Tampilkan postingan dengan label PAPUA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAPUA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Januari 2021

Benny Wenda Dikritik Karena Hanya Bisa Memberi Ketakutan Bagi Papua

wrtsh papua

 




  

Benny Wenda mendapat kritik tajam dari pakar terkait pernyataannya yang menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia sedang melakukan pembersihan etnis di Papua.

 

Pakar Resolusi Konflik Universitas Parahyangan, Bandung, I Nyoman Sudira yang turut mengamati dinamika konflik di Papua, menilai bahwa Benny Wenda tidak bisa berbuat banyak terhadap situasi di Papua saat ini.

 

Nyoman juga mengatakan sehingga Benny Wenda hanya bisa melakukan provokasi terhadap para simpatisan gerakan kemerdekaan. Terlebih hal itu diperparah dengan Benny Wenda yang sudah terlanjur mendeklarasikan pemerintah sementara dimana dirinya dikatakan sebagai presidennya.


Kantor MRP Kosong, Massa Papua Desak Pemerintah Lanjutkan Otsus

 

“Benny tidak punya kekuatan untuk menyelesaikan permasalahan Papua, sehingga yang bisa dilakukannya saat ini hanya memprovokasi, maksudnya agar terjaganya ggerakan perlawanan dari simpatisannya. Apalagi dia sempat mempromosikan dirinya sendiri seebagai presiden,” ujar Nyoman dalam keterangannya. (20/1)

 

Dikatakan Nyoman bahwa Benny Wenda juga tidak memiliki pilihan selain mendorong propaganda untuk mengacaukan keamanan di Papua. Pihaknya menganalisis bahwa jika Benny Wenda bungkam atau tidak banyak terlihat, maka eksistensinya akan dipertanyakan.

 

“Akhirnya dia (Benny Wennda) tidak punya pilihan, eksistensinya sudah dipertaruhkan oleh kelalaiannya sendiri. Hal ini diperburuk karena upayanya dalam deklarasi pemerintahan sebelumnya telah mendapat penolakan dari berbagai organisasi perjuangan Papua lainnya,”


Dorman Wandikbo: Militer di Papua Tak Berhenti Karena Teror Masih Merebak

 

Nyoman menambahkan bahwa ada faksi dalam gerakan separatisme di Papua, hal ini terlihat dari ramainya pernyataan terkait pro dan kontra atas apa yang pernah Benny Wenda utarakan. Menurutnya mayoritas kelompok perjuangan di Papua masih menyimpan kepentingan dan kekuasaan masing-masing.

 

“Tidak ada yang murni berjuang untuk Papua, meskipun dari kelompok-kelompok itu terus mengatasnamakan perjuangan bagi rakyat/bangsanya. Mereka hanya sibuk melakukan propaganda karena memiliki kepentingan yang tidak diketahui. Namun condong orientasinya pada kekayaan,” tambahnya.


Selalu Mengumbar Alasan, Faktanya KKB Adalah Pelaku Pelanggar HAM

 

Diakhir kesempatannya Nyoman mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dirisaukan atas dinamika yang terjadi di Papua, terlebih pernyataan yang muncul bersumber dari kelompok separatis. Dia juga meminta kepada rakyat Papua agar tidak memperdulikan seruan kelompok separatis tersebut.

 

“Tidak ada yang perlu khawatir, dinamika seperti ini biasa terjadi. Namun saat ini lebih baik rakyat di Papua mulai menyibukkan diri untuk memikirkan resolusi tentang apa yang ingin dicapai dalam beberapa waktu kedepan,”

Selasa, 19 Januari 2021

Pengamat Minta Negara Tuntaskan Aksi Separatisme di Papua, Rakyat Sudah Menunggu

wrtsh papua



Kelompok separatis di Papua yang terdiri dari kelompok kriminal bersenjata (KKB) dan yang terafiliasi pada gerakan politik dikatakan oleh pengamat Irfan Idris telah mengacaukan stabilitas keamanan di Bumi Cenderawasih.

 

Menurutnya, kondisi di Papua saat ini sudah terlalu banyak dikotori oleh campur tangan kelompok separatis, ia bahkan mengatakan jika banyak sektor penting tidak lepas dari setiap aksi dan agenda separatisme yang merugikan.

 

“Sektor pemerintahan mencoba digerogoti, pelaksanaan kebijakan otonomi khusus yang pro-rakyat juga dihantam, bahkan seudah mengakar lagi di majelisnya (MRP), adalagi agenda pemilihan umum dan berbagai ancaman-ancaman yang bersumber dari kelompok itu, semua terlihat jelas merugikan,” (19/1)


Penembakan Misionaris, Berkaitan dengan Dualisme Perjuangan Bangsa Papua

 

Menurutnya, kelompok separatis berpotensi menjadi penghambat dalam percepatan pembangunan di Papua. Hal ini dikatakannya sebab banyak seruan aksi seperti mogok sipil, penolakan otsus, dan berbagai kampanye negatif lainnya.

 

Dalam penyampaiannya, pakar dan pengamat Papua tersebut menegaskan bahwa Kelompok separatis tidak akan pernah memberikan dampak yang baik bagi kesejahteraan di Papua.

 

“Tidak pernah ada nilai yang baik dari mereka. Saya tegaskan kalau apa yang selalu dikampanyekan hanya sebagai gebrakan tanpa ada tindak lanjut. Kembali lagi pada dasarnya bahwa mereka (kelompok spearatis) hanya berorientasi pada kepentingan dan keuntungan,


Menilik KKB Papua jika Dilabeli Organisasi Teroris

 

Melalui keabsahan Papua yang merupakan bagian dari NKRI, pihaknya ingin menegaskan bahwa perlu diambil langkah tegas yang konkrit untuk memangkas eksistensi kelompok separatis.

 

“Melihat dampak yang ditimbulkan maka sudah jelas kelompok itu merugikan negara, sehingga harus dipangkas agar tidak semakin menjadi. Ini sekaligus mendorong banyak pihak agar negara segera menuntaskan permasalahan di Papua, ada banyak masyarakat yang tertekan dengan aksi kelompok separatis,” pungkasnya.

Senin, 18 Januari 2021

KKB Melakukan Penyerangan, Dewan Gereja Bisu Seribu Bahasa

wrtsh papua



Tokoh Papua Franz Korwa pertanyakan sikap Dewan Gerej Papua yang dinilaikan bukan sebagai kiblat yang bisa dijadikan contoh dan panutan. 


Hal ini disampaikannya sebab Dewan Gereja mencoba menutup-nutipi fakta bahkan mendukung aksi pelanggaran hak  asasi manusia yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang melakukan penyerangan terhadap misionaris di Distrik Biondoga, Intan Jaya.


“Saya perlu sampaiikan, ini karen ada upaya dari Dewan Gereja yang mencoba menutupi bahkan dugaan tersebut menguatkan mereka yang jelas mendukung pelanggaran HAM oleh OPM,” ungkapnya. (18/1)


Mahasiswa Papua di Yogyakatya Keroyok Anggota Polri, Ada Indikasi Jaringan Kelompok Separatis


Franz menuturkan bahwa Dewan Gereja yang didalamnya berisi Socratez S. Yoman ataupun Benny Giay tersebut hanya berputar-putar dengan berbagai alasan untuk mengaburkan fakta bahwa KKB telah melakukan penyerangan keji bahkan terhadap elemen penyebar agama di Papua.


“Sebelum peristiwa ini, kita tahu kalalu mereka (Dewan Gereja) selalu membuat kekhawatiran terhadap seluruh umat beragama di Papua dengan pernyataan-pernyataan yang cenderung memprovokasi, disana ada Socratez dan Benny Giay yang selalu bertingkah,”

 

Dikatakan oleh Franz bahwa Dewan Gereja tidak pernah bisa merealisasikan kedamaian di Papua lewat pendekatan agama, justru yang saat ini dikhawtirkan oleh Franz adalah indikasi bahwa Dewan Gereja mendukung kekerasan karena menjadi bagian dari separatisme di Papua.


Netizen Kecam Aksi Pembakaran Pesawat MAF oleh TPNPB - OPM di Intan Jaya


“Apakah anggapan Dewan Gereja mengerucut pada dukungannya terhadap kelompok separatis? Ini sama saja menjual agama demi kepentingan,”


Menurutnya dalam menyikapi setiap aksi keji yang dilakukan oleh KKB, Dewan Gerja tidak pernah terdengar menyerukan pernyataan yang bertentangan. Bahkan dukungan buta pernah dilakukan oleh Socratez Yoman yang menepis pelaku penembakan terhadap WNA Selandia Baru Greame T. Wall pada Maret 2020. Padahal pasca kejadian, terbukti bahwa KKB merupakan pelaku penyerangan yang terjadi di Kuala Kencana, Timika.


Kantor MRP Kosong, Massa Papua Desak Pemerintah Lanjutkan Otsus


“Lihat pernyataan Socratez waktu dia membela OPM atas penembakan karyawan Freeport. Namun berbeda dengan kasus-kasus lain yang menguntungkan pihaknya, pasti ramai suara dari kelompok penipu itu, Sama sekali tidak pernah terdengar pernyataannya, padahal sudah jelas faktanya, videonya pun tersebar luas.” tegasnya ketus.


Frans pun menegaskan bahwa Dewan Gereja harus bisa menjadi penengah antar konflik yang terjadi di Papua. Ia meminta agar nilai agama tidak digunakan untuk membohongi rakyat atas kepentingan politik. Franz bahkan mendesak nama Benny Giay untuk mencoba bersuara memperlihatkan keangkuhannya seperti ketika dia diwawancarai oleh televisi swasta beberapa waktu lalu.

Kelompok Tolak Otsus Punya Kepentingan Khusus yang Merugikan OAP

wrtsh papua

 


 

Hampir dua puluh tahun kebijakan otonimi khusus bagi Papua telah dicanangkan, selam itu pula berbagai kemajuan mulai menjamur pada beberapa sektor penting di masyarakat. menurut salah seorang tokoh Papua, Alex Doga mengatakan bahwa otsusu adalah solusi dalam memajukan Papua dengan cara yang baik dan terhormat.

 

Doga sebagai tokoh masyarakat di pegunungan tengah Papua tersebut mengatakan bahwa adanya anggapan tentang kegagalan otsus adalah hasil dari provokasi kelompok-kelompok yang terafiliasi pada gerakan Papua merdeka.

 

“Otsus sudah menjadi solusi terbaik bagi Papua, jika ada yang bilang gagal pasti mereka punya kepentingan lain, mungkin juga mereka adalah bagian dari kelompok yang tidak menginginkan Papua menjadi daerah yang maju,” ujarnya. (18/1)


Mahasiswa Papua di Yogyakatya Keroyok Anggota Polri, Ada Indikasi Jaringan Kelompok Separatis

 

Tokoh veteran Papua tersebut juga menilai bahwa pernyelenggaraan otsus bagi Papua telah memberikan manfaat terutama dalam bidang pembangunan yang sangat signifikan.

 

“Pembanguann jalan adalah yang paling terlihat, dan itu sangatlah penting karena menyambungkan daerah-daerah di Papua ini saling terintegritas. sehingga masyaraat terdorong untuk bergerakan, dan inilah yang diharapkan agar roda kehidupan Papua terus berjalan,”

 

Menurut Alex, otsus yang lahir sebagai upaya mengangkat jati diri orang asli Papua (OAP) juga perlu disikapi sebagai ‘payung’ perlindungan. Sebab sampai saat ini pun OAP masih dirundung ketakutan sebab ancaman yang dilakukan kelompok separatis dalam setiap aksi-aksi kejinya.


Netizen Kecam Aksi Pembakaran Pesawat MAF oleh TPNPB - OPM di Intan Jaya

 

“Otsus memperjelas kedudukan OAP, dengan otsus juga seluruh orang Papua seakan diangkat kemuliaannya dan tidak lagi terpengaruh dengan provokasi kelompok separatis yang sangat merugikan,” ujarnya.

 

Ditambahkan oleh Alex Doga bahwa kelompok separatis yang selalu mendorong upaya refenrndum adalah kesesatan yang akan mencelakakan orang asli Papua.


Socratez Yoman Tanggapi Pembakaran Pesawat MAF di Intan Jaya

 

“Referendum tidak semudah yang dibayangkan. Ada banyak hal yang akan berbenturan dengan budaya dan kehidupan di Papua. Makanya upaya refendum saya anggap tidak tepat,”

 

Pada akhir kesempatannya Alex mengatakan bahwa secara persentase orang yang menolak otsus jauh lebih sedikit dari orang Papua yang mendukung terselenggaranya otsus. Ia mengatakan bahwa beberapa orang tersebut memiliki kepentingan tersendiri dalam aksinya menolak otsus, sebab otsus adalah anugerah yang telah Tuhan turunkan untuk membangun Papua.

Minggu, 17 Januari 2021

Menilik KKB Papua jika Dilabeli Organisasi Teroris

wrtsh papua


Atas berbagai upaya penyerangan dan rentetan aksi teror yang terjadi di Papua, pemerintah diminta menetapkan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua sebagai bagian dari organisasi terorisme.


Hal ini disampaikan oleh Efriza sebagai Direktur Eksekutif Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSPK), pasalnya KKB selama ini sudah melakukan aksi teror bahkan terhadap masyarakat sipil, terlebih setiap aksinya melakukan perlawanan terhadap pemerintahan.


“Ada banyak fakta tentang kebrutalan aksi yang dilakukan oleh KKB, mereka sudah menolak otsus, meminta agar Papua bisa merdeka, bahwa yang terakhir terjadi mereka telah melakukan penyerangan terhadap sipil di Intan Jaya,” ujarnya dalam seminar daring. (15/1)


Penyerangan Misionaris di Papua, Awal dari Lenyapnya Perjuangan KKB


Efriza juga mengatakan bahwa eksistensi yang dilakukan oleh KKB cukup menghambat pembangunan dan terciptanya kesejahteraan bagi rakyat Papua.


“Semua sudah sepakat kalau harus dilakukan percepatan bagi Papua, bahkan orang Papua sendiri seolah sudah meminta-minta itu semua. Tapi yang menjadi tugas lebih saat ini adalah kehadiran KKB yang terus mengganggu proses yang dilakukan,”


Oleh karenanya, Efriza menyebutkan bahwa tidak sepenuhnya upaya pembangunan terhadap Papua menitik beratkan pada pendekatan kesejahteraan saja. Sebabnya KKB masih menjadi ancaman yang sangat serius.


Mahasiswa Papua di Yogyakatya Keroyok Anggota Polri, Ada Indikasi Jaringan Kelompok Separatis


“Memang fokus utama adalah pendekatan kesejahteraan, namun tidak bisa disisihkan juga bahwa upaya penegakan hukum terhadap KKB yang dilakukan oleh aparat (TNI Polri) harus tetap dilakukan. Hal ini menginngat setiap peristiwa yang melibatkan KKB pasti mengancam keamanan,” ujarnya. 


Diakhir penuturannya Efriza menyampaikan pandangannya terkait konsekuensi jika KKB Papua dilabeli menjadi kelompok teroris. Meski pihaknya juga menuturkan bahwa saat ini negara masih menganggap bahwa anggota KKB merupakan warga negaranya sendiri yang perlu mendapat perhatian.


“Jika KKB digolongkan menjadi kelompok teroris, maka setiap penindakan yang dilakukan terhadapnya tidak akan diintervensi dunia luar, ini akan membatasi pergerakan KKB secara signifikan. Namun beruntung bahwa saat ini pemerintah masih menganggap mereka adalah warga negara Indonesia, ini pun merupakan alasan dalam upaya pendekatan kesejahteraan sebelumnya,” pungkasnya.

Kamis, 14 Januari 2021

Dorman Wandikbo: Militer di Papua Tak Berhenti Karena Teror Masih Merebak

wrtsh papua

 



Presiden Gereja Injil di Indonesia (GIDI) Pdt. Dorman Wandikbo meminta agar seluruh elemen agar dapat menjaga kedamaian dan keadilan di Tanah Papua. Diketahui permintaan tersebut mendasar pada peristiwa penyerangan terhadap misionaris di Kabupaten Intan Jaya.

 

Menurut Dorman, dinamika yang terjadi di Papua jangan terus dikaitkan dengan konfrontasi dan segala bentuk perlawanan. Ketika Papua sudah sering dirundung kegelapan oleh orang-orang yang hanya mengeruk kekayaan, maka kaum saat ini jangan berpikiran demikini hanya untuk membalas.

 

“Apa yang sudah terjadi biarlah terjadi, sekarang saatnya kita berfokus untuk membawa kebaikan. Saya tidak setuju dengan upaya membalas keburukan dengan keburukan, lalu apa bedanya?” ujarnya (14/1) menanggapi upaya penyerangan yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap misionaris di Distrik Biondoga, Intan Jaya.


KKB Serang Pesawat Sipil di Intan Jaya, Pilot asal Amerika Trauma

 

Dorman menegaskan jika misi utama Papua adalah mendukung tegaknya Hak Asasi Manusia (HAM) dan menghapuskan setiap bentuk kekerasan. Ditambahkannya bahwa upaya penyerangan adalah tindan yang tidak teat dilakukan, karena hal itu juga turut menyinggung pelanggaran HAM.

 

“Kita sedang berjuang melawan pelanggaran HAM, tapi dengan peristiwa kemarin, malah kita sendiri juga ikut-ikutan melakukan pelanggaran HAM,”

 

Dikatakan oleh Dorman Wandikbo yang merupakan teolog, mengatakan jika gereja tidak pernah mendukung anarkisme tumbuh di Tanah Cenderawasih.


Jeffrey Bomanak Geram TPNPB Bakar Pesawat dan Serang Warga Sipil di Intan Jaya

 

“Sebagai bagian dari Gereja di Papua, saya tegaskan jika gereja adalah rumah bersama dan tidak ada dalam ajaran gereja yang mendukung tindakan-tindakan anarkisme,”

 

Hal ini juga mementahkan upaya yang dikatakan oleh Dorman sebab Dewan Gereja Papua pernah menyurati Presiden Joko Widodo terkait maraknya pengiriman pasukan militer ke Papua. Dalam permintaan tersebut Dorman mengatakan bahwa pihaknya berusaha menghentikan upaya pendekatan milterisme di Papua.

 

Penyerangan Misionaris di Papua, Awal dari Lenyapnya Perjuangan KKB


“Dewan Gereja sudah pernah membuat permintaan kepada pemerintah pusat untuk menghentikan pengerahan pasukan bagi Papua. Tapi kalau ada peristiwa-peristiwa seperti kemarin, saya khawatir permintaan itu tidak akan dikabulkan,” ungkap Dorman.

 

Diakhir penyampaiannya, Dorman mengatakan kalau perihal yang mererusak tatanan kehidupan masyarakat Papua bisa dimungkinkan dari diri kita masing-masing. Itu menandakan kalau kita harus pandai merefleksi diri agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi saudara-saudara kita sendiri.

Rabu, 13 Januari 2021

Kantor MRP Kosong, Massa Papua Desak Pemerintah Lanjutkan Otsus

wrtsh papua

 



Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP) didapati kosong ketika beberap aelemen masyarakat bermaksud melakukan aksi unjuk rasa terkait dukungan dan pandangannya terhadap kebijakan otonomi khusus bagi Papua. (13/1)

 

Diketahui sebanyak enam organisasi berlatar belakang Orang asli Papua (OAP) tersebut diantaranya adalah DPD Pemuda Mandala Trikora, Brigade 571, LGMP, Pemuda Panca Marga, Barisan Merah-Putih, dan IKKBP.

 

Dalam orasinya, Ali Kabiay sebagai Ketua DPD Pemuda Mandala Trikora menyampaikan bahwa MRP sebagai representasi OAP yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945 telah mencoba berkhianat dengan membuka peluang menjaga eksistensi gerakan kelompok separatisme di Papua.


Naftall Tipagau, DPO Pemasok Senjata KBB Intan Jaya Berhasil Ditangkap

 

“MRP adalah organisasi buah hasil otsus,tugasnya menjamin 3 bidang, yaitu adat, agama, dan perempuan. Disana tidak ada fungsi politik. Maka jangan campur adukkan tugas MRP, apalagi gerakan politik yang dilakukan oleh MRP seolah menghidupkan eksistensi kelompok separatis,” ujar Ali dalam penyampaiannya.

 

Ali juga menyampaikan pandangannya tentang otsus bagi Papua. Menurutnya kebijakan otsus adalah upaya baik yang telah dilakukan oleh pemerintah pusat untuk menunjang kesejahteraan orang Papua.

 

“Tidak ada yang gagal dari otsus, kebijakan itu kan sangat pro terhadap orang Papua. Kalau mau dibilang gagal, maka yang gagal adalah pejabatnya yang tidak berkompeten. Mereka tidak bisa menjaga harapan rakyat,”


Benny Giay Dituduh Campuri Agama dengan Urusan Politik

 

Apa yang disampaikan oleh Ali juga didasari fakta bahwa sebanyak 42 trilyun rupiah dari 126 trilyun alokasi dana otsus yang tidak bisa dipertanggung jawabkan oleh pejabat di Papua.

 

“42 trilyun itu bukan uang yang sediki, ini sangat disayangkan. apalagi berkembang anggapan kalau penyelewengan dana itu sempat digunakan untuk mendanai kepentingan dari kelompok separatis. Kalau sudah begini, apa gunanya? Yang gagal siapa?” ujarnya.

 

Ali juga menyampaikan agar masyarakat di Papua tidak perlu terpengaruh oleh ajakan dan hasutan aksi dari kelompok-kelompok anti-NKRI melihat dampak buruk yang akan ditimbulkan.


ULMWP Telah Mengadu Domba OAP Lewat Politik di Gereja

 

“sekali lagi saya minta kepada orang Papua, masyarakat dan generasi pemuda agar tidak terpengaruh. Kita melihat aksi Mogok Sipil Nasional yang diinisiasi oleh KNPB, itu adalah ajakan yang tidak tepat, tidak ada nilai positifnya bagi OAP karena semua hanya hasutan untuk kepentingan mereka (KNPB),”

 

Pada akhir kesempatannya Ali menyerukan untuk dilakukan pengauditan dana di Papua yang rawan akan korupsi, ia juga meminta kepada setiap pejabat/tokoh untuk tidak menjadikan rakyat sebagai tameng dalam setiap urusan politik. Menurutnya siasat tersebut akan sangat menyakiti orang Papua karena dijadikan dimanfaatkan untuk tujuan yang semu.

 

Ditambahkan bahwa setelah aksinya tidak ditanggapi sebab kantor MRP kosong, para demonstran tersebut berpindah ke persimpangan tugu Marthen Indey dan kawasan perkantoran DPR Papua (DPRP) yang berada di Imbi, pusat Kota Jayapura.

Pembakaran Pesawat, Benny Giay Sebut TPNPB Jauh dari Tuhan

wrtsh papua

 



Benny Giay seorang Teolog dan juga salah seorang tokoh gereja di Papua menganggap penyerangan terhadap misionaris di Intan Jaya pada 6 Januari 2021 lalu telah mencoreng harapan rakyat Papua yang menginginkan kedamaian. (13/1)

 

Menjadi salah satu pengurus Dewan Gereja-gereja Papua, Pdt. Dr. Benny Giay adalah sosok yang selalu menjadi panutan dalam setiap tindakannya. Hal ini juga didasari pada nuraninya sebagai pengamat bidang sosial dan kemanusiaan di Papua.

 

“Selalu saya sampaikan dalam setiap mimbar dan pertemuan jika orang Papua sangat menginginkan kedamaian tercipta, orang Papua selalu menjadi korban, korban, dan korban. Tapi yang sekarang terjadi mengapa ada sekelompok orang Papua lain yang malah menjadi pelaku kekerasan?”


KKB Serang Pesawat Sipil di Intan Jaya, Pilot asal Amerika Trauma

 

Benny mengatakan kalau peristiwa teror terhadap misionaris yang tergabung dalam Yayasan MAF Indonesia telah mengkhianati perjuangan rakyat Papua. Sebab latar belakang MAF dikatakan juiga sebagai organisasi yang memiliki andil dalam persebaran nilai-nilai ketuhanan di Papua.

 

“Masih ada diwilayah-wilayah terpencil Papua yang masyarakatnya belum tersentuh firman Tuhan, dan misi-misi dari MAF telah menjawab kesulitan itu karena mereka memiliki fasilitas memadai (pesawat). Tapi mengapa hal mendasar seperti itu tidak bisa dipahami oleh TPNPB,” ujarnya.

 

Benny Giay justru meragukan iman TPNPB yang dirasanya tidak mengenal Tuhan karena telah menyerang misionari sebagai penyebar nilai keinjilan bagi sesame umat manusia. Ditambah lagi, Benny dibuat geram karena munculnya pembelaan yang tidak tepat dari Jubir TPNPB Sebby Sambom atas peristiwa tersebut.


Jeffrey Bomanak Geram TPNPB Bakar Pesawat dan Serang Warga Sipil di Intan Jaya

 

“Apakah mereka tidak menginginkan adanya kedamaian dari nilai keagamaan yang dibawa oleh misionaris? Sebby Sambom harus banyak merenung. Apakah perjuangan mereka jauh dari kuasa Tuhan? Ada sebuah kebodohan yang diperlihatkan karena mereka keras kepala dan malah membenarkan teror tersebut,”

 

Benny Giay pun menambahkan kalau pembelaan TPNPB yang disampaikan oleh Sebby Sambom sangat salah dan tidak berdasar. Hal ini disampaikan oleh Benny meneruskan informasi dari pihak MAF yang menampik pernyataan Sebby Sambom.


Penyerangan Misionaris di Papua, Awal dari Lenyapnya Perjuangan KKB

 

Diketahui bahwa MAF menyatakan bahwa dalam penerbangan ke Intan Jaya tersebut dikatakan bahwa tidak ada kaitannya dengan keterlibatan aksi militerisme

 

“Saya mendapatkan konfirmasi bahwa dalam penerbangan itu sama sekali tidak ada upaya militerisme. Pesawat tidak mengangkut anggota militer, bahkan MAF sebelumnya juga memiliki kebijakan untuk tidak terlibat dari aksi-aksi terkait militerisme. Sebby Sambom julas berbohong untuk popularitasnya sendiri,”

Selasa, 12 Januari 2021

Socratez Yoman Tanggapi Pembakaran Pesawat MAF di Intan Jaya

wrtsh papua

 



Socratez S. Yoman , Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua mengecam upaya pembakaran pesawat milik Mission Aviation Fellowship (MAF) yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Intan Jaya pada 6 Januari 2021.

 

Socratez dalam keterangannya menganggap bahwa pembakaran pesawat milik misionaris tersebut sama seperti sedang mencoba membunuh kehidupan bagi Papua.

 

“Pembakaran pesawat MAF yang diisikan para misionaris adalah perlawann terhadap keagungan Tuhan. Saya mengecam perlakuan yang dilakukan oleh kelompok TPNPB itu,” ujarnya.


Baca juga:

Mahasiswa Papua di Yogyakatya Keroyok Anggota Polri, Ada Indikasi Jaringan Kelompok Separatis

 

Menurut Socratez, Papua adalah daerah menginginkan kebebasan dan kemerdekaan, sebab ia berangggapan bahwa saat ini banyak pihak telah mengisi posisi di Papua untuk kepentingan lain.

 

“Papua ini pulau besar yang terombang-ambing. Ada banyak pihak yang mengisi kekosongan di Papua dan itu tidak sesuai dengan keinginan rakyat Papua. Sehingga yang menjadi satu-satunya jawaban bagi Papua adalah nilai keagamaan,”


Baca juga:

Penyerangan Misionaris di Papua, Awal dari Lenyapnya Perjuangan KKB

 

Seocratez menambahkan, pendekatan kedamaian yang dibawa para misionaris menjadi satu-satunya harapan bagi Papua pun sedang dihancurkan juga oleh kelompok separartis.

 

“Biadab, mereka adalah kelompok biadab yang tidak memakai otak dalam setiap tindakannya. Misionaris itu harapan bagi Papua, mereka menyebarkan ilmu dan firman tuhan untuk kedamaian tanah Papua, kenapa diteror?” pungkasnya.

 

 

Netizen Kecam Aksi Pembakaran Pesawat MAF oleh TPNPB - OPM di Intan Jaya

wrtsh papua



Insiden Pembakaran Pesawat Perintis dari Maskapai MAF yang diawaki Pilot Warga Negara Amerika Alex Luferchek menuai kritikan dan kecaman keras dari berbagai lapisan masyarakat Papua.


Hal tersebut dinilai merupakan suatu bentuk tindakan yang brutal dan dianggap tidak tau berterimakasih. 


Pasalnya, Maskapai MAF adalah adalah sebuah lembaga penginjilan internasional yang bergerak di bidang penerbangan untuk melayani masyarakat terpencil di Seluruh Dunia.


Baca juga:

KKB Serang Pesawat Sipil di Intan Jaya, Pilot asal Amerika Trauma


Di Indonesia, maskapai ini melayani penerbangan perintis ke daerah-daerah terpencil di Indonesia sejak era 1950an, khususnya di Papua. Jadi kurang lebih 70 Tahun Maskapai MAF sudah mengabdi untuk melayani dan membantu masyarakat Papua.


Salah satu Netizen (HD) dalam akun Facebooknya menuliskan bahwa Pengabdian Maskapai Penerbangan MAF selama kurang lebih 70 tahun terhadap saudara-saudara kita (OAP) di pedalaman telah dibalas dengan hal yang sangat tidak patut dipuji.


“Orang-orang itu tidak mengerti baik tentang keberadaan MAF. MAF sejak tahun 1950-an sudah menunjang dan melayani para misionaris kesetiap pelosok Papua di dalam mewartakan injil. Jdi mereka ini adalah pelaku kejahatan,” Ungkapnya.


Baca juga:

Penyerangan Misionaris di Papua, Awal dari Lenyapnya Perjuangan KKB


Untungnya Seorang Pilot Alex Luferchek dan 2 orang penumpang sipil langsung diamankan oleh pendeta dan warga saat kejadian ke kampung Tekai, Distrik Mbiandoga Kabupaten Intan Jaya.


Namun dikabarkan korban mengalami Shock karena kejadian tersebut. 


Dilain Pihak, Jeffrey Bomanak (Ketua TPNPB – OPM ) mengkonfirmasi dan menyayangkan keteledoran aksi itu yang telah menyasar warga sipil.


Baca juga:

Mahasiswa Papua di Yogyakatya Keroyok Anggota Polri, Ada Indikasi Jaringan Kelompok Separatis


Ia menganggap upaya penembakan terhadap kelompok sipil tersebut bisa mengancam upaya lobi dan menurunkan kepercayaan internasional terhadap Aktifis perjuangan Papua di luar Negeri.


“Bagaimana mungkin kita mendapat dukungan dari dunia internasional, justru hal-hal seperti ini yang menutup harapan tersebut, yang mereka serang itu sipil, Bisa-bisa nama perjuangan Papua hanya dicap sebagai upaya cuma-cuma,” ungkap Jeffrey.

Senin, 11 Januari 2021

Mahasiswa Papua di Yogyakatya Keroyok Anggota Polri, Ada Indikasi Jaringan Kelompok Separatis

wrtsh papua

 

Foto ilustrasi (polisi dan mahasiswa papua di yogyakarta)

 

Oknum mahasiswa Papua kota studi Yogyakarta diketahui telah melakukan tindak pidana pengroyokan terhadap aparat, nahas korban kritis adalah salah seorang perwira menengah Kepolisian.

 

Kejadian tersebut bermula ketika penyidik Reskrimsus Polda Papua bersama dengan personel bantuan Polda D.I. Yogyakarta akan melakukan penangkapan terhadap salah seorang oknum mahasiswa asal Papua a.n Christian P. Tabuni yang diduga telah melakukan tindak pidana pelanggaran UU ITE.

 

Atas insiden tersebut Kabid Humas Polda DIY Kombes Yulianto membenarkan bahwa telah terjadi upaya melawan petugas dan tindak pengroyokan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Papua di Dusun Jagalan, Kepanewon Berbah, Sleman, D.I. Yogyakarta. (10/1) dini hari.


Baca juga:

Naftall Tipagau, DPO Pemasok Senjata KBB Intan Jaya Berhasil Ditangkap

 

“Maksud petugas adalah untuk membawa seorang oknum mahasiswa dugaan pelanggaran UU ITE, namun karena dalam area (asrama) tersebut banyak juga didapati mahasiswa lain, dimungkinkan juga karena adanya solidaritas buta, maka terjadilah tindakan pengroyokan tersebut,” ungkap Yulianto dalam keterangannya.

 

Dikatakan oleh Kabid Humas bahwa mahasiswa berupaya merencanakan aksi pengroyokan secara spontan.

 

“Petugas sempat bernegosiasi, namun pihak mahasiswa malah mengulur-ulur waktu, diduga mereka sedang menghubungi kelompok mahasiswa lain yang berada diluar asrama dengan maksud mengintimidasi petugas,”

 

Baca juga:

KKB Serang Pesawat Sipil di Intan Jaya, Pilot asal Amerika Trauma


Selang beberapa waktu, menggunakan sebuah mobil dan beberapa motor, kata Kombes Yulianto, sekelompok mahasiswa lain yang datang ke area asrama tersebut sontak memberi perlawanan kepada petugas. Merasa kalah jumlah, personel Kepolisian menghindar dan berlari terpencar untuk mengamankan diri.

 

“Kacau dimulai saat mahasiswa lain datang dengan jumlah yang cukup banyak. Dalam insiden tersebut kompol Suheriadi (personel Dit Reskrimsus Polda Papua) menjadi bulan-bulanan karena terpisah dengan rombongan. Saat ini kondisinya kritis,”


Baca juga:

Penyerangan Misionaris di Papua, Awal dari Lenyapnya Perjuangan KKB

 

Kabid Humas menegaskan bahwa tindakan mahasiswa yang diduga juga telah berafiliasi pada gerakan separatis di Papua tersebut telah masuk dalam unsur pidana, dan pihaknya mengatakan akan mengusut kasus tersebut sebagai upaya penegakan hukum.

 

“Tentu ini sudah memenuhi unsur pidana, terlebih dilakukan dengan upaya pengroyokan. Ada juga indikasi bahwa oknum tersebut terafiliasi pada kelompok separatis di Papua. Kita akan dalami dan selidiki, Kepolisian akan menindak tegas oknum yang terbukti bersalah,” pungkasnya.

Minggu, 10 Januari 2021

Penyerangan Misionaris di Papua, Awal dari Lenyapnya Perjuangan KKB

wrtsh papua

 



Akademisi Papua, Marinus Yaung mengecam penyerangan terhadap misionaris yang menumpangi pesawat jenis twin otter milik perusahaan penerbangan Mission Aviation Fellowship (MAF) di Kampung Pagamba, Distrik Biandoga, Intan Jaya pada 6 Januari 2021.

 

Marinus juga menyampaikan bahwa pesawat yang sengaja dibakar oleh kelompok criminal bersenjata tersebut merupakan milik misionaris MAF yang mendedikasikan dirinya untuk mengajarkan agama di wilayah-wilayah terpencil di Papua.

 

“apa mau mereka? Ini adalah perjuangan yang bodoh. Para misionaris adalah salah satu rofesi yang dilindungi oleh hukum humaniter dan konvensi internasional PBB tentang perang. Jadi mereka harus dilindungi oleh kelompok yang berrkonflik,” ujarnya.


Baca juga:

ULMWP Telah Mengadu Domba OAP Lewat Politik di Gereja

 

Marinus lamtas mengecam dan mempertanyakan maksud dari kelompok separatis yang terlanjur melakukan penyerangan, bahkan ia sempat geram karena peristiwa tersebut seolah dibenarkan oleh Jaffrey Bomanak dan Sebby Sambom yang merupakan tokoh dari pihak TPNPB.

 

“ini adalah catatan kelam dari kelompok biadap, alasan apa TPNPB menyerang misionaris? Tindakan bodoh sedang dipertontonkan, namun yang lebih bodoh adalah pembelaan dari Jeffrrey dan Sebby,” tuturnya.

 

Marinuus yang kesal dengan pernyataan Sebby dan Jeffrey sebelumnya karena menganggap para misionaris adalah agen kapitalis, disebutkannya hal tersebut hanya karena ingin mengaburkan fakta yang menguntungkan pihaknya sendiri.

 

Baca juga:

Benny Giay Dituduh Campuri Agama dengan Urusan Politik


“Ini memperlihatkan bahwa TPNPB selalu ingin mengaburkan fakta untuk menguntungkan kelompoknya sendiri. Saya pastikan kalau kedepan tidak ada yang akan mepercayai setiap klaim dari kelompok separatis itu,”

 

Ditambahkan juga bahwa kelompok separatis yang telah melukai hati dan misi keagamaan para misionaris sebagai pertanda berakhirnya perjuangan yang dibawa oleh TPNPB yang tidak pernah membawa kedamaian di Papua.

Jumat, 08 Januari 2021

KKB Serang Pesawat Sipil di Intan Jaya, Pilot asal Amerika Trauma

wrtsh papua

 



Juru Bicara kelompok separatis Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Sebby Sambom membenarkan penembakan terhadap pesawat milik Mission Aviation Fellowship (MAF) di Kabupaten Intan Jaya (6/1) dilakukan oleh kelompok Sabinus Waker.

 

“Penyerangan terhadap pesawat yang akhirnya terbakar itu memang dilakukan oleh kelompok Sabinus Waker, dia adalah Komandan Operasi Kodap VIII Intan Jaya,” ujarnya (8/1).

 

Bahkan pihaknya juga mengabarkan kalau kelopok Sabinus juga telah berupaya melakukan penembakan terhadap helikopter di Distrik Tembahapura, Mimika.


Baca juga:

Disinformasi, KNPB Ciptakan Ancaman Perayaan Natal di Papua

 

“Kami pastikan pesawat itu mengangkut rombongan TNI Polri, jadi harus kami tembak. Kami sudah sampaikan alasan-alasan itu sebelumnya,” pungkasnya.

 

Dilain pihak salah seorang pendeta yang juga menjadi saksi serta korban dalam insiden tersebut mengtakan bahwa sesaat sebelum mendarat pesawat sempat ditembaki dari arah yang tidak diketahui, dan setalahn mendarat terdapat seseorang yang mendatanginya dengan membawa senjata api.

 

“Sebelumnya kami ditembak di udara, kemudian setelah pesawat berhenti kami didatangi seseorang yang membawa senjata. Kami diancam tapi berhasil dibebaskan termasuk pilot,” ungkapnya.


Baca juga:

Mahasiswa Papua Tolak Separatisme. Pancasila dan UUD’45 Tak Tergantikan

 

Ketika ditanyai mengenai keberadaan aparat keamanan di dalam pesawat, pendeta yang tidak mau disebutkan identitasnya tersebut meyakinkan kepada awak media bahwa tidak ada seorangpun personel TNI Polri didalamnya.

 

“Saya tegaskan kalau tidak ada TNI Polri yang ikut dalam pesawat itu, maka kami juga tidak mengerti maksud mereka melakukan penyerangan, bisa dibilang kami ini warga sipil yang tidak ada sangkut pautnya dengan konflik senjata,”

 

Ditambahkannya bahwa kondisi korban beserta pilot bernama Alex Luferchek saat ini sangat trauma lantaran insiden dan ancaman yang dilakukan oleh KKB tersebut. Bahkan pesawat yang ditumpangi pun lantas dibakar oleh kelompok separate tersebut.


Baca juga:

Wamen PUPR Aggap Otsus sebagai Solusi, Jangan Dinilai dari Uangnya saja!

 

“Kondisi pilot ketika mengamankan diri sangat trauma, pasti ini menjadi beban dalam dirinya. Ditambah lagi pesawat itu kemudian dibakar oleh KKB. Sampai dia harus dievakuasi menggunakan helikopter dari Wamena,”

 

Diakhir penuturannya, pendeta tersebut mengatakan bahwa konflik yang terjadi di Papua jangan semakin diperparah oleh tindakan-tindakan sepihak yang merugikan banyak kalangan. Menurutnya kelompok KKB tidak bisa gegabah dan bertindak teledor seperti apa yang telah terjadi. Ia mengatakan bahwa insiden tersebut bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak termasuk kelompok spearatis.

Kamis, 07 Januari 2021

ULMWP Telah Mengadu Domba OAP Lewat Politik di Gereja

wrtsh papua

 





Klarifikasi atas beredarnya deklarasi dan dukungan terhadap Benny Wenda dan ULMWP oleh Masyarakat Adat Saireri Kabupaten Biak Numfor terungkap, faktanya kegiatan tersebut dilakukan dengan cara yang licik dan sarat akan penindasan.

 

Salah seorang Jemaat Gereja Betlehem Manwor bernama IR (identitas disembunyikan) yang juga menjadi tetua adat Kampung Inswambesi mengatakan jika kegiatan peribadatan di Gerejanya telah disusupi oleh anggota ULMWP yang dimaksudkan untuk mencari dukungan sepihak. (7/1)

 

“Memang kemarin mereka datang waktu ibadah (3/1), terus meminta kami bicara dan diambil gambar sebagai dukungan-dukungan,” ungkap IR kepada redaksi.


Baca juga:

Otsus Menjadi Solusi, Tokoh Papua Minta Evaluasi Sehingga Rakyat Diuntungkan

 

IR juga mengatakan bahwa mulanya pihak masyarakat dan jemaat sempat menolak permintaan anggota ULMWP tersebut. Namun karena didesak dengan berbagai ancaman maka terpaksa dilakukan. Ditambahkannya bahwa ada dua oknum yang diketahui tergabung dengan gerakan ULMWP dalam aksi tersebut.

 

“Kami sempat menolak dan bernegosiasi, tapi mereka tetap memaksakan, bahkan ada ancaman. Sehingga dengan keadaan terpaksa kami mengiyakan. Kami tahu siapa mereka, dan memang dua orang tersebut selalu menjadi sumber konflik karena terus berbicara yang tidak-tidak (topik papua merdeka),” ujarnya.

 

Setelah video tersebut viral, IR mewakili seluruh jemaat GKI Betlehem Manwor meminta maaf atas keresahan yang ditimbulkan. Dikatakan oleh IR bahwa seharusnya gereja sebagai tempat peribadatan tidak boleh digunakan untuk mencampuri urusan politik.


Baca juga:

Disinformasi, KNPB Ciptakan Ancaman Perayaan Natal Di Papua

 

“Tempat ibadah harus dijaga dari paham-paham radikalisme dan separatisme, karena setiap orang yang datang ke Gereja itu untuk mencari kedekatan dengan Tuhan, bukan bermain-main dan akhirnya memberi dampak buruk,” ujarnya.

 

Dalam video yang berdurasi singkat tersebut memang terlihat bahwa pihak Gereja sedang didekte untuk mengucapkan sesuatu yang tujuannya menciptakan kegaduhan. Video tersebut juga semakin menampakkan sisi buruk ULMWP yang terus berupaya membuat kekacauan di Papua dengan cara mengadu domba untuk kepentingan sepihak.

Benny Giay Dituduh Campuri Agama dengan Urusan Politik

wrtsh papua

 



Ketua Pusat KNPB Agus Kossay meminta Dewan Geraja agar tidak mencampuri urusan politik di Papua dengan muatan agama. (7/1)

 

Agsu Kossay menganggap keberpihakan Dewan Gereja terutama pada kubu United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) cukup meresahkan, dan akan memberi dampak buruk pada jemaat.

 

“Kami menilai kalau Dewan Gereja telah bekerja diluar fungsinya sebagai elemen keagamaan. Saya juga merasa bahwa tidak perlu mereka mencampuri politik dengan dasar-dasar agama kalau tujuannya hanya untuk menghasut,” ujar Agus dalam keterangannya.


Baca juga:

Mentahnya Demo Penolakan Otsus, Telah Lahir Ribuan Generasi Emas Bagi Papua

 

Sebagai bagian dari Dewan Gereja, KNPB melalui Agus Kossay dengan tegas langsung menyebutkan nama Benny Giay yang dirasa sebagai faktor utama yang membawa pengaruh dalam rumitnya dunia perpolitikan di Papua.

 

“Benny Giay ada di dalam Dewan Gereja, saya tegaskan kalau dia tidak perlu mencampuri politik dengen muatan agamanya, apalagi yang dibelanya adalah ULMWP. Semua bahkan tahu kalau sejak awal ULWMP terus dipertanyakan agendanya karena dirasa ganjil,” ungkapnya.


Baca juga:

Otsus Menjadi Solusi, Tokoh Papua Minta Evaluasi Sehingga Rakyat Diuntungkan

 

Agus juga memnta kepada Benny Giay harus bisa bijak dalam bersikap, menurutnya jika Benny Giay ingin meneruskan tugasnya sebagai pendeta maka dia harus melepaskan urusan politik dan setiap kelicikan yang ada.

 

“Politik itu kotor, sebaiknya Benny Giay tidak usah terlalu dalam mau mencari tahu. Atau jika dia mau terjun ke politik, maka tinggalkan dunia keagamaan. Harus bisa dibedakan, jangan agama itu kamu kotori dengan tipu-tipu politik,” pungkasnya.

Rabu, 06 Januari 2021

Naftall Tipagau, DPO Pemasok Senjata KBB Intan Jaya Berhasil Ditangkap

wrtsh papua

 



Kabar dan informasi Sekretaris Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Intan Jaya Naftall Tipagau alias Nataniel Tipagau telah dikonfirmasi dan saat ini berada di sel tahanan Reskrimum Polda Papua. (6/1)

 

Sempat dihubungi sebelumnya, Agus Bagau sebagai Juru Bicara KNPB Intan Jaya juga mengatakan pihaknya telah mendapat infirmasi keberadaan Naftall di kantor Polisi.

 

“Kami sempat hubungi, kami juga sempat koordinasi dengan yang ada di Jayapura, dan kami mendapat informasi kalau Naftal telah diamankan di Polda Papua dan disangkakan pidana tentang amunisi,” ujarnya.


Baca juga:

Tokoh Papua Sebut Dualisme Penolakan Otsus Dikarenakan Praktik Rasial

 

Agus mengatakan bahwa dirinya cukup menyesalkan tindakan yang dilakukan oleh Naftal tentang kepemilikan amunisi seperti yang disebutkan Kepolisian, sebab hal tersebut akan mencoreng nama KNPB dan memberi anggapan kalau KNPB yang justru mendatangkan konflik di Papua.

 

“Ini masuk ke ranah pribadinya sendiri, karena hal-hal seperti itu tidak ada di KNPB. Memang kami cukup sesalkan, namun kami tetap akan mendorong bantuan hukum kepadanya,” kata Agus Bagau.

 

Dilain pihak Kabid Humas Polda Papua Kombes AM Kamal mengatakan kalau penangkapan tersebut terjadi pada 4 Januari 2021, dia juga mengatakan kalau Naftall ditangkap ketika sedang melakukan transaksi melalui ATM di distrik Jayapura Utara.


Baca juga:

Jubir KNPB Buka Suara Penangkapan Naftall Tipagau

 

“Naftall kita tangkap di daerah Distrik Jayapura Utara, dan selanjutnya dibawa ke Polda Papua untuk dilakukan proses pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.

 

Kembali ditambahkan oleh Kamal bahwa Naftall terlibat langsung dalam dua transaksi amunisi bersama rekannya. Kejadian pertama bersama Paulus Tebay dan yang kedua bersama Lingkar, namun dalam penyergapan tersebut Naftall selalu berhasil melarikan diri.


Baca juga:

Disinformasi, KNPB Ciptakan Ancaman Perayaan Natal Di Papua

 

“ini adalah upaya polisi karena yang bersangkutan merupakan DPO sejak setahun lalu (Januari 2020) dengan kasus transaksi dan kepemilikan amunisi di Kabupaten Nabire. Dalam dua kali aksinya, dia selalu bisa kabur meski rekannya (Paulus Tebay dan Lingkar) berhasil ditangkap,”

 

Ditambahkan oleh Kamal bahwa ada beberapa kasus yang melibatkan Naftall secara langsung. Selain kedapatan dua kali melakukan transaksi amunisi, Naftall juga aktif dalam melakukan propaganda, provokasi, dan penyebaran berita bohong lewat media sosialnya. Ia menambahkan kalau Naftali bisa diancam pidana 20 tahun penjara karena terjerat pasal 1 ayat 1 UU darurat No. 12 Th 1951 Jo. pasal 55 KUHP.

Selasa, 05 Januari 2021

Jubir KNPB Buka Suara Penangkapan Naftall Tipagau

wrtsh papua



Juru Bicara Sekretaris Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Intan Jaya, Agus Bagau mengatakan pihaknya masih mencari tahu keberadaan Naftall Tipagau yang dikabarkan telah dilakukan penangkapan oleh aparat kemanan di Jayapura. (5/1)


Agus menyampaikan bahwa Naftall Tipagau yang juga merupakan sekretaris KNPB Intan Jaya tersebut diketahui berhasil digelandang sekira pukul 17.00 WIT disekitaran Universitas Yapis, Jayapura Utara pada 4 Januari.


Baca Juga:

Tokoh Papua Sebut Dualisme Penolakan Otsus Dikarenakan Praktik Rasial


“Saya mendapat informasi kalau Naftall ditangkap oleh aparat kemarin sore (4/1). Saksi mengatakan bahwa Naftall berniat melakukan transaksi di ATM yang berada di Yapis,” ujarnya.


Ketika dikonfirmasi mengenai keberadaan Naftall, Agus mengatakan jika pihaknya juga masih mencari informasi tersebut. Pihaknya mengatakan sedang berusaha menghubungi beberapa pihak terkait advokasi hukum.


“Masih kami cari keberadaannya supaya jelas kasusnya, kami juga akan konfirmasi aparat, namun kuat dugaan saya kalau dia berada di kantor Polisi,"


Baca Juga:

Tidak Tepat Otsus Menyengsarakan, Seluruh OAP Mengharapkannya


Ketika disindir menganai kemungkinan-kemungkinan yang melibatkan Naftall, dikatakan oleh Agus bahwa pihaknya juga tidak bisa mengkonfirmasi hal tersebut. Namun banyak pihak menduga bahwa Naftall disangkakan sebagai provokator atas persebaran informasi di media sosial.


“Untuk itu tentu belum bisa kami cari tahu kepastiannya, tapi memang saya katakan bahwa dia (Naftall) sangat aktif bermedia sosial, beberapa tulisannya juga sangat tajam. Mungkin ada kaitannya dengan itu,” pungkasnya.

Senin, 04 Januari 2021

Tokoh Papua Sebut Dualisme Penolakan Otsus Dikarenakan Praktik Rasial

wrtsh papua

 


Otonomi khusus bukan hanya memunculkan pro/kontra antara pemerintah pusat RI yang menginginkan percepatan pembangunan di Papua dan beberapa organisasi/kelompok yang terang-terangan menolak kehadiran otsus. Namun pembahasannya kian melebar bahkan oleh kubu yang melakukan penolakan itu sendiri.

 

Pada kuartal ketiga tahun 2020 lalu Kepala Biro Politik ULMWP, Bazooka Logo menegaskan bahwa fokus dalam perjuangan yang sedang dihadapi saat ini adalah untuk mendukung segala bentuk lobi internasional dan penyelenggaraan referendum.

 

“Setiap agenda ULMWP sudah diatur dalam konstitusi yang berfokus pada agenda untuk menuntut hak menentukan nasib sendiri (referendum). Ini semua untuk berdaulat, Papua secara penuh akan memimpin wilayahnya sendiri,” ungkap Bazoka Logo. (07/20)


Baca juga:

Mentahnya Demo Penolakan Otsus, Telah Lahir Ribuan Generasi Emas Bagi Papua

 

Seiring waktu, perdebatan panjang pun hadir dari topik tentang kebijakan otsus tersebut. Oleh kelompok KNPB misalnya, melalui Jubir Internasional KNPB Victor Yeimo yang juga mendaulat dirinya sebagai bagian lain dari Jubir organisasi Petisi Rakyat Papua mengatakan bahwa aksi penolakan otsus adalah bagian penting dari perjuangan.

 

“Petisi Rakyat Papua (PRP) adalah manifestasi sikap yang murni hadir dari rakyat Papua secara resmi. Ini lah sebabnya kami mendorong semua pihak untuk mendukung upaya PRP sebagai solusi damai,” ujarnya. (01/21)

 

Dalam menanggapi kasus tersebut, jelas terlihat perbedaan pandangan antar kedua kubu yaitu ULMWP dan KNPB (merujuk PRP). Sebelumnya, hal ini juga pernah disampaikan oleh pengamat yang juga merupakan Ketua Bamus Papua/Papua Barat, Willem Ansanay yang megatakan bahwa pergerakan separatis di Papua banyak dipengaruhi oleh faktor kepentingan.


baca juga:

Victor Yeimo: Puji Tuhan, Petisi Otsus Sudah Di PBB

 

“Nyatanya semua memiliki pandangan yang berbeda, ini disebabkan karena dari kelompok-kelompok tersebut memiliki misinya sendiri, memiliki tujuannya sendiri. Sehingga akan ada banyak opsi dan tidak menutup kemungkinan akan saling berbenturan,” ujarnya. (03/01/21)

 

Menurut Willem, permasalahan tersebut juga banyak disebabkan oleh kemunculan kelompok-kelompok baru, terlebih isu yang diusung adalah gerakan perlawanan terhadap pemerintah. Pihaknya yakin bahwa tidak ada pergerakan yang murni berawal dari hati untuk mengangkat martabat orang Papua.

 

“Bisa dibuktikan untuk beberapa waktu kedepan nantinya, apa yang mereka kampanyekan tentang penolakan otsus untuk sejahtera atau merdeka atau apapun itu, tidak akan pernah terwujud. Itu semua karena mereka menyimpan ambisi pribadi untuk hal-hal yang sifatnya pribadi,” tambahnya.


Baca juga:

Otsus Menjadi Solusi, Tokoh Papua Minta Evaluasi Sehingga Rakyat Diuntungkan

 

Willem juga mengungkapkan fakta bahwa dalam pergolakan otsus sebelumnya telah membuka tabir kelompok-kelompok tersebut dalam praktik rasialisme yang murni terjadi di Papua.

 

“Mereka juga mengkotak-kotakkan golongan. Misalnya ULMWP yang menegaskan bahwa pihaknya harus diisi oleh suku-suku tertentu, dan KNPB yang menolak keanggotaan dari kelompok dan usia tertentu. Itu belum seberapa, karena ada lagi anggapan orang pantai dan orang gunung yang seharusnya sudah tidak tepat disampaikan karena membatasi hak sesama manusia,”

 

Oleh sebab itu, melihat pengaruh dan latar belakang karakteristik kelompok tersebut, dikatakan bahwa wajar jika diantara mereka sibuk untuk menjatuhkan nama kelompok lain. Willem juga menambahkan bahwa fanatisme buta yang tidak dibarengi dengan pemikiran matang menjadi pelengkap dalam konflik yang terjadi.


Baca juga:

Disinformasi, KNPB Ciptakan Ancaman Perayaan Natal Di Papua

 

Mengakhiri penyampaiannya, Willem Ansanay meminta kepada seluruh rakyat Papua untuk tidak mudah terprovokasi ajakan dari kelompok tertentu yang orientasinya hanya untuk kepentingan pribadi. Menurutnya lebih baik mulai memikirkan bagaimana mengisi hari-hari dengan aksi yang positif dan berdampak secara langsung pada kehidupan masing-masing individu.

 

“Karena setiap ajakan dan seruan yang dilakukan oleh ULMWP/KNPB itu tidak nyata-nyata akan terjadi, lebih baik tinggalkan dan mulai memikirkan usaha terbaik yang bermanfaat untuk diri sendiri dan keluarga. Ini lah cara untuk membangun Papua yang kita cintai,” tutupnya.