Tampilkan postingan dengan label KRIMINALITAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KRIMINALITAS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 September 2021

Terdesak Mundur, KKB Bakar Bangunan Di Distrik Oklip dan Bangun Isu Penggungsian

wrtsh papua


www.beritasatupapua.com

Baca: Komnas HAM Papua: Aksi KKB Papua Bercirikan Teroris

30/09/21 09:10

Eksistensi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) selalu mendatangkan maut dan sejumlah kekacauan lainnya. Terakhir beberapa bangunan di Distrik Oklip, Kabupaten Pagunungan Bintang, menjadi sasaran kebiadaban KKB dan sengaja dibakar. (29/9)

Menurut tokoh senior Papua, Franz Korwa, bahwa aksi KKB di Distrik Oklip terjadi lantaran kelompok separatis tersebut dalam keadaan terdesak pasca aparat TNI Polri berhasil mengamankan Distrik Kiwirok.

“Kiwirok dan Oklip ini bertetangga. Sekarang di Kiwirok pasti sudah banyak pasukan disana, makanya KKB lari ke Oklip, disana baru mereka berani melakukan pembakaran dan pengrusakan, karena hanya itu yang bisa mereka lakukan,” meski demikian, Korwa menjelaskan jika aksi serupa masih bisa terus terjadi sewaktu-waktu.

“Kalau sudah kalah dan terdesak dan mereka (KKB) sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, maka mereka hanya menebar ancaman dan teror untuk membuat perasaan tidak aman. Keberadaan KKB itu sangat mengganggu,”

Franz menduga jika pergerakan KKB dari Kiwirok ke Oklip akan dibarengi juga dengan isu tentang pengungsian masyarakat Papua.

“Setiap aksi ancaman dari KKB, selalu dibarengi dengan isu pengungsian. Mereka sendiri yang melakukan teror dan mereka juga yang membuat hoax tentang pengungsian masyarakat Papua. Konflik yang diawali dari KKB pasti akan meluas, makanya harus bisa segera dipotong (diselesaikan),”

Franz menambahkan jika aksi yang terjadi di Distrik Oklip murni sebagai dampak dari serangkaian konflik bersenjata yang terjadi di Kiwirok. Dirinya menjelaskan jika KKB ingin tetap menunjukkan eksistensinya setelah pada 7 September 2021 lalu kelompoknya ditangkap beserta 5 buah senjata api ilegal.

“Ini dampak dari penangkapan di awal bulan lalu, tapi tidak salah juga, justru setiap kasus demi kasus yang terjadi itu langsung ditangani pihak berwajib. Maka KKB semakin terdesak dan nanti akhirnya mereka semua itu akan hilang,” tuturnya.

KNPB Sumber Konflik di Papua, Eksistensinya Tidak Bisa Dibiarkan

wrtsh papua


Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dalam sebuah pernyataan yang disampaikan oleh Agus Kossay sebagai ketua, menyebutkan jika organisasi yang dibawanya tidak akan mengganggu pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang saat ini tengah berlangsung di Papua. Dalam alasannya, Kossay mengatakan jika agenda PON tidak memiliki kaitannya dengan misi dalam organisasinya

Salah seorang pengamat dan tokoh senior Papua, Agustinus R dalam kesempatannya menanggapi terkait polemik yang mulai terjadi dalam penyelenggaraan PON. Dirinya menduga jika KNPB hanya berkelit dari sejumlah tuduhan, sebab faktor ancaman yang berasal dari simpatisan KNPB disebutkan Agustinus sudah mulai terlihat. (30/9)

“Seorang ketua bicara bagaimana, tapi orang-orang dibawahnya melakukannya bagaimana. Beberapa hari pelaksanaan PON sudah mulai terlihat jika KNPB punya maksud untuk mengganggu PON,”

Agustinus menyoroti kabar hoaks yang mencoba dilontarkan oleh beberapa orang yang diketahui juga sebagai kelompok/simpatisan organisasi separatis KNPB.

“Aksi mereka sudah bagus karena bisa dibatasi oleh aparat keamanan, tapi jangan dilupakan jika mereka ini bisa melakukan kekacauan melalui media sosial. Kita tahu semua kalau peristiwa lalu di Wamena yang berujung kerusuhan itu bermula dari kabar tidak benar,”

Dirinya juga mengutip nama seorang Ones Suhuniap yang diketahui merupakan juru bicara organisasi separatis KNPB. Menurutnya aksi Suhuniap berpotensi mengundang gejolak dan ancaman keamanan.

“Dia sebagai juru bicara sudah memberikan informasi yang tidak tepat, dia cuma bisa bicara tentang sudut pandangnya yang berbahaya,”

Agustinus lantas meminta kepada aparat keamanan untuk bisa mendeteksi ancaman sedini mungkin agar aksi-aksi terselubung yang dilakukan KNPB bisa segera diantisipasi. Bahkan Agustinus menjabarkan agar KNPB bisa dilarang eksistensinya karena sudah mengancam negara.

“Tindak saja secara tegas, orang-orang yang tahunya hanya membuat rusuh dan kacau ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Papua yang damai tidak membutuhkan orang -orang seperti KNPB. Bubarkan kalau perlu, larang semua aktivitasnya,”

Rabu, 29 September 2021

Klaim Diri Sebagai Panglima TPNPB-OPM, Damianus Yogi Disebut Pelacur

wrtsh papua


Juru Bicara Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Sebby Sambom dalam keterangannya (29/09) mengatakan jika Damianus Magay Yogi sedang menjalankan praktik-praktik pelengseran terhadap Jendral Goliath Tabuni dengan cara yang hina.

Damianus Yogi yang sebelumnya mengklaim diri sebagai Panglima Tertinggi KKB, disebutkan oleh Sebby Sambom telah mencoba menghancurkan perjuangan bangsa Papua. Dirinya menegaskan jika aksi Damianus berpotensi menimbulkan konflik internal karena terjadi dualisme.

“Dualisme di tubuh KKB akan menghadirkan konflik baru. Kita semua sebagai pejuangan akan lupa dengan arah sebenarnya, semua akan sibuk sendiri untuk saling menyalahkan. Damianus sedang mengkhianati perjuangan bangsa Papua, dia sengaja melemahkan yang sudah dirintis sejak puluhan tahun lalu,”

Sambom menuturkan jika aksi Damianus Yogi mengklaim diri sebagai Panglima Terttinggi secara tidak langsung telah melacurkan perjuangan KKB untuk membebaskan Papua.

“Damianus Yogi adalah pelacur, dia melacurkan dirinya untuk mendapatkan sesendok nasi. Secara tegas kami menentang aksi Damianus karena perjuangannya pasti akan sia-sia. Kami semua sangat marah karena perjuangan ini sudah mulai dirusak oleh orang Papua sneidir, padahal dia tidak paham arti perjuangan sesungguhnya,”

Sambom lantas menegaskan jika Damianus Yogi sudah berkhianat terhadap Goliath Tabuni sebagai Panglima yang selalu dihormati sebagai orang tua. Oleh sebab itu dirinya mengatakan jika kelompok Damianus tak ubahnya sebagai pemberontah yang menjadi musuh dari pihaknya.

“Kamu (Damianus Yogi) itu pemberontak, artinya kamu adalah musuh. Jangan harap bisa bernafas lega setelah ini, kamu sudah menghancurkan perjuangan,”

KKB Ngalum Kupel Kembali Bakar Bangunan di Pegunungan Bintang, Bupati Minta Aparat Keamanan Mengambil Tindakan Tegas

wrtsh papua


www.cnnindonesia.com

baca: KKB Bakar Bangunan Sekolah di Pegunungan Bintang

29/09/21 08:16

Setidaknya ada empat bangunan yang dibakar oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabuaten Pegunungan Bintang, Papua. Keempat bangunan berada di distrik Oklip.

"Pada hari Selasa tanggal 18 September 2021 pagi bertempat di Distrik Oklip Kabupaten Pegunungan Bintang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Lamek taplo  kembali melakukan pembakaran beberapa bangunan-bangunan di sana," ungkap salah seorang warga.

Bupati Pegunungan Bintang Spey Yan Birdana ST, M.Si saat dikonfirmasi mengungkapnya kondisi Kabupaten Pegunungan Bintang sebelumnya sangat kondusif aman dan damai, namun dikarenakan adanya peristiwa di Kiwirok yang dilakukan oleh kelompok KKB, sehingga Kabupaten Pegunungan Bintang seminggu ini mengalami gangguan kamtibmas.

“Sebelumnya Kabupaten ini sangat aman dan damai, namun dikarenakan adanya peristiwa di Kiwirok yang mengakibatkan tenaga Kesehatan meninggal akibat dar penyerangan KKB, sehingga perlu dilakukan Tindakan yang tegas untuk memberikan rasa aman dan damai”

Lebih lanjut Bupati kata Bupati, dirinya meminta kepada Kapolda, Pangdam, Dandim,  dan seluruh jajaran Polres untuk mengambil Tindakan tegas dan terukur terhadap kelompok-kelompok yang mengacaukan kabupaten pegunungan Bintang.

“Siapa yang bermain agar diambil dan diproses secara hukum, kita harus kembalikan lagi kabupaten pegunungan bintang menjadi kabupaten yang aman dan damai” tuturnya

Selasa, 28 September 2021

Biadab! Lamek Taplo Ungkap Niatnya Bunuh Tenaga Medis

wrtsh papua


Tak henti-hentinya, kabar akan peristiwa berdarah terus terjadi di Papua. Kelompok Kriminal Bersenjata menjadi aktor dalam sejumlah rentetan aksi yang tak jarang kerap menimbulkan jatuh korban dari warga sipil. 

Nahasnya, KKB yang selalu menebar teror ancaman seolah mewajarkan hal tersebut terus terjadi, meski dunia internasional sudah mengecam tindakan-tindakannya karena dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

“Papua bukan seharusnya menjadi wilayah yang aman dan damai, tetapi dengan adanya aksi berupa teror dan ancaman yang dilakukan KKB, semuanya berubah menjadi mencekam. Memang menurut kami KKB itu sudah sangat keterlaluan, mereka menghambat kemajuan di Papua,” ungkap Pdt. Nason Gobay sebagai salah seorang pemuka agama.

Dalam pernyataan Pdt. Nason mengungkapkan jika peristiwa penyerangan terhadap tenaga kesehatan di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, pada 13 September 2021 lalu telah melukai hati seluruh orang Papua.

“Orang-orang itu (para tenaga Kesehatan) sedang melakukan misi kemanusiaan, mereka adalah yang menjaga kehidupan bagi masyarakat di pedalaman Papua. Apa yang dilakukan KKB sudah menyakiti hati kami semua sebagai manusia,”

Pdt. Nasopn juga menyanggah pernyataan Lamek Taplo yang merupakan pemimpin KKB wilayah Pegunungan Bintang dalam sebuah video singkat yang diunggah ke sosial media. Dalam keterangannya Lamek mengungkapkan jika pihaknya bertanggung jawab atas pembakaran bangunan dan penyerangan di Distrik Kiwirok.

Bahkan secara langsung, Lamek Taplo mengatakan jika dirinya bersama puluhan pasukan bersenjatanya sudah merencanakan aksi pembunuhan terhadap tenaga medis yang bertugas di Puskesmas Kiwirok tersebut.

“Dari apa yang keluar dari mulut Lamek Taplo, itu berarti dia sudah merencanakan aksi. Secara sadar dia sudah tahu akan membunuh para tenaga medis di Puskesmas, padahal dunia internasional mengakui jika tenaga medis itu tidak boleh disentuh dalam situasi perang sekalipun. Ini sebuah kebiadaban,”

Pdt. Nason juga mengungkapkan rasa kecewanya terhadap Lamek Taplo yang menyinggung perihal SARA atas aksi penyerangan sebelumnya. Sebagai seorang tokoh yang dihormati setidaknya oleh kelompok sendiri, menurut Pdt. Nason seharusnya Lamek bisa berpikir lebih luas dan tidak berpatokan pada amarah dan nafsu.

“Isi hati seorang Lamek Taplo semua hanya ada amarah dan nafsu. Tidak bisa kamu melihat orang rambut lurus baru kamu tembak dia dengan sia-sia, tidak boleh juga kamu lihat orang kulit putih baru mau bunuh dia begitu saja,”

Pdt, Nason menegaskan jika Lamek Taplo adalah ancaman nyata yang harus diberantas secepat mungkin. Dirinya meminta kepada aparat keamanan untuk bisa segera mungkin menuntaskan permasalahan kemanusiaan yang terjadi di Pegunungan Bintang.

Senin, 27 September 2021

Tokoh Agama Kecam KKB atas Aksi Teror di Hari Minggu

wrtsh papua


Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua adalah organisasi separatis yang selalu menciptakan ketakutan akibat aksi teror yang dilakukan. Kelompok ini juga dianggap tidak merepresentasikan perjuangan bagi Papua karena aksi biadabnya hanya akan menghambat proses pembangunan dan terus merusak kesejahteraan di Papua. 

Menurut Pdt. Nason Gobay sebagai tokoh gereja di Kabupaten Mimika, aksi penembakan yang dilakukan KKB hingga menewaskan aparat keamanan pada hari Minggu 26 September lalu adalah bentuk penentangan atas hukum Tuhan. (27/9)

Dikatakan oleh Pdt. Nason Gobay bahwa hari Minggu seharusnya menjadi hari dimana seluruh umat berbondong-bondong ke gereja untuk beribadah. Terlebih di Papua, hari Minggu adalah sebuah hari yang sakral dan dihormati.

“Hari Minggu adalah waktu yang sangat dihormati oleh seluruh orang di Papua. Kabar tentang aksi penembakan yang dilakukan KKB kemarin itu adalah bentuk penentangan terhadap hukum Tuhan dan moyang bangsa Papua,”

Pdt. Nason menambahkan jika seharusnya hari Minggu harus diisi dengan kedamaian dan saling mengasihi, bukan menebar teror yang akhirnya hanya akan menimbulkan ketakutan dan kesedihan.

“Hari Minggu saya tercoreng aksi yang akhirnya membuat saya berduka, padahal hari Minggu seharusnya menjadi hari yang penuh kasih dengan segala berkat yang sudah diberikan oleh Tuhan,”

Menurut Pdt. Nason, bahwa jangan pernah ada anggapan untuk mendukung aksi KKB di Papua. Dirinya meyakinkan jika kelompok tersebut tidak sedang memperjuangkan suara orang Papua. Tokoh gereja tersebut justru menilai jika KKB hanya beraksi atas kepentingan dari segelintir kelompok yang akhirnya telah mengorbankan banyak kepentingan orang Papua sendiri.

“Mereka ada hanya untuk kepentingan kelompok tertentu, karena tidak semua orang Papua sepakat dengan aksi-aksi biadab yang terus dilakukan. Lihatlah ada berapa banyak orang Papua yang akhirnya harus mengalah karena permasalah KKB ini tidak kunjung selesai,”

Minggu, 26 September 2021

KKB Jangan Putar Balik Fakta tentang Penyerangan Tenaga Medis di Pegunungan Bintang

wrtsh papua


Kondisi seorang tenaga Kesehatan (nakes) Gerald Sokoy yang sebelumnya melarikan diri ke hutan sesaat terjadi penyerangan di Puskesmas Kiwirok, Kabupaten Pagunungan Bintang, dikabarkan dalam kondisi sehat, meski ditawan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) hampir dua pekan lamanya.

“Sebelumnya kKami sangat berharap yang terbaik untuk Gerald Sokoy, tentunya ini juga karena statusnya sebagai tenaga medis yang harusnya selalu dihormati peranannya dalam kondisi perang sekalipun,” ungkap Seni Uopdana sebagai tokoh masyarakat di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Dirinya bersama dengan sejumlah tokoh lain di Pegubin mengaku telah melakukan koordinasi agar Gerald Sokoy dipulangkan ke keluarganya. Dirinya juga berharap agar semua pihak bisa saling menjaga kondisi agar tetap aman dan kondusif.

“Tidak ada permintaan lain, kami hanya berharap Gerald segera dipulangkan. Kalau saja dari kemarin-kemarin sudah dipulangkan semua akan aman,”

Meski demikian, Seni juga menegaskan jika aksi KKB sudah cukup merugikan banyak pihak. Dirinya mengatakan jika KKB juga tidak boleh mengaburkan fakta terkait penyarangan dan teror yang dilakukan.

“Ini semua bermula dari penyerangan, mereka memang sudah merencanakan aksi untuk membunuh para tenaga medis, ini sebuah fakta yang tidak bisa dibantah. Apalagi korban lainnya sudah sempat dianiaya dan dibunuh,”

Seni mengatakan jika KKB sudah terdesak dan dianggap salah, sehingga satu-satunya cara untuk membela diri adalah dengan mengklaim sedang menyelamatkan Gerald Sokoy.

“Saya minta semua pahami jika Gerald Sokoy itu kan korban juga, dia sempat lari ke hutan, kemudian dia tertangkap. Nah ini yang jadi pertanyaan sekarang, kenapa tiba-tiba KKB berdalih sedang menyelamatkan Gerald,”

Atas peristiwa tersebut, sangat disayangkan KKB yang selalu menantang perang tidak mengerti aturan tentang hukum humaniter. Sehingga tekanan-tekanan dari pihak luar inilah yang pada akhirnya membuat Gerald Sokoy berhasil diserahkan walaupun dengan syarat-syarat lain yang harus diberikan kepada KKB.

Sabtu, 25 September 2021

Dewan Gereja Papua Adalah Serigala Berbulu Domba, Kebusukan Mereka Terlihat Nyata

wrtsh papua


Dewan Gereja adalah salah satu perhimpunan antar gereja dunia yang dibentuk untuk menghimpun kesatuan, namun oleh Dewan Gereja Papua, mereka justru merusak perhimpunan tersebut dengan mendorong berbagai perpecahan lewat provokasi yang dilakukan oleh pengurus-pengurusnya.

Dewan Gereja Papua dianggap hanya menumpang nama dan tidak turut dalam struktur yang resmi. Bahkan menurut tokoh agama Joop Suebu bahwa di Papua lebih dikenal organisasi lain Bernama persekutuan gerejagereja Papua (PGGP).

“Dewan Gereja Papua memang sudah berkiprah diluar negeri, tapi Dewan Gereja Papua itu baru ada tahun 2020 lalu, tapi secara tidak langsung dalam waktu singkat itu mereka sudah membuat sedikit kegaduhan. Padahal di Papua kita semua sudah lebih mengenal PGGP,”

Menurut sejumlah tokoh, Dewan Gereja Papua hanya upaya terselubung dari sejumlah tokoh separatis yang mendukung aksi kekerasan lewat misi keagamaan.

“Dewan Gereja Papua itu isinya orang-orang separatis semua. Menjual nama agama untuk mendukung aksi terorisme. Jangan ada yang percaya nama-nama seperti Socratez, Benny Giay, atau Dorman. Mereka itu domba berbulu serigala,” ungkap Franz Korwa sebagai salah seorang tokoh senior Papua.

Korwa juga meyakinkan jika orang-orang di Dewan Gereja Papua adalah bagian dari kelompok separatis di Papua yang sudah terbukti selalu menciptakan ancaman kekerasan atau segala bentuk aksi pelanggaran HAM. Kelompok ini disebutkan selalu mendukung KKB yang telah merenggut nyawa orang-orang lewat aksi penembakan biadabnya.

Bahkan pernyataan tersebut tergambar dari sikap Dewan Gereja Papua atas peristiwa penyerangan terhadap para tenaga kesehatan di Puskesmas Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang. Dewan Gereja Papua tidak pernah sama sekali melontarkan pernyataan atas kecaman.

“Omong kosong orang-orang disana, mereka busuk semua, berdiri di dua kaki. Mana yang bisa memberi kekayaan, itu yang mereka dukung. Mereka tidak menggambarkan sama sekali bagaimana ajaran Kristen itu sehatusnya hadir,”

KNPB Coba Ganggu PON Papua, “Mereka Berhadapan dengan Hukum”

wrtsh papua


Aksi-aksi gangguan keamanan di Papua sering terjadi akibat eksisnya kelompok separatis seperti Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Oleh karena itu sejumlah tokoh meminta kepada masyarakat untuk tidak terpancing hasutan atau provokasi yang bersumber dari kelompok tersebut.

“KNPB jadi salah satu organisasi yang harus dilawan oleh orang Papua karena mereka selalu menimbulkan kekacauan. Mereka terus berusaha untuk mengganggu keamanan di Papua,” ungkap pengamat dan tokoh senior Papua Eli Huby.

Sebagai penduduk Wamena, Eli mengatakan jika kelompok seperti KNPB sudah menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi bersama demi terciptanya keamanan yang kondusif. Terlebih KNPB memiliki basis anggota yang rentang usianya masih muda, sebab KNPB dinilai cukup aktif melakukan kaderisasi pada kelompok mahasiswa.

Eli menegaskan akan mendorong penolakan terhadap aksi dan ajakan dari KNPB dan mahasiswa eksodus, hal tersebut diungkapkannya melihat KNPB adalah otak dari kekacauan dan kerusuhan di Papua.

“Jangan pernah mudah terhasut dengan aksi yang disebarkan KNPB atau mahasiswa, kalau kita lihat kejadian tahun 2019 kemarin, itu seharusnya sudah bisa menyadarkan kita semua untuk tegas menolak kelompok ini,”

Eli menambahkan jika penyelenggaraan PON di Papua sebagai bentuk pertaruhan harga diri dan martabat orang Papua. Dirinya juga mengandaikan jika baik dan buruknya pelaksanaan PON akan berdampak bagi orang Papua sendiri.

“Kalau PON itu bisa berjalan baik, nanti orang Papua sendiri yang akan memetik buahnya. Momen ini bisa mendorong kegiatan masyarakat untuk menunjang kesejahteraannya nanti. Untuk itu kita harus mendukung PON ini agar aman dan damai,”

Eli lantas menegaskan kepada KNPB dan mahasiswa eksodus untuk tidak membuat kekacauan dalam pelaksanaan PON. Pihaknya juga memberi dukungan kepada aparat keamanan agar dapat membantu keberhasilan jalannya PON Papua.

“Jadi intinya kalau sudah ada yang mau mengacaukan, siap-siap saja mereka berhadapan dengan hukum. Ada ribuan tantara dan polisi yang sudah disiagakan untuk mendukung suksesnya PON ini. KNPB dan mahasiswa eksodus jangan buat gerakan tambahan,”

Jumat, 24 September 2021

Jubir KKB Sabby Sambom Cuci Tangan atas Penyerangan Nakes di Kiwirok

wrtsh papua


Pernyataan Juru Bicara Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), Sabby Sambom diragukan dalam keterangan yang menyebutkan telah melindungi Gerald Sokoy sebagai mantri Puskesmas Kiwirok, di Pegunungan Bintang, Papua. 

Menurut Pakar Terorisme UNNES, Juan Rismantoro menganggap jika Sebby Sambom hanya sedang berupaya membersihkan nama baik organisasinya setelah mendapat banyak kecaman atas aksi biadab terkait penyerangan terhadap tenaga Kesehatan.

“Ini cuma upaya cuci tangan saja, karena sudah banyak yang mengecam jadi mereka berusaha bersihkan nama. Tapi saya yakin upaya ini tdak mungkin berhasil, tindakan KKB sudah sangat biadab dan tidak bisa ditoleransi lagi,”

Alasan-alasan yang disampaikan Sambom mulai dipertanyakan, hal tersebut disebutkan oleh Juan mengingat KKB hanya melakukan penyanderaan terhadap Gerald Sokoy, sedangkan tenaga kesehatan yang lain terlanjur mendapat penyiksaan dan pembunuhan dengan keji.

“Omong kosong Sebby Sambom, jangan coba membalikkan kebenaran. Sudah ada korban nyawa, korban lain juga mendapatkan luka serius disekujur tubuh,”

KKB dalam tahun ke tahun dianggap sebagai organisasi yang sudah sangat meresahkan aktivitas masyarakat di Papua, beberapa peristiwa pembunuhan sudah sangat sering terjadi. Tak jarang aksi-aksinya selalu menimbulkan amarah karena perilaku biadabnya.

“Atas serangkaian aksi biadab yang dilakukan, saya minta kepada aparat TNI Polri untuk segera menuntaskan teror KKB. tentu ini semua untuk masyarakat Papua sendiri,”

Dorman Wandikbo Hilang Moral atas Kasus Penyerangan di Kiwirok

wrtsh papua


Dorman Wandikbo sebagai tokoh Gereja Injil di Indonesia (GIDI) dianggap tidak peduli dengan kondisi dan permasalahan masayarakat di Papua. Padahal GIDI merupakan denominasi gereja yang cukup mayoritas bagi masyarakat di pegunungan.

Hal tersebut tersirat dalam aksi pembunuhan tenaga Kesehatan (nakes) Puskesmas Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang yang dilakukan oleh gerombolan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

“Sebagai salah satu tokoh agama harusnya Dorman bisa membangun rasa damai di lingkungan masyarakat lewat pengaruh keagamaan, tapi hal itu tidak nampak saat terjadi peristiwa biadab berupa pembunuhan nakes di Kiwirok,” kata Tokoh Senior Papua Agustinus R.

Berbagai pertanyaan muncul terkait dimana moral seorang Dorman sebagai tokoh gereja, terlebih Dorman sendiri kerap berbicara menyinggung sikap anti kekerasan terhadap umat manusia.

“Kita banyak temui pernyataannya dalam sikap menolak kekerasan di Tanah Papua, tapi sampai dengan hari ini, tidak ada sama sekali kita mendengar itu lagi. Padahal peristiwa di Kiwirok sudah begitu badab dan keji dilakukan,”

Jika peristiwa berupa penyerangan terhadap tenaga kesehatan saja tidak nampak di mata Dorman Wandikbo, lalu peristiwa biadab seperti apa lagi yang harus terulang dan mampu meluluhkan hati kerasnya.

“Sebagai orang Papua, sudah hilang rasa hormat kepada Dorman. Kalau memang tidak bisa mengemban kehormatan sebagai pendeta yang bisa memberi rasa damai, berhenti saja,”

Kamis, 23 September 2021

Tokoh Papua Perjelas Benny Giay sebagai Simpatisan Separatis di Papua

wrtsh papua


Tidakkah Benny Giay merupakan sosok yang berpengaruh dari Papua, bahkan dirinya pernah bicara banyak soal tanah ini disaluran televisi nasional. Namun sangat disayangkan, ketokohannya yang juga merupakan seorang pendeta tidak lantas membuat pribadinya menerapkan kebesaran nilai agama.

Benny Giay dikenal publik sebagai tokoh yang selalu membela aspirasi orang Papua, meski tak jarang aksinya kerap menyinggung dukungan terhadap gerakan separatisme di Papua. 

Bahkan Benny giay dianggap sebagai pribadi yang tidak tahu malu, mencampuri urusan lain untuk kepentingan pribadi. Padahal didalam namanya terdapat tanggung jawab jabatan sebagai Pendeta, sebagai hamba Tuhan.

“Pendeta itu besar tanggung jawabnya, pendeta juga harus bisa melihat sisi baik dan buruk. Tidak boleh membawa kepentingan untuk dirinya atas masalah yang sedang terjadi, hal ini yang tidak terlihat darinya atas penyerangan nakes di Kiwirok,” ungkap Franz Kowa sebagai tokoh senior Papua.

Dalam sebuah keterangan, Benny Giay sebagai seorang pendukung Gerakan separatisme pernah meminta agar kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) segera diselesaikan. Tentu pernyataan tersebut sangat berbanding terbalik dengan peristiwa saat saat ini terjadi.

“Itu juga yang harus diperhatikan, dulu bicara bagaimana dan sekarang faktanya bagaimana. Hanya saja, dunia ini tidak akan terbalik, hukum alam akan berjalan dengan sendirinya, dan akan semakin memperjelas siapa orang baik dan siapa orang jahat,”

Penyerangan terhadap tenaga kesehatan di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, telah membuat banyak mata merasa marah. Selain pelakukan adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) fungsi tenaga kesehatan sangat dirasa vital bagi masyarakat setempat.

“Tidak banyak orang yang mampu mengabdi di wilayah terpencil seperti Kiwirok. Kehadiran nakes seharusnya mendapat apresiasi, bukan justru dibunuh dengan tuduhan yang tidak pernah akan terbukti,”

Dunia Internasional Harus Paham Keterlibatan Victor Yeimo sebagai Aktor Kerusuhan Papua

wrtsh papua


Kondisi Kesehatan yang dialami Victor Yeimo dalam beberapa hari terakhir sudah dinyatakan pulih, itu artinya Victor bersiap untuk melanjutkan proses hukumnya yang sebelumnya sempat tertunda. Pihak RSUD Jayapura telah mengkonfirmasi jika penyakit yang dialami Victor bukan permasalahan serius.

“Sudah sepenuhnya sehat, penyakit yang dialami juga bukan permasalahan yang cukup serius. Ini hanya pengaruh dari gaya hidup Victor saja,”

Terkait hal tersebut, justru banyak kabar miring yang tak jarang menciptakan kegaduhan. Menurut tokoh Senior Papua, Agustinus R mengatakan jika kasus Victor Yeimo penuh dengan rekayasa.

“Pejabat selevel dunia tentu tidak punya data akurat tentang situasi, yang mereka dapat hanya laporan-laporan rekayasa yang dibuat oleh para simpatisan kelompok separatis seperti KNPB sendiri. Juga kepada Benny Wenda, sudah bisa dipastikan tidak akan sesuai fakta, karena mereka punya kepentingan lain,”

Menurut Agustinus bahwa PBB tidak memahami konteks secara menyeluruh terkait kasus di Papua. Mereka hanya membuka diri atas laporan yang sifatnya dari pihak korban. Padahal baik itu KNPB, mereka juga kawanan pelaku kejahatan.

“Kita persoalkan tentang kerusuhan yang terjadi di Jayapura pada tahun 2019 sampai ada aksi pembakaran bahkan terjadi juga ancaman terhadap orang-orang pendatang. Ini juga masalah rasis kan?”

Agustinus menambahkan jika aksi KNPB yang menyuarakan anti rasisme dan kekerasan justru menimbulkan permasalahan lain terkait rasisme dan kekerasan juga. Sebab pelaku rasis di Kota Surabaya diketahui sudah diringkus dan diproses hukum.

“Kalau pelaku sudah diproses seharusnya semua pihak bisa menahan diri, bukan malah merancang aksi tandingan yang berakibat kerusuhan. Aksi demo anarkis itu sudah pasti melanggar hukum,”

Perlu diingat jika KNPB dan Victor Yeimo adalah aktor yang merancang aksi kerusuhan di Kota Jayapura dan Wamena hingga mengakibatkan puluhan orang korban tewas. Saat ini, dikatakan Agustinus bahwa KNPB sedang melakukan aksi perlawanan untuk mengaburkan fakta terkait kerusuhan tahun 2019 sebelumnya.

“Semua adalah aksi yang dirancang, ini bagian dari politisasi untuk mengaburkan fakta jika KNPB adalah organisasi biadab. Peristiwa 2019 akan terus teringat karena korbannya saja sampai puluhan orang,”

Agustinus menambahkan jika seharusnya pemerintah bisa mengeluarkan keputusan yang tegas terhadap KNPB untuk bisa dilarang dan dibubarkan keberadaannya. Dirinya berharap KNPB di Papua bisa ditindak seperti FPI sebagai organisasi yang merugikan.

Rabu, 22 September 2021

Socratez Yoman Tutup Mata atas Penyerangan KKB terhadap Nakes

wrtsh papua


Sebagai seorang tokoh gereja seharusnya Socratez Yoman mampu menjadi penengah dalam konflik yang terjadi di Papua. Kita tahu masyarakat Papua sangat menghargai kedudukan seorang tokoh. Namun yang diperlihatkan Socratez Yoman sudah sangat berbeda, kehadirannya hanya memupuk konflik berkepanjangan.

Peristiwa biadab atas pembunuhan yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap tenaga kesehatan sampai saat ini tidak pernah menyentuh hati keras yang dimiliki Socratez. Franz Korwa dalam keterangannya menyebut jika Socratez tidak layak disebut sebagai gembala.

“Dia tidak sedang melayani, dia hanya seorang manusia berketerbatasan yang pandai melakukan provokasi,”

Tokoh-tokoh sepetri Socratez dianggap sebagai biang kekacauan di Papua. Melalui pengaruhnya kekerasan dalam bentuk perlawanan dirasa sebagai hal yang lumrah terjadi.

“Bodoh dan dia memang bodoh, mengambil peran agama sebagai jalan keluar sebuah masalah untuk dibelokkan pada kesesatan. Socratez harus bisa bertobat untuk dirinya sendiri,”

Aksi penyerangan KKB terhadap tenaga kesehatan (nakes) di Distrik Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang disebutkan telah menghambat program kesehatan. Padahal menurut dr. Ronald sebagai Ketua IDI Papua, pihaknya menyebutkan jika wilayah Pegunungan Bintang adalah salah satu wilayah vital membutuhkan fasilitas Kesehatan.

“Ada dua hal yang seharusnya beriringan dan saling menguntungkan. Pertama masyarakat yang mendapatkan fasilitas kesehatan, dan kedua adalah terjaminnya rasa aman bagi para tenaga kesehatan yang mengabdikan diri mereka,”

Sebelumnya dua nakes di Papua dikabarkan hilang dalam penyerangan KKB di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Senin (13/9). Setelah melakukan pencarian, aparat menemukan dua orang nakes di jurang. Satu orang nakes Gabriella Meilani ditemukan dalam keadaan tewas. Adapun satu orang lainnya, Kristina Sampe, masih dalam keadaan hidup.

Alih-alih Bicara Penyerangan Kiwirok, Theo Hesegem Justru Dikecam atas Pernyataannya

wrtsh papua


Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (Pembela HAM) Theo Hesegem buka suara soal penyerangan Puskesmas Kiwirok di Kabupaten Pegunungan Bintang. Dirinya mengatakan jika tenaga kesehatan seharusnya harus dihargai dalam tugasnya.

“Setiap orang baik itu Papua ataupun non-Papua, semua berhak untuk hidup di atas tanah ini, terutama bagi mereka para tenaga medis yang bekerja atas dasar kemanusiaan,”

Theo Hesegem juga berharap agar dibentuk tim independen untuk mengungkap kasus penyerangan di Distrik Kiwirok yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sebelumnya. Namun pernyataan Theo tersebut justru menimbulkan polemik baru terkait aksi separatisme di Papua.

Menurut pengamat bidang keamanan Universitas Indonesia, Dian Sucipto menyebut jika pernyataan terkait pembentukan tim independen dinilai sebagai upaya pengalihan fakta terkait penyerangan yang dilakukan KKB. Menurutnya aksi tersebut cukup mendapatkan timbal balik berupa kecaman dan upaya penindakan oleh TNI/Polri.

“Saya rasa ini agak rancu, untuk apa lagi dilakukan penyelidikan oleh tim independen. Bukti sudah ada, korban sudah bersuara, bahkan sudah ada pihak pelaku yang mengakui. Tidak heran juga sebenarnya, Theo Hesegem memang seperti itu orangnya, mungkin dia punya kedekatan dengan aksi separatis. Jadi pernyataannya hanya diputar-putar ke hal sedangkal itu,”

Dian menambahkan jika pernyataan yang dilontarkan Theo hanya omong kosong belaka, bahkan cenderung akan membangkitkan pedih bagi para korban dan segenap tenaga kesehatan Indonesia.

“Apakah Theo ini tidak sadar jika pernyataannya hanya akan membangkitkan ingatan dan duka bagi keluarga atau juga bagi para tenaga kesehatan di Indonesia?”

Theo dianggap terlalu jauh dalam mempolitisasi peristiwa malang yang dialami suster Gabriela Meilan, seolah Theo masih berharap untuk mencari sudut pandang lain atas penyerangan di Distrik Kiwirok. 

“Ini adalah momen duka di langit Papua, cukup sudah kekerasan demi kekerasan terjadi. Saya agak kritisi dia tentang pernyataan-pernyataannya yang melenceng. Jangan coba mencari sudut pandang lain sehingga dapat menciptakan opini untuk membenarkan aksi biadab itu,”

Sebab Theo Hesegem dengan gamblang mengungkit kembali peristiwa penyerangan yang bukan kali ini saja terjadi. Theo menyebut telah ada beberapa wilayah yang seperti Nduga, Intan Jaya, Puncak, Yahukimo, Mimika, Maybrat, yang sebelumnya terjadi peristiwa nahas secara berulang.

“Kalau seperti iu memang berarti Theo yang biadab, dia tidak punya hati karena telah membanding-bandingkan peristiwa yang notabene telah memakan korban. Cara pandang yang salah, pernyataan seperti itu tidak elok keluar dari mulut pegiat HAM,”

Selasa, 21 September 2021

Veronica Koman sebagai Aktivis Kemanusiaan Sesat, Pengaruhnya Merusak Generasi Papua

wrtsh papua


Sepak terjang Veronica Koman yang mengklaim diri sebagai aktivis Hak Asasi Manusia yang membela orang-orang Papua nyatanya ditentang oleh orang Papua itu sendiri. Salah seorang figur publik anak muda Papua, Olvah Alhamid menyeru jika Veronica Koman hanya sedang berdalih sebagai aktivis dan tidak sedang memperjuangkan hak orang Papua.

Dalam media sosial twitternya, @olvaholvah dirinya mengaku jika orang Papua adalah pribadi yang yang baik, damai dengan kasih sayang serta perhatian terhadap sesama. Namun pengaruh luar sudah membuat Papua terpecah-belah.

“Mereka yang punya kepentingan itu sedang mempengaruhi orang Papua, ini akan merugikan orang Papua sendiri. Jangan mau diperalat dengan segelintir orang,”

Olvah dalam kehidupannya selalu menentang aksi separatisme yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) karena dianggap telah meracuni generasi Papua dengan simbol-simbol kekerasan atas perlawanan. Mirisnya hal itu juga yang sedang digemborkan oleh Veronica Koman, menurut Koman aksi perlawanan seakan lumrah terjadi disebabkan catatan sejarah yang dipercayainya.

“Banyak pihak yang akan datang dan coba mempengaruhi kita, memprovokasi keadaan. Kita jangan malas membaca, kalau tidak tahu maka tanyakan kepada orang yang tepat. Jangan sesekali terpengaruh opini yang hanya akan merugikan kita sebagai orang Papua,”

Olvah juga menambahkan jika hak asasi manusia harus dijunjung tinggi, sehingga dirinya meminta kepada Veronica Koman untuk berhenti meremehkan kehidupan orang lain. HAM adalah hak yang melekat bagi seluruh orang, bukan hanya bagi orang Papua.

“HAM melekat bagi setiap orang, saya punya hak dan anda juga punya hak. Peristiwa penyerangan nakes di Kiwirok mengapa Veronica tidak menggebu-gebu bersuara seperti jika orang Papua yang mendapat tindak kekerasan?”

Olvah menegaskan jika tidak semua orang Papua ada dipihak Veronica Koman yang mendukung aksi separatisme, dirinya mengatakan jika makna perjuangan bukan berarti merampas kehidupan orang lain.

“Saya bersuara atas nama kemanusiaan yang Veronica Koman tidak punya itu. Maka stop menjual Papua atas nama perjuangan padahal yang dilakukan adalah merampas hak hidup seseorang. Veronica Koman harus tahu makna perjuangan itu bukan berarti membunuh,”

Aktivis HAM Nasional Disindir karena Bungkam Soal Pembunuhan Nakes di Kiwirok

wrtsh papua


Pasca penyerangan terhadap tenaga kesehatan di Distrik Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang, banyak kalangan telah bersimpatik dan mengecam aksi biadab yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) tersebut.

Namun sangat disayangkan jika masih ada saja kelompok yang memilih bungkam karena menganggap hal itu sebagai tindak kejahatan biasa yang tidak menyangkut aksi pelanggaran HAM.

Ketua Umum Pemuda Adat Papua, Jan Chritian Arebo mengungkapkan jika permasalah di Kiwirok adalah sebuah bentuk kebiadaban yang telah melukai hati banyak orang. Terlebih menurutnya korban merupakan perempuan seorang tenaga Kesehatan.

“Kejadian itu adalah kebiadaban, tidak ada yang bisa dibenarkan. Kita semua tahu korbannya adalah seorang perempuan juga sebagai tenaga kesehatan, apalagi korban sudah mendedikasikan diri untuk mengabdi bagi masyarakat disana,”

Oleh sebab itu Arebo menegaskan jika tidak ada lagi bentuk toleransi yang bisa diberikan kepada KKB. Dirinya juga mempertayakan kembali para pegiat HAM yang beberapa waktu terakhir selalu menjual nama Papua. Hariz Azhar disebut sebagai aktivis Hak Asasi Manusia. Menurut Arebo, Hariz perlu mendapat kritik karena berstandar ganda dalam melihat kasus pelanggaran HAM di Papua.

“Kemarin dia teriak-teriak tentang HAM di papua, sekarang dengan kejadian di kiwirok tak sedikitpun saya dengar pernyataannya. Ini adalah kasus besar, masa seorang aktivis melewatkan peristiwa biadab yang dilakukan KKB ini,”

Arebo menegaskan tentang jiwa seorang aktivis adalah untuk membela setiap kebenaran, dan bukan sebagai upaya menciptakan pembenaran.

“Seorang aktivis mempunyai integritas yang tertanam dalam diri, bukan hasil dipengaruhi dan bukan atas kepentingan tertentu. Aktivis harus siap membela segala kebenaran, namun bukan untuk menciptakan sebuah pembenaran. Katakana salah jika itu memang salah. Jangan berkelik,”

Selain itu, Arebo seakan memberikan opsi terhadap Hariz Azhar terkait Papua, dirinya mengatakan jika Hariz tidak bisa memahami seluk-beluk permasalahan yang terjadi di Papua secara utuh, lebih baik sudahi berbiacra tentang Papua dan jangan pernah mau ikut campur.

“Atau mungkin kalau memang dia tidak paham situasi di Papua, yasudah, tinggalkan saja Papua sebagai fokusnya. Dia bisa bantu orang-orang ditempat lain yang masih membutuhkan suara seorang aktivis. Saya hanya khawatir, jika nanti ketika ada kasus lain dan dia tiba-tiba muncul kembali, tentu itu hanya akan memberi ketimpangan dalam opini,”

Senin, 20 September 2021

KKB Bunuh Nakes, Amnesti Internasional Indonesia Justru Permasalahkan Pendekatan Keamanan di Papua

wrtsh papua


Aksi penyerangan dan pembunuhan terhadap nakes di kiwirok membuka tabir dunia tentang kebiadaban KKB dalam melakukan aksi dan teror. Kecaman diketahui muncul dari kalangan masyarakat hingga organisasi ataupun Lembaga dan instansi.

Bahkan salah seorang pegiat HAM yang dikenal mendukung upaya pembebasan papua, Vernonica Koman mengecam aksi tersebut. Menurutnya tindakan biadab dengan melakukan pembunuhan terhadap warga sipil tidak bisa dibenarkan.

“Saya mengutuk keras aksi biadab KKB yang melakukan penyerangan ke Puskesmas Kiwirok hingga akhirnya memakan korban jiwa seorang perawat. Saya turut berduka atas peristiwa tersebut,”

Aksi-aksi KKB dalam melakukan teror bukan baru saat ini terjadi, dalam beberapa tahun silam eksistensi KKB selalu memakan korban dan masih menjadi momok bagi situasi keamanan. Menurut Sandi Simatupang sebagai praktisi hukum yang mengaku pernah melakukan observasi ke Nduga menyebutkan jika KKB selalu membuat kekacauan yang meresahkan untuk mengganggu stabilitas keamanan di Papua.

Sandi mengatakan jika ada kecenderungan dari sejumlah elemen baik dalam tingkat keorganisasian masyarakat ataupun lembaga berbadan hukum yang secara sembunyi-sembunyi mendukung aksi separatisme di Papua.

“Seakan sudah menjadi rahasia umum, ya. Tentang bagaimana peran sejumlah organisasi atau lembaga di Papua yang menyembunyikan dukungan terhadap kelompok separatis. Ini menjadi PR besar bagi pemecahan masalah keamanan di Papua. Tentu hal semacam ini telah menyulitkan semua pihak untuk segera menuntaskannya, istilahnya musuh dalam selimut,”

Atas banyaknya kekerasan dan aksi biadab yang dilakukan oleh KKB, dirinya terus berupaya mendesak aparat keamanan agar segera melakukan tindakan tegas. Dirinya juga memperingatkan kepada lembaga yang sebelumnya kerap berkoar tentang keadilan dan hak asasi manusia untuk objektif dalam menilai sebuah kasus.

“Saya tidak mendengar ucapan bela sungkawa ataupun kecaman dari praktisi HAM terkait kasus di Kiwirok, sebagai orang yang menjunjung tinggi martabat manusia kalian jangan pernah menutup mata dan hati. Katakana salah jika itu salah,”

Secara terang Sandi juga mengkritik pernyataan Amnesti Internasional Indonesia yang meminta pendekatan keamanan dalam penanganan kasus Papua kembali ditinjau. Dirinya mengatakan jika pernyataan Amnesti Internasional Indonesia tidak tepat dalam melihat situasi yang ada saat ini.

“Saya kira tidak ada korelasi yang mendasar, jangan mulai beropini seolah mendukung separatisme. KKB adalah ancaman nyata, tidak akan ada ruang diskusi seperti yang mereka pikirkan. Saya juga keheranan bagaimana situasi perang di dalam hutan masih berharap aparat bisa melakukan penangkapan untuk diadili dalam peradilan umum,”

Sandi mengingatkan agar Amnesty Internasional Indonesia bisa lebih bijak menyikapi permasalahan teror bersenjata. Aparat keaman dikatakan Sandi juga memahami bagaimana penerapan dalam menghormati HAM, namun situasi dalam ancaman peluru tentu tidak semudah yang dipikirkan. Sandi lantas menjabarkan peristiwa penangkapan Senat Soll di Yahukimo pada 2 September 2021 lalu.

“Tentu saya hormati mereka sebagai lembaga HAM. Namun coba lebih pahami situasi di Papua, jangan hanya ikut campur saat terjadi peristiwa besar. terakhir seorang KKB Yahukimo ditangkap tanpa dibunuh, ini sudah mementahkan pernyataannya sebelumnya ya. Entah mereka tahu atau tidak tentang peristiwa itu,”

Minggu, 19 September 2021

KNPB dan Aktivis Kemanusiaan Murka atas Aksi Biadab TPNPB di Kiwirok, Pegubin

wrtsh papua


Aksi penyerangan TPNPB sebagi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua telah menyebabkan seorang tenaga kesehatan meninggal dunia dengan tragis. Gabriela Meilan mendapat tindak kekerasan dan pelecehan seksual sebelum akhirnya dibuang ke jurang.

Atas kabar tersebut, KNPB mendesak agar TPNPB segera menghentikan konflik yang dibalut dengan aksi kekerasan bersenjata. Menurut Ones Suhuniap sebagai Jubir KNPB, bahwa aksi tersebut akan meruntuhkan perjuangan pembebasan Papua, terlebih korban adalah kalangan sipil bahkan juga sebagai tenaga Kesehatan. (19/9)

“Dalam berkonflik kelompok medis dilindungi undang-undang, itu menjadi kesepakatan seluruh dunia. Kami dari KNPB mendesak evaluasi total pada tubuh TPNPB yang sudah kelewatan dalam melakukan aksi karena menabrak kaidah kemanusiaan,”

Suhuniap dalam keterangannya menyebutkan jika KNPB sedang membangun upaya negosiasi dengan cara damai, namun upaya tersebut seolah mental dan tak akan digubris karena peristiwa malang di Kiwirok, Pegubin.

“Ini sama saja menghancurkan perjuangan sendiri. Kami sangat menyesali peristiwa itu terjadi. Soal kekerasan ditubuh TPNPB itu menjadi penyakit lama yang sudah seharusnya bisa dihilangkan,”

Suhuniap menambahkan jika TPNPB tidak boleh terus-menerus membiarkan dan memelihara aksi kejahatan kemanusiaan di tanah Papua. Hal yang sama dilontarkan Veronica Koman yang juga merupakan aktivis kemanusiaan. Dirinya mengaku marah dan mengutuk keras aksi biadab TPNPB tersebut. Koman beralasan jika tenaga Kesehatan memiliki peran yang tidak boleh diganggu dalam situasi konflik.

“Tenaga kesehatan tidak turut dalam konflik, peran mereka untuk merawat kehidupan. Saya sebagai aktivis mengutuk keras aksi KKB atas cara-cara biadab yang dilakukan. Ini sebuah kebodohan yang perlu disingkirkan,”

Veronica yang mengaku kerap melakukan diskusi dengan para pegiat HAM Internasional lantas menuturkan jika saat ini dirinya seakan dihantui jalan buntu akibat penyerangan KKB di Kiwirok.

“Lobi internasional akan terganggu dengan kabar tersebut, selama ini kita yang dianggap korban, tapi dengan kejadian itu dunia internasional mulai meragukan dan menganggap sebenarnya kita juga bagian dari pelaku. Ini situasi yang sulit, saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,”

Aktivis Luar Negeri Mengutuk Pembunuhan Nakes di Papua, Pintu PBB Tertutup Untuk Papua Merdeka

wrtsh papua


Batamtoday.com

Baca: Tertutup Pintu Referendum untuk Papua

Aksi penyerangan terhadap tenaga kesehatan di Papua kabupaten pegunungan bintang, distrik Kiwirok ditanggapi dengan kecaman keras oleh aktivis Papua luar merdeka di luar negeri.

Veronica koman yang merupakan aktivis Papua merdeka di luar negeri sekaligus sebagai pembela hak-hak kemanusiaan mengutuk dan mengecam penyerangan yang dilakukan oleh klien perjuangannya sendiri yaitu kelompok TPNPB-OPM pimpinan lemak taplo.

Aksi penyerangan yang dilakukan kelompok TPNPB-OPM akibatnya Gabriella Meilani meninggal dunia dalam kondisi yang mengenaskan, selain itu seorang perawat bernama Gerald Sokoy hingga saat ini belum ditemukan.

"Sebelum dibunuh Gabriella mengalami kekerasan dan pelecehan seksual, jenazahnya ditemukan dalam kondisi telanjang dan terdapat beberapa luka dibeberapa bagian tubuhnya termasuk di kemaluannya"

Atas aksi penyerangan tersebut Veronica mengutuk sekeras-kerasnya TPNPB - OPM yang tidak mengerti perjuangan dan peperangan sampai harus tenaga kesehatan menjadi korban.

"Tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan adalah kelompok sipil sakral dalam hukum humaniter, sejengkal rambut pun mereka tidak boleh disentuh," tulis Veronica.

Dirinya menyesali atas perbuatan yang dilakukan oleh kelompok Papua merdeka yang selama ini menjadi kliennya.

Kalau begini terus maka pintu PBB akan tertutup bagi perjuangan TPNPB - OPM, dan veronica pun akan berhenti memperjuangkan kebebasan untuk Papua merdeka.

Aktivis Papua merdeka Brahm Seseray mengatakan menelanjangi dan membunuh warga sipil tidak dibenarkan dalam perang apalagi seseorang yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan, seharusnya mereka ini dilindungi.

Melihat perjuangan TPNPB -OPM seperti ini tidak pakai logika, membabi buta seperti binatang, ini sama saja perbuatan kriminalitas, perlu dihukum seberat-beratnya bila perlu dihukum mati, terangnya.

Sumber: Veronica Koman (18/09/21)