendidik. Komnas HAM Papua menyerukan kutukan keras atas aksi yang dilakukan KKB terhadap pekerja kemanusiaan.

Menurutnya, organisasi separatisme di Papua saat ini terfragmentasi menjadi tiga kelompok besar. Yakni, kelompok sipil bersenjata, kelompok yang dipelihara oleh korporasi dan kelompok yang memperjuangkan suksesi politik.

“Saat ini gerakan yang dilakukan oleh KKB memiliki pola baru yang menyasar warga sipil, ini dampak dari terfragmentasinya tiga organisasi searatis. Masing-masing dari mereka memiliki cara pandang yang tentu sudah berbeda juga,”

Komnas HAM mengaku jika penyerangan di Kiwirok yang menyasar warga sipil terlebih sebagai petugas kesehatan adalah kasus yang terakhir kali ditangani. menurut Komnas HAM, tindakan tersebut telah memenuhi unsur pelanggaran HAM, mengacu pada UU Nomor 39 Pasal 1 angka 1.

“Tindakan ini telah menghilangkan rasa aman, hak hidup dan merupakan tindakan penyerangan langsung terhadap tenaga Kesehatan,”

 Hal senada diungkapkan Staf Ahli Wakil Presiden Republik Indonesia, Dr Sri Yunanto. Ia mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Menurutnya, tindakan KKB sudah masuk kriteria terorisme. Secara teori, suatu kelompok dikategorikan sebagai kelompok teroris jika memenuhi beberapa indikator.

“Artinya, menggunakan kekerasan sebagai strategi utama, menolak negosiasi, menyebarkan teror dan propaganda palsu, serta menyerang warga sipil. Berdasarkan indikator tersebut, OPM Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dapat dikategorikan sebagai kelompok teroris karena dilihat dari gerakannya menyerang warga sipil, menolak proses dialog, merusak objek vital publik dan menimbulkan ketakutan,”

Sri mengatakan pemerintah telah memprioritaskan dialog untuk menyelesaikan masalah di Papua. Pendekatan penanganan KKB di era reformasi jauh lebih baik dibandingkan era orde baru. Terlebih, otonomi khusus sebagai solusi permasalahan politik di Papua telah memberikan banyak manfaat.

Kamis, 30 September 2021

Terdesak Mundur, KKB Bakar Bangunan Di Distrik Oklip dan Bangun Isu Penggungsian

wrtsh papua


www.beritasatupapua.com

Baca: Komnas HAM Papua: Aksi KKB Papua Bercirikan Teroris

30/09/21 09:10

Eksistensi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) selalu mendatangkan maut dan sejumlah kekacauan lainnya. Terakhir beberapa bangunan di Distrik Oklip, Kabupaten Pagunungan Bintang, menjadi sasaran kebiadaban KKB dan sengaja dibakar. (29/9)

Menurut tokoh senior Papua, Franz Korwa, bahwa aksi KKB di Distrik Oklip terjadi lantaran kelompok separatis tersebut dalam keadaan terdesak pasca aparat TNI Polri berhasil mengamankan Distrik Kiwirok.

“Kiwirok dan Oklip ini bertetangga. Sekarang di Kiwirok pasti sudah banyak pasukan disana, makanya KKB lari ke Oklip, disana baru mereka berani melakukan pembakaran dan pengrusakan, karena hanya itu yang bisa mereka lakukan,” meski demikian, Korwa menjelaskan jika aksi serupa masih bisa terus terjadi sewaktu-waktu.

“Kalau sudah kalah dan terdesak dan mereka (KKB) sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, maka mereka hanya menebar ancaman dan teror untuk membuat perasaan tidak aman. Keberadaan KKB itu sangat mengganggu,”

Franz menduga jika pergerakan KKB dari Kiwirok ke Oklip akan dibarengi juga dengan isu tentang pengungsian masyarakat Papua.

“Setiap aksi ancaman dari KKB, selalu dibarengi dengan isu pengungsian. Mereka sendiri yang melakukan teror dan mereka juga yang membuat hoax tentang pengungsian masyarakat Papua. Konflik yang diawali dari KKB pasti akan meluas, makanya harus bisa segera dipotong (diselesaikan),”

Franz menambahkan jika aksi yang terjadi di Distrik Oklip murni sebagai dampak dari serangkaian konflik bersenjata yang terjadi di Kiwirok. Dirinya menjelaskan jika KKB ingin tetap menunjukkan eksistensinya setelah pada 7 September 2021 lalu kelompoknya ditangkap beserta 5 buah senjata api ilegal.

“Ini dampak dari penangkapan di awal bulan lalu, tapi tidak salah juga, justru setiap kasus demi kasus yang terjadi itu langsung ditangani pihak berwajib. Maka KKB semakin terdesak dan nanti akhirnya mereka semua itu akan hilang,” tuturnya.

Senin, 27 September 2021

Tokoh Agama Kecam KKB atas Aksi Teror di Hari Minggu

wrtsh papua


Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua adalah organisasi separatis yang selalu menciptakan ketakutan akibat aksi teror yang dilakukan. Kelompok ini juga dianggap tidak merepresentasikan perjuangan bagi Papua karena aksi biadabnya hanya akan menghambat proses pembangunan dan terus merusak kesejahteraan di Papua. 

Menurut Pdt. Nason Gobay sebagai tokoh gereja di Kabupaten Mimika, aksi penembakan yang dilakukan KKB hingga menewaskan aparat keamanan pada hari Minggu 26 September lalu adalah bentuk penentangan atas hukum Tuhan. (27/9)

Dikatakan oleh Pdt. Nason Gobay bahwa hari Minggu seharusnya menjadi hari dimana seluruh umat berbondong-bondong ke gereja untuk beribadah. Terlebih di Papua, hari Minggu adalah sebuah hari yang sakral dan dihormati.

“Hari Minggu adalah waktu yang sangat dihormati oleh seluruh orang di Papua. Kabar tentang aksi penembakan yang dilakukan KKB kemarin itu adalah bentuk penentangan terhadap hukum Tuhan dan moyang bangsa Papua,”

Pdt. Nason menambahkan jika seharusnya hari Minggu harus diisi dengan kedamaian dan saling mengasihi, bukan menebar teror yang akhirnya hanya akan menimbulkan ketakutan dan kesedihan.

“Hari Minggu saya tercoreng aksi yang akhirnya membuat saya berduka, padahal hari Minggu seharusnya menjadi hari yang penuh kasih dengan segala berkat yang sudah diberikan oleh Tuhan,”

Menurut Pdt. Nason, bahwa jangan pernah ada anggapan untuk mendukung aksi KKB di Papua. Dirinya meyakinkan jika kelompok tersebut tidak sedang memperjuangkan suara orang Papua. Tokoh gereja tersebut justru menilai jika KKB hanya beraksi atas kepentingan dari segelintir kelompok yang akhirnya telah mengorbankan banyak kepentingan orang Papua sendiri.

“Mereka ada hanya untuk kepentingan kelompok tertentu, karena tidak semua orang Papua sepakat dengan aksi-aksi biadab yang terus dilakukan. Lihatlah ada berapa banyak orang Papua yang akhirnya harus mengalah karena permasalah KKB ini tidak kunjung selesai,”

Minggu, 26 September 2021

KKB Jangan Putar Balik Fakta tentang Penyerangan Tenaga Medis di Pegunungan Bintang

wrtsh papua


Kondisi seorang tenaga Kesehatan (nakes) Gerald Sokoy yang sebelumnya melarikan diri ke hutan sesaat terjadi penyerangan di Puskesmas Kiwirok, Kabupaten Pagunungan Bintang, dikabarkan dalam kondisi sehat, meski ditawan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) hampir dua pekan lamanya.

“Sebelumnya kKami sangat berharap yang terbaik untuk Gerald Sokoy, tentunya ini juga karena statusnya sebagai tenaga medis yang harusnya selalu dihormati peranannya dalam kondisi perang sekalipun,” ungkap Seni Uopdana sebagai tokoh masyarakat di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Dirinya bersama dengan sejumlah tokoh lain di Pegubin mengaku telah melakukan koordinasi agar Gerald Sokoy dipulangkan ke keluarganya. Dirinya juga berharap agar semua pihak bisa saling menjaga kondisi agar tetap aman dan kondusif.

“Tidak ada permintaan lain, kami hanya berharap Gerald segera dipulangkan. Kalau saja dari kemarin-kemarin sudah dipulangkan semua akan aman,”

Meski demikian, Seni juga menegaskan jika aksi KKB sudah cukup merugikan banyak pihak. Dirinya mengatakan jika KKB juga tidak boleh mengaburkan fakta terkait penyarangan dan teror yang dilakukan.

“Ini semua bermula dari penyerangan, mereka memang sudah merencanakan aksi untuk membunuh para tenaga medis, ini sebuah fakta yang tidak bisa dibantah. Apalagi korban lainnya sudah sempat dianiaya dan dibunuh,”

Seni mengatakan jika KKB sudah terdesak dan dianggap salah, sehingga satu-satunya cara untuk membela diri adalah dengan mengklaim sedang menyelamatkan Gerald Sokoy.

“Saya minta semua pahami jika Gerald Sokoy itu kan korban juga, dia sempat lari ke hutan, kemudian dia tertangkap. Nah ini yang jadi pertanyaan sekarang, kenapa tiba-tiba KKB berdalih sedang menyelamatkan Gerald,”

Atas peristiwa tersebut, sangat disayangkan KKB yang selalu menantang perang tidak mengerti aturan tentang hukum humaniter. Sehingga tekanan-tekanan dari pihak luar inilah yang pada akhirnya membuat Gerald Sokoy berhasil diserahkan walaupun dengan syarat-syarat lain yang harus diberikan kepada KKB.

Jumat, 24 September 2021

Dorman Wandikbo Hilang Moral atas Kasus Penyerangan di Kiwirok

wrtsh papua


Dorman Wandikbo sebagai tokoh Gereja Injil di Indonesia (GIDI) dianggap tidak peduli dengan kondisi dan permasalahan masayarakat di Papua. Padahal GIDI merupakan denominasi gereja yang cukup mayoritas bagi masyarakat di pegunungan.

Hal tersebut tersirat dalam aksi pembunuhan tenaga Kesehatan (nakes) Puskesmas Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang yang dilakukan oleh gerombolan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

“Sebagai salah satu tokoh agama harusnya Dorman bisa membangun rasa damai di lingkungan masyarakat lewat pengaruh keagamaan, tapi hal itu tidak nampak saat terjadi peristiwa biadab berupa pembunuhan nakes di Kiwirok,” kata Tokoh Senior Papua Agustinus R.

Berbagai pertanyaan muncul terkait dimana moral seorang Dorman sebagai tokoh gereja, terlebih Dorman sendiri kerap berbicara menyinggung sikap anti kekerasan terhadap umat manusia.

“Kita banyak temui pernyataannya dalam sikap menolak kekerasan di Tanah Papua, tapi sampai dengan hari ini, tidak ada sama sekali kita mendengar itu lagi. Padahal peristiwa di Kiwirok sudah begitu badab dan keji dilakukan,”

Jika peristiwa berupa penyerangan terhadap tenaga kesehatan saja tidak nampak di mata Dorman Wandikbo, lalu peristiwa biadab seperti apa lagi yang harus terulang dan mampu meluluhkan hati kerasnya.

“Sebagai orang Papua, sudah hilang rasa hormat kepada Dorman. Kalau memang tidak bisa mengemban kehormatan sebagai pendeta yang bisa memberi rasa damai, berhenti saja,”

Kamis, 23 September 2021

Dunia Internasional Harus Paham Keterlibatan Victor Yeimo sebagai Aktor Kerusuhan Papua

wrtsh papua


Kondisi Kesehatan yang dialami Victor Yeimo dalam beberapa hari terakhir sudah dinyatakan pulih, itu artinya Victor bersiap untuk melanjutkan proses hukumnya yang sebelumnya sempat tertunda. Pihak RSUD Jayapura telah mengkonfirmasi jika penyakit yang dialami Victor bukan permasalahan serius.

“Sudah sepenuhnya sehat, penyakit yang dialami juga bukan permasalahan yang cukup serius. Ini hanya pengaruh dari gaya hidup Victor saja,”

Terkait hal tersebut, justru banyak kabar miring yang tak jarang menciptakan kegaduhan. Menurut tokoh Senior Papua, Agustinus R mengatakan jika kasus Victor Yeimo penuh dengan rekayasa.

“Pejabat selevel dunia tentu tidak punya data akurat tentang situasi, yang mereka dapat hanya laporan-laporan rekayasa yang dibuat oleh para simpatisan kelompok separatis seperti KNPB sendiri. Juga kepada Benny Wenda, sudah bisa dipastikan tidak akan sesuai fakta, karena mereka punya kepentingan lain,”

Menurut Agustinus bahwa PBB tidak memahami konteks secara menyeluruh terkait kasus di Papua. Mereka hanya membuka diri atas laporan yang sifatnya dari pihak korban. Padahal baik itu KNPB, mereka juga kawanan pelaku kejahatan.

“Kita persoalkan tentang kerusuhan yang terjadi di Jayapura pada tahun 2019 sampai ada aksi pembakaran bahkan terjadi juga ancaman terhadap orang-orang pendatang. Ini juga masalah rasis kan?”

Agustinus menambahkan jika aksi KNPB yang menyuarakan anti rasisme dan kekerasan justru menimbulkan permasalahan lain terkait rasisme dan kekerasan juga. Sebab pelaku rasis di Kota Surabaya diketahui sudah diringkus dan diproses hukum.

“Kalau pelaku sudah diproses seharusnya semua pihak bisa menahan diri, bukan malah merancang aksi tandingan yang berakibat kerusuhan. Aksi demo anarkis itu sudah pasti melanggar hukum,”

Perlu diingat jika KNPB dan Victor Yeimo adalah aktor yang merancang aksi kerusuhan di Kota Jayapura dan Wamena hingga mengakibatkan puluhan orang korban tewas. Saat ini, dikatakan Agustinus bahwa KNPB sedang melakukan aksi perlawanan untuk mengaburkan fakta terkait kerusuhan tahun 2019 sebelumnya.

“Semua adalah aksi yang dirancang, ini bagian dari politisasi untuk mengaburkan fakta jika KNPB adalah organisasi biadab. Peristiwa 2019 akan terus teringat karena korbannya saja sampai puluhan orang,”

Agustinus menambahkan jika seharusnya pemerintah bisa mengeluarkan keputusan yang tegas terhadap KNPB untuk bisa dilarang dan dibubarkan keberadaannya. Dirinya berharap KNPB di Papua bisa ditindak seperti FPI sebagai organisasi yang merugikan.

Selasa, 21 September 2021

Veronica Koman sebagai Aktivis Kemanusiaan Sesat, Pengaruhnya Merusak Generasi Papua

wrtsh papua


Sepak terjang Veronica Koman yang mengklaim diri sebagai aktivis Hak Asasi Manusia yang membela orang-orang Papua nyatanya ditentang oleh orang Papua itu sendiri. Salah seorang figur publik anak muda Papua, Olvah Alhamid menyeru jika Veronica Koman hanya sedang berdalih sebagai aktivis dan tidak sedang memperjuangkan hak orang Papua.

Dalam media sosial twitternya, @olvaholvah dirinya mengaku jika orang Papua adalah pribadi yang yang baik, damai dengan kasih sayang serta perhatian terhadap sesama. Namun pengaruh luar sudah membuat Papua terpecah-belah.

“Mereka yang punya kepentingan itu sedang mempengaruhi orang Papua, ini akan merugikan orang Papua sendiri. Jangan mau diperalat dengan segelintir orang,”

Olvah dalam kehidupannya selalu menentang aksi separatisme yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) karena dianggap telah meracuni generasi Papua dengan simbol-simbol kekerasan atas perlawanan. Mirisnya hal itu juga yang sedang digemborkan oleh Veronica Koman, menurut Koman aksi perlawanan seakan lumrah terjadi disebabkan catatan sejarah yang dipercayainya.

“Banyak pihak yang akan datang dan coba mempengaruhi kita, memprovokasi keadaan. Kita jangan malas membaca, kalau tidak tahu maka tanyakan kepada orang yang tepat. Jangan sesekali terpengaruh opini yang hanya akan merugikan kita sebagai orang Papua,”

Olvah juga menambahkan jika hak asasi manusia harus dijunjung tinggi, sehingga dirinya meminta kepada Veronica Koman untuk berhenti meremehkan kehidupan orang lain. HAM adalah hak yang melekat bagi seluruh orang, bukan hanya bagi orang Papua.

“HAM melekat bagi setiap orang, saya punya hak dan anda juga punya hak. Peristiwa penyerangan nakes di Kiwirok mengapa Veronica tidak menggebu-gebu bersuara seperti jika orang Papua yang mendapat tindak kekerasan?”

Olvah menegaskan jika tidak semua orang Papua ada dipihak Veronica Koman yang mendukung aksi separatisme, dirinya mengatakan jika makna perjuangan bukan berarti merampas kehidupan orang lain.

“Saya bersuara atas nama kemanusiaan yang Veronica Koman tidak punya itu. Maka stop menjual Papua atas nama perjuangan padahal yang dilakukan adalah merampas hak hidup seseorang. Veronica Koman harus tahu makna perjuangan itu bukan berarti membunuh,”

Aktivis HAM Nasional Disindir karena Bungkam Soal Pembunuhan Nakes di Kiwirok

wrtsh papua


Pasca penyerangan terhadap tenaga kesehatan di Distrik Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang, banyak kalangan telah bersimpatik dan mengecam aksi biadab yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) tersebut.

Namun sangat disayangkan jika masih ada saja kelompok yang memilih bungkam karena menganggap hal itu sebagai tindak kejahatan biasa yang tidak menyangkut aksi pelanggaran HAM.

Ketua Umum Pemuda Adat Papua, Jan Chritian Arebo mengungkapkan jika permasalah di Kiwirok adalah sebuah bentuk kebiadaban yang telah melukai hati banyak orang. Terlebih menurutnya korban merupakan perempuan seorang tenaga Kesehatan.

“Kejadian itu adalah kebiadaban, tidak ada yang bisa dibenarkan. Kita semua tahu korbannya adalah seorang perempuan juga sebagai tenaga kesehatan, apalagi korban sudah mendedikasikan diri untuk mengabdi bagi masyarakat disana,”

Oleh sebab itu Arebo menegaskan jika tidak ada lagi bentuk toleransi yang bisa diberikan kepada KKB. Dirinya juga mempertayakan kembali para pegiat HAM yang beberapa waktu terakhir selalu menjual nama Papua. Hariz Azhar disebut sebagai aktivis Hak Asasi Manusia. Menurut Arebo, Hariz perlu mendapat kritik karena berstandar ganda dalam melihat kasus pelanggaran HAM di Papua.

“Kemarin dia teriak-teriak tentang HAM di papua, sekarang dengan kejadian di kiwirok tak sedikitpun saya dengar pernyataannya. Ini adalah kasus besar, masa seorang aktivis melewatkan peristiwa biadab yang dilakukan KKB ini,”

Arebo menegaskan tentang jiwa seorang aktivis adalah untuk membela setiap kebenaran, dan bukan sebagai upaya menciptakan pembenaran.

“Seorang aktivis mempunyai integritas yang tertanam dalam diri, bukan hasil dipengaruhi dan bukan atas kepentingan tertentu. Aktivis harus siap membela segala kebenaran, namun bukan untuk menciptakan sebuah pembenaran. Katakana salah jika itu memang salah. Jangan berkelik,”

Selain itu, Arebo seakan memberikan opsi terhadap Hariz Azhar terkait Papua, dirinya mengatakan jika Hariz tidak bisa memahami seluk-beluk permasalahan yang terjadi di Papua secara utuh, lebih baik sudahi berbiacra tentang Papua dan jangan pernah mau ikut campur.

“Atau mungkin kalau memang dia tidak paham situasi di Papua, yasudah, tinggalkan saja Papua sebagai fokusnya. Dia bisa bantu orang-orang ditempat lain yang masih membutuhkan suara seorang aktivis. Saya hanya khawatir, jika nanti ketika ada kasus lain dan dia tiba-tiba muncul kembali, tentu itu hanya akan memberi ketimpangan dalam opini,”

Minggu, 19 September 2021

KNPB dan Aktivis Kemanusiaan Murka atas Aksi Biadab TPNPB di Kiwirok, Pegubin

wrtsh papua


Aksi penyerangan TPNPB sebagi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua telah menyebabkan seorang tenaga kesehatan meninggal dunia dengan tragis. Gabriela Meilan mendapat tindak kekerasan dan pelecehan seksual sebelum akhirnya dibuang ke jurang.

Atas kabar tersebut, KNPB mendesak agar TPNPB segera menghentikan konflik yang dibalut dengan aksi kekerasan bersenjata. Menurut Ones Suhuniap sebagai Jubir KNPB, bahwa aksi tersebut akan meruntuhkan perjuangan pembebasan Papua, terlebih korban adalah kalangan sipil bahkan juga sebagai tenaga Kesehatan. (19/9)

“Dalam berkonflik kelompok medis dilindungi undang-undang, itu menjadi kesepakatan seluruh dunia. Kami dari KNPB mendesak evaluasi total pada tubuh TPNPB yang sudah kelewatan dalam melakukan aksi karena menabrak kaidah kemanusiaan,”

Suhuniap dalam keterangannya menyebutkan jika KNPB sedang membangun upaya negosiasi dengan cara damai, namun upaya tersebut seolah mental dan tak akan digubris karena peristiwa malang di Kiwirok, Pegubin.

“Ini sama saja menghancurkan perjuangan sendiri. Kami sangat menyesali peristiwa itu terjadi. Soal kekerasan ditubuh TPNPB itu menjadi penyakit lama yang sudah seharusnya bisa dihilangkan,”

Suhuniap menambahkan jika TPNPB tidak boleh terus-menerus membiarkan dan memelihara aksi kejahatan kemanusiaan di tanah Papua. Hal yang sama dilontarkan Veronica Koman yang juga merupakan aktivis kemanusiaan. Dirinya mengaku marah dan mengutuk keras aksi biadab TPNPB tersebut. Koman beralasan jika tenaga Kesehatan memiliki peran yang tidak boleh diganggu dalam situasi konflik.

“Tenaga kesehatan tidak turut dalam konflik, peran mereka untuk merawat kehidupan. Saya sebagai aktivis mengutuk keras aksi KKB atas cara-cara biadab yang dilakukan. Ini sebuah kebodohan yang perlu disingkirkan,”

Veronica yang mengaku kerap melakukan diskusi dengan para pegiat HAM Internasional lantas menuturkan jika saat ini dirinya seakan dihantui jalan buntu akibat penyerangan KKB di Kiwirok.

“Lobi internasional akan terganggu dengan kabar tersebut, selama ini kita yang dianggap korban, tapi dengan kejadian itu dunia internasional mulai meragukan dan menganggap sebenarnya kita juga bagian dari pelaku. Ini situasi yang sulit, saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,”

Aktivis Luar Negeri Mengutuk Pembunuhan Nakes di Papua, Pintu PBB Tertutup Untuk Papua Merdeka

wrtsh papua


Batamtoday.com

Baca: Tertutup Pintu Referendum untuk Papua

Aksi penyerangan terhadap tenaga kesehatan di Papua kabupaten pegunungan bintang, distrik Kiwirok ditanggapi dengan kecaman keras oleh aktivis Papua luar merdeka di luar negeri.

Veronica koman yang merupakan aktivis Papua merdeka di luar negeri sekaligus sebagai pembela hak-hak kemanusiaan mengutuk dan mengecam penyerangan yang dilakukan oleh klien perjuangannya sendiri yaitu kelompok TPNPB-OPM pimpinan lemak taplo.

Aksi penyerangan yang dilakukan kelompok TPNPB-OPM akibatnya Gabriella Meilani meninggal dunia dalam kondisi yang mengenaskan, selain itu seorang perawat bernama Gerald Sokoy hingga saat ini belum ditemukan.

"Sebelum dibunuh Gabriella mengalami kekerasan dan pelecehan seksual, jenazahnya ditemukan dalam kondisi telanjang dan terdapat beberapa luka dibeberapa bagian tubuhnya termasuk di kemaluannya"

Atas aksi penyerangan tersebut Veronica mengutuk sekeras-kerasnya TPNPB - OPM yang tidak mengerti perjuangan dan peperangan sampai harus tenaga kesehatan menjadi korban.

"Tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan adalah kelompok sipil sakral dalam hukum humaniter, sejengkal rambut pun mereka tidak boleh disentuh," tulis Veronica.

Dirinya menyesali atas perbuatan yang dilakukan oleh kelompok Papua merdeka yang selama ini menjadi kliennya.

Kalau begini terus maka pintu PBB akan tertutup bagi perjuangan TPNPB - OPM, dan veronica pun akan berhenti memperjuangkan kebebasan untuk Papua merdeka.

Aktivis Papua merdeka Brahm Seseray mengatakan menelanjangi dan membunuh warga sipil tidak dibenarkan dalam perang apalagi seseorang yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan, seharusnya mereka ini dilindungi.

Melihat perjuangan TPNPB -OPM seperti ini tidak pakai logika, membabi buta seperti binatang, ini sama saja perbuatan kriminalitas, perlu dihukum seberat-beratnya bila perlu dihukum mati, terangnya.

Sumber: Veronica Koman (18/09/21)

Jumat, 17 September 2021

Tenaga Kesehatan Pertanyakan Peran Pegiat Ham di Papua

wrtsh papua


Sebanyak ratusan tenaga kesehatan melakukan aksi unjuk rasa dan longmarch sebagai bentuk protes atas kekerasan terhadap rekan mereka yang menjadi korban kebiadaban Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Diketahui sebelumnya bahwa pada tanggal 13 September 2021, KKB melakukan penyerangan terhadap dokter dan perawat yang bertugas di Puskesmas Kiwirok Kab. Pegunungan Bintang. Atas peristiwa tersebut salah seorang korban bernama Gabriella Meilani diketahui meninggal dunia dan ditemukan di dasar jurang.

"Tenaga kesehatan hadir di masyarakat itu bukan untuk membunuh, mereka bahkan jauh-jauh bertugas sampai ke pedalaman Papua untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat," ungkap Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pegunungan Bintang, Sabinus Uropmabin. (16/9)

Sebagai bentuk protes terhadap aksi kekerasan yang kerap dilakukan KKB, Sabinus mengatakan untuk sementara waktu telah menarik seluruh nakes dari sejumlah Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya yang berada di distrik-distrik.

"Seluruh tenaga medis di distrik-distrik sudah kami tarik semua, sehingga kami meminta kepada seluruh masyarakat untuk sementara bisa bertanggung jawab pada kesehatan masing-masing,"

Yanuar sebagai salah seorang peserta aksi mengungkapkan rasa kesal dan amarahnya terkait peristiwa penyerangan KKB terhadap rekan-rekannya di Kiwirok.

"Menurut saya tidak ada aksi kekerasan yang bisa dibenarkan. KKB tidak punya alasan logis untuk membenarkan aksi biadabnya, itu sangat-sangat tidak terpuji, ini lah sesungguhnya aksi melanggar HAM,"

Dirinya juga mengaku sangat sakit hati jika melihat setiap aksi yang menyinggung eksistensi KKB, dimana masih ada sejumlah kelompok yang seolah membela dan membenarkan perilaku biadabnya.

"Ada kelompok-kelompok yang masih membenarkan aksi biadab, apalagi saya tahu mereka itu orang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi. Saya tandai mereka, ada pegiat HAM juga,"

Yanuar juga menyebutkan jika ada kecenderungan para pegiat HAM yang masih subjektif dalam memandang situasi di Papua. Dirinya sadar jika ada kepentingan dari sejumlah pegiat HAM yang seolah mendukung KKB dalam upaya perlawanan terhadap negara.

"Yang namanya pegiat HAM itu mendukung setiap orang (sebagai korban) tanpa membedakan SARA, tapi dengan kejadian sekarang ini, mereka hanya membisu. Tentu ada perbedaan jika situasinya terbalik, mereka seperti anjing kelaparan yang sangat beringas mencoba menyalahkan pihak lain. Pandangan saya, pegiat HAM seperti itu (mereka) punya kepentingan sendiri, mereka mendukung gerakan separatisme di Papua,"

Kamis, 16 September 2021

Kesaksian Suster Puskesmas Kiwirok, Mengaku Punggungnya Ditebas Parang

wrtsh papua


Tindak kekerasan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sudah tidak bisa ditoleransi, terakhir (13/9) sekitar 50 orang KKB melakukan penyerangan ke Puskesmas Distrik Kiwirok dengan membabi buta. Hingga akhirnya Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan bagi warga Kiwirok pun dibakar. 

Atas penyerangan tersebut diketahui empat orang warga sipil yang merupakan pekerja Puskesmas Kiwirok menjadi korban. Dalam kesaksian salah satu korban, pihaknya terpaksa melompat ke jurang untuk menyelamatkan diri dari KKB. (16/9)

“Peristiwa itu terjadi begitu saja, tidak ada yang tahu. Mereka sudah terlanjur berada disini (Puskesmas), kami semua mendapat tindak kekerasan,”

Tokoh masyarakat Distrik Kiwirok Nelson Nawipa dalam keterangannya terkait penyerangan yang dilakukan oleh KKB, pihaknya menegaskan jika kelompok separatis tersebut tidak pernah mendapat tempat di masyarakat.

“Saya tegaskan KKB itu musuh bagi kami semua, sejak kedatangan KKB, Distrik Kiwirok ini menjadi sangat tidak kondusif. Masyarakat disini tidak ada yang suka dengan mereka,”

Nelson juga mengaku marah ketika sejumlah fasilitas umum berupa puskesmas, kantor Bank daerah, sampai sekolah sasaran amuk KKB. Ketiga fasilitas tersebut diketahui telah dibakar KKB saat melakukan penyerangan di Distrik Kiwirok.

“Kiwirok ini butuh tempat-tempat seperti itu. Puskesmas, sekolah, itu tempat yang penting bagi kami masyarakat Kiwirok. Tidak boleh membakar tempat-tempat, saya marah sekali,” 

Nelson lantas mengutuk aksi penyerangan KKB tersebut, pihaknya juga menegaskan akan mendukung sepenuhnya upaya aparat keamanan TNI Polri untuk segera menindak tegas KKB yang telah melakukan teror bagi masyarakat kiwirok.

“Alam Papua akan balas tindakan mereka, Tuhan juga marah melihat orang-orang perusak seperti mereka. Sepenuhnya kami serahkan penyelesaian ini kepada TNI Polri, segera saja tindak tegas KKB karena sudah merugikan,”

Selasa, 14 September 2021

Viktor Yeimo Tegaskan Perjuangan Berlanjut Meski Harus Dipenjara

wrtsh papua


Aktivis KNPB Kota Jayapura menyebutkan jika kondisi Viktor Yeimo sudah berangsung membaik dan bisa keluar dari rumah sakit. Viktor Yeimo yang sudah dirawat sejak 30 Agustus disebutkan telah sehat berkat kepedulian semua pihak.

Narasumber AD adalah anggota KNPB aktif yang turt menjaga Viktor dalam masa perawatannya di RSUD Kota Jayapura, dirinya lantas mengisyaratkan jika Viktor akan kembali berjuang dalam membela hak-hak orang Papua.

“Viktor sudah sehat, kondisi ini juga sudah dikonfirmasi dokter yang menangani. Setelah ini Viktor akan turun kembali untuk melanjutkan perjuangan,”

Viktor sebagai pejuang kemerdekaan dikatakan siap untuk berjuang meskipun dirinya berada dalam penjara. Menurutnya penjara bukan sebuah tempat yang harus dialergikan oleh para pejuang kemerdekaan sejati.

“Tidak ada, semua tempat sama saja. Viktor ada pejuang sejati yang siap membela hak orang Papua meski harus berpindah-pindah penjara. Pengaruh Nelson Mandela sudah melekat pasti dengan jati diri seorang Viktor,”

Dengan keberanian yang ditunjukkan Viktor, AD mengatakan jika hal tersebut akan mematahkan stigma terkait opini Viktor sebagai pejuang pengecut. Viktor Yeimo adalah simbol pemimpin perjuangan sejati yang sadar akan resiko.

“Meski akhirnya nanti mati di penjara, itu adalah jalan terbaik seorang pemimpin perjuangan. Viktor akan membuktikan hal itu, dia bukan pengecut. Viktor sendiri yang sampaikan jika pemimpin harus bisa menerima pahit dan kesengsaraan,”

Jalan yang dipilih Viktor Yeimo sebagai pejuang sepenuhnya disadari tentang segala resikonya, Viktor tidak akan gentar melawan sistem yang harus menghentikannya. Sel Mako Brimob bukan disebutkan AD sebagai momok yang membuat Viktor menjadi gentar.

“Mau itu di Mako Brimob juga tidak ada masalah bagi Viktor. Dia sendiri yang bicara kalau jangan ada upaya ‘merengek’ untuk minta pembebasan, perjuangan ini sepenuhnya harus diselesaikan, jangan meminta-minta,”

Meski demikian AD tetap menyampaikan jika Viktor berharap kepada seluruh pejuang untuk tetap melakukan perjuangan dengan cara masing-masing.

“Viktor sudah siap untuk melakukan perjuangan di dalam penjara, yang lain punya porsi berbeda sehingga lakukan perjuangan juga sesuai hati dan pikiran masing-masing,”

Senin, 06 September 2021

Kejahatan Itu Tidak dapat disembunyikan, Ibarat pepatah “sepandai-pandainya tupai melompat suatu saat akan jatuh juga”

wrtsh papua


Kejahatan Itu Tidak dapat disembunyikan, Ibarat pepatah “sepandai-pandainya tupai melompat suatu saat akan jatuh juga”

Oleh: Dwika Adythama (Pengamat Papua)

Akhir Pelarian Senat Soll

Tiga tahun sudah pencarian terhadap Senat Soll pelaku kejahatan dan kerusuhan di kabupaten Yahukimo Papua, Senat Soll yang diketahui merupakan pecatan TNI ditangkap oleh kepolisian resort Yahukimo.

Senat Soll merupakan DPO beberapa kasus kekerasan pada 30 Novemver 2019. Mantan anggota TNI ini ditangkap di Jalan Samaru, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, pukul 05.28 WIT. 

Selama 3 tahun ini sudah tercatat sebanyak 12 kejahatan yang dilakukan oleh Senat Soll setelah bergabung dengan kelompok criminal bersenjata (KKB): pada tahun 2018 Senat Soll terlibat kasus jual beli amunisi bersama anggota KNPB Yahukimo, Ruben Wakla yang telah masuk Daftar Pencarian Orang Nomor : DPO/86/X/2018/RESKRIM.

Awal Desember 2019, Senat Soll terlibat aksi pembakaran ATM BRI Unit Dekai berdasarkan laporan polisi Nomor 55 / I / 2019 / PAPUA / RES Yahukimo. Senat Soll terlibat dalam aksi pembunuhan Staf KPU Yahukimo Henry Jovinsky di Jembatan Brasa Dekai, 11 Agustus 2020.

Senat Soll juga terlibat kasus pembunuhan terhadap Sayib di Dekai Yahukimo pada 2019. Disusul aksi pada 26 Agustus terkait pembunuhan terhadap masyarakat bernama Yausan di Jalan Gunung Dekai Yahukimo.

Pada 18 Mei 2021 Senat Soll terlibat kasus pembunuhan terhadap dua anggota TNI di Ujung Bandara Dekai Selain membunuh anggota TNI, Senat Soll merampas 2 senjata jenis SS2V4. Senat Soll terlibat kasus penembakan terhadap pengendara motor di Jalan Longpon, Dekai, pada 21 Juni 2021. 

Pada 24 Juni 2021 Senat Soll kembali melakukan penembakan terhadap truk di Kali Seridala, pada hari yang sama, Senat Soll kembali melakukan penembakan di Kampung Bengki, Yahukimo hingga menyebabkan 4 orang meninggal dunia dan satu mengalami luka-luka yang memakan banyak korban.

Pada 25 Juni 2021Senat Soll melakukan pembakaran alat berat di Kali Seridala. Tidak ada korban jiwa dalam aksi tersebut, namun tindakan Senat telah membuat warga ketakutan. 

Penembakan kembali terjadi terhadap anggota Polri di Area Kali  El Dekai pada 9 Juli 2021. Aksi ini menyebabkan satu anggota Polri terluka dan telah ditangani Polres Yahukimo.

Terakhir Senat Soll terlibat kasus pembunuhan karyawan PT Indo Papua di Jembatan Kali Brasa Yahukimo, 22 Agustus 2021. Kejahatan ini menjadi catatan terakhir Senat Soll yang menyebabkan dua orang meninggal dengan cara mengenaskan.

Disini saya sampaikan bahwa kejahatan itu sama dengan “KARMA” apa yang diperbuat setiap manusia maka dia akan mendapatkannya juga suatu saat. 

“siapa yang menanam, maka dia akan menuai”

Tuhan Tidak Buta

06/09/2021

Jumat, 03 September 2021

Kabar Penangkapan Pimpinan KKB, Tokoh Masyarakat Turut Tolak Setiap Aksi Separatisme di Yahukimo

wrtsh papua


Salah seorang pimpinan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang juga merupakan DPO kasus separatisme di Yahukimo berhasil ditangkap Kepolisian. Penangkapan tersebut terjadi pada 2 September (kemarin) di Jl. Samaru, Dekai, Yahukimo.

Senat Soll alias Ananias Yalak yang merupakan pimpinan KKB Yahukimo baru-baru ini telah menggegerkan publik dengan aksi biadabnya membakar dua pekerja PT. Indo Papua yang tengah menyelesaikan pembangunan jembatan untuk jalan trans Papua.

Robi Silak sebagai tokoh masyarakat Yahukimo menanggapi baik penangkapan terhadap Senat Soll, dirinya menyebutkan jika upaya tegas aparat cukup membuat masyarakat Yahukimo menjadi tenang dan tidak takut atas ancaman-ancaman yang sering dilakukan KKB.

“Kami masyarakat Yahukimo sangat senang dengan kabar ini. TNI Polri harus tegas, tangkap semua itu KKB. Setelah kejadian terakhir itu (pembunuhan dua pekerja PT Indo Papua) kami takut beraktivitas, tidak ada masyarakat yang berani jauh-jauh dari kota,”

Senat Soll yang juga sebagai aktor dalam pembunuhan Staff Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tahun Agustus tahun 2020, dikatakan Robi telah mengganggu kenyamanan masyarakat. 

“Senat Soll, dia itu sangat mengganggu. Masyarakat disini sudah berulang kali mendapat ancaman sampai teror pembunuhan, padahal kita ini masyarakat sipil tidak tahu masalah. Memang sudah mengganggu jadi kami senang dengar kabar dia ditangkap,”

Selain itu Robi melihat jika aksi separatisme bukan hanya dilakukan oleh gerombolan KKB Senat Soll, pihaknya menyadari jika aksi-aksi organisasi KNPB juga menjadi salah satu bentuk ancaman keamanan di wilayah Yahukimo.

“Saya berharap lagi kalau KNPB itu juga bisa ditindak tegas, mereka juga salah satu sumber penyakit (faktor ancaman keamanan) di Yahukimo. Kami orang-orang tua tidak suka dengan mereka yang selalu membuat kekacauan atau melakukan provokasi,”

Robi menambahkan jika Yahukimo adalah wilayah yang menjunjung tinggi adat kebersamaan dan menolak segala bentuk kekacauan/kekerasan. Oleh sebab itu dirinya berharap besar agar embrio-embrio kekerasan yang dibawa oleh kelompok separatis bisa dimusnahkan.

“Jangan membuat Yahukimo ini menjadi daerah merah, kami orang adat menjaga Yahukimo ini dalam damai. Sudah seharusnya aksi kekerasan atau ancaman dari kelompok separatis itu harus dihilangkan dari sini,”

Sabtu, 21 Agustus 2021

Stop Teriak Merdeka!, Gunakan Otsus Untuk Membangun Papua

wrtsh papua


Pemuda Papua harus mengisi kemerdekaan dengan memanfaatkan perpanjangan Undang-undang Otsus Papua.

Kebijakan perpanjangan Otsus di Papua merupakan anugrah dari Tuhan kepada Papua lewat Pemerintah Pusat. Kita bersyukur pemerintah telah memberikan program keberlanjutan Otsus sesuai aspirasi masyarakat Papua seutuhnya.

“Pemerintah Pusat dan DPR RI terus memperhatikan masyarakat di wilayah paling timur Indonesia. Perpanjangan Otsus yang diberikan ini merupakan solusi buat generasi di Papua untuk bisa membangun agar sama dengan wilayah bagian barat di Indonesia, ini perlu kita berterima kasih dan bersyukur.“

Para pemuda di Papua yang merupakan generasi penerus bangsa tidak lagi mengotak-ngotakkan diri apalagi mengaitkan dengan seruan Papua Merdeka lewat aksi demonstrasi dan provokasi.

“Kita di Papua ini sudah merdeka!, sekarang tinggal bagaimana kita mengisi kemerdekaan ini dengan memajukan kesejahteraan melalui kebijakan otonomi khusus yang sudah disahkan" 

Semua elemen masyaralat di papua agar terus bergandengan tangan menciptakan suasana yang damai dan kondusif.

“Kalau kita di Papua damai, maka pembangunan bisa berjalan dengan baik, dan kita bisa sejahtera,”

Kepada DPR Papua dan DPRD agar bersama-sama rakyat ikut mengawal penggunaan dana Otsus, sehingga dana yang di berikan dari pusat tersebut bisa dirasakan hingga ke masyarakat paling bawah.

“Sekarang tinggal bagaimana kita yang di Papua ikut bersama mengawasi penggunaan dana Otsus tersebut, baik DPR Papua maupun DPRD bersama semua elemen, mari kita terlibat untuk ikut mengawasi dana Otsus yang di berikan ini untuk kemajuan Papua Tercinta,”

Berhenti diskusi Papua Merdeka kalau tidak mau terbelakang.

Jakarta, 21 Agustus 2021

Aliansi mahasiswa Papua Sejabotabek