Tampilkan postingan dengan label PERISTIWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERISTIWA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Januari 2022

Bupati Yahukimo Tak Sepaham atas Tuntutan Demo Pelajar

wrtsh papua


Situasi kamtibmas di Kabupaten Yahukimo yang sempat tidak kondusif dalam beberapa bulan terakhir mendesak Kepala Daerah untuk menyikapi penanganan konflik dengan mendatangkan bantuan tambahan berupa pengerahan aparat keamanan dari satuan Brimob. (22/1)

Bupati Yahukimo Didikus Yahuli juga mengatakan bahwa wilayahnya sempat menjadi daerah rawan karena berulang kali mendapat gangguan dari kelompok separatis, serta pecahnya konflik horizontal yang melibatkan dua suku besar sudah dikhawatirkan mengganggu aktivitas masyarakat secara umum.

"Perlu sama-sama kita ketahui kalau situasi di Yahukimo sempat menjadi daerah merah. Konflik terjadi dimana-mana, sudah sangat mengkhawatirkan. Maka dengan segala upaya demi situasi yang kondusif, memang perlu didatangkan Brimob tambahan," ujar Bupati.

Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Didikus Yahuli menanggapi aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh sejumlah pelajar sekolah menengah yang secara tiba-tiba menyuarakan tuntutannya untuk menarik penugasan Brimob dari Yahukimo.

"Saya sangat mengapresiasi kinerja Polri dalam menangani konflik di Yahukimo, saya berterima kasih karena sudah melaksanakan tugas dengan baik, memberikan perlindungan keamanan disini," tambahnya.

Bupati bahkan mengaku sangat menyesali aksi unjuk rasa yang dilakukan para pelajar dengan cara pandang sepihak. Sebab menurutnya bukan perkara mudah mengakomodir tempat tinggal bagi aparat keamanan yang bertugas di Yahukimo.

"Dulu ketika kerusuhan terjadi, bahkan asrama Polisi sampai ditempat banyak masyarakat untuk cari perlindungan. Hanya memang saat ini bukan perkara mudah untuk menyediakan fasilitas meski hanya berupa rumah singgah bagi anggota Brimob yang baru akan bertugas,"

Bukan tanpa sebab, Bupati yang mengaku bertanggung jawab atas instruksinya untuk memaksimalkan aula gedung sekolah agar dapat digunakan sementara oleh Brimob, sebab proses belajar mengajar bagi para pelajar sekolah belum sepenuhnya  berjalan dengan semestinya.

"Sekolah juga belum berjalan sebagaimana mestinya, sehingga kami sendiri yang minta agar anggota Brimob untuk sementara bisa menempati aula sekolah, lagi pula itu hanya sementara. Apa yang saya lakukan bukan untuk kepentingan tertentu, kami semua sudah membahasnya bersama-sama,"

Didimus Yahuli lantas meminta kepada seluruh pihak untuk tidak mempermasalahkan peristiwa sebelumnya. Sebab menurutnya kabar penolakan kehadiran aparat keamaman di Yahukimo hanya disebabkan aksi provokasi oleh kelompok yang tidak suka dengan TNI-Polri.

"Tentu saya sangat kecewa, tetapi mau bagaimana juga para siswa adalah anak-anak kami. Sehingga sekarang ini kami minta untuk peristiwa sebelumnya tidak perlu lagi dipermasalahkan, itu hanya aksi provokasi yang dilakukan kelompok tertentu,"

Jumat, 21 Januari 2022

KNPB Racuni Pelajar Yahukimo dengan Muatan Separatisme

wrtsh papua


Tokoh Senior dan pengamat Papua menilai aksi demonstrasi yang dilakukan sekelompok orang yang mengaku sebagai pelajar di Kabupaten Yahukimo dianggap telah ditunggangi oleh kepentingan salah satu organisasi separatis anti pemerintah. 

Franz Korwa dalam keterangannya mengatakan bahwa hal tersebut adalah salah satu bentuk kemunduran proses belajar mengajar di Kabupaten Yahukimo, Papua. Terlebih aksi penyusupan yang dilakukan KNPB ditegaskannya bukan kali pertama terjadi, Korwa juga menyinggung aksi unjuk rasa serupa di Kota Wamena yang berakhir rusuh. (20/1) 

"Tidak elok melihat pelajar seperti itu, tapi kami sebagai orang tua juga tidak bisa menyalahkan, sebab keterlibatan KNPB memang nyata adanya. Kami minta hal seperti ini jangan kembali terulang, peristiwa di Wamena polanya sama persis. Aparat keamanan dan sejumlah pihak harus bisa mengantisipasi kemungkinan terburuk," 

Korwa bahkan menuduh jika aksi yang digelar disejumlah gedung instansi pemerintah di Yahukimo tersebut memang murni sebagai bagian dari eksistensi kelompok separatis. Hal tersebut diungkapkannya mengingat massa aksi dinilai tidak memahami kondisi terkini dan asal menggelorakan tuntutan. 

"Sebelum menggelar aksi, pastikan dulu kabar yang terbaru. Padahal polemiknya sudah dibicarakan, kemudian dari dinas terkait juga mengaku sudah ambil jalan tengah dua hari sebelumnya, tapi aksi demo tetap terjadi. Jadi sebenarnya apa tuntutan mereka? Atau hanya mau memanfaatkan situasi?" 

Menurut Korwa kelompok KNPB adalah pihak yang harus bertanggung jawab sepenuhnya atas kemerosotan moral dan pendidikan di seluruh Papua. KNPB dinilai telah menghambat proses pendidikan karena turut melibatkan anak usia dini untuk melangsungkan agenda-agenda separatis. 

"Yang perlu ditegaskan bahwa aparat tidak pernah punya tujuan menduduki fasilitas pendidikan. Aksi demo itu tidak beralasan, bahkan aksi-aksi semacam itu memang sudah menjadi bagian dari agenda separatis. Melihat bagaimana kelompok separatis yang terdesak karena kehadiran aparat keamanan maka sekarang ini mereka mencari cara untuk memulangkan pasukan yang ada," 

Diketahui sebelumnya bahwa aparat keamanan dilibatkan untuk mengatasi konflik perang suku antara suku Yali dan Kamyal, bahkan Korwa menambahkan jika kehadiran aparat keamanan di Yahukimo juga perlu diapresiasi karena berhasil menangkap pimpinan kelompok separatis bersenjata, Senat Soll (2/9/21) dan Damianus Magayang (27/11/2021)

Minggu, 16 Januari 2022

Kabar Gembala Elias Kalakmabin Terungkap, Ancaman Separatis Menghantui

wrtsh papua


Dalam pernyataan sepihak yang dipublikasi salah satu organisasi separatis (KNPB), Gembala Elias Kalakmabin dikabarkan hilang akibat tindakan represif oleh aparat keamanan di wilayah Distrik Serembakon, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Namun kabar hilangnya seorang tokoh agama tersebut dibantah oleh DK yang merupakan warga Distrik Serambakon, menururnya Elias Kalakmabin sedang berada di rumah kerabatnya.

"Tidak benar kabar itu, saya warga asli tidak pernah tahu ada seorang gembala yang ditembak. Gembala Elias kemarin saya masih lihat dia ada di rumah salah satu saudara,"

Diketahui sebelumnya DK menolak memberi keterangan terkait kabar Elias Kalakmabin. Dalam alasannya DK mengaku mendapat ancaman dari kelompok separatis yang sesekali masih terlihat di wilayah Distrik Serambakon.

Menurut DK kabar tidak bernar terkait penembakan terhadap Gembala Elias Kalakmabin adalah salah satu propaganda yang dilakukan kelompok separatis untuk mengacaukan situasi di Kabupaten Pegunungan Bintang.

"Sebelumnya banyak aksi gangguan yang dilakukan kelompok separatis, sampai akhirnya aparat TNI-Polri bisa mengembalikan situasi. Jadi ada kemungkinan besar memang kelompok separatis mau melakukan aksi biadabnya lagi setelah ini,"

Sebagai warga lokal DK merasa sangat marah dengan aksi-aksi gangguan yang dilakukan kelompok separatis. DK menyebut pengaruh dari kabar yang tidak benar sebelumnya akan membuat keresahan bagi masyarakat.

"Kalau urusannya dengan aksi separatisme, pasti warga merasa ketakutan. Setelah ini masing-masing dari kami disini pasti merasa khawatir dengan situasi keamanan, akhirnya kami juga yang dirugikan,"

Selasa, 11 Januari 2022

Pesta ULMWP atas Perang Saudara di Wamena

wrtsh papua


Klaim ULMWP melalui Jacob Rumbiak terkait pengambilalihan Papua atas pemerintahan RI secara klandestin ditanggapi keras oleh Jeffrey Bomanak. Ketua Organisasi Papua Merdeka (OPM-TPNPB) tersebut bereaksi keras sebab ULMWP seolah mengklaim keberhasilan meski di Kota Wamena, Jayawijaya, sedang terjadi perang suku dalam skala besar.

“Perang saudara di Wamena harus segera dihentikan, peristiwa ini harus menjadi perhatian semua pihak. Saya tidak suka dengan cara ULMWP yang sedang mengklaim keberhasilan, padahal kita di Papua sedang disulitkan dengan keadaan,”

Terkait situasi perang tersebut Jeffrey lantas mempertanyakan peran ULMWP yang dalam kabar-kabar sebelumnya juga selalu gencar mengklaim pembentukan pemerintahan sementara.

“Dari situasi perang di Wamena saya mau tahu sebesar apa kapasitas pemerintahan sementara yang dibentuk ULMWP, apakah mereka bisa menyelesaikan setiap masalah yang terjadi diantara rakyatnya atau tidak,”

Menurut Jeffrey fungsi pemerintahan sementara yang dibentuk ULMWP harus mempu mengatasi setiap konflik yang terjadi di masyarakatnya.

“Kalau memang benar ULMWP berani membentuk pemerintahan sementara maka harusnya mereka juga berani berhadapan dengan konflik-konflik yang terjadi di lingkungan masyarakat. Hanya saja, memang saya tidak menaruh harapan besar untuk mereka (ULMWP),”

Atas pernyataan sebelumnya, Jeffrey lantas menyimpulkan bahwa ULMWP adalah organisasi yang murni dibentuk hanya untuk mencari keuntungan dalam setiap agendanya. ULMWP tidak pernah sungguh-sungguh ingin menciptakan kehidupan dan harapan baru bagi orang Papua.

“Hal seperti ini juga seharusnya mau mereka tangani, jangan hanya bisa mendesak rakyatnya untuk berbondong-bondong mendukungan agendanya. ULMWP dan orang-orang didalamnya tidak akan pernah layak memimpin Papua. Jangan pernah berpesta diatas penderitaan rakyat sendiri,”

Jumat, 17 Desember 2021

Panglima Tertinggi TPNPB Minta Keterbukaan Penyelesaian Kasus HAM di Papua

wrtsh papua


Tuntutan penyelesaian kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) khususnya di Papua mendapat respon positif dari pemerintah pusat, sebab Presiden Joko Widodo dalam sebuah keterangannya telah berkomitmen untuk menyelesaikan dugaan pelanggaran HAM di Indonesia secara menyeluruh.

Demianus Magay Yogi sebagai Panglima Tertinggi TPNPB-OPM pun tidak keberatan dengan rencana besar yang telah diinisiasi oleh Presiden Jokowi tersebut. Diketahui Demianus Yogi juga mendukung langkah pemerintah yang sudah menurunkan tim penyidik untuk membuka tabir dalam kasus dugaan pelanggaran HAM yang terjadi di Paniai.

“Sebagai orang asli Paniai, sebagai saksi sejarah bagaimana dinamika yang terjadi di Paniai dalam waktu puluhan tahun, saya mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk melakukan investigasi dalam penyelesaian kasus pelanggaran HAM,”

Damianus dalam keterangan tersebut bahkan lebih memilih untuk mengikuti proses yang sedang berlangsung dan sedang direncanakan. Dirinya mengaku akan menyerahkan semua proses kepada tim yang sudah dibentuk oleh pemerintah.

“Kami semua sudah dengar kabar itu, tim sudah dibentuk dan akan melakukan tugasnya. Saya lebih memilih menyerahkan prosesnya kepada tim itu, karena mereka sudah mau bergerak (bertugas), karena lebih cepat maka akan lebih baik, daripada hanya berharap kepada pihak ketiga yang tidak tahu kapan terjadi,”

Demianus dketahui tidak setuju dengan keterlibatan kelompok eksternal dalam penyelesaian kasus Paniai Berdarah, namun hal tersebut ditegaskannya dengan catatan bahwa pemerintah Jokowi mau bekerja dengan jujur untuk menuntaskan seluruh kasus dugaan pelanggaran HAM di Papua.

“Intinya tidak perlu lagi pihak luar kalau memang ada itikad baik dari pemerintah untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM, bukan hanya di Paniai tapi diseluruh Papua,”

Demianus juga meminta kepada tim investigasi jika kasus Paniai berdarah telah terbukti, maka dirinya mendesak agar pelaku dijatuhi dengan hukuman yang setimpal, dan proses peradilannya dapat dibuka ke ranah publik sebagai bentuk transparansi.

“Ini semua menyangkut kemanusiaan, mereka yang secara sengaja membatasi hak manusia lain harus mendapatkan balasan yang setimpal. Kasus ini harus dibuka secara publik, buktikan ke publik sebagai bentuk keterbukaan,”

Rabu, 15 Desember 2021

Kelompok Separatis kembali Bakar Sekolah dan Ancam Waga di Pegunungan Bintang

wrtsh papua


Sejumlah puluhan orang warga Sembakom, Distrik Serambakom, Pegunungan Bintang, kembali harus meninggalkan rumahnya untuk mengungsi ke sebuah gereja di wilayah tersebut. Aksi spontan oleh warga tersebut diketahui karena khawatir sebab kelompok separatis telah membakar sebuah sekolah yang berada di kampungnya. (14/12)

"Kemarin SMP negeri dibakar, mereka (kelompok separatis) sambil berteriak-teriak menentang senjata. Kami warga menjadi takut. Tidak mau ikut campur, lebih sementara kami tinggal dulu di gereja," ungkap Nus Uropmabin.

Nus mengatakan jika upaya warga untuk meninggalkan kampung harus dibantu oleh aparat keamanan. Bahkan dirinya bersaksi ketika dilakukan evakuasi sempat mendapat serangan yang diduga dilakukan oleh kelompok separatis.

"Benar kami ini ada anak-anak, orang tua, perempuan, jadi harus dikawal aparat TNI-Polri, tapi tetap saja kami mendapatkan serangan. Beberapa kali kami harus berlindung untuk menghindari tembakan. Kami sangat ketakutan,"

Nus menjelaskan jika terjadinya aksi gangguan yang dilakukan oleh kelompok separatis berlangsung hingga satu jam lebih lamanya. Dirinya juga menerangkan terkait medan yang dikelilingi perbukitan.

"Lebih dari satu jam kami ditembaki, kami juga tidak tahu harus berbuat apa karena mereka (kelompok separatis) menembak dari bukit-bukit,"

Nus lantas mengecam aksi kelompok separatis yang dianggapnya telah merugikan warga di Pegunungan Bintang. Hal tersebut didasarkan pada aksi pembakaran dan ancaman bersenjata sehingga membatasi warga dalam beraktivitas sehari-hari.

"Sekolahan itu tempat supaya anak-anak kami bisa belajar dan menjadi orang yang cerdas, makanya kami juga marah kalau SMP jadi sasaran. Kemudian sekarang warga juga sudah takut mau kemana-mana, kami menjadi tidak leluasa mau beraktivitas,"

Minggu, 12 Desember 2021

Kematian Pdt. Mazmur Diduga Terlibat Konspirasi Oknum Sinode Kingmi Papua

wrtsh papua


Jayapura, 10 Desember 2021
#SaveHam
#BongkarKejahatanBennyGiay

Kematian seorang Pendeta dari Sinode KINGMI Papua Pdt. Masmur Asso M.Th yang diduga ada kaitannya dengan pemilihan ketua Sinode Kingmi Papua beberapa waktu lalu di timika, dipertanyakan kembali oleh pihak keluarga, Jumat (10/12).

Pihak keluarga minta pertanggung jawaban dari Ketua Sinode Kingmi yang lama yaitu Pdt. Benny Giay dimana saat meninggalnya Pdt. Mazmur Asso ada kaitannya dengan pencalonan almarhum sebagai Ketua Sinode Kingmi Papua. Sebelum pemilihan Ketua Sinode Kingmi Papua alm. Pdt. Mazmur Asso merupakan calon kuat sebagai Ketua Sinode Kingmi menggantikan Benny Giay, namun sebelum pemilihan digelar Pdt. Mazmur Asso telah meninggal.

"Sebelum meninggal, kami mengetahui kalau calon kuat yang akan menjadi Ketua Sinode Kingmi Papua menggantikan Benny Giay adalah Pdt. Mazmur Asso,naehingga dengan kematian ini ada indikasi kecurangan atau bisa dikatakan rencana jahat (konspirasi)," ungkapnya.

Menurutnya Kematian Pdt. Mazmur Asso tidak wajar sehingga dapat dikatakan ada keterlibatan dari oknum-oknum dalam Sinode Kingmi Papua, sehingga Pdt. Benny Giay selaku Ketua Sinode Kingmi Papua pada saat itu harus bertanggung jawab dan menjawab semua persoalan ini.

"Kami menduga ada hal  yang tidak wajar dilakukan oleh beberapa orang dalam Sinode Kingmi Papua sehingga mereka harus dibersihkan dari Sinode Kingmi Papua seperti Pdt. Dominggus Pigai, Pdt. Frediel Pigai dan Pdt. Ayub Yogi, karena kematian almarhum ada kaitannya dengan mereka," terangnya.

Namun apapun yang mereka bertiga lakukan semua ini tidak terlepas dari campur tangan dari Pdt. Benny Giay sebagai orang yang berpengaruh di Sinode Kingmi Papua. Sekarang Ketua Sinode Kingmi Papua sudah terpilih, namun perlu dicatat, kejahatan yang disembunyikan pasti akan muncul kapanpun.

Sabtu, 11 Desember 2021

Terbongkarnya Kebohongan Isu Pengungsian, Orang Papua ‘Ditumbalkan’

wrtsh papua


Terungkap aksi pengungsian adalah propaganda yang sengaja dibuat oleh kelompok separatis untuk menciptakan kegaduhan dan anggapan ketertindasan bagi warga sipil akibat konflik yang terjadi di Papua. Pernyataan tersebut terkuak dari salah seorang warga Tumorbil, Kabupaten Pegunungan Bintang yang sebelumnya dipaksa untuk berpura-pura menjadi pengungsi.

“Beberapa dari kami tidak menyangka kalau pengungsian itu hanya akal-akalan yang diciptakan, kami ini warga asli Tumorbil, tapi aktivitas kami dibatasi. Belakangan baru kami tahu mengapa kami seperti ditahan dan tidak boleh keluar dari hutan,”

Diketahui dari salah seorang warga bermarga Uopmabin tersebut mengatakan jika masyarakat sempat mendapat intimidasi dari kelompok separatis, dalam pengakuannya warga Tumorbil juga pernah didatangi oleh kelompok separatis untuk ditakut-takuti karena telah terjadi konflik bersenjata.

Menurut Uopmabin beberapa masyarakat yang sampai saat ini masih ‘disandera’ oleh kelompok separatis ingin segera kembali ke kampungnya masing-masing. Menurutnya warga tersebut sedang dimanfaatkan untuk kepentingan politis terkait pergerakan kemerdekaan Papua.

“Sudah pasti mereka hanya dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan aksi politis, tapi apa yang terjadi sudah sangat merugikan. Warga yang tidak mampu berbuat apa-apa hanya bisa pasrah, mereka ini korban,”

Uopmabin justru menganggap jika pergerakan yang dilakukan untuk membebaskan Papua justru dinodai sendiri oleh kelompok separatis, sebab masyarakat harus dijadikan umpan hanya untuk memberi anggapan jika orang Papua sedang terintimidasi akibat konflik yang terjadi.

“Yang berperang itu bukan warga sipil, kami tidak tahu apa-apa. Klaim perjuangan justru dinodai sendiri oleh kelompok separatis, warga sipil dijadikan umpan hanya untuk poin yang tidak penting, ini semua adalah kebohongan, apa yang dilakukan juga sebuah pembodohan,”

Kelompok separatis sengaja melakukan propaganda, terkuaknya isu pengungsian menjadi salah satu dari sejumlah kebusukan yang selalu digunakan untuk mendorong kepentingannya di Papua. Hal tersebut menjadi masuk akal sebab isu pengungsian selalu mencuat setiap menjelang perayaan hari-hari besar.

Warga Mengaku Diintimidasi Agus Kossay Agar Mengungsi

wrtsh papua


Cnmindonesia.papua
11/12/21 10:30

Belum selesai persoalan penanganan pembunuhan terhadap Nakes yang dilakukan oleh kelompok Lamek Taplo di Kiwirok, kemaren muncul isu akan ada gelombang pengungsian di Oksibil Kabupaten Pegunungan Bintang.

Kabar yang tersebar melalui percakapan group WhatsApp yang dikelola oleh KNPB menyebutkan dalam beberapa waktu dekat akan ada pengungsian besar-besaran dari beberapa distrik yang berdekatan dengan perbatasan PNG dan RI.

Awak media mencoba mencari kepastian informasi tersebut dari warga yang berada di Tumorbil, sebut saja Uopmabin karena dirinya tidak mau diketahui publik terkait informasi pengungsian di Tumorbil.

Melalui telepon seluler, Uopmabin menceritakan kalau warga yang ada di Tumorbil sebenarnya bukanlah pengungsi sebenarnya, mereka merupakan warga yang sudah lama tinggal di Tumorbil.

Terkait isu pengungsian itu tidak benar, waktu itu kami mendapatkan informasi adanya tenaga kesehatan yang bertugas di Kiwirok ditembak dan dibunuh oleh TPNPB, dengan adanya peristiwa tersebut kami dihubungi oleh salah seorang yang mengaku ketua KNPB pusat di Jayapura. Kami diminta untuk menerima para pengungsi dengan alasan adanya penyerangan yang dilakukan oleh aparat keamanan.

Warga yang disebut pengungsi oleh orang KNPB itu sebenarnya warga yang tidak berdampak setelah adanya pembunuhan terhadap Nakes di kiwirok, mereka dipaksa ke Tumorbil karena disampaikan untuk menghindari aparat keamanan.

"Sebenarnya mereka warga yang tidak terkena dampak dari penyerangan terhadap Nakes, karena dipaksa dan diintimidasi oleh kelompok KNPB mereka terancam dan ketakutan sehingga mereka berada bersama kami di sini untuk beberapa waktu," ungkapnya.

Selama di Tumorbil warga tersebut dipaksa oleh beberapa orang untuk berfoto dalam kondisi yang dibuat seperti mereka dalam kondisi mengungsi, kemudian mereka disuruh bicara yang keras bersama-sama dengan mengatakan "Kami pengungsi dari Kiwirok dan beberapa distrik sekitar mohon bantuan PBB untuk melihat situasi di Papua, didepannya ada yang merekam pakai HP," terangnya dengan nada sedih.

Informasinya juga beberapa waktu kedepan ini, mereka akan foto bersama dengan Lamek Taplo atau Panglima TPNPB untuk meyakinkan PBB kalau pengungsian itu benar-benar ada, pungkasnya.

Dari hasil percakapan kami dengan Uopmabin, kami menyimpulkan kalau pengungsian selama ini yang diiusukan berada di Tumorbil ternyata hanyalah rekayasa dari kelompok KNPB, isu bohong ini maka telah terjadi pembohongan publik yang dilakukan KNPB, sehingga dalam kasus ini maka Agus Kossay selaku ketua KNPB pusat yang juga melakukan intimidasi dan pengancaman terhadap warga di pegunungan bintang harus bertanggung jawab.

Agus tidak tau kalau banyak warga yang bisa berkomunikasi dengan keluarganya baik di PNG maupun di Papua sendiri untuk melaporkan rekayasa-rekayasa yang dibuatnya.

Awak media mencoba menghubungi Agus Kossay untuk mengkonfirmasi kasus pengungsian di Tumorbil, namun belum mendapatkan respon.

Jumat, 10 Desember 2021

Pembunuhan Nakes Dilupakan, Aksi Hari HAM Tidak Murni Dukung HAM

wrtsh papua


Orasi dalam peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia yang digelar oleh para mahasiswa Universitas Cenderawasih di halaman Gedung Pasca Sarjana dinilai sebagai karena salah presepsi dalam memahami dinamika di Papua. aksi tersebut juga dianggap sarat kepentingan terkait dukungan gerakan separatisme di Papua. (10/12)

Salah seorang tokoh senior Papua Agustinus R mengatakan bahwa aksi mahasiswa tidak didasari oleh keadaan yang sebenarnya, sebab seluruh isi pendapat yang dikemukakan hanya semata-mata untuk mendukung pihaknya sendiri.

“Hari ini kalian bicara HAM, genosida, pembunuhan, operasi militer, tapi kalian lupa bicara kalau ada tenaga kesehatan yang harus menemui ajalnya dengan cara yang tidak manusiawi karena dibunuh bahkan sebelumnya sempat diperkosa oleh gerombolan TPNPB-OPM, genosida itu adanya di Australia,”

Agustinus juga mendesak atas peristiwa kematian Pdt. Masmur yang dibunuh dengan cara tidak wajar karena polemik atas kepentingan. Bahkan kasus kematian Pdt. Masmur diketahui sempat menyeret nama Ketua Sinode KINGMI yang Lama, Benny Giay.

“Jangan karena Benny Giay adalah salah satu orang yang memihak gerakan separatis maka kalian tidak mau membahasnya. Padahal kamatian Pdt. Masmur itu sudah tidak wajar, dia dibunuh, artinya ada pelanggaran HAM disana,”

Agustinus menambahkan bahwa aksi yang dilakukan oleh mahasiswa Uncen tersebut tidak akan mendapat perhatian lebih dari dunia luar. Dirinya menuduh mahasiswa hanya pintar berbicara tanpa mampu bekerja dan berbuat lebih untuk kesejahteraan masyarakat di Papua.

“Memang paling mudah itu hanya menuduh, saking sibuknya menuduh mereka lupa diri sendiri. Kalian bicara tinggi tapi tidak mungkin bisa melaksanakannya, kalian cuma terlihat pintar karena banyak bicara. Saya yakin aksi ini tidak akan dapat banyak perhatian karena omong kosong saja semua isinya,”

Aksi yang diketahui juga tersisipkan kampanye tentang Papua merdeka tersebut juga membuat Agustinus merasa geram. Dirinya justru mempertanyakan tujuan mahasiswa menuntut kemerdekaan bagi Papua.

“Kalian hanya sibuk teriak merdeka, padahal orang lain sudah beranjak untuk bekerja dan tentu meninggalkan kalian orang-orang yang tidak mau maju. Kalian memang tidak mampu bersaing, makanya hanya bisa melihat kesuksesan orang lain dengan iri dan dengki,”

Sebab Agustinus berkeyakinan bahwa kemerdekaan bagi Papua bukan satu-satunya faktor yang dapat membuat masyarakat menjadi sejahtera. Sebab etos kerja dari masyarakatnya sendiri yang akan membuktikan bagaimana daerah tersebut dapat terpacu untuk berkembang. Agustinus menganggap jika janji-janji yang diumbar oleh Benny Wenda telah mempengaruhi pola pikir masyarakat Papua.

“Mereka yang bangga menjadi bagian dari aksi separatis sudah dibutakan janji-janji yang selalu disuarakan Benny Wenda, padahal mau Papua merdeka atau tidak, kalau orang-orangnya tidak mau bekerja ya pasti tidak akan berubah, kalian pikir kalau merdeka makanan bisa datang sendiri?”

Kamis, 09 Desember 2021

Mahasiswa Rawan Dimanfaatkan Kepentingan Elit Papua

wrtsh papua


Tokoh senior Papua mengingatkan agar kedudukan mahasiswa tidak mudah dipermainkan oleh elit politik. Franz Korwa menilai mahasiswa di Papua rawan dimanfaatkan demi kepentingan.

"Peran mahasiswa memang besar, tapi jangan pernah kalian dimanfaatkan. Elit politik itu punya seribu cara untuk kepentingannya,"

Mahasiswa juga dianggap perlu objektif untuk menilai peristiwa di Papua. Kecuali mahasiswa adalah bagian dari kelompok separatisme yang sudah menjadi momok di Papua.

"Jangan ketika mahasiswa dapat untungnya saja baru ramai melakukan aksi. Mahasiswa harus objektif, buktikan kalau kalian memang generasi yang berpendidikan, kecuali memang mereka bagian dari kelompok separatis itu,"

Sebab menurut Korwa peristiwa penyerangan yang dilakukan kelompok separatis kepada tenaga kesehatan di Kabupaten Pegunungan Bintang bahkan tidak pernah ditentang atau mendapat protes dari mahasiswa.

"Kalau memang mahasiswa itu sebagai aktivis kemanusiaan, dimana mereka kemarin waktu kelompok separatis membabi buta melakukan aksi tidak manusiawi kepada tenaga kesehatan di Kiwirok? Kenapa tidak bikin aksi?"

Korwa kemudian meminta kepada mahasiswa untuk fokus dan lebih mementingkan proses belajar demi masa depan yang lebih baik.

"Ingat kalau mahasiswa itu generasi penerus, jadi lebih baik kalian belajar saja yang rajin. Bawa Papua menjadi daerah yang lebih maju lewat peran positif yang kalian miliki,"

Sambut Hari HAM, Pastor John Bunay Himbau Ibadah dari Rumah

wrtsh papua


Cnnindonesia.com
Tokoh Agama Minta Jaga Protokol Kesehatan Selama Desember
09/12/21 10:46

Pastor John Bunay menampik adanya informasi terkait undangan kepada masyarakat di Jayapura untuk menghadiri kegiatan doa jalan salib dan ibadah oikumene di Lapangan Zakeus Tunas Harapan Padang Bulan. (9/12)

"Memang sebelumnya kami agendakan demikian, tapi panitia penyelenggara punya pertimbangan lain dengan masa pandemi ini. Jadi panitia memutuskan untuk melakukan ibadah dari rumah saja"

Dirinya juga mengungkapkan jika pandemi virus corona menjadi pertimbangan yang sangat serius.

"Kami yakin karena bulan Desember ini adalah bulan yang dinanti-nanti, kemungkinan dari antusiasme masyarakat pasti banyak. Makanya ini harus dipertimbangkan, apalagi terkait pandemi"

Meski demikian, Pastor John mengatakan bahwa ibadah yang direncanakan akan digelar pada 10 Desember tetap dapat dilakukan oleh masyarakat namun di rumah masing-masing.

"Kita bisa beribadah dan berdoa  kapan saja, dan dimana saja, silakan besok beribadah di rumah masing-masing, kita hindari kerumunan yang bisa berdampak kepada penyebaran covid-19"

Dirinya juga menegaskan yang terpenting adalah kita bisa berdoa untuk tanah Papua agar lebih aman dan damai.

Seruan Doa Dalam Rangka Memperingati Hari HAM Sedunia.

wrtsh papua


Syaloom, salam dalam kasih Kristus untuk kita semua umat pilihan Allah di atas tanah Papua, saya Pastor Jhon Bunay. Pr, bersama ini mengajak dam menghimbau kepada saudara - saudara saya umat pilihan Allah di atas tanah Papua untuk bersama - sama dapat mengambil bagian dalam kegiatan doa dalam memperingati hari HAM sedunia besok hari Jumat 10 Desember 2021 dengan cara mengambil langkah untuk berdoa dalam penanganan HAM di atas tanah Papua, doa dilakukan secara serentak di rumah masing - masing pada hari Jumat tanggal 10 Desember 2021, tepat Pukul. 10.00 WIT hingga pukul. 11.00 WIT.

Saatnya kita umat pilihan Allah bergerak dan bertindak menunjukan kasih Kristus di atas tanah ini dalam permasalahan HAM dan sekarang waktunya panji - panji Kristus ditegakkan dalam penanganan HAM di Papua ini, kita semua umat pilihan Allah harus bersatu didalam doa dan biarkan kuasa Allah mengalir di atas tanah ini.

INGAT!! Hari Jumat tanggal 10 Desember 2021, pukul. 10.00 WIT - 11.00 WIT, sempatkan waktumu untuk berdoa dari rumah masing-masing untuk tanah Papua.

Jayapura, 9 Desember 2021.

Pastor Jhon Bunay., Pr.

Senin, 06 Desember 2021

Pembakaran SMA Oksibil, Faktor Pendidikan Dianggap Ancaman

wrtsh papua


Kelompok separatis kembali melakukan aksi brutal dengan membakar komplek sekolah menengah di Kabupaten Pegunungan Bintang. Menurut kesaksian dari warga setempat, aksi yang dilakukan oleh kelompok Lamek Taplo tersebut terjadi pada 5 Desember 2021 dini hari.

Yunus Kalakmabin sebagai seorang tokoh masyarakat di Kabupaten Pegunungan Bintang dalam keterangannya menyebutkan bahwa aksi pembakaran SMA 1 Oksibil sengaja dilakukan oleh kelompok separatis. Menurutnya kemajuan dalam bidang pendidikan adalah salah satu faktor ancaman yang akan mengikis pergerakan separatisme.

“Karena pendidikan akan membentuk kepribadian seseorang, semakin tinggi pendidikan maka akan semakin matang juga cara berpikir seseorang. Makanya itu yang ditakutkan oleh kelompok separatis, mereka tidak mau orang-orang di Pegunungan Bintang ini menjadi orang yang pintar,” ungkap Yunus. (6/12)

Yunus menambahkan jika semakin banyak orang Papua yang sadar akan Pendidikan maka aksi separatisme tidak akan lagi mendapatkan perhatian.

“Sudah banyak contohnya di dunia luar sana, mereka yang tahu pentingnya pendidikan pasti tidak mau lagi ikut campur dengan aksi separatisme. Mereka lebih memilih untuk mengembangkan apa yang mereka punya, karena separatisme memang tidak bermanfaat,”

Yunus juga menjelaskan bahwa kelompok Lamek Taplo adalah salah satu kelompok separatis paling brutal di Papua. Kelompok tersebut dalam melakukan aksinya dikatakan oleh Yunus bahwa tidak pernah memperdulikan hak asasi manusia. Pernyataan tersebut disinggungnya pasca peristiwa malang yang dialami tenaga kesehatan di Distrik Kiwirok.

“Baru kemarin kita semua dibuat marah karena ada aksi penyerangan di Kiwirok, mereka itu memang kelompok paling brutal, tidak pernah tahu HAM seperti apa. Padahal Lamek Taplo sendiri selalu bilang kalau dirinya pembela HAM, itu omong kosong,”

Yunus lantas mengatakan jika masyarakat di Pegunungan Bintang sudah merasa tidak nyaman melihat aksi separatisme yang sudah menyasar di daerah perkotaan. dirinya menegaskan jika aksi separatisme sudah mendapat penentangan dari sejumlah masyarakat di Pegunungan Bintang terutama di Distrik Oksibil.

Jumat, 03 Desember 2021

Pelaku Pengibaran Bintang Kejora Tak Mungkin Lolos Hukuman

wrtsh papua


Pasca pengibaran atribut bintang kejora yang dilakukan sejumlah orang di Kota Jayapura pada 1 Desember kemarin, Polda Papua yang berhasil menangkap delapan orang pelaku justru didesak untuk dapat membebaskannya kembali.

Diketahui desakan tersebut muncul dari salah satu sayap organisasi gerakan separatis Papua, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) berdalih bahwa konflik politik dapat diselesaikan dengan cara damai.

"KNPB meminta Polda Papua untuk segera membebaskan delapan orang yang sudah dijadikan tersangka. Konflik Politik dapat diselesaikan dengan cara damai tanpa penjara dan peluru," ungkap Ones Suhuniap sebagai juru bicara KNPB.

Namun pernyataan KNPB melalui juru bicaranya yang meminta kepada Polda Papua untuk membebaskan 8 orang yang terlibat dalam aksi pengibaran atribut bintang kejora justru dicemooh sejumlah pihak.

Richard Rumbewas, salah seorang mahasiswa Papua yang tengah menjajaki program studi magister di salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur menyebutkan reaksi KNPB dianggap hanya sebagai desakan yang tidak memiliki dasar hukum jelas.

"Apa yang disuarakan terutama oleh KNPB sama sekali tidak akan mengubah jalannya proses hukum, karena alasan yang disampaikan juga tidak ada dasar jelas. Justru yang sudah lebih jelas dan menjadi fakta adalah adanya aksi pengibaran sebagai simbol perlawanan terhadap negara, ini sudah pasti melanggar hukum,"

Richard bahkan sempat mengaku tak menyangka jika aksi pengibaran atribut bintang kejora benar terjadi di Kota Jayapura. Sebab menurutnya aksi tersebut tidak lebih dari sekedar tindakan konyol, bahkan pelakunya sudah pasti memikirkan dampak dan resiko hukum yang akan diterima.

"Sangat konyol, bahkan saya meyakini kalau sebelum mereka melakukan aksinya, sudah terbayang seandainya mereka ditangkap aparat keamanan. Lebih-lebih lokasi pengibarannya tidak jauh dari kantor polisi,"

Richard menambahkan bahwa dirinya pesimis jika pelaku akhirnya dapat melenggang bebas tanpa hukuman. Dirinya justru mempertanyakan peran kedelapan orang yang terlibat aksi pengibaran dalam keterkaitannya pada gerakan pembebasan Papua.

"Saya bukan bermaksud untuk mencampuri urusan ini, namun saya memang sedikit penasaran dengan siapa saja mereka ini, dan desakan seperti apa yang akhirnya memberanikan mereka untuk melakukan tindakan yang nyata-nyata akan berhadapan dengan pidana,"

Kamis, 02 Desember 2021

Pengibaran Bintang Kejora Dinilai Upaya Pembodohan bagi Orang Papua

wrtsh papua


Pengibaran atribut bintang kejora yang terjadi di Kota Jayapura pada 1 Desember (kemarin) mendapat sorotan dari tokoh Pegunungan Tengah Papua, Yulius Kogoya dalam keterangannya menyatakan jika aksi tersebut tidak layak dan pelaku harus ditindak dengan hukum yang tegas.

Menurutnya pengibaran atribut bintang kejora juga hanya akan mengingatkan cerita lama yang kelam, aksi tersebut justru dinilainya sebagai sebuah kebodohan dan pembodohan yang dilakukan oleh orang Papua terhadap orang Papua sendiri.

“Tidak ada manfaatnya melakukan aksi seperti itu, saya meyakini jika aksi itu bahkan tidak mendapatkan banyak perhatian dari masyarakat sekitar. Apa yang sudah dilakukan lebih mengarah pada pembodohan dan untuk membodohi orang Papua,” ungkap Yulius. (2/12)

Dirinya justru mempertanyakan aksi tersebut, sebab upaya untuk menaikkan atribut bintang kejora yang dilakukan oleh tujuh orang sebelumnya langsung diturunkan sendiri beberapa menit kemudian. Yulius menganggap jika tujuan dilakukannya aksi tersebut hanya untuk mencari sensasi.

“Mereka yang menaikkan sendiri setelah itu diturunkan sendiri, lalu tujuannya untuk apa? Memang mereka cuma mau cari sensasi. Apalagi dalam perjalanan pulang, mereka sengaja melewati Polda Papua, tentu polisi disana langsung menangkap mereka,” 

Yulius menegaskan jika aksi yang dilakukan tersebut sudah selayaknya mendapat tindakan tegas dari aparat berwajib. Yulius berpendapat bahwa insiden tersebut sudah bisa dikatakan upaya untuk melawan negara.

“Memang tidak bisa dibenarkan, kalau bicara untuk Papua merdeka, memangnya mereka ini siapa mau seenaknya melakukan aksi seperti itu. Bahkan orang-orang itu pasti juga punya KTP sebagai bukti sah kalau mereka orang Indonesia,”

Minggu, 14 November 2021

Ali Kabiay salut aparat keamanan bersikap humanis kepada KNPB

wrtsh papua


Jayapura - Ali Kabiay mengaku salut dengan cara dan tindakan dari aparat keamanan dalam hal ini pihak kepolisian yang mendatangi sekretariat KNPB di salah satu honai Kompleks Expo, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua pada Sabtu (13/11/2021).

Pernyataan ini sengaja Ali Kabiay kemukakan guna menanggapi pernyataan juru bicara KNPB Ones Suhuniap yang terkesan terlalu mendramatisir pertemuan perwakilan aparat keamanan dan Ketua KNPB Agus Kossay di Expo Waena pada media sosial Facebook.

Ia mengaku tindakan yang dilakukan oleh aparat keamanan dalam menjalankan tugas untuk ciptakan kondisi Kamtibmas yang aman dan nyaman dengan cara humanis patut diancungi jempol, karena tidak ada tindakan kekerasan atau represif sehingga bisa membuat kegaduhan.

"Saya sangat respect sekali dengan apa yang telah di lakukan oleh aparat keamanan, khususnya aparat Kepolisian yang telah datang dan bersilahturami dengan Agus Kosay dan KNPB, apa yang di lakukan aparat kepolisian sebenarnya menunjukkan sikap dan tupoksi Polisi sendiri yaitu mengayomi masyarakat, dan hal tersebut adalah hal yang sangat wajar, dan seharusnya jangan di politisir atau dramatisir , " ungkap Ali Kabiay.

"Ini patut diapresiasi, karena langkah persuasif digunakan oleh aparat dalam merangkul oknum warga atau kelompok yang masih berseberangan," katanya di Jayapura, Sabtu malam.

Menurut dia, sebagaimana foto yang beredar di grup media sosial Facebook, terlihat bahwa pertemuan itu nampak mesra dan dalam suasana yang harmonis, dimana Agus Kossay terlihat duduk santai di lantai dengan kaki berselonjor, sementara tamunya yang diduga dari aparat kepolisian duduk mendengarkan dengan seksama pernyataan Agus Kossay. Bahkan terlihat ada botol air mineral sebagai ciri khas dalam suatu pertemuan atau diskusi. Ada minuman atau makanan yang disajikan kepada tamu.

"Dalam foto di Facebook terlihat Agus Kossay dan beberapa orang aparat terlibat pembicaraan yang menarik. Foto itu saja sudah bisa menceritakan bahwa ada pertemuan yang mungkin Agus Kossay undang mereka, aparat untuk berdiskusi," katanya mencoba menduga.

"Saya juga melihat dalam postingan tersebut tidak ada kekerasan yang di lakukan oleh aparat keamanan, justru aparat datang dengan tujuan yang baik, coba lihat saja fotonya yang beredar di media sosial facebook, aparat kepolisian tidak membawa senjata atau pentungan, untuk itu saya secara pribadi meminta kepada saudara saya Ones Suhuniap untuk berhenti mempolitisasi keadaan di Kota Jayapura yang sudah aman dan kondusif"

Lebih lanjut Ali sampaikan bahwa saat ini Kota dan Kabupaten Jayapura tengah melaksanakan event nasional yakni Peparnas XVI sehingga cipta kondisi situasi Kamtibmas pasti akan dilakukan agar acara tersebut bisa berjalan aman dan lancar.

"Mungkin kedua pihak, sepakat bertemu di Expo. Kan bisa saja Agus Kossay yang undang? Kalau ada semacam kegiatan yang bertentangan dengan negara, mana mungkin aparat datang dengan baju biasa, lalu duduk manis bercerita layak teman atau saudara. Ini dulu yang harus dipahami, foto saja sudah bercerita. Jadi, jangan disalah artikan," ujarnya.

Ali menduga Ones Suhuniap sengaja memviralkan pertemuan yang humanis itu dengan harapan mendapatkan simpati dari rakyat Papua, bahwa ada tindakan berlebihan kepada Agus Kossay selaku Ketua KNPB Pusat. "Atau bisa saja, Ones Suhuniap dan Agus Kossay sedang terjadi salah paham, atau kalimat lainnya lagi tidak harmonis karena bisa soal sesuap nasi atau masalah posisi atau jabatan. Kan kita semua tahu bahwa Agus Kossay lebih terkenal dari dia," katanya menduga.

Ali berharap Ones Suhuniap tidak membangun narasi yang kurang baik di sosial media, jika ingin suatu klarifikasi persoalan hendaknya langsung ke pihak yang dituju, datangi atau menyurat agar terlihat elegan bukan sebaliknya, hanya bisa berkoar-koar tanpa jelas.##

Sabtu, 13 November 2021

Dimana Keadilan dan Kemanusiaan Kalian!

wrtsh papua


"Teriak Teriak Kemanusiaan...Bicara Keadilan...Korban Penembakan...Apalagi Yang Bisa Kalian Teriakan"

Sudah adilkah kalian membela kemanusiaan, kalian jangan bicara kemanusiaan kalau hanya dari pandangan subyektif saja, lebih baik kalian diam kalau tidak bisa objektif untuk membela keadilan dari korban-korban pembunuhan di Papua.

Hari ini kalian bicara tentang HAM atas meninggalnya seorang ibu-ibu di Intan jaya, sudah jelaskah pelakunya siapa? Sehingga kalian menuduh ini semua karena salah dari pasukan TNI dan Polri, sampai - sampai kalian menganggap Separatis tidak punya salah dan dosa atas peristiwa ini.

Saya mau kasih tau kepada kalian yang hanya bicara besar tanpa mengedepankan sebab akibat mengapa persitiwa itu terjadi.

"Awalnya kelompok Separatis melakukan penyerangan kepada pos-pos keamanan dan beberapa pemukiman warga di Intan Jaya, saat penyerangan kelompok separatis banyak warga yang berbelanja di pasar, saat itulah terdengar kabar kalau ada seorang ibu-ibu yang tertembak. Tidak pakai waktu yang cukup lama berita ini sudah langsung di up di beberapa media, kemudian beberapa kelompok (pihak tertentu) mulai bicara atas nama kemanusiaan dan membuat jumpa pers meminta pasukan TNI-Polri meninggalkan Intan Jaya"

Kalian yang bicara di Media, apakah kalian berada di intan jaya, apa kalian melihat dan mengetahui peristiwa yang sebenarnya? kalian berpihak kepada siapa? Adilkah kalian? Manusiakah kalian?

Masih ingat kasus Tenaga Kesehatan yang dibunuh dan diperkosa di Kiwirok Pegunungan Bintang?

Kalian pura-pura tidak tau atau kalian tidak mau bicara saat itu!

Mana keadilan dan kemanusiaan yang kalian sebut-sebut dan bicarakan dengan lantang saat ini seolah kalianlah penolong manusia. dimana kalian saat peristiwa tenaga kesehatan di bantai secara sadis.

Masih pantaskah kalian disebut Membela Kemanusiaan?

Silahkan camkan ini, kalau kalian masih memiliki hati dan kemanusiaan. 

Jangan membela yang belum benar, tapi salahkan lah mereka yang sudah pasti salah.

"Hentikan Omong Kosong Besar Atas Nama Korban Pembunuhan Kalau Tidak Mampu Bicara Kemanusiaan Secara Adil"

Terimakasih

Dari: Suara Korban Pembantaian Kelompok Separatis Papua

November, 13/21

Minggu, 07 November 2021

Keluarga Marah Jenazah Oce Belau Dibakar Undinus Kogoya

wrtsh papua


Aparat gabungan TNI/Polri dikabarkan berhasil melumpuhkan satu orang anggota kelompok separatis. Meski sempat melakukan perlawanan senjata, Oce Belau (25) harus meregang nyawa karena tertembak pada bagian dada.

Sebagai pemuda asli Intan Jaya, Oce Belau diketahui baru saja bergabung pada kelompok separatis pimpinan Undinus Kogoya. Kabar kematiannya sontak membuat keluarganya tidak terima dan merasa marah karena jenazahnya dibakar tanpa melakukan koordinasi dengan pihak keluarga.

"Kami pihak keluarga sangat tidak terima dengan cara yang dilakukan Undinus. Membakar jenazah tanpa memberi kabar kepada kami," sebut salah seorang keluarga Oce Belau yang tidak mau disebut identitasnya.

Disinggung terkait penyebab Oce Belau bergabung dengan kelompok separatis, pihak keluarga mengatakan jika Oce dijebak dengan iming-iming oleh Undinus Kogoya. Bahkan Oce sempat mengaku ingin meninggalkan pergerakan, namun tidak dibolehkan dan justru mendapat ancaman.

"Dia dijebak, tidak tahu bagaimana persisnya. Tapi setelahnya memang dia mau keluar lagi, tapi malah diancam. Bukan cuma dia yang diancam, kami keluarga juga akan diancam keselamatannya oleh Undinus,"

Pihak keluar mengaku sangat terpukul dengan kematian Oce. Bahkan selepas kabar kepergian Oce, pihak keluarga bahkan masih bisa menimbang-nimbang harapan jika saja Oce tidak bergabung dengan kelompok separatis.

"Kalau memang dia tidak bergabung dengan Undinus, sudah pasti sekarang dia masih hidup,"

Dikabarkan pihak keluarga akan menuntut Undinus Kogoya dengan adat yang berlaku. Hal tersebut diungkapkan karena keluarga besar merasa sangat marah dengan aksi sepihak yang dilakukan Undinus dalam membakar jenazah Oce Belau.

Senin, 01 November 2021

Intan Jaya Bergejolak Aksi Separatisme, Kelompok Separatis Menyerang dan Membakar Pemukiman Warga

wrtsh papua


Konflik bersenjata yang dibawa oleh kelompok separatis terus terjadi. Aksi separatisme di Papua bahkan sebelumnya sudah pernah dipetakan oleh salah seorang akademisi Universitas Gajah Mada, Dr. Gabriel Lele dalam keterangannya menyebut jika konflik di Papua dominan dilakukan oleh kelompok separatis yang akhirnya mengakibatkan penderitaan bagi masyarakat sipil.

Teror berupa aksi penyerangan dan pembakaran terhadap fasilitas di kawasan Bandara Bilogai, Kabupaten Intan Jaya (29/10) diketahui telah membuat situasi di wilayah tersebut kembali panas, dikabarkan ribuan masyarakat telah mengungsi ke gereja dan beberapa pos keamanan.

Atas konflik bersenjata yang terus terjadi di Kabupaten Intan Jaya, Pastor (Imam) Projo Gereja Katolik Keuskupan Timika menyerukan untuk tidak ada lagi penembakan-penembakan.

Disampaikan bahwa konflik bersenjata di Intan Jaya dan wilayah lain di Papua telah berakibat jatuhnya banyak korban jiwa, termasuk anak-anak, serta menimbulkan gelombang pengungsian warga sipil skala besar.

Padahal menurut Ketua Unio Pastor Dominikus Dulione Hodo, sebelumnya pada tanggal 12 Oktober 2021 pihaknya sempat menggelar Perayaan Ekaristi pentahbisan di Gereja Santo Misael.

“Tanggal 11 Okbtober rombongan Uskup Bandung Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C dan Pastor Administrator Keuskupan Timika Pastor Marthen Kuayo masih sempat berkunjung ke Bilogai, ada ribuan masyarakat yang hadir dalam penyambutan,”

“Pada 12 Oktober 2021 berlangsung acara pentahbisan itu dengan hikmat. Semua orang terlibat langsung, baik masyarakat maupun aparat keamanan setempat. Terlihat ada kedamaian dan sukacita yang amat indah,”

“Baku tembak itu terjadi di tengah kota (Sugapa). Anda bisa bayangkan kalau baku tembak itu terjadi di tengah kota. Situasi itu menuntut kami para Imam Projo Keuskupan Timika harus bersuara,”

Ketentraman dan kedamaian lenyap dalam sekejap, setelah TPNPB-OPM memasuki kota dan melakukan penembakan dan pembakaran, dua orang anak tertembak. Aprianus Sondegau (2 tahun) meninggal dunia, dan Yoakim Majau (6 tahun) terkena serpihan peluru dan saat ini sedang menjalani perawatan.

Pemerintah pusat dalam setiap kesempatannya selalu menyampaikan pendekatan persuasif dalam menangani gejolak di Papua. Kapolda dan Pangdam sebagai otoritas keamanan di Papua pun beberapa kali sempat menyuarakan hal senada.

Menurut salah seorang tokoh pemuda Papua, Ali Kabiay, pemerintah dari waktu ke waktu selalu membuka kemungkinan alternatif untuk menyelesaikan konflik di Papua. Menurutnya pembangunan sejumlah infrastruktur, upaya mengurangi ketimpangan, penguatan bidang ekonomi, atau ketersediaan fasilitas Pendidikan/Kesehatan adalah salah satu contoh yang sudah dilakukan.

Namun menurut Kabiay, upaya tersebut seakan mentah. Dirinya mengatakan jika penyelesaian permasalahan isu papua justru terbentur oleh kepentingan dan egosentrisme dari kelompok separatis itu sendiri.