Tampilkan postingan dengan label KRIMINALITAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KRIMINALITAS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 November 2021

Agus Kossay Stop Berkoar-koar di Media

wrtsh papua


Beberapa anggota KNPB yang tergabung dalam kelompok militan menghendaki Agus Kossay untuk berhenti berbicara di Media, apalagi setelah diketahui Agus telah menerima dana PON dari pejabat pemerintah Papua.

Salah satu anggota KNPB yang tergabung dalam kelompok militan yang tidak ingin namanya disebutkan mengatakan adanya permintaan dari kelompok militan kepada Agus tidak sembarangan berbicara di media.

"Sudah beberapa bulan ini Agus sering sekali berbicara di media, terakhir dia bicara soal kegiatan KNPB yang akan dilakukan di Dogiyai" terangnya.

Kebebasan 7 tahanan di Kalimantan erat kaitannya dengan aparat keamanan yang membebaskan, hal ini sudah menjadi pembahasan di kalangan pengurus KNPB.

"Ada indikasi Agus sudah bermain mata dengan aparat sejak dibebaskannya Agus dan 6 tahanan lainnya di kalimantan, sehingga rencana agenda gagalkan PON kemaren pun tidak terlaksana"

Setiap KNPB bergerak selalu saja gagal, ini pasti ada kaitannya dengan Agus. Tuduhan juga diarahkan kepada Agus Kossay, Warpo Wetipo, dan Steven Itlay yang telah menerima dana PON"

Pengurus KNPI juga membenarkan adanya sejumlah dana yang diserahkan kepada Agus, Warpo dan Steven itlay melalui KNPI. Dapat dipastikan bahwa gagalnya rencana agenda KNPB untuk PON tidak terlepas dari mereka bertiga.

Saat ini kelompok militan akan jalan sendiri untuk berjuang, tuturnya.

Rabu, 24 November 2021

Tuduhan Main Belakang dan Aksi Kudeta sebagai Ketua KNPB

wrtsh papua


Spekulasi atas isu konflik internal yang terjadi dalam tubuh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) akhirnya ditanggapi oleh Agus Kossay, sebagai Ketua Umum KNPB Pusat dirinya menyebutkan ada pembentukan kubu-kubu baru di KNPB untuk kepentingan yang beragam. (24/11)

“Memang benar kabar itu. Saya memang tidak cukup mendengar sebelumnya, tapi memang sekarang ini ada beberapa kubu yang dibentuk dalam KNPB. Informasi tentang konflik internal juga sudah saya petakan siapa saja yang terlibat didalamnya,”

Agus Kossay menyadari jika terbentuknya sejumlah kubu dalam tubuh KNPB mulai menjalar kuat ketika dirinya menjalani masa penahanan di Pulau Kalimantan atas peradilian terkait peristiwa kerusuhan pada tahun 2019.

“Praktis ketika saya berada dalam sel penahanan posisi ketua umum kosong, dan digantikan sementara dalam setiap pengambilan keputusan. Karena merasa leluasa, maka momen itu adalah waktu awal terbentuknya kubu-kubu baru,”

Agus Kossay dalam keterangannya juga mengatakan jika dirinya dituduh telah bermain mata dengan aparat keamanan. Meski demikian dirinya menolak kerasa kabar tersebut, dirinya meyakini jika posisinya tetap ada pada jalur perjuangan.

“Kabar itu juga sudah merugikan, saya merasa dirugikan. Tidak benar kalau saya bersekongkol dengan aparat keamanan, posisi saya masih sebagai Ketua KNPB yang berada dalam jalur perjuangan,”

Atas kabar tersebut, Agus Kossay mengaku ada beberapa kelompok yang menginginkan pengkudetaan dirinya dari kursi pimpinan KNPB.

“Berkembang dari konflik internal dan pembentukan kubu baru sebelumnya, sekarang bisa saya simpulkan jika kelompok-kelompok itu menginginkan saya untuk turun dari jabatan KNPB,”

Agus Kossay mengatakan jika kondisi dalam KNPB saat ini tidak cukup sehat untuk terus dipaksakan melakukan pergerakan dan agenda-agenda lainnya. Oleh sebab itu dirinya lebih memilih untuk menyegerakan diskusi dengan KNPB disejumlah wilayah terlebih dahulu.

“Kondisi sekarang ini tidak bisa dibiarkan untuk terus berlarut-larut. Harus ada tindakan yang nyata, maka saya akan melakukan perjalanan ke sejumlah wilayah, tetapi jangan lagi hal ini dipolitisasi untuk menjatuhkan saya,”

Selasa, 23 November 2021

Socratez Yoman Mempertuhankan ULMWP

wrtsh papua


Sadar perjuangan untuk memebaskan Papua menemui batu terjal, KNPB menilai jika ada upaya menghancurkan aksi dan pergerakan yang berasal dari faktor internal. Agus Kossay sebagai Ketua KNPB Pusat menyampaikan jika perjuangannya tergeser oleh propaganda yang dilakukan ULMWP. (23/11)

Menurutnya, ULMWP cukup memberi pukulan telak bagi KNPB hingga organisasinya kalah pamor. Hal lain yang membuat Agus Kossay geram adalah kehadiran Socratez Yoman sebagai tokoh agama yang selalu berlindung dibalik nama besar ULMWP.

"Tidak bisa dipungkiri memang akhir-akhir ini KNPB terdesak keadaan, kami seakan tidak diberikan ruang oleh ULMWP untuk berekspresi. Lebih dari itu semua, kami juga berulang kali dibenturkan dengan keadaan. Ketika ada nama seorang Socratez yang gencar melakukan propaganda lewat isu agama, itu juga semakin menjerumuskan KNPB,"

Agus Kossay mengatakan bahwa Socratez memiliki fanatisme yang berlebihan dengan ULMWP, sehingga menganggap jika tidak ada kelompok pejuang lain selain organisasi milik Benny Wenda tersebut.

"Fanatisme yang diusung Socratez cukup membuat organisasi lain dipandang sebelah mata, kalau maksudnya memang untuk mengeliminasi keberadaan organisasi lain maka hal itu sangat salah. Bahkan KNPB sudah ada lebih dahulu sebelum ULMWP dibentuk,"

Atas konflik antar organisasi perjuangan yang rawan terjadi dikarenakan keterlibatan Socratez, Agus Kossay lantas memperingatkan kepada salah seorang tokoh Dewan Gereja tersebut untuk tidak terlalu berlebihan dalam mendukung kubu tertentu. Terlebih dirinya adalah sosok agamawan yang harusnya pandai menempatkan posisi dan membaca situasi.

"Bukan tidak mungkin konflik antara ULMWP dan organisasi perjuangan lainnya pecah terjadi hanya dikarenakan pengaruh Socratez. Mungkin setelah ini dia bisa lebih berhati-hati, apalagi disandangnya juga gelar-gelar sebagai agamawan,"

Senin, 22 November 2021

Ketua OPM: ‘Gembala’ Socratez Yoman Pegawai bagi Benny Wenda dan ULMWP

wrtsh papua


Pergerakan pembebasan Papua diketahui tidak hanya dilakukan oleh milisi separatis melainkan juga sudah menyasar pada kelompok-kelompok agamawan. Menurut salah seorang Ketua Organisasi Papua Merdeka (OPM) Jeffrey Bomanak, dirinya menyebutkan bahwa Socratez Yoman adalah salah satu tokoh yang sentral memperjuangkan nama Papua lewat jalur keagamaan.

Namun pernyataan Jeffrey adalah sebuah krititak keras kepada Socratez, menurutnya Socratez adalah seseorang yang telah menjual agama untuk kepentingan kelompok tertentu. Jeffrey menyebutkan jika Socratez sedang bekerja demi upaya yang sedang digencarkan oleh Benny Wenda dan ULMWP.

“Socratez dia memang seorang gembala, tapi yang menjadi fakta lain adalah dia sebagai seorang pegawai. Ini memang benar terjadi karena dia sedang bekerja untuk Benny Wenda dan ULMWP tentunya. Namun yang saya sayangkan adalah pekerjaan yang dilakukannya harus menjual simbol-simbol agama,”

Menurut Jeffrey, Socratez Yoman seakan dibayar oleh Benny Wenda dan ULMWP untuk terus melakukan aksi demi melancarkan propaganda. Jeffrey merasa hal tersebut sangat tidak layak mengingat Socratez harus mengesampingkan kesucian agama.

“Dia dibayar untuk melakukan propaganda dan mempengaruhi banyak orang, termasuk pada jemaatnya sendiri. Beberapa poin yang sangat penting dan seharusnya tidak boleh dikesampingkan adalah ajaran suci dalam agama, jangan kotori dengan siasat-siasat dan kepentingan,”

Socratez bersama sejumlah tokoh lain yang bernaung dalam paying Dewan Gereja Papua disebutkan oleh Jeffrey Bomanak sebagai salah satu ancaman tersendiri yang tidak banyak disadari oleh orang-orang Papua.

“Muara dari aksi yang diperlihatkan oleh Socratez bersama orang-orang di Dewan Gereja adalah ancaman, bahkan sangat-sangat mengancam, apalagi tidak banyak orang Papua yang memahani hal ini, semua terbuai karena aksinya dibalut dengan ajaran agama,”

Jeffrey menyebutkan jika orang Papua harus mulai sadar dan peka untuk melihat Socratez Yoman dalam menjalankan aksi-aksinya. Dirinya menegaskan jika orang Papua bisa saja terjerumus jika tidak bisa menyikapi dengan pikiran terbuka.

“Harus orang Papua itu sendiri yang sadar, Socratez sudah terlalu jauh membawa ajaran agama untuk kepentingan ULMWP. Kalau orang Papua masih berdiam diri, maka bersiap-siap saja untuk terjerumus dan tidak bisa kembali lagi karena sudah dibutakan dengan propaganda atau semacamnya,”

Minggu, 21 November 2021

Dewan Gereja Tolak OPM sebagai Organisasi Perjuangan

wrtsh papua


Pendeta Socratez S. Yoman sebagai tokoh kawakan dalam organisasi Dewan Gereja menanggapi dinamika dan pergerakan pembebasan Papua yang dilakukan oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). Menurutnya dalam beberapa waktu terakhir, telah banyak kelompok yang muncul namun justru untuk membuat kerancuan. (21/11)

Dewan Gereja sebagai salah satu organisasi keagamaan yang terafiliasi dengan ULMWP menyebut ketidak setujuannya jika OPM pimpinan Jeffrey Bomanak dapat masuk dan dianggap sebagai salah satu organisasi perjuangan. Socratez beranggapan jika OPM kerap membuat kekacauan dengan membenarkan cara-cara kekerasan.

“Satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh Jeffrey (Pimpinan OPM) adalah melegalkan penggunaan kekerasan, bahkan kita semua pernah tahu kalau korbannya adalah orang Papua sendiri. Hanya saja memang itu karakteristik Jeffrey, maka dia dan organisasinya tidak layak untuk memperjuangkan Papua,”

Socratez dalam keterangannya mengatakan bahwa perjuangan membebaskan Papua harus didasari dengan asas kemanusiaan, dirinya menegaskan sebab esensi dalam memperjuangkan Papua adalah untuk memperjuangkan manusianya.

“Jeffrey juga harus paham tentang apa yang diperjuangkan untuk Papua, bukan hanya kekayaan alamnya saja. Memperjuangkan Papua adalah aksi untuk memperjuangkan manusianya, itu yang terpenting. Kalau pola pikir Jeffrey masih sebatas membela alam dan kekayaan, maka tidak beda dengan watak-watak kolonial,”

Pernyataan keras Socratez tersebut bukan kali pertama terjadi, dirinya diketahui kerap mengkritisi aksi-aksi OPM yang dianggapnya telah merugikan. Meski setiap kritikannya tidak selalu ditanggapi, Socratez mengancam akan ada tekanan yang lebih besar jika OPM tidak mau mengubah cara pandangnya dalam melakukan perjuangan.

“Saya sudah sering peringatkan mereka tapi tidak pernah didengar, itu bukan masalah bagi saya, tapi ingat nanti akan ada tekanan dari dunia internasional. OPM harus bisa berubah atau akan dibinasakan oleh waktu,”

Socratez juga menegaskan jika perjuangan yang dianggapnya murni hanya berada ditangan ULMWP. Organisasi pimpinan Benny Wenda tersebut dinilai lebih rapi dan terorganisir dalam melakukan pergerakan. Bahkan Socratez menjabarkan terkait banyaknya organisasi-organisasi lain yang dibentuk untuk menyokong ULMWP.

Sabtu, 20 November 2021

Generasi Muda Papua Pilih Berinovasi, Organisasi KNPB Mulai Ditinggalkan

wrtsh papua


Ketua umum knpb menganggap ada perubahan dalam kecenderungan generasi muda yang menghindar dari organisasi-organisasi berlatar belakang perjuangan pembebasan Papua. Dalam sebuah pertemuan tertutup yang juga dihadiri Steven Itlay sebagai Ketua KNPB Timika, agus mengatakan jika anak-anak Papua mulai tidak tertarik dengan KNPB.

Agus Kossay mengatakan bahwa karakteristik anak muda sebagai penopang KNPB sekarang telah berbeda jika dibandingkan dengan kondisi dahulu, menurutnya anak-anak muda saat ini lebih memikirkan tentang masa depan untuk kesejahteraan.

“KNPB adalah organisasi yang banyak anak-anak muda didalamnya, antara pemuda dan KNPB tidak bisa dipisahkan begitu saja. Tapi akhir-akhir ini saya cukup khawatir karena ada karakter yang berbeda dari anak zaman dulu dengan sekarang,”

Faktor lain yang dipercaya Agus Kossay sebagai bentuk hambatan bagi KNPB adalah krisis kepercayaan. Dirinya mengakui jika selama masa jabatannya sebagai Ketua Umum, selalu ada intervensi kepada KNPB yang dilakukan oleh beberapa kelompok. Hal tersebut yang membuat anggapan jika pergerakan KNPB dianggap tidak murni lagi.

“Mungkin mereka terpengaruh dan menganggap arah perjuangan KNPB sudah tidak murni lagi. Memang selama saya menjabat sebagai ketua, banyak sekali intervensi yang terjadi, kekuatan itu sangat besar, ini harus saya sampaikan,”

Meski demikian, Agus Kossay menganggap jika dirinya tidak bisa memaksakan dinamika yang terjadi. Regenerasi bagi KNPB memang perlu dilakukan, namun setiap keputusan adalah tanggung jawab setiap personal.

“Kita tidak bisa memaksakan karena mereka yang menentukan jalan hidup masing-masing, bicara soal masa depan itu juga keputusan yang sifatnya sangat personal, saya lebih menganggap yang terjadi sekarang ini sebagai dinamika yang biasa terjadi,”

Lebih lanjut, Agus Kossay bahkan tidak bisa menampik jika sektor bisnis terlihat sangat menarik bagi generasi penerus di Papua. Hal tersebut diungkapkannya melihat begitu menjamurnya unit usaha mikro yang dijalankan oleh anak-anak Papua.

“Sekarang setelah mereka lulus kuliah banyak yang kembali ke Papua untuk berbisnis. Memang dunianya sudah berbeda, mereka bisa berinofasi. Bisa dibilang ini adalah kemajuan tapi juga tentu mulai membangkitkan rasa dilema,”

Jumat, 19 November 2021

HUT KNPB: “Harusnya Mereka Malu”

wrtsh papua


Komite Nasional Papua Barat (KNPB) tengah merayakan tiga belas tahun berdirinya organisasi tersebut. Namun sejumlah kritikan muncul bahkan dari salah seorang tokoh senior yang pernah menjadi bagian dari KNPB dimasa-masa awal pembentukannya.

Buchtar Tabuni yang merupakan ketua umum pertama KNPB pada tiga belas tahun yang lalu mengungkapkan jika situasi dalam tubuh KNPB saat ini sudah berbeda derastis. KNPB mulai dinilainya sebagai organisasi konyol yang tidak memberi perubahan bagi Papua.

“Tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar, tetapi sudah tiga belas tahun juga KNPB sama sekali tidak pernah memberikan arti bagi perjuangan. KNPB sekarang berbeda jika dibandingkan dulu,”

Buchtar bahkan menyebutkan jika seharusnya orang-orang dalam KNPB merasa malu sampai harus merayakan hari ulang tahun. Dirinya mempertanyakan jika tidak ada hal yang seharusnya dirayakan dalam masa-masa seperti sekarang.

“Satu-satunya alasan untuk merayakan hanya ada pada lamanya KNPB itu berdiri, selebihnya tidak tahu apa yang patut untuk dirayakan. Sehatusnya mereka malu,”

Sepeninggalan Buchtar dari KNPB dan  bergabung dengan ULMWP, dirinya menyebutkan jika organisasi yang berada dibaeah pimpinan Agus Kossay tersebut telah mengalami masa kemunduran.

“Apa yang sudah dibangun dulu tidak dimanfaatkan dan hanya dibiarkan begitu saja, artinya KNPB sekarang ini justru sedang berada pada fase kemunduran,”

Bahkan Buchtar menyebutkan jika tujuan utama KNPB sebagai organisasi perjuangan sipil sudah berubah haluan dan tidak lagi menggambarkan semangat seperti pada masa awal dibentuknya dahulu.

Kamis, 18 November 2021

13 Tahun Berdiri, Mantan Aktivis Prediksikan KNPB Hancur Beberapa Tahun Lagi

wrtsh papua


KNPB sebagai salah satu organisasi pergerakan di Papua belakangan banyak mendapat perhatian dari sejumlah pihak. Salah seorang mantan aktivis Papua yang dahulu merupakan anggota KNPB angkat suara jelang hari ulang tahun ke tiga belas organisasi tersebut.

Yondison Pabika menuturkan jika perayaan HUT KNPB justru lebih baik tidak perlu diadakan karena hanya bersifat seremonial semu. Dirinya menambahkan jika tiga belas tahun kebedaraan KNPB belum nyata memberi pengaruh bagi perjuangan. (18/11)

“Untuk apa dilakukan kalau hanya bersifat seremonial, saya anggap kalau perayaan itu memang bisa memberikan dorongan bagi orang-orang di KNPB sekarang, namun itu belum cukup karena yang dibutuhkan adalah kesadaran dan aksi nyata, sudah tiga belas tahun apa yang didapat sekarang?”

Alih-alih menjadi organisasi yang semakin matang, KNPB dianggap Yondison sebagai organisasi yang hanya berjalan sesuai kemauan para ketua-ketuanya. Bahkan dirinya lebih memilih menyebutkan jika KNPB sudah mengalami masa surut dan kemunduran.

“Tentu masa KNPB sekarang dan dulu sudah sangat berbeda, yang terlihat sekarang ini justru kemunduran, karena KNPB dengan nama besarnya sudah diisi oleh orang yang tidak lagi berkompeten,”

Menurutnya jabatan pada petinggi-petinggi dalam KNPB sudah diracuni oleh kepentingan kelompok tertentu, Yondison mengatakan nepotisme dalam tubuh KNPB adalah proyeksi kehancuran organisasi tersebut dalam beberapa tahun kedepan.

“Kalau organisasi yang mengatasnamakan rakyat Papua sudah diisi oleh orang-orang sendiri, maka tujuan akhirnya akan berubah. Kalau hal seperti ini terus terjadi maka siap-siap saja KNPB akan hancur dalam beberapa tahun kedepan,”

Disinggung tentang kebolehan KNPB dimasa lalu, Yondison mengatakan jika KNPB saat ini hanya sebatas ajang berkumpul anak-anak muda yang mencari kesenangan.

“Jadi anak-anak muda sekarang ini hanya mau cari senangnya saja, mereka merasa hebat kalau bisa bergabung dengan KNPB. Kalau ditelusuri dimana faktor salahnya, maka kembali lagi kepada mereka para pemimpinnya. Fungsi mereka seharusnya memberi pemahaman, dan hal seperti itu yang tidak terjadi sekarang ini,”

Rabu, 17 November 2021

Tokoh Pemuda Wamena Minta TNI-Polri Batasi Ruang Gerak Jelang HUT KNPB

wrtsh papua


Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang diketuai oleh Agus Kossay disebut-sebut sebagai salah satu organisasi ilegal yang keberadaannya telah memberi ancaman keamanan bagi seluruh masyarakat di Papua.

"Tidak ada alasan lain, kalau bicara KNPB memang mereka adalah organisasi ilegal yang kerjanya hanya bisa buat kacau. Sudah banyak peristiwa terjadi yang selalu membuat ketakutan di masyarakat," ujar Meko Walilo sebagai tokoh pemuda di Kabupaten Jayawijaya. (17/11)

Jelang hari ulang tahun KNPB, menurutnya kelompok tersebut harus mendapat perhatian lebih dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Selain sebagai organisasi terafiliasi dengan gerakan separatisme, setiap aksi yang digelar KNPB selalu berpotensi mengundang kericuhan dan ketidak nyamanan bagi warga sekitar.

"Tidak bisa dibiarkan lagi, KNPB tidak ada tempat lagi bagi mereka sekarang. Aksi-aksinya selalu membuat takut orang lain, orang lagi juga selalu dirugikan jika ada perkumpulan KNPB seperti itu. Terlebih KNPB ini kan organisasi yang nyata-nyata menentang negara,"

Pernyataan Walilo tersebut disampaikannya karena teringat akai kerusuhan yang terjadi di Kota Wamena pada tahun 2019 lalu. Aksi demo yang ditunggangi KNPB telah memporak-porandakan kota hingga menewaskan puluhan warga, insiden tersebut juga telah memberi rasa trauma bagi ribuan warga di Wamena.

"Masih ingat dalam ingatan saya, bagaimana orang-orang (KNPB) melakukan provokasi sampai akhirnya Wamena pecah. Tidak ada yang bisa membenarkan aksi itu, memang sejatinya KNPB adalah organisasi yang benar-benar harus dibatasi pergerakannya,"

Walilo dalam kesempatannya bahkan mendesak kepada otoritas keamanan yang berwenang untuk dapat melakukan pembubaran sedini mungkin pada setiap aksi yang melibatkan KNPB. Hal tersebut dianggapnya akan efektif untuk meminimalisir terjadinya aksi lanjutan yang dapat merusak kedamaian di Papua secara umum.

Selasa, 16 November 2021

Tokoh Papua: Isu Kemanusiaan sebagai Dampak Konflik yang Diciptakan Kelompok Separatis

wrtsh papua


Ketimpangan dan isu kemanusiaan sebagai dampak atas aksi penyerangan dan teror bersenjata sudah pernah diprediksi oleh salah seorang Tokoh Papua. Pernyataan tersebut muncul saat menilai sejumlah aksi separatisme yang terjadi di Papua pada kuartal terakhir tahun 2021, khususnya peristiwa di Kabupaten Pegunungan Bintang dan Intan Jaya.

Franz Korwa dalam sebuah keterangannya menyebutkan jika konflik yang diciptakan kelompok separatis tidak hanya menyasar situasi keamanan dikarenakan pergolakan senjata, melainkan juga isu kemanusiaan yang seolah sengaja dilancarkan oleh sejumlah kelompok kecil lain yang masih terafiliasi dengan gerakan separatisme.

“Sayangnya konflik di Papua ini bukan hanya seputar pergolakan senjata saja. Ada kasus-kasus lain yang harus menjadi perhatian, hal itu terkait dengan beredarnya isu kemanusiaan. Isu semacam ini sengaja disebarkan oleh kelompok mereka yang memilih jalur diplomatick, untuk mengimbangi serangkaian aksi teror bersenjata yang sudah terjadi sebelumnya,”

Korwa mengatakan bahwa isu pengungsian selalu membuntuti setiap setelah terjadinya aksi bersenjata oleh kelompok separatis. Dirinya mencontohkan jika peristiwa pengungsian di Kabupaten Mimika, Pegunungan Bintang, Maybrat, dan Intan Jaya adalah contoh yang konkrit. Korwa menegaskan hal tersebut selalu berulang kali dilakukan oleh kelompok separatis.

“Fakta yang terjadi memang demikian. Setiap kali teror bersenjata terjadi dan ketika kelompok separatis sudah tidak bisa berbuat apa-apa, maka muncul isu kemanusiaan. Hal ini sudah terjadi berulang kali, memang yang paling masif adalah peristiwa di Tembagapura tahun 2017 lalu,”

Korwa menegaskan jika kelompok separatis adalah pihak yang sangat licik dan tidak pernah bisa bertanggung jawab atas setiap aksi-aksinya.  Padahal menurutnya, sumber kekacauan yang terjadi di Papua lebih mengerucut pada gerakan-gerakan separatisme oleh kelompok seperti TPNPB-OPM, KNPB ataupun ULMWP itu sendiri.

“Jadi ada yang tidak boleh dilewatkan, kita harus garis bawahi jika sumber konflik itu ada dari pihak kelompok separatis, mereka itu ya TPNPB, KNPB, atau juga ULMWP misalnya. Mereka adalah sumber kekacauan di Papua selama ini, mereka tidak segan untuk mengorbankan orang-orang sipil untuk terus melahirkan konflik berkepanjangan,”

Senin, 15 November 2021

Penjelasan Pengamat Terorisme Terkait Perang Terbuka Undinus Kogoya

wrtsh papua


Aksi separatisme yang telah membuat Kabupaten Intan Jaya menjadi kacau, saat ini justru makin berkembang terkait pernyataan perang terbuka dari Undinus Kogoya sebagai pemimpin kelompok separatis di kabupaten tersebut. Bahkan pernyataan Undinus sudah dikabarkan langsung oleh markas pusat dari kelompok separatis melalui Sebby Sambom sebagai juru bicara.

Namun, pernyataan perang terbuka seperti yang disampaikan Undinus Kogoya bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebelumnya pada bulan Oktober lalu, Lamek Taplo sebagai pimpinan kelompok separatis di Kabupaten Pegunungan Bintang juga menyerukan hal serupa. 

Menurut salah seorang pengamat bidang terorisme Dani Hermawan, pernyataan perang terbuka hanya dalih dan alasan karena pihak kelompok separatis sudah mulai terdesak karena aksi-aksinya sudah mulai terbatasi. Secara rasionalitas aksi menantang aparat TNI/Polri untuk melakukan perang terbuka adalah tindakan konyol. (15/11)

“Terakhir ada pernyataan serupa juga dari Lamek Taplo di Kabupaten Pegunungan Bintang. Pengerahan pasukan dalam jumlah yang cukup besar sudah membuat Lamek cs terdesak dan bergeser jauh dari wilayah Pegunungan Bintang, barulah pernyataan itu muncul. Kemudian saat ini, skema yang hampir sama terjadi di Kabupaten Intan Jaya,”

“Aksi menantang TNI/Polri juga sangat tidak rasional, kemampuan dari kelompok separatis itu tidaklah besar. terkait ancaman yang mereka lakukan selama ini juga hanya karena mereka diuntungkan medan, mereka cuma berani melakukan aksi ‘kucing-kucingan’ dengan aparat,”

Dani menambahkan jika pernyataan perang terbuka tidak pernah terrealisasi, sebab dalam catatannya, setelah dikeluarkannya pernyataan tersebut ada kecenderungan jika konflik justru mereda. Dani meyakini jika pernyataan perang terbuka hanya bualan kelompok separatis untuk menjaga eksistensinya.

“Fakta menarik banyak terjadi ketika kelompok separatis sudah mengeluarkan pernyataan perang terbuka, sebab justru konflik akan mereda. Pernyataan semacam itu hanya aksi membual untuk menjaga eksistensi saja,”

Meski demikian, Dani menegaskan jika memang harus dilakukan perang terbuka antara kelompok separatis dengan aparat keamanan, maka hal tersebut bukan menjadi persoalan yang sulit bagi TNI/Polri. Dani mengungkapkan jika salah satu faktor yang berlarut-larut terus menghambat upaya penegakan hukum terhadap kelompok separatis adalah dihadirkannya kelompok sipil sebagai tameng.

“Sebenarnya dari diri saya pribadi perang terbuka bukan sesuatu yang menjadi persoalan, tentu kita lihat kekuatan yang ada, TNI/Polri akan dengan mudahnya mengatasi hal tersebut. Jika memang benar pernag terbuka terjadi, tentu yang diharapkan adalahj tidak ada lagi aksi-aksi serupa karena kelompok separatis sudah habis (kalah),”

“Tetapi ada faktor lain yang perlu mendapat perhatian lebih, sebab kelompok separatis selalu memanfaatkan setiap situasi terutama dengan menyeret kelompok sipil sebagai tameng. Ini adalah tindakan yang sangat licik, sebab akan berkembang lagi propaganda terkait isu kemanusiaan yang dipolitisasi untuk membela pihak mereka dan tentu menyalahkan upaya aparat keamanan,”

Tokoh Adat Nilai Pertemuan Ketua KNPB dengan Aparat Disalah Artikan untuk Kepentingan

wrtsh papua


KNPB dikenal sebagai organisasi separatis yang selalu meributkan sesuaru dengan mengatasnamakan hak asasi manusia, hal tersebut seolah memberi anggapan jika KNPB adalah organisasi yang mendukung kesetaraan. Meski saat ini dunia internasional sudah memahami arah dan tujuan KNPB sebagai organisasi yang tidak lebih dari upaya mencari keuntungan dan meloloskan sejumlah kepentingan. Mereka banyak dikecam karena sejumlah kekacauan di Papua selalu bermula dari organisasi pimpinan Agus Kossay tersebut.

Meski secara terang-terangan mengaku sebagai organisasi separatis yang menentang pemerintahan, keberadaan KBPB tidak selalu dipandang sebagai musuh negara. Presiden Joko Widodo dengan besar hati pernah menyatakan jika penanganan masalah di Papua terkait separatisme sudah dievaluasi dan akan dilakukan pendekatan dengan sudut pandangan kemanusiaan.

Salah seorang Tokoh Adat Suku Kamoro, Gregorius Okoare menanggapi aksi KNPB dalam beberapa waktu terakhir telah mengungkapkan apresiasinya terhadap langkah negara melalui aparat keamanan dalam menangani KNPB ataupun berbagai organisasi separatis lainnya. Menurutnya perubahan memang sudah nyata terlihat bagaimana aparat TNI/Polri bekerja dengan mengedepankan sisi humanisme.

Namun hal tersebut tentu tidak serta merta terjadi, Gregorius menyatakan jika aparat ibarat cerminan terhadap diri setiap orang/kelompok, aparat tidak mungkin gegabah dalam mengambil tindakan. Dirinya mencontohkan terkait upaya diskusi dalam penyelesaian masalah selalu dilakukan dengan situasi yang tenang dan damai, hal tersebut yang dikatakan berbeda melihat upaya aparat dalam menangani aksi teror oleh kelompok spearatis yang sudah menggunakan piranti senjata api.

Terkait pertemuan pihak kepolisian dengan Agus Kossay di Kota Jayapura (13/11), justru hal tersebut sangat perlu diapresiasi. Bukan hanya sebagai upaya persuasif untuk meminta KNPB tidak melakukan aksi yang melanggar undang-undang terkait situasi keamanan di Kota Jayapura, peristiwa tersebut juga perlu dipandang sebagai bentuk silaturahmi atau upaya koordinasi yang bisa terjadi kapanpun dan dimanapun.

Gregorius berpandangan bahwa dalam pertemuan yang terjadi antara Agus Kossay dan pihak polisi, keduanya sepakat untuk menanggalkan identitas dan kepentingan masing-masing. Diskusi yang terjadi hanya terkait komunikasi tanpa mengaitkan upaya-upaya yang bersifat strategis.

Meski demikian pertemuan tersebut tentu telah menimbulkan polarisasi terkait opini-opini dari berbagai pihak, hal itu juga dikarenakan KNPB adalah organisasi yang memiliki cukup banyak simpatisan. Sebab kelompok simpatisan KNPB yang berpandangan sempit selalu mendramatisir setiap peristiwa yang terjadi, untuk terus dimanfaatkan agar melahirkan konflik lain yang lebih besar.

Propaganda yang dilakukan KNPB dipandang oleh Gregorius sebagai paranoid yang harus segera ditinggalkan. KNPB kerap mengklaim pihaknya sbeagai organisasi yang membela ha katas kemanusiaan, bahkan hal tersebut kerap disampaikan dalam mimbar bebas sebagai tuntutan, namun komunikasi sebatas pertemuan antara Agus Kosay dengan polisi yang bahkan tidak pernah terjadi aksi melukai, pemborgolan, ataupun penangkapan terus-menerus dipandang sebagai ancaman.

Dalam kesempatan tersebut Gregorius lantas menegaskan jika KNPB harus bisa bisa memposisikan diri dengan bijaksana, KNPB juga harus mampu membuka diri atas segala dinamika yang terjadi, dan menimbang segala aksi yang dilakukan dengan tipu daya propaganda. Sebab berbagai peristiwa berdarah yang terjadi di Papua seperti demo anti rasis di Kota Jayapura dan Wamena yang berujung pada kerusuhan, masih membekas dalam ingatan bahwa KNPB adalah aktor utama dibalik peristiwa kelam tersebut.

Minggu, 14 November 2021

Pendekatan Polri yang Persuasif dan Humanis dalam Menjaga Kamtibmas

wrtsh papua


Upaya propaganda yang dilakukan KNPB terkait pertemuan Agus Kossay dengan pihak Kepolisian dianggap sejumlah tokoh sebagai bentuk dramatisir yang berlebihan. Menurut Jan Christian Arebo sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Pemuda Adat Papua, dirinya mengatakan jika konteks pertemuan tersebut hanya bersifat menjaga keharmonisan dan kondusitas situasi keamanan bagi masyarakat. (14/11)

“Misi mencegah, mengantisipasi, dan mengeliminasi dinamika kamtibmas menjadi poin yang penting. Pertemuan itu hanya untuk menjaga harmoni demi kondusifitas situasi keamanan, karena hadirnya rasa aman menjadi hak bagi setiap orang yang dijamin undang-undang,”

Dilihat dari dasar dibentuknya KNPB sebagai organisasi terafilitasi dengan gerakan separatisme, Jan Arebo menyebutkan jika KNPB kerap membuat pernyuataan yang merendahkan institusi bahkan negara, hal tersebut belum termasuk aksi nyata yang dilakukan KNPB. kerusuhan di Jayapura dan Wamena atau di Sorong dan Manokwari adalah akibat yang harus dibayar dari setiap aksi yang ditunggangi KNPB.

“Kerusuhan di beberapa tempat akibat aksi ditunggangi oleh KNPB, atau upaya memaksakan kehendak dengan tuntutan membebaskan Victor Yeimo baru-baru ini juga telah nyata dilakukan KNPB,”

Jan Arebo menyebutkan konflik yang terjadi dengan melibatkan unsur kekerasan tidak bisa selalu dikedepankan, sehingga muncul secara alami istilah resolusi konflik. Menurutnya dalam resolusi konflik ada beberapa tahapan yang bisa dilakukan, yaitu negosiasi, mediasi, dan pengambilan keputusan berdasarkan konsensus. Berdasarkan hal tersebut, menurutnya upaya yang dilakukan oleh Kepolisian masih dalam tahap negosiasi sehingga antar kedua pihak dapat bersepakat untuk tujuan yang saling menguntungkan.

Lebih lanjut, Jan Arebo menjelaskan jika sebelum permasalahan atau konflik terjadi, maka ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meredamnya. Hal tersebut adalah identifikasi dan upaya pencegahan. Namun jika konflik sudah rawan terjadi, upaya yang perlu dilakukan adalah penanganan hingga pemulihan pasca konflik.

“Upaya harus dimulai dari identifikasi potensi konflik, baru pencegahan konflik. Setelahnya penghentian konflik dan pemulihan. Maka upaya kepolisian dalam konteks yang terjadi sudah benar dan sesuai dengan ketentuan undang-undang, KNPB teridentifikasi dan Kepolisian berupaya mencegahnya,”

Dalam pandangannya, setelah mengamati realitas konflik sosial/politik di Papua yang lekat pada perspektif ideologi pembebasan Papua, Jan Arebo juga menambahkan perlu dibentuk sebuah tim terpadu untuk menangani permasalahan yang terjadi jika memang hal tersebut diharuskan.

“Jika memang diharuskan, maka perlu dibentuk sebuah tim terpadu untuk memediasi konflik yang terjadi agar tercipta konsensus politik agar menciptakan situasi kondisi yang kondusif, demi aman terkendalinya kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,”

Ali Kabiay salut aparat keamanan bersikap humanis kepada KNPB

wrtsh papua


Jayapura - Ali Kabiay mengaku salut dengan cara dan tindakan dari aparat keamanan dalam hal ini pihak kepolisian yang mendatangi sekretariat KNPB di salah satu honai Kompleks Expo, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua pada Sabtu (13/11/2021).

Pernyataan ini sengaja Ali Kabiay kemukakan guna menanggapi pernyataan juru bicara KNPB Ones Suhuniap yang terkesan terlalu mendramatisir pertemuan perwakilan aparat keamanan dan Ketua KNPB Agus Kossay di Expo Waena pada media sosial Facebook.

Ia mengaku tindakan yang dilakukan oleh aparat keamanan dalam menjalankan tugas untuk ciptakan kondisi Kamtibmas yang aman dan nyaman dengan cara humanis patut diancungi jempol, karena tidak ada tindakan kekerasan atau represif sehingga bisa membuat kegaduhan.

"Saya sangat respect sekali dengan apa yang telah di lakukan oleh aparat keamanan, khususnya aparat Kepolisian yang telah datang dan bersilahturami dengan Agus Kosay dan KNPB, apa yang di lakukan aparat kepolisian sebenarnya menunjukkan sikap dan tupoksi Polisi sendiri yaitu mengayomi masyarakat, dan hal tersebut adalah hal yang sangat wajar, dan seharusnya jangan di politisir atau dramatisir , " ungkap Ali Kabiay.

"Ini patut diapresiasi, karena langkah persuasif digunakan oleh aparat dalam merangkul oknum warga atau kelompok yang masih berseberangan," katanya di Jayapura, Sabtu malam.

Menurut dia, sebagaimana foto yang beredar di grup media sosial Facebook, terlihat bahwa pertemuan itu nampak mesra dan dalam suasana yang harmonis, dimana Agus Kossay terlihat duduk santai di lantai dengan kaki berselonjor, sementara tamunya yang diduga dari aparat kepolisian duduk mendengarkan dengan seksama pernyataan Agus Kossay. Bahkan terlihat ada botol air mineral sebagai ciri khas dalam suatu pertemuan atau diskusi. Ada minuman atau makanan yang disajikan kepada tamu.

"Dalam foto di Facebook terlihat Agus Kossay dan beberapa orang aparat terlibat pembicaraan yang menarik. Foto itu saja sudah bisa menceritakan bahwa ada pertemuan yang mungkin Agus Kossay undang mereka, aparat untuk berdiskusi," katanya mencoba menduga.

"Saya juga melihat dalam postingan tersebut tidak ada kekerasan yang di lakukan oleh aparat keamanan, justru aparat datang dengan tujuan yang baik, coba lihat saja fotonya yang beredar di media sosial facebook, aparat kepolisian tidak membawa senjata atau pentungan, untuk itu saya secara pribadi meminta kepada saudara saya Ones Suhuniap untuk berhenti mempolitisasi keadaan di Kota Jayapura yang sudah aman dan kondusif"

Lebih lanjut Ali sampaikan bahwa saat ini Kota dan Kabupaten Jayapura tengah melaksanakan event nasional yakni Peparnas XVI sehingga cipta kondisi situasi Kamtibmas pasti akan dilakukan agar acara tersebut bisa berjalan aman dan lancar.

"Mungkin kedua pihak, sepakat bertemu di Expo. Kan bisa saja Agus Kossay yang undang? Kalau ada semacam kegiatan yang bertentangan dengan negara, mana mungkin aparat datang dengan baju biasa, lalu duduk manis bercerita layak teman atau saudara. Ini dulu yang harus dipahami, foto saja sudah bercerita. Jadi, jangan disalah artikan," ujarnya.

Ali menduga Ones Suhuniap sengaja memviralkan pertemuan yang humanis itu dengan harapan mendapatkan simpati dari rakyat Papua, bahwa ada tindakan berlebihan kepada Agus Kossay selaku Ketua KNPB Pusat. "Atau bisa saja, Ones Suhuniap dan Agus Kossay sedang terjadi salah paham, atau kalimat lainnya lagi tidak harmonis karena bisa soal sesuap nasi atau masalah posisi atau jabatan. Kan kita semua tahu bahwa Agus Kossay lebih terkenal dari dia," katanya menduga.

Ali berharap Ones Suhuniap tidak membangun narasi yang kurang baik di sosial media, jika ingin suatu klarifikasi persoalan hendaknya langsung ke pihak yang dituju, datangi atau menyurat agar terlihat elegan bukan sebaliknya, hanya bisa berkoar-koar tanpa jelas.##

Sabtu, 13 November 2021

Kelompok Separatis Semakin Disorot sebagai Sumber Masalah di Papua

wrtsh papua


Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akhirnya turun tangan untuk menyelidiki aksi kekerasan terhadap tenaga kesehatan di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, yang dilakukan oleh kelompok separatis. Dalam penelurusan Komnas HAM tersebut, diketahui terdiri dari tim dari pusat dan didampingi sejumlah perwakilan di Papua.

Meski sudah terlampau lebih dari dua bulan pasca aksi kejadian, upaya Komnas HAM tetap mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh di Papua. Hal tersebut dikatakan sangat penting untuk terus mengungkap aksi-aksi biadab yang telah dilakukan kelompok separatis.

“Atas nama kemanusiaan kami sangat mengapresiasi langkah serius yang sudah dilakukan oleh Komnas HAM. Sebab kematian serorang tenaga medis tidak bisa dipandang sebelah mata, sebab bagaimana proses biadab itu terjadi sudah diluar batas kemanusiaan,” ungkap Agustinus R. (13/11)

Menanggapi aksi kekerasan oleh kelompok separatis yang cukup meningkap dalam kurun waktu terakhir, Agustinus mengatakan jika hal tersebut sudah sangat merugikam. Sebab Kabupaten Pegunungan Bintang bukan satu-satunya wilayah terdampak aksi separatisme, dikabarkan jika gangguan keamanan yang dilakukan oleh kelompok separatis sedang terjadi di Kabupaten Intan Jaya.

“Karena memang bukan hanya Pegunungan Bintang, sekarang ini ada ratusan warga di Intan Jaya yang masih diselimuti rasa ketakutan karena aksi-aksi kelompok separatis disana, mereka terpaksa harus berlindung di gereja-gereja,”

Agustinus menyebutkan jika kecenderungan kelompok separatis dalam menyasar warga sipil sebagai korbannya sudah tidak bisa ditoleransi. Hal tersebut diungkapkan mengingat dalam peristiwa di Intan Jaya setidaknya ada dua korban jiwa dari pihak sipil akibat salah tembak.

“Ada penembakan kepada anak-anak, satunya ke mama-mama. Ini kalau kita telurusi selalu sumber permasalahannya ada pada kelompok separatis. Perjuangan yang mereka lakukan atas nama orang Papua itu tidak sepenuhnya benar, kalau dampaknya seperti sekarang ini, saya lebih meyakini jika kelompok separatis memang harus segera dihilangkan keberadaannya,”

Menurut Agustinus dengan hadirnya Komnas HAM ke Papua, hal tersebut diharapkan dapat memberikan angin segar untuk kembali membangun kedamaian di Tanah Papua. Sebab tidak ada pilihan lain selain kelompok separatis yang akan semakin disorot karena fakta dari aksi-aksinya yang sudah sangat biadab.

Dimana Keadilan dan Kemanusiaan Kalian!

wrtsh papua


"Teriak Teriak Kemanusiaan...Bicara Keadilan...Korban Penembakan...Apalagi Yang Bisa Kalian Teriakan"

Sudah adilkah kalian membela kemanusiaan, kalian jangan bicara kemanusiaan kalau hanya dari pandangan subyektif saja, lebih baik kalian diam kalau tidak bisa objektif untuk membela keadilan dari korban-korban pembunuhan di Papua.

Hari ini kalian bicara tentang HAM atas meninggalnya seorang ibu-ibu di Intan jaya, sudah jelaskah pelakunya siapa? Sehingga kalian menuduh ini semua karena salah dari pasukan TNI dan Polri, sampai - sampai kalian menganggap Separatis tidak punya salah dan dosa atas peristiwa ini.

Saya mau kasih tau kepada kalian yang hanya bicara besar tanpa mengedepankan sebab akibat mengapa persitiwa itu terjadi.

"Awalnya kelompok Separatis melakukan penyerangan kepada pos-pos keamanan dan beberapa pemukiman warga di Intan Jaya, saat penyerangan kelompok separatis banyak warga yang berbelanja di pasar, saat itulah terdengar kabar kalau ada seorang ibu-ibu yang tertembak. Tidak pakai waktu yang cukup lama berita ini sudah langsung di up di beberapa media, kemudian beberapa kelompok (pihak tertentu) mulai bicara atas nama kemanusiaan dan membuat jumpa pers meminta pasukan TNI-Polri meninggalkan Intan Jaya"

Kalian yang bicara di Media, apakah kalian berada di intan jaya, apa kalian melihat dan mengetahui peristiwa yang sebenarnya? kalian berpihak kepada siapa? Adilkah kalian? Manusiakah kalian?

Masih ingat kasus Tenaga Kesehatan yang dibunuh dan diperkosa di Kiwirok Pegunungan Bintang?

Kalian pura-pura tidak tau atau kalian tidak mau bicara saat itu!

Mana keadilan dan kemanusiaan yang kalian sebut-sebut dan bicarakan dengan lantang saat ini seolah kalianlah penolong manusia. dimana kalian saat peristiwa tenaga kesehatan di bantai secara sadis.

Masih pantaskah kalian disebut Membela Kemanusiaan?

Silahkan camkan ini, kalau kalian masih memiliki hati dan kemanusiaan. 

Jangan membela yang belum benar, tapi salahkan lah mereka yang sudah pasti salah.

"Hentikan Omong Kosong Besar Atas Nama Korban Pembunuhan Kalau Tidak Mampu Bicara Kemanusiaan Secara Adil"

Terimakasih

Dari: Suara Korban Pembantaian Kelompok Separatis Papua

November, 13/21

Jumat, 12 November 2021

Ketua BEM: Mahasiswa Boleh Menyampaikan Aspirasi, Tetapi Tidak Turun Ke Jalan

wrtsh papua


Sayap organisasi separatis di Papua yang diketahui kerap membuat aksi-aksi yang merugikan ketertiban umum telah menyasar kalangan mahasiswa sebagai tameng dalam melancarkan setiap aksi dan propagandanya.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Cenderawasih, Yops A. Itlay, mengatakan suatu kekhawatiran tersendiri baginya. Dirinya menilai jika tujuan utama mahasiswa untuk belajar harus terkesampingkan dengan hadirnya kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan separatis. (12/11)

“Tujuan utama teman-teman datang itu untuk belajar supaya menjadi insan terdidik, tapi memang tidak bisa dipungkiri kalau kalangan mahasiswa yang diisi anak-anak muda kerap dimanfaatkan banyak pihak. Akhirnya tujuan utama para mahasiswa untuk belajar kadang terlupa,”

Yops Itlay saat dikonfirmasi menyebutkan jika banyak mahasiswa yang akhirnya harus terjerumus karena sibuk dengan urusan dan aksi-aksi separatis. Hal tersebut diakuinya sebab sekali mahasiswa terlibat dalam aksi tersebut maka akan susah untuk keluar dan meninggalkannya, sebab para mahasiswa sering kali mendapatkan ancaman.

“Kita sebagai mahasiswa harus cermat dalam memilih, tentu kita sudah tahu mana hal baik dan buruk. Kalau sudah terjerumus maka akan susah untuk lepas, karena memang ada ancaman disana. Bahkan yang paling parah, aksi-aksi bullying pernah terjadi kepada setiap mahasiswa yang menolak, meraka akan dikucilkan dari kelompoknya,”

Hal tersebut diperparah dengan kondisi mahasiswa yang banyak berasal dari luar daerah Jayapura, sehingga tidak ada kontrol utama dari keluarga. Meski dirinya tidak membatasi ruang atas setiap ekspresi diri dari mahasiswa dalam berorganisasi, namun Yops menegaskan masih banyak organisasi lain yang lebih bisa dimanfaatkan untuk terus mengembangkan potensi diri.

Yops Itlay diketahui menolak setiap aksi-aksi KNPB yang kerap mengatasnamakan mahasiswa, dirinya menilai jika mahasiswa hanya dimanfaarkan untuk kepentingan dan politik praktis kelompok separatis. Dirinya justru meminta kepada teman-teman mahasiswanya untuk bijak dalam berorganisasi, mengingat tujuan utama mahasiswa adalah belajar.

“Bisa saja berorganisasi, itu bagus untuk mengembangkan potensi diri. Tapi yang perlu disadari adalah melihat organisasi apa yang akan dituju. Kalau berorganisasi tapi bersinggungan dengan undang-undang dan mengganggu keamanan, itu sudah tidak benar. Akhirnya akan merugikan diri sendiri juga orang lain,” tuturnya.

Kamis, 11 November 2021

Octovianus Mote: Benny Wenda Jangan Gila Jabatan

wrtsh papua


suaramambruk.com

Benny Wenda Diminta Akhiri Jabatannya di ULMWP

Deklarasi Green State Vision yang dilakukan oleh Benny Wenda di London Inggris, sepertinya mendapat penolakan-penolakan dari beberapa kelompok perjuangan seperti TPNPB OPM yang melalui ketuanya Jeffrey Bomanak, kali ini mendapat respon yang negatif dari mantan wakil ketua ULMWP Oktovianus Mote.

Dalam sebuah tayangan Chanel YouTube freewest Papua, Oktovianus mengingatkan Benny Wenda untuk akhiri jabatannya di ULMWP.

Pernyataan Oktovianus Mote ini resmi disampaikan oleh Mote pada tahun 2020, saat itu dirinya yang meminta agar Benny Wenda mengakhiri jabatannya sebagai ketua ULMWP.

"Jabatan Benny Wenda sebenarnya sudah berakhir pada 1 Desember 2020 lalu, itu sudah saya ingatkan kepada dia untuk mengundurkan diri," tulis Octovianus Mote di akunnya.

Namun Benny Wenda justru mendeklarasikan pemerintahan sementara sang mengangkat dirinya sebagai presiden.

Ini sudah gila atau sudah hilang akal, bagaimana bisa mengklaim diri menjadi presiden dan mengaku sudah memiliki pemerintahan sementara. Sangat tidak masuk akal, mana ada negara menumpang di negara lain.

Tidak hanya soal deklarasi Green State Vision, deklarasi menjadi Presiden, sebelumnya Benny Wenda juga sering mengambil beberap keputusan yang kontroversial. Kami pengurus ULMWP sudah mengingatkannya tetapi karena ambisi dan kepentingan pribadi dia tidak menghiraukan masukan kita. Sehingga beberapa pengurus ULMWP mengundurkan diri.

Tidak ada mandat dari organisasi untuk memberikan jabatan sebagai presiden kepada Benny Wenda. Kalau dilihat ini sepertinya ada kepentingan pribadi untuk mencari keuntungan.

Kalau kita mau paparkan, sebenarnya dibawah kepimpinan Benny Wenda semua organisasi pecah, baik separatis maupun politik, mulai dari TPNPB, KNPB, WPNCL, WPLO, NFRPB dan ULMWP itu sendiri.

Ditambah lagi dengan orang-orang yang di dalam ULMWP, mereka semuanya itu masih keluarganya Benny Wenda yang berasal dari satu kampung, dalam sebuah tatanan negara ini tidak bisa dilakukan

Karena pemikiran-pemikiran Benny Wenda yang sudah tidak masuk akal lagi, saya dan beberapa teman perjuangan akhirnya mengundurkan diri dari ULMWP karena organisasi ini sudah tidak kuat lagi.

Sekarang dia mengumumkan Deklarasi Green State Vision atau negara hijau, pertanyaannya dimana negara west Papua itu? mau hijaukan negara sah-sah saja tapi negara yang mana yang mau dihijaukan. 

Misi Terselubung ULMWP dalam Green State Vision

wrtsh papua


ULMWP telah mengkampanyekan Green State Vision (GSV) dalam klaim perjuangan pembebasan Papua, namun tidak bisa dipungkiri kontroversi mulai menyeruak. Sejumlah kelompok yang bahkan menjadi organisasi pembentukan ULMWP sendiri secara terang-terangan telah menolaknya. 

PNWP, WPNCL, dan NRFPB menyatakan sikap jika GSV adalah misi strategis yang sedang dilakukan Benny Wenda. Disebutkan bahwa ketiga organisasi tersebut menuduh ULMWP telah memaksakan kehendak demi mendapatkan keuntungan pribadi. Menurutnya upaya GSV lebih tepat diubah menjadi Green State Mission.

“Kalau ULMWP klaim aksi (GSV) ini sebagai cara yang tepat, kami justru sebaliknya. Lebih cocok kalau diganti dulu namanya menjadi Green State Mission, karena ini tidak mewakili seluruh elemen di dalam organisasi perjuangan,” ungkap Damianus Yogi.

Yogi menuduh jika misi Benny Wenda lewat GSV sudah sangat melenceng dan penuh kepentingan asing. Menurutnya aksi tersebut adalah upaya titipan yang dapat merusak serta menghancurkan arah perjuangan.

“Kalau terus dilanjutkan, arah perjuangan akan berubah. Ini tidak menggambarkan bagaimana semangat orang-orang tua dulu. Saya rasa Benny Wenda sudah sangat keterlaluan karena memaksakan misi tersebut,”

Sebelumnya John Anari sebagai tokoh senior Papua yang juga telah aktif berpolitik di luar negeri untuk misi pembebasan Papua menyatakan bahwa ULMWP sudah memiliki pandangan politik yang sangat berbeda dengan cita-cita perjuangan bangsa.

"Faktor lain yang kami anggap hanya akan melemahkan perjuangan utama adalah ketika ULMWP mulai bermain peran. Mereka lupa dengan tujuan utama bagaimana perjuangan Papua itu seharusnya dilakukan,”

Rabu, 10 November 2021

Ketua OPM Minta Agus Kossay Silahkan Tinggalkan KNPB Daripada Jadi Mata-Mata

wrtsh papua


Daylipng.nz

KNPB Hilang Arah, Buchtar Tabuni Dituduh Sebagai Otak Kekacauan

10/121 10:15

Lemahnya perjuangan KNPB saat ini, disebabkan adanya campur tangan Buchtar Tabuni dan kolonial Indonesia yang mengajak Agus Kossay selaku ketua umum KNPB pusat untuk meninggalkan KNPB. Hal ini disampaikan Jeffrey Bomanak pada Selasa 9/11.

Jeffrey Bomanak yang merupakan ketua OPM TPNPB telah mengetahui tindakan Agus Kossay yang mencoba untuk menghambat pergerakan KNPB.

"Saya sudah ketahui Agus Kossay tidak sepenuhnya mendukung perjuangan KNPB lagi, dia sudah bekerjasama dengan Buchtar Tabuni untuk bergabung dengan ULMWP," terang Jeffrey melalui catt Wanya.

Selain itu menurut Jeffrey, Agus Kossay juga sudah terhalang dan bekerjasama dengan pihak keamanan intelijen Indonesia, berdasarkan laporan dari anggota KNPB sendiri bahwa Agus Kossay telah membocorkan pertemuan khusus mereka kepada pihak intelijen Indonesia.

Pertemuan khusus yang disebutkan yaitu rapat di anjungan pariwisata waena yang saat berjalannya rapat, pihak intelijen mendatangi dan membubarkan pertemuan tersebut.

"Dari informasi KNPB, kehadiran intelijen Indonesia pada saat rapat tersebut menyebutkan kalau Agus Kossay telah menghubungi pihak intelijen sebelumnya," teriang Jeffrey.

Saat intelijen Indonesia ke dalam anjungan expo, Agus hanya berpura-pura kaget saja, supaya tidak dicurigai oleh yang lain.

Tapi semua yang dilakukan Agus sudah diketahui dan beberapa anggota KNPB  menyatakan kalau mereka sudah tidak akan peduli lagi dengan Agus Kossay, karena mereka sudah mengetahui Agus Kossay ternyata sengaja dipasang oleh ULMWP untuk menghancurkan KNPB.

Untuk itu, selaku Ketua TPNPB OPM yang masih murni berjuang sesuai konstitusi 1 Juli, Jeffrey meminta silahkan Agus Kossay untuk meninggalkan KNPB daripada menghancurkan perjuangan rakyat.

"Mungkin menurut Agus ULMWP lebih baik terutama masalah ekonomi daripada di KNPB, silahkan saja bergabung dengan Buchtar, namun komando perjuangan Papua barat tetap berada dibawah kendali TPNPB OPM, bukan ULMWP," tulis Jeffrey