Tampilkan postingan dengan label BREAKING NEWS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BREAKING NEWS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Januari 2022

Kabar Gembala Elias Kalakmabin Terungkap, Ancaman Separatis Menghantui

wrtsh papua


Dalam pernyataan sepihak yang dipublikasi salah satu organisasi separatis (KNPB), Gembala Elias Kalakmabin dikabarkan hilang akibat tindakan represif oleh aparat keamanan di wilayah Distrik Serembakon, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Namun kabar hilangnya seorang tokoh agama tersebut dibantah oleh DK yang merupakan warga Distrik Serambakon, menururnya Elias Kalakmabin sedang berada di rumah kerabatnya.

"Tidak benar kabar itu, saya warga asli tidak pernah tahu ada seorang gembala yang ditembak. Gembala Elias kemarin saya masih lihat dia ada di rumah salah satu saudara,"

Diketahui sebelumnya DK menolak memberi keterangan terkait kabar Elias Kalakmabin. Dalam alasannya DK mengaku mendapat ancaman dari kelompok separatis yang sesekali masih terlihat di wilayah Distrik Serambakon.

Menurut DK kabar tidak bernar terkait penembakan terhadap Gembala Elias Kalakmabin adalah salah satu propaganda yang dilakukan kelompok separatis untuk mengacaukan situasi di Kabupaten Pegunungan Bintang.

"Sebelumnya banyak aksi gangguan yang dilakukan kelompok separatis, sampai akhirnya aparat TNI-Polri bisa mengembalikan situasi. Jadi ada kemungkinan besar memang kelompok separatis mau melakukan aksi biadabnya lagi setelah ini,"

Sebagai warga lokal DK merasa sangat marah dengan aksi-aksi gangguan yang dilakukan kelompok separatis. DK menyebut pengaruh dari kabar yang tidak benar sebelumnya akan membuat keresahan bagi masyarakat.

"Kalau urusannya dengan aksi separatisme, pasti warga merasa ketakutan. Setelah ini masing-masing dari kami disini pasti merasa khawatir dengan situasi keamanan, akhirnya kami juga yang dirugikan,"

Minggu, 19 Desember 2021

KKB di Yapen Nyatakan Sumpah Setia pada NKRI

wrtsh papua


Sebanyak dua puluh orang mantan anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Ambaidiru, Kabupaten Kepulauan Yapen menyerahkan diri dan berikrar untuk setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (18/12)

Puluhan pemuda tersebut didampingi para tokoh masyarakat dan diterima secara langsung oleh Kapolres Kepulauan Yapen AKBP Ferdyan Fahmi, Dandim 1709/YAWA Letkol Inf. Catur Nugroho, Asisten II Setda Ir Edy Mudumi.

"Kami menyambut baik niat saudara-saudara yang bersedia menyatakan diri untuk setia pada NKRI. Tidak ada lagi perjuangan yang mengatasnamakan Papua Merdeka, karena kita sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945," ujar AKBP Ferdyan.

Kapolres menambahkan jika pihaknya bersama dengan jajaran Kodim 1709/YAWA bersedia memberikan pembinaan dan pendampingan kepada mantan anggota KKB agar bisa meningkatkan keterampilan sehingga bisa menjadi bekal dalam bekerja.

"Saya bersama Dandim, dan juga pemerintah daerah akan berkolaborasi untuk memberikan pendampingan dan pembinaan secara berkelanjutan kepada saudara-saudara, yang muaranya dapat meningkatkan keterampilan untuk bekerja," tambah Kapolres.

Dandim 1709/YAWA dalam penyampaiannya juga mengungkapkan rasa syukurnya atas penyerahan diri mantan anggota kelompok separatis tersebut. Menurutnya keberadaan TNI-Polri bukan untuk membuat ketakutan bagi warga hingga dapat melahirkan tindak perlawanan seperti yang dilakukan KKB.

"Jangan disalah artikan, TNI-Polri hadir di masyarakat untuk membantu memajukan pembangunan khususnya di Kabupaten Yapen. Papua juga NKRI, dan kita yang ada disini semua bersaudara," sambung Letkol Inf. Catur Nugroho.

Dandim juga mengucapkan rasa terima kasihnya kepada para kepala kampung yang bersedia mendidik para generasi penerus di Papua untuk tidak mudah terprovokasi aksi yang merugikan.

Kabupaten Kepulauan Yapen merupakan salah satu wilayah sentral adat/budaya di Papua yang menyimpan banyak keragaman dan juga kekayaan alam. Momen kembalinya mantan KKB sebelumnya diharapkan dapat menjadi momentum tersendiri untuk menjajaki perubahan di Kepulauan Yapen agar menjadi daerah yang lebih maju.

Rabu, 15 Desember 2021

Kelompok Separatis kembali Bakar Sekolah dan Ancam Waga di Pegunungan Bintang

wrtsh papua


Sejumlah puluhan orang warga Sembakom, Distrik Serambakom, Pegunungan Bintang, kembali harus meninggalkan rumahnya untuk mengungsi ke sebuah gereja di wilayah tersebut. Aksi spontan oleh warga tersebut diketahui karena khawatir sebab kelompok separatis telah membakar sebuah sekolah yang berada di kampungnya. (14/12)

"Kemarin SMP negeri dibakar, mereka (kelompok separatis) sambil berteriak-teriak menentang senjata. Kami warga menjadi takut. Tidak mau ikut campur, lebih sementara kami tinggal dulu di gereja," ungkap Nus Uropmabin.

Nus mengatakan jika upaya warga untuk meninggalkan kampung harus dibantu oleh aparat keamanan. Bahkan dirinya bersaksi ketika dilakukan evakuasi sempat mendapat serangan yang diduga dilakukan oleh kelompok separatis.

"Benar kami ini ada anak-anak, orang tua, perempuan, jadi harus dikawal aparat TNI-Polri, tapi tetap saja kami mendapatkan serangan. Beberapa kali kami harus berlindung untuk menghindari tembakan. Kami sangat ketakutan,"

Nus menjelaskan jika terjadinya aksi gangguan yang dilakukan oleh kelompok separatis berlangsung hingga satu jam lebih lamanya. Dirinya juga menerangkan terkait medan yang dikelilingi perbukitan.

"Lebih dari satu jam kami ditembaki, kami juga tidak tahu harus berbuat apa karena mereka (kelompok separatis) menembak dari bukit-bukit,"

Nus lantas mengecam aksi kelompok separatis yang dianggapnya telah merugikan warga di Pegunungan Bintang. Hal tersebut didasarkan pada aksi pembakaran dan ancaman bersenjata sehingga membatasi warga dalam beraktivitas sehari-hari.

"Sekolahan itu tempat supaya anak-anak kami bisa belajar dan menjadi orang yang cerdas, makanya kami juga marah kalau SMP jadi sasaran. Kemudian sekarang warga juga sudah takut mau kemana-mana, kami menjadi tidak leluasa mau beraktivitas,"

Sabtu, 11 Desember 2021

Terbongkarnya Kebohongan Isu Pengungsian, Orang Papua ‘Ditumbalkan’

wrtsh papua


Terungkap aksi pengungsian adalah propaganda yang sengaja dibuat oleh kelompok separatis untuk menciptakan kegaduhan dan anggapan ketertindasan bagi warga sipil akibat konflik yang terjadi di Papua. Pernyataan tersebut terkuak dari salah seorang warga Tumorbil, Kabupaten Pegunungan Bintang yang sebelumnya dipaksa untuk berpura-pura menjadi pengungsi.

“Beberapa dari kami tidak menyangka kalau pengungsian itu hanya akal-akalan yang diciptakan, kami ini warga asli Tumorbil, tapi aktivitas kami dibatasi. Belakangan baru kami tahu mengapa kami seperti ditahan dan tidak boleh keluar dari hutan,”

Diketahui dari salah seorang warga bermarga Uopmabin tersebut mengatakan jika masyarakat sempat mendapat intimidasi dari kelompok separatis, dalam pengakuannya warga Tumorbil juga pernah didatangi oleh kelompok separatis untuk ditakut-takuti karena telah terjadi konflik bersenjata.

Menurut Uopmabin beberapa masyarakat yang sampai saat ini masih ‘disandera’ oleh kelompok separatis ingin segera kembali ke kampungnya masing-masing. Menurutnya warga tersebut sedang dimanfaatkan untuk kepentingan politis terkait pergerakan kemerdekaan Papua.

“Sudah pasti mereka hanya dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan aksi politis, tapi apa yang terjadi sudah sangat merugikan. Warga yang tidak mampu berbuat apa-apa hanya bisa pasrah, mereka ini korban,”

Uopmabin justru menganggap jika pergerakan yang dilakukan untuk membebaskan Papua justru dinodai sendiri oleh kelompok separatis, sebab masyarakat harus dijadikan umpan hanya untuk memberi anggapan jika orang Papua sedang terintimidasi akibat konflik yang terjadi.

“Yang berperang itu bukan warga sipil, kami tidak tahu apa-apa. Klaim perjuangan justru dinodai sendiri oleh kelompok separatis, warga sipil dijadikan umpan hanya untuk poin yang tidak penting, ini semua adalah kebohongan, apa yang dilakukan juga sebuah pembodohan,”

Kelompok separatis sengaja melakukan propaganda, terkuaknya isu pengungsian menjadi salah satu dari sejumlah kebusukan yang selalu digunakan untuk mendorong kepentingannya di Papua. Hal tersebut menjadi masuk akal sebab isu pengungsian selalu mencuat setiap menjelang perayaan hari-hari besar.

Warga Mengaku Diintimidasi Agus Kossay Agar Mengungsi

wrtsh papua


Cnmindonesia.papua
11/12/21 10:30

Belum selesai persoalan penanganan pembunuhan terhadap Nakes yang dilakukan oleh kelompok Lamek Taplo di Kiwirok, kemaren muncul isu akan ada gelombang pengungsian di Oksibil Kabupaten Pegunungan Bintang.

Kabar yang tersebar melalui percakapan group WhatsApp yang dikelola oleh KNPB menyebutkan dalam beberapa waktu dekat akan ada pengungsian besar-besaran dari beberapa distrik yang berdekatan dengan perbatasan PNG dan RI.

Awak media mencoba mencari kepastian informasi tersebut dari warga yang berada di Tumorbil, sebut saja Uopmabin karena dirinya tidak mau diketahui publik terkait informasi pengungsian di Tumorbil.

Melalui telepon seluler, Uopmabin menceritakan kalau warga yang ada di Tumorbil sebenarnya bukanlah pengungsi sebenarnya, mereka merupakan warga yang sudah lama tinggal di Tumorbil.

Terkait isu pengungsian itu tidak benar, waktu itu kami mendapatkan informasi adanya tenaga kesehatan yang bertugas di Kiwirok ditembak dan dibunuh oleh TPNPB, dengan adanya peristiwa tersebut kami dihubungi oleh salah seorang yang mengaku ketua KNPB pusat di Jayapura. Kami diminta untuk menerima para pengungsi dengan alasan adanya penyerangan yang dilakukan oleh aparat keamanan.

Warga yang disebut pengungsi oleh orang KNPB itu sebenarnya warga yang tidak berdampak setelah adanya pembunuhan terhadap Nakes di kiwirok, mereka dipaksa ke Tumorbil karena disampaikan untuk menghindari aparat keamanan.

"Sebenarnya mereka warga yang tidak terkena dampak dari penyerangan terhadap Nakes, karena dipaksa dan diintimidasi oleh kelompok KNPB mereka terancam dan ketakutan sehingga mereka berada bersama kami di sini untuk beberapa waktu," ungkapnya.

Selama di Tumorbil warga tersebut dipaksa oleh beberapa orang untuk berfoto dalam kondisi yang dibuat seperti mereka dalam kondisi mengungsi, kemudian mereka disuruh bicara yang keras bersama-sama dengan mengatakan "Kami pengungsi dari Kiwirok dan beberapa distrik sekitar mohon bantuan PBB untuk melihat situasi di Papua, didepannya ada yang merekam pakai HP," terangnya dengan nada sedih.

Informasinya juga beberapa waktu kedepan ini, mereka akan foto bersama dengan Lamek Taplo atau Panglima TPNPB untuk meyakinkan PBB kalau pengungsian itu benar-benar ada, pungkasnya.

Dari hasil percakapan kami dengan Uopmabin, kami menyimpulkan kalau pengungsian selama ini yang diiusukan berada di Tumorbil ternyata hanyalah rekayasa dari kelompok KNPB, isu bohong ini maka telah terjadi pembohongan publik yang dilakukan KNPB, sehingga dalam kasus ini maka Agus Kossay selaku ketua KNPB pusat yang juga melakukan intimidasi dan pengancaman terhadap warga di pegunungan bintang harus bertanggung jawab.

Agus tidak tau kalau banyak warga yang bisa berkomunikasi dengan keluarganya baik di PNG maupun di Papua sendiri untuk melaporkan rekayasa-rekayasa yang dibuatnya.

Awak media mencoba menghubungi Agus Kossay untuk mengkonfirmasi kasus pengungsian di Tumorbil, namun belum mendapatkan respon.

Rabu, 10 November 2021

Terulang! Fakta Sebenarnya Penembakan Warga Sipil di Intan Jaya

wrtsh papua


Seorang warga sipil kembali menjadi korban penembakan kelompok separatis di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya. Peristiwa tersebut terjadi ketika kelompok separaris mencoba menyerang pos TNI namun justru mengenai Agustina Ondou (21) yang telah berbelanja. (9/11)

Menurut sumber yang tidak mau disebutkan identitasnya, peristiwa bermula ketika kelompok separatis yang diduga berjumlah belasan orang terlebih dahulu melakukan penyerangan ke arah pos TNI, karena situasi tersebut korban yang merasa panik mencoba berlari mengamankan diri. Namun tiba-tiba korban ditembak oleh kelompok separatis. (10/11)

“Waktu itu korban perjalanan pulang dari pasar. Situasi yang terjadi membuat dia panik, akhirnya mencoba lari untuk mengamankan diri. Mungkin karena dia lari itu yang menarik perhatian dari kelompok separatis, dan akhirnya ditembak begitu saja,”

Agustina Ondou diketahui mengalami luka tembak pada pinggang dan pelipis kanannya. Pasca peristiwa tersebut korban langsung dievakuiasi oleh sejumlah pemuda, aparat pemerintah dan anggota TNI ke Puskesmas Yokatapa. Ditambahkan bahwa saat ini korban telah dirujuk menggunakan pesawat ke RS Mitra Masyarakat di Kota Timika guna penanganan lebih lanjut.

“Memang langsung ditangani pihak medis di Puskesmas Yokatapa, kemarin dibawa beberapa pemuda, ada juga orang pemda (pemerintah daerah) yang dikawal TNI. Sekarang posisinya sudah di Timika,”

Disebutkan oleh sumber bahwa peristiwa penembakan yang dialami Agustina Ondou mirip dengan aksi penyerangan kelompok separatis yang menyasar dua orang balita Yoakim Majau dan Nopelianus Sondegau pada 27 oktober 2021 lalu.

Gangguan keamanan yang terus dilakukan oleh kelompok separatis pimpinan Undinus Kogoya telah membuat keresahan bagi sejumlah masyarakat di Intan Jaya. Diketahui ada seitar 500 orang yang terpaksa meninggalkan kampung dan berlindung di Gereja ataupun pos-pos keamanan.

Bahkan menurut sumber, beberapa kali didapati bahwa kelompok separatis berani menatangi rumah-rumah warga untuk mendapatkan sejumlah bahan makanan dengan cara mengancam. Aksi-aksi tersebut yang akhirnya membuat warga merasa takut dan memilih mencari tempat yang dirasa lebih aman.

“Kurang lebih ada 500 orang yang sekarang berada di Gereja atau di pos-pos keamanan untuk mencari perlindungan karena ancaman dari kelompok separatis sudah berani datang ke rumah-rumah, mereka semua merasa sangat takut. Beruntung beberapa anggota TNI-Polri saat ini juga sudah berjaga ditempat-tempat warga yang mengungsi,”

Senin, 01 November 2021

Intan Jaya Bergejolak Aksi Separatisme, Kelompok Separatis Menyerang dan Membakar Pemukiman Warga

wrtsh papua


Konflik bersenjata yang dibawa oleh kelompok separatis terus terjadi. Aksi separatisme di Papua bahkan sebelumnya sudah pernah dipetakan oleh salah seorang akademisi Universitas Gajah Mada, Dr. Gabriel Lele dalam keterangannya menyebut jika konflik di Papua dominan dilakukan oleh kelompok separatis yang akhirnya mengakibatkan penderitaan bagi masyarakat sipil.

Teror berupa aksi penyerangan dan pembakaran terhadap fasilitas di kawasan Bandara Bilogai, Kabupaten Intan Jaya (29/10) diketahui telah membuat situasi di wilayah tersebut kembali panas, dikabarkan ribuan masyarakat telah mengungsi ke gereja dan beberapa pos keamanan.

Atas konflik bersenjata yang terus terjadi di Kabupaten Intan Jaya, Pastor (Imam) Projo Gereja Katolik Keuskupan Timika menyerukan untuk tidak ada lagi penembakan-penembakan.

Disampaikan bahwa konflik bersenjata di Intan Jaya dan wilayah lain di Papua telah berakibat jatuhnya banyak korban jiwa, termasuk anak-anak, serta menimbulkan gelombang pengungsian warga sipil skala besar.

Padahal menurut Ketua Unio Pastor Dominikus Dulione Hodo, sebelumnya pada tanggal 12 Oktober 2021 pihaknya sempat menggelar Perayaan Ekaristi pentahbisan di Gereja Santo Misael.

“Tanggal 11 Okbtober rombongan Uskup Bandung Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C dan Pastor Administrator Keuskupan Timika Pastor Marthen Kuayo masih sempat berkunjung ke Bilogai, ada ribuan masyarakat yang hadir dalam penyambutan,”

“Pada 12 Oktober 2021 berlangsung acara pentahbisan itu dengan hikmat. Semua orang terlibat langsung, baik masyarakat maupun aparat keamanan setempat. Terlihat ada kedamaian dan sukacita yang amat indah,”

“Baku tembak itu terjadi di tengah kota (Sugapa). Anda bisa bayangkan kalau baku tembak itu terjadi di tengah kota. Situasi itu menuntut kami para Imam Projo Keuskupan Timika harus bersuara,”

Ketentraman dan kedamaian lenyap dalam sekejap, setelah TPNPB-OPM memasuki kota dan melakukan penembakan dan pembakaran, dua orang anak tertembak. Aprianus Sondegau (2 tahun) meninggal dunia, dan Yoakim Majau (6 tahun) terkena serpihan peluru dan saat ini sedang menjalani perawatan.

Pemerintah pusat dalam setiap kesempatannya selalu menyampaikan pendekatan persuasif dalam menangani gejolak di Papua. Kapolda dan Pangdam sebagai otoritas keamanan di Papua pun beberapa kali sempat menyuarakan hal senada.

Menurut salah seorang tokoh pemuda Papua, Ali Kabiay, pemerintah dari waktu ke waktu selalu membuka kemungkinan alternatif untuk menyelesaikan konflik di Papua. Menurutnya pembangunan sejumlah infrastruktur, upaya mengurangi ketimpangan, penguatan bidang ekonomi, atau ketersediaan fasilitas Pendidikan/Kesehatan adalah salah satu contoh yang sudah dilakukan.

Namun menurut Kabiay, upaya tersebut seakan mentah. Dirinya mengatakan jika penyelesaian permasalahan isu papua justru terbentur oleh kepentingan dan egosentrisme dari kelompok separatis itu sendiri.

Minggu, 31 Oktober 2021

Pastor Selamatkan Warga Terjebak Kebakaran atas Aksi Separatisme di Intan Jaya, Papua

wrtsh papua


Kelompok Separatis dikabarkan sempat menguasai Bandara Bilorai, Distrik Sugapa, Intan Jaya. Atas peristiwa tersebut aparat keamanan TNI Polri harus melakukan kontak senjata untuk mendesak mundur kelompok separatis, sebab keberadaan kelompok spearatis telah akses penerbangan di bandara tersebut. 

Diketahui juga kelompok separatis melakukan aksi membabi buta dengan sengaja membakar rumah serta kios-kios pedagang yang berada di sekitar Bandara Bilorai. Pembakaran rumah dan kios tersebut telah membuat warga menjadi panik. Bahkan dua orang pastor mengharuskan dirinya untuk datang ke lokasi konflik karena mendapat kabar ada warga yang terjebak saat rumahnya dibakar kelompok separatis.

“Saya sangat menyayangkan konflik seperti ini terjadi di Sugapa. Kontak senjata yang terjadi sudah membuat masyarakat menjadi kesusahan, mereka sangat ketakutan. Saat ini masyarakat adalah korban dari konflik yang terjadi,” ungkap Pastor Frans Sondegau.

Pastor Frans, pasca kejadian tersebut berharap jika jangan pernah ada lagi peristiwa pembakaran dan konflik berkepanjangan yang kembali terjadi.

“Jangan ada lagi gangguan keamanan di Intan Jaya, kami disini ingin hidup dengan damai, beraktivitas seperti biasa. Tidak ada lagi pihak yang paling menderita kecuali masyarakat itu sendiri,”

Filipus Sondegau sebagai salah seorang warga Bilogai mengungkapkan bahwa keberadaan kelompok separatis sudah sangat mengganggu kehidupan masyarakat. Kebiadaban kelompok spearatis dalam melakukan aksi-aksinya dianggap sudah tidak pandang bulu.

“Kita tidak bicara pendatang ataupun orang asli (Papua), semua bisa menjadi korban dari kelompok separatis ini. Makanya sekarang ini semua orang menjadi takut, semua berlarian untuk menyelamatkan diri,”

Filipus menambahkan jika saat ini warga yang ketakutan harus mengungsi ke Gereja Katolik Santo Misael dan pos-pos keamanan TNI Polri. Dirinya menambahkan sempat mengaku khawatir akibat adanya pengungsian dalam jumlah besar tersebut, sbeab hal tersebut dianggapnya akan membawa dampak lain.

“Kami masyarakat tidak punya apa-apa, kalau ada kacau, kami hanya bisa berlari dan mengamankan diri. Sekarang banyak yang lari ke gereja, ada juga beberapa di pos kemanan. Kami disini hanya bisa berharap agar tidak ada lagi kacau,”

Mengapa Pembangunan di Papua Tidak Jalan? Ada Kaitannya Dengan Kelompok Separatis

wrtsh papua


"Intimidasi, ancaman, tindakan kekerasan serta pembunuhan sering dilakukan separatis untuk mendapatkan uang, mereka bukanlah pejuang melainkan kelompok kriminal"

Ancaman, gangguan dan hambatan pembangunan terus terjadi di wilayah Papua, terutamanya di wilayah pegunungan. Mulai dari Yahukimo, Puncak, Pegunungan Bintang, Nduga dan Intan Jaya. Wialayah ini menjadi tempat tawar menawar kelompok Separatis dengan pemerintah setempat.

Disisi lain pemerintah ingin Papua terus maju dan berkembang terutamanya di bidang pembangunan baik jalan maupun gedung (fasilitas umum) dengan harapan masyarakat Papua dapat menikmati pelayanan dan pendidikan serta kesejahteraan yang lebih baik lagi.

Namun, kita selalu mendengar bahkan menyaksikan di media tindakan-tindakan aksi dari kelompok Separatis di Papua.

Ini merupakan gangguan nyata yang menghambat perkembangan masyarakat Papua secara menyeluruh, seperti kita ketahui beberapa hari ini kelompok Separatis masih terus melakukan gangguan-gangguan keamanan terhadap warga sipil, pemerintah dan pihak keamanan.

Hal yang sudah menjadi kebiasaan kelompok separatis Papua yaitu bila tidak diakomodir permintaan mereka, maka tidak lama gangguan keamanan berupa aksi penyerangan terhadap warga dan pemerintah akan terjadi.

Pengerjaan jalan contohnya, selain kepada pemerintah kelompok separatis juga meminta uang sebagai upeti yang tidak tanggung-tanggung nilainya kepada kontraktor atau pekerja proyek, ini bisa berkisar 500 juta hingga 5 Milyar.

Padahal, pemerintah ingin membangun untuk memberikan kesejahteraan yang lebih baik lagi bagi masyarakat Papua, terlebih kepada Wilayah yang belum memiliki akses tembus antar kabupaten. 

Sangat disayangkan pembangunan di Papua baik pendidikan, kesehatan,  maupun infrastruktur jalan dan sebagainya terhambat karena ulah para separatis Papua. Merekalah yang nantinya akan bertanggung jawab atas semua ini.

Pemerintah tidak boleh kalah dengan mereka, karena kelompok separatis ini hanya segelintir kumpulan orang-orang yang mengaku diri sebagai pejuang Papua, padahal tidak semua orang Papua mendukung Papua merdeka.

#BasmiSeparatisPapua

Catatan Digital Edward GM (Peneliti Pembangunan Papua)

Rabu, 15 September 2021

KKB Serang Kiwirok, Tenaga Kesehatan Alami Kekerasan

wrtsh papua


Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kembali melakukan teror dan aksi biadab di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang. Aksi tersebut berupa teror penyerangan, pembakaran dan pengrusakan fasilitas, serta tindakan asusila terhadap sejumlah tenaga kesehatan.

Peristiwa tersebut terjadi pada 13 September 2021 pukul 09.00 WIT, dimana KKB pimpinan Lamek Taplo berupaya mengacaukan situasi keamanan di Distrik Kiwirok. Aksi tersebut diduga masih berkaitan dengan ditangkapnya dua orang KKB pada 9 September sebelumnya.

“Tanggal 9 itu sudah ditangkap, baru kemarin (13/9) mereka serang lagi. Kami masyarakat takut karena mereka datang ke rumah-rumah, dari informasi mereka itu kelompok Lamek Taplo,” ungkap Nelson Kalakmabin sebagai tokoh masyarakat di Distrik Kiwirok.

Atas peristiwa tersebut sejumlah masyarakat mengaku mendapat tindak kekerasan, bahkan telah dikonfirmasi terkait 6 tenaga kesehatan dari Puskesmas Kiwirok yang sempat hilang hingga akhirnya ditemukan dalam keadaan penuh luka.

“Kemarin kami sempat cari-cari mantri dengan suster yang hilang, puji tuhan sudah ditemukan. Mantri dia tangan patah, ada juga yang kena panah. Cuma suster-suster ini yang membuat kami sangat karena marah melihat keadaannya. Ada yang dapat parang, luka-luka, mereka juga dilecehkan (tindak asusila),”

Sementara Dandim 1715 Yahukimo Letkol Inf Christian Irreuw mengatakan salah seorang anggotanya terluka akibat serangan KKB. Prada Ansar diketahui mengalami luka akibat terkena rekoset (pantulan peluru).

"Memang benar dalam peristiwa terkait KKB itu Prada Ansar terluka di lengan kanan, namun kondisinya saat ini stabil,"

Penyerangan oleh KKB disebutkan oleh sejumlah pihak telah sangat merugikan banyak pihak, terkait aksi biadab yang dilakukan di Distrik Kiwirok, oleh pengamat Papua bidang keamanan, Stepi Anriani dirinya menyesalkan jika aksi penembakan, pengrusakan dan pembakaran terhadap fasilitas umum telah memperpanjang deretan kasus teror yang dilakukan KKB.

“Jika melihat dari berbagai kajian, upaya yang dilakukan KKB hanya untuk mengacaukan situasi keamanan. Sebab tidak ada kaitannya tentang perjuangan (bagi KKB) dengan keberadaan puskesmas, kantor bank, atau bahkan sekolah yang akhirnya sekarang dibakar. Seharusnya fasilitas umum itu dijaga karena memberi manfaat bagi masyarakat sekitar,”

Stepi juga menyoroti terkait kasus serupa dimana seakan-akan banyak pihak yang memilih untuk bungkam dengan kondisi yang terjadi. Dirinya juga mempertanyakan peran Komnas HAM atau setiap organisasi yang sebelumnya banyak berbicara untuk membela hak-hak orang Papua.

“Saya juga soroti organisasi-organisasi yang sebelumnya banyak berbicara tentang HAM di Papua. Kondisi yang saat ini jelas memperlihatkan kebiadaban KKB, lalu kelompok-kelompok itu tidak bersuara sama sekali. Kalau hal itu yang ditunjukkan maka jangan salahkan publik jika ada anggapan kalau mereka juga bagian dari separatis,”

Senin, 06 September 2021

Kejahatan Itu Tidak dapat disembunyikan, Ibarat pepatah “sepandai-pandainya tupai melompat suatu saat akan jatuh juga”

wrtsh papua


Kejahatan Itu Tidak dapat disembunyikan, Ibarat pepatah “sepandai-pandainya tupai melompat suatu saat akan jatuh juga”

Oleh: Dwika Adythama (Pengamat Papua)

Akhir Pelarian Senat Soll

Tiga tahun sudah pencarian terhadap Senat Soll pelaku kejahatan dan kerusuhan di kabupaten Yahukimo Papua, Senat Soll yang diketahui merupakan pecatan TNI ditangkap oleh kepolisian resort Yahukimo.

Senat Soll merupakan DPO beberapa kasus kekerasan pada 30 Novemver 2019. Mantan anggota TNI ini ditangkap di Jalan Samaru, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, pukul 05.28 WIT. 

Selama 3 tahun ini sudah tercatat sebanyak 12 kejahatan yang dilakukan oleh Senat Soll setelah bergabung dengan kelompok criminal bersenjata (KKB): pada tahun 2018 Senat Soll terlibat kasus jual beli amunisi bersama anggota KNPB Yahukimo, Ruben Wakla yang telah masuk Daftar Pencarian Orang Nomor : DPO/86/X/2018/RESKRIM.

Awal Desember 2019, Senat Soll terlibat aksi pembakaran ATM BRI Unit Dekai berdasarkan laporan polisi Nomor 55 / I / 2019 / PAPUA / RES Yahukimo. Senat Soll terlibat dalam aksi pembunuhan Staf KPU Yahukimo Henry Jovinsky di Jembatan Brasa Dekai, 11 Agustus 2020.

Senat Soll juga terlibat kasus pembunuhan terhadap Sayib di Dekai Yahukimo pada 2019. Disusul aksi pada 26 Agustus terkait pembunuhan terhadap masyarakat bernama Yausan di Jalan Gunung Dekai Yahukimo.

Pada 18 Mei 2021 Senat Soll terlibat kasus pembunuhan terhadap dua anggota TNI di Ujung Bandara Dekai Selain membunuh anggota TNI, Senat Soll merampas 2 senjata jenis SS2V4. Senat Soll terlibat kasus penembakan terhadap pengendara motor di Jalan Longpon, Dekai, pada 21 Juni 2021. 

Pada 24 Juni 2021 Senat Soll kembali melakukan penembakan terhadap truk di Kali Seridala, pada hari yang sama, Senat Soll kembali melakukan penembakan di Kampung Bengki, Yahukimo hingga menyebabkan 4 orang meninggal dunia dan satu mengalami luka-luka yang memakan banyak korban.

Pada 25 Juni 2021Senat Soll melakukan pembakaran alat berat di Kali Seridala. Tidak ada korban jiwa dalam aksi tersebut, namun tindakan Senat telah membuat warga ketakutan. 

Penembakan kembali terjadi terhadap anggota Polri di Area Kali  El Dekai pada 9 Juli 2021. Aksi ini menyebabkan satu anggota Polri terluka dan telah ditangani Polres Yahukimo.

Terakhir Senat Soll terlibat kasus pembunuhan karyawan PT Indo Papua di Jembatan Kali Brasa Yahukimo, 22 Agustus 2021. Kejahatan ini menjadi catatan terakhir Senat Soll yang menyebabkan dua orang meninggal dengan cara mengenaskan.

Disini saya sampaikan bahwa kejahatan itu sama dengan “KARMA” apa yang diperbuat setiap manusia maka dia akan mendapatkannya juga suatu saat. 

“siapa yang menanam, maka dia akan menuai”

Tuhan Tidak Buta

06/09/2021

Jumat, 03 September 2021

Kabar Penangkapan Pimpinan KKB, Tokoh Masyarakat Turut Tolak Setiap Aksi Separatisme di Yahukimo

wrtsh papua


Salah seorang pimpinan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang juga merupakan DPO kasus separatisme di Yahukimo berhasil ditangkap Kepolisian. Penangkapan tersebut terjadi pada 2 September (kemarin) di Jl. Samaru, Dekai, Yahukimo.

Senat Soll alias Ananias Yalak yang merupakan pimpinan KKB Yahukimo baru-baru ini telah menggegerkan publik dengan aksi biadabnya membakar dua pekerja PT. Indo Papua yang tengah menyelesaikan pembangunan jembatan untuk jalan trans Papua.

Robi Silak sebagai tokoh masyarakat Yahukimo menanggapi baik penangkapan terhadap Senat Soll, dirinya menyebutkan jika upaya tegas aparat cukup membuat masyarakat Yahukimo menjadi tenang dan tidak takut atas ancaman-ancaman yang sering dilakukan KKB.

“Kami masyarakat Yahukimo sangat senang dengan kabar ini. TNI Polri harus tegas, tangkap semua itu KKB. Setelah kejadian terakhir itu (pembunuhan dua pekerja PT Indo Papua) kami takut beraktivitas, tidak ada masyarakat yang berani jauh-jauh dari kota,”

Senat Soll yang juga sebagai aktor dalam pembunuhan Staff Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tahun Agustus tahun 2020, dikatakan Robi telah mengganggu kenyamanan masyarakat. 

“Senat Soll, dia itu sangat mengganggu. Masyarakat disini sudah berulang kali mendapat ancaman sampai teror pembunuhan, padahal kita ini masyarakat sipil tidak tahu masalah. Memang sudah mengganggu jadi kami senang dengar kabar dia ditangkap,”

Selain itu Robi melihat jika aksi separatisme bukan hanya dilakukan oleh gerombolan KKB Senat Soll, pihaknya menyadari jika aksi-aksi organisasi KNPB juga menjadi salah satu bentuk ancaman keamanan di wilayah Yahukimo.

“Saya berharap lagi kalau KNPB itu juga bisa ditindak tegas, mereka juga salah satu sumber penyakit (faktor ancaman keamanan) di Yahukimo. Kami orang-orang tua tidak suka dengan mereka yang selalu membuat kekacauan atau melakukan provokasi,”

Robi menambahkan jika Yahukimo adalah wilayah yang menjunjung tinggi adat kebersamaan dan menolak segala bentuk kekacauan/kekerasan. Oleh sebab itu dirinya berharap besar agar embrio-embrio kekerasan yang dibawa oleh kelompok separatis bisa dimusnahkan.

“Jangan membuat Yahukimo ini menjadi daerah merah, kami orang adat menjaga Yahukimo ini dalam damai. Sudah seharusnya aksi kekerasan atau ancaman dari kelompok separatis itu harus dihilangkan dari sini,”

Senin, 23 Agustus 2021

Dua Pekerja Tewas Dibakar KKB, Tokoh Papua Sebut Komnas HAM Seakan Tak Peduli

wrtsh papua


Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) masih menjadi ancaman nyata bagi masyarakat di Papua, setelah sebelumnya 3 rumah warga di Kabupaten Yahukimo sengaja dibakar, ditempat yang sama pula dikabarkan 2 orang pekerja jembatan tewas disiksa dan dibakar KKB.

Aksi biadab tersebut bukanlah aksi yang bisa ditoleransi, kecaman terhadapnya diketahui meluap dari sejumlah tokoh Papua. Wakil Bupati Yahukimo Esau Miran melalui sambungan telepon mengungkapkan rasa kesal dan kemarahannya terhadap aksi teror KKB.

"Ya, informasinya ada 2 orang pekerja jembatan yang tewas dibakar KKB kemarin (22/8) sore. Ini sangat biadab, tidak bisa dibiarkan lagi. Kehidupan seorang manusia itu harus dihormati, saya turut berduka dengan kabar tersebut,"

Aksi teror yang dilakukan di jembatan Sungai Brazza tersebut menyisakan tragis yang mendalam. Rionaldo Raturoma dan Dedi Imam Pamuji harus meregang nyawa dengan kondisi sekujur tubuh hangus terbakar.

"Saya melihat kondisi korban saja sudah marah, saya membayangkan bagaimana situasi pada saat itu, yang jelas tindakan itu sangat biadab dan tidak menghargai HAM. Kami akan berkoordinasi dengan aparat keamanan ataupun berbagai lembaga untuk menangani kasus ini,"

Sementara salah seorang tokoh senior Papua, Franz Korwa mendesak TNI-Polri untuk melakukan langkah tegas terkait pemberantasan kelompok separatis yang telah menghambat pembangunan di Papua secara umum.

"Baru kemarin kita semua sibuk dengan pembakaran rumah warga, sekarang ini dua pekerja tewas dibakar. Sungguh tindakan yang tak layak dilakukan oleh seorang 'manusia'. Saya tegaskan kepada TNI-Polri untuk segera menuntaskan setiap permasalahan teror bersenjata,"

Meski demikian, Korwa sadar jika upaya TNI-Polri kerap dibatasi oleh berbagai kepentingan lembaga/organisasi yang berlindung dibalik 'tembok' hak asasi manusia. Dicontohkannya, Komnas HAM perlu melakukan kajian khusus terkait penanganan kelompok bersenjata yang terus menghantui masyarakat di Papua.

"Hanya memang tidak semudah itu, aparat selalu dibenturkan dengan berbagai keterlibatan dari lembaga/organisasi HAM yang saya rasa mereka punya kepentingan lain. Saya tandai saja bagaimana peran Komnas HAM dalam menangani kasus seperti ini, karena sampai sekarang saja belum ada pernyataan terkait, sekedar kecaman saja tidak ada toh?"

Korwa menegaskan jika lembaga/organisasi HAM harus pula terbuka dengan kondisi yang terjadi saat ini. Pihaknya menuturkan jika peran lembaga/organisasi HAM justru ditandai sebagai komplotan yang mendukung aksi kekerasan bagi pihak kelompok separatis.

Menyinggung soal perkara rasisme yang menjadi isu sensitif di Papua sejak dua tahun terakhir, Korwa menjelaskan jika pembunuhan dua orang karyawan PT Indo Papua juga merupakan bentuk rasis yang diperparah dengan aksi biadab.

"Jadi yang kemarin-kemarin teriak rasis itu sekarang juga harus melihat fakta. Jika melihat siapa korbannya maka KKB sudah melakukan tindakan rasisme, sayangnya diperparah dengan aksi pembunuhan dengan cara yang biadab,"

Minggu, 22 Agustus 2021

Sepekan Tercatat 2 Kasus Penyerangan Warga Sipil dalam Aksi Teror KKB

wrtsh papua


Kontak senjata terus pecah antara Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dengan TNI-Polri dalam beberapa hari terakhir di wilayah Yahukimo, Papua. Tokoh senior Franz Korwa dalam keterangannya mempertanyakan terkait kabar pembakaran tiga rumah warga yang dilakukan oleh KKB.

Meskipun tidak ada korban jiwa akibat dari peristiwa tersebut, namun Korwa menilai akan ada dampak psikologis lain yang mempengaruhi aktivitas masyarakat di Wilayah Kabupaten Yahukimo.

"Kalau setiap aksi selalu menjadikan rakyat sipil sebagai korban, tentu hal itu sangat merugikan. Kalau memang KKB itu mau melawan negara, ya jangan usik warga sipil. Mereka tidak terlibat dalam konflik tapi mengapa rumahnya sampai dibakar?"

Korwa menambahkan jika aksi teror yang dilakukan KKB di Wilayah Yahukimo menunjukkan tren yang meningkat. Pihaknya tidak tahu persis terkait hal tersebut, namun dirinya khawatir jika konflik yang diciptakan KKB mulai menyasar kehidupan warga sipil.

"Saya dapat kabar kalau KKB di Yahukimo itu bukan asli Yahukimo, mereka datang dari wilayah-wilayah lain. Akan sangat buruk jika mereka datang ke Yahukimo hanya untuk menebar teror, bahkan kalau memang warga sipil dirugikan, hal itu sangat disayangkan,"

Terkait dengan aksi teror, sebelumnya di Kabupaten Puncak telah terjadi penembakan terhadap warga sipil yang dilakukan oleh KKB. Aksi tersebut terjadi pada 21 Agustus 2021 dini hari ketika KKB melakukan penyerangan terhadap aparat keamanan.

"Benar sudah dikonfirmasi ada satu warga terkena tembakan. Diduga tembakan berasal dari KKB yang saat itu secara tiba-tiba melakukan serangan ke pos aparat keaman," ungkap Kepada Dinas Sosial Kabupaten Puncak, Paniel Wakerkwa.

Wakerkwa dalam keterangannya menyebutkan jika aksi salah sasaran tersebut telah membuat warganya merasa takut.

"Bagaimana tidak takut, kita ini masih tidur (peristiwa terjadi pada pagi dini hari), tapi ada bunyi tembakan. Satu warga sipil yang tidak tahu situasi pun jadi sasaran,"

Hancurlah Vanuatu Negara Yang Suka Ikut Campur Urusan Indonesia

wrtsh papua


Dikabarkan Vanuatu menjadi sorotan dunia internasional setelah diketahui menjual paspor warga negara kepada para buron.

Selalu ikut campur dengan urusan Indonesia apalagi urusan Papua merdeka, ternyata Vanuatu selama ini disokong oleh negara kangguru Australia.

Ibarat pepatah mengatakan sepandai-pandainya tupai melompat suatu saat akan jatuh juga.

Seperti inilah yang akan dialami oleh Vanuatu, selama ini bersembunyi dibalik negara kangguru, maka bersiap-siaplah menjadi negara yang disoroti melindungi para penjahat alias buronan.

Warga Vanuatu menuturkan untuk mendapatkan warga negara di Vanuatu tidak sulit cukup mengeluarkan dana senilai 2 milyar sudah mendapatkan hak menjadi warga negara Vanuatu.

Ini kebijakan pemerintahan negaranya, dana yang diterima sebesar 2 Milyar itu oleh pemerintah Vanuatu digunakan untuk kesejahteraan rakyatnya.

"Negara vanuatu memang kecil dan miskin, namun pemerintahnya juga tidak boleh melindungi para buronan dari negara luar,"

Skema ini sudah lama menjadi kontroversi, dan menjadi sorotan luas setelah laporan the investigasi diterbitkan,  hal ini akan membuat pemerintah Vanuatu menghadapi pilihan sulit antara potensi sanksi internasional atau kerugian ekonomi karena para pembeli paspor ini termasuk sejumlah pengusaha dan individu yang sedang dicari polisi.

Rijick Cadhrunic

Sabtu, 21 Agustus 2021

Pengejaran TNI-Polri, KKB Justru Tembak Warga Sipil

wrtsh papua


Aksi penembakan yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap warga sipil kembali terjadi. Aksi tersebut dikaitkan sebagai upaya balas serangan setelah sebelumnya kelompok tersebut melarikan diri pasca pengejaran pasukan gabungan TNI-Polri. (21/8)

Sebelumnya, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Puncak, Paniel Wakerkwa dalam keterangannya menyebutkan jika telah terjadi kontak senjata antara TNI-Polri dengan KKB pada 19 Agustus 2021. Bahkan aksi pengejaran KKB dilakukan aparat sampai ke Kampung Mundidok.

"Kemarin (19/8) terjadi kontak senjata antara TNI Polri dengan KKB. Sempat baku kejar sampai di Kampung Mundidok, disana dapat kabar kalua ada anggota KKB tertembak. Sekarang dirawat di ilaga dan senjatanya diamankan,"

Terkait korban warga sipil, Wakerkwa menyebutkan jika peristiwa tersebut terjadi dini hari tadi (21/8) Ketika KKB melakukan aksi penyerangan.

"Baru tadi subuh KKB Kembali datang, mereka melakukan serangan. Tapi dari penyerangan itu mereka salah sasaran, salah satu warga justru kena tembak,"

Atas penembakan yang mengenai warga sipil tersebut, sejumlah penduduk dikabarkan menjadi panik dan mengungsi ke Ilaga untuk mengamankan diri. Wakerkwa mengaku belum melakukan pendataan terhadap warga, namun pihaknya telah berkoordinasi dengan Bupati Intan Jaya sebagai upaya tindak lanjut.

"Belum kami datakan siapa-siapa dan berapa jumlahnya. Sekarang saya sudah berkoordinasi dengan Bupati agar bisa ditindak lanjuti oleh pemerintah,"

Jumat, 20 Agustus 2021

Jubir TPNPB: Kolonialisme ULMWP Hancurkan Perjuangan Papua

wrtsh papua


Sebby Sambom sebagai Juru Bicara TPNPB-OPM membeberkan alasan terkait polemik klaim Demianus Magay Yogi sebagai panglima tertinggi. TPNPB mengakui jika aksi ilegal tersebut dilakukan karena pengaruh ULMWP. (20/8)

Dalam keterangannya Sebby menyebut jika ULMWP adalah actor dalam perpecahan perjuangan bangsa Papua. 

"ULMWP adalah otak dibalik konflik yang terjadi, aksi-aksi seperti ini tidak bisa dibiarkan karena akan mengancam dan mengaburkan sejarah perjuangan,"

Secara terang-terangan Sebby lantas menyebut nama Manaseh Tabuni sebagai bagian dari Biro Pertahanan ULMWP yang secara diam-diam telah merencanakan aksi kudeta militer. 

"Publik perlu tahu jika ini permainan Manaseh Tabuni dengan Biro Pertahanan ULMWP, mereka mencoba melakukan aksi kudeta militer,"

Menurut Sebby, ULMWP yang mendesak agar TPNPB tunduk dibawah WPA (sayap militer milik ULMWP) telah menjadi polemik berkepanjangan. Dirinya meyakini jika WPA yang tidak pernah mendapat pengakuan oleh rakyat Papua, saat ini sedang membangun kepercayaan tersebut.

"WPA tidak diakui dunia internasional, bahkan rakyat papua sendiri tidak mengakui. Makanya mereka mau mengambil TPNPB, namun dampaknya akan sangat besar. Nilai sejarah akan hilang dan perjuangan akan berubah menjadi tidak suci lagi,"

Selain itu, Sebby beralasan jika ULMWP merupakan organisasi yang penuh akan kepentingan serta berorientasi pada keuntungan bagi anggota-anggotanya.

"Dimana ada uang, disitu ULMWP bisa hidup. Kalua tidak ada uang, mereka tidak mau berjuang. Organisasi ini mementingkan keuntungan saja. ULMWP adalah organisasi kolonialisme bagi Papua sendiri,"

Kamis, 19 Agustus 2021

Politik Kotor ULMWP, Pengangkatan Demianus Yogi sebagai Panglima TPNPB-OPM Ilegal dan Tidak Sah

wrtsh papua


Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Sebby Sambom akhirnya angkat suara terkait aksi klaim Demianus Magai Yogi sebagai penglima tertinggi dalam organisasinya.

Pernyataan tersebut disampaikan Sebby Sambom dalam Siaran Pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM pada tanggal 18 Agustus 2021.

Sebby Sambom menyampaikan jika pengangkatan Demianus Magai Yogi dilakukan dengan cara yang ilegal dan tidak sah. Sambom beralasan jika konferensi yang terjadi sebelumnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa melibatkan kepengurusan yang sah.

"Secara tegas kami sampaikan jika klaim Demianus Yogi tdiak sah, pengangkatannya telah dilakukan dengan cara yang ilegal tanpa melibatkan 33 Kodap yang ada,"

Sabby menilai jika aksi pengangkatan Demianus Yogi sebagai upaya kelompok ULMWP untuk menjatuhkan nama baik TPNPB-OPM. Dirinya juga menyebutkan bahwa pengangkatan tersebut merupakan aksi terselubung yang direncanakan untuk kepentingan tertentu.

"Aksi yang dilakukan itu sangat buruk dan sangat berbahasa. Kami sangat menyayangkan kelompok ULMWP ikut camput dalam urusan organisasi TPNPB. Pengangkatan Demianus Yogi hanya aksi terselibung yang merugikan,"

Sebby yang terlanjur geram mengancam akan merombak struktur Kodap IV dan tidak akan menganggap Demianus Yogi sebagai pimpinan didalamnya. Sebby bahkan menganggap jika aksi Demianus Yogi sebagai bentuk pengkhianatan terhadap bangsa.

"Lebih baik kami hancurkan orang-orang disana, kami tidak akan anggap Yogi sebagai bagian dari perjuangan. Bisa dibilang dia adalah pengkhianat,"

Pengangkatan Damianus Yogi, TPNPB-OPM Kodap XV Ngalum Kupel Menolak Dualisme Kepemimpinan di Tubuh TPNPB-OPM

wrtsh papua


TPNPB OPM NEWS

TENTARA PEMBEBASAN NASIONAL PAPUA BARAT ORGANISASI PAPUA MERDEKA TPNPB-OPM

KODAP XV NGALUM KUPEL

Berkaitan dengan kabar tentang pengangkatan Damianus Yogi sebagai panglima tertinggi TPNPB-OPM, kami atas nama TPNPB-OPM KODAP XV NGALUM KUPEL mengelurkan 4 tuntutan dan pernyataan sikap sebagai berikut:

1. Atas nama perjuangan bangsa Papua dari Sorong sampai Samarai kami mempertanyakan aksi sepihak dalam pengangkatan DAMIANUS YOGI sebagai palima tertinggi.

2. Kami Pimpinan Militer Pangkodap XV NGALUM KUPEL dengan tegas menolak dualisme kepemimpinan di tubuh TPNPB-OPM. Secara mutlak kami Pimpinan Militer Pangkodap XV NGALUM KUPEL masih menganggap Jend. GOLIATH TABUNI sebagai pemimpin dan panglima tertinggi TPNPB-OPM di Tanah tumpah darah teritori West Papua.

3. Kami Pimpinan Militer Pangkodap XV NGALUM KUPEL akan melakukan perlawanan terhadap aksi sepihak. Termasuk kepada kelompok-kelompok yang mendukung pengangkatan panglima palsa DAMIANUS YOGI.

4. Kami menolak keterlibatan ULMWP dalam aksi ADU DOMBA yang akan menghancurkan perjuangan TPNPB-OPM.

Demikian kami sampaikan 4 poin tuntutan dan pernyataan sikap yang sudah menjadi kesepakatan Bersama seluruh prajurit Pimpinan dan Pasukan TPNPB-OPM Kodap XV NGALUM KUPEL.

Ngalum Kupel 18 Agustus 2021

Panglima Kodap XV NGALUM KUPEL

Brigadir Jenderal Lamek Taplo

Selasa, 10 Agustus 2021

Mobilisasi Massa oleh KNPB dan Mahasiswa Ditentang ULMWP

wrtsh papua


Isu mobilisasi massa yang akan dilakukan oleh kelompok KNPB mendapat penolakan dari Biro Politik ULMWP. Sebab aksi tersebut dianggap akan menghambat pergerakan politik yang diusung ULMWP.

Berkaca pada peristiwa pada tahun 2019, Bazooka Logo dalam keterangannya mengungkapkan jika mobilisasi massa yang berujung kerusuhan telah mendesak ULMWP untuk vakum dalam aksi dan pergerakan.

"Mobilisasi massa tidak perlu dilakukan, tidak ada hal mendesak untuk sekarang. Kalau memang sampai terjadi, secara tidak langsung itu akan menghancurkan rencana dari ULMWP nantinya,"

Logo menambahkan jika peristiwa kerusuhan pada tahun 2019 sebelumnya yang berujung pada aksi penangkapan secara strategis telah dianggap sebagai celah bagi aparat keamanan untuk membenarkan aksi penangkapan terhadap tokoh-tokoh besar pergerakan.

"Peristiwa lalu menjadi satu catatan bagi kelompok pergerakan termasuk ULMWP. setelah terjadi kerusuhan, Buchtar ditangkap, Agus Kossay ditangkap, saya sendiri juga ditangkap. Aparat sudah merencanakan semua itu,"

Terkait penangkapan terhadap tokoh pergerakan, Logo menilai jika hal tersebut kembali terulang maka akan terjadi kekosongan terkait pergerakan dalam waktu yang sangat lama.

"Pertama kali yang menjadi ancaman adalah tidak akan ada lagi pergerakan dalam waktu yang sangat lama, itu adalah kerugian terbesar. Ditambah lagi dalam aksi penangkapan akan memberi anggapan kalau kami (tokoh pergerakan) ini memang salah. Kami sadar kalau kubu aparat tetap sulit untuk disalahkan,"

Terkait dengan hal tersebut, Logo kembali menegaskan jika aksi mobilisasi massa tidak perlu dilakukan. Pihaknya bahkan sedikit menyinggung jika ULMWP sudah memiliki rencana aksi lain yang dianggap lebih tepat dilakukan.