Sabtu, 27 November 2021

Seruan Dewan Gereja Papua Dipersoalkan

wrtsh papua


Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom dalam sebuah keterangannya mengungkapkan jika perjuangan pembebasan Papua jangan dikotori dengan kontestasi dan kepentingan kelompok. Keresahannya tersebut muncul melihat upaya segelintir orang yang seolah-olah sedang menjual nama Papua.

Sebby mengatakan bahwa orang Papua memiliki martabat sejak diturunkan oleh para orang-orang tua terdahulu. Oleh sebab itu dirinya tegas memegang teguh bahwa perjuangan untuk pembebasan Papua tidak boleh dilakukan dengan menjatuhkan nama Papua. (25/11)

“Berjuang itu perlu memang harus ada yang dikorbankan, bisa darah, keringat, pemikiran. Tapi jangan sekali-sekali kita mengemis, itu sudah menjatuhkan martabat orang Papua. Kita punya nama yang besar, jangan malah dijatuhkan oleh orang Papua sendiri seakan kita sedang terpuruk dan tidak berdaya,”

Pernyataan Sebby Sambom tersebut diduga menyinggung soal seruan Dewan Gereja Papua menanggapi dinamika yang terjadi di Papua. Dirinya menilai bahwa aksi tersebut telah melecehkan semangat perjuangan. (21/11)

“Memang punya hubungan dengan ULMWP, kalau konteksnya (berjuang) lewat jalur diplomasi itu cukup bisa dibenarkan. Mereka mengadopsi jalur diplomasi tapi tidak bisa mengimplementasikannya, Dewan Gereja justru melecehkan semangat perjuangan,”

Menanggapi seruan yang dikeluarkan Dewan Gereja Papua, salah seorang tokoh senior menjelaskan jika aksi tersebut hanya sekedar memanfaatkan situasi berkaitan dengan Imam Katolik Keuskupan Timika yang sebelumnya membuka pernyataan atas aksi-aksi separatisme di Kabupaten Intan Jaya. (26/11)

“Yang saya perhatikan juga Dewan Gereja ini cuma sekedar ikut-ikutan seperti yang dilakukan Imam Katolik di Timika (31/10) dulu. Sebab kedua hal itu sangat berbeda, kalau Dewan Gereja memang mereka tidak sedang berbicara demi kebaikan, bisa dikatakan mereka itu provokator,” 

Korwa juga menjelaskan jika narasi miring yang dianggap kontroversi selalu digulingkan kelompok yang terafiliasi dengan gerakan pembebasan Papua ketika aksi-aksi yang bersinggungan dengan penggunaan senjata dianggap mengalami kebuntuan.

“Memang kondisinya harus demikian, saya melihat kalau tidak ada konflik bersenjata maka akan muncul kelompok-kelompok yang membuat panas dengan kontroversi. Kelompok ini (Dewan Gereja) yang membuat Papua terasa tidak pernah terasa damai. Padahal mereka ini tokoh agama, seharusnya punya tanggung jawab moral disana,”

Korwa mengkritik aksi Dewan Gereja yang dimotori oleh Benny Giay, Andrikus Mofu, Dorman Wandikbo, dan Socratez Yoman. Menurutnya kelompok Dewan Gereja yang diisi oleh para pendeta tersebut sudah mencederai hakikat dan prinsip agama yang seharusnya bisa membawa kedamaian.

“Dewan Gereja bukan memberi jalan tengah untuk kedamaian namun justru terus menjaga api konflik, hal seperti ini harus selalu dikritik karena sudah menggeser hakikat dan prinsi dalam agama,”

Korwa juga membantah pernyataan Dewan Gereja terkait pembatasan atas hak-hak dasar orang Papua. Justru menurutnya yang terjadi terhadap orang Papua saat ini adalah momen degradasi mental. Korwa menegaskan jika seluruh orang Papua memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mengembangkan diri.

“Tidak pernah ada pembatasan, semua orang punya kesempatan yang sama. Hanya saja degradasi mental sedang terjadi, kembali lagi pada propaganda dari kelompok separatis misalnya, mereka selalu sesumbar kehidupan yang lebih baik, tentang kekayaan alam yang bisa mensejahterakan Papua, secara tidak langsung opini-opini seperti itu telah membentuk orang Papua menjadi malas,”

Jumat, 26 November 2021

Simpatisan Benny Wenda Sibuk, ULMWP Diambang Kehancuran

wrtsh papua


Pemimpin salah satu organisasi pembebasan Papua menilai jika posisi ULMWP mulai terdesak oleh keadaan atas kesalahan sendiri. Jeffrey Pagawak dalam keterangannya mengungkapkan bahwa keadaan tersebut mengharuskan sejumlah kelompok melakukan klaim dan dukungan untuk mengembalikan kepercayaan orang Papua. (26/11)

Diantara organisasi yang tiba-tiba muncul untuk mendukung keterdesakan ULMWP dikatakan oleh Jeffrey adalah Dewan Gereja, PNWP, beberapa organisasi internal, dan para simpatisan Benny Wenda/ULMWP.

“Salah satu indikasi jika ULMWP itu mulai terdesak adalah munculnya kelompok-kelompok yang tiba-tiba secara masif melakukan dukungan. Hal-hal seperti ini tidak wajar, memang seperti Dewan Gereja atau PNWP mereka adalah organisasi yang sebelumnya pernah mendeklarasikan dukungan untuk ULMWP,”

Hal lain yang disebutkan sebagai kesalahan fatal yang dilakukan ULMWP adalah membentuk Pemerintahan Sementara dan program Green State Vision yang akhirnya mendapat penentangan dari banyak organisasi perjuangan di Papua.

Jeffrey menambahkan bahwa munculnya aksi dukungan terhadap ULMWP hanya sebagai salah satu propaganda untuk memberi anggapan jika program-program yang terlanjur dipublikasi dianggap berhasil, padahal menurut Jeffrey sebuah antiklimak sedang terjadi.

“Seolah-olah banyak yang mendukung dan mengapresiasi, tapi kita lihat dari mana saja dukungan itu berasal. Kalau memang hanya dari orang-orang mereka sendiri berarti itu hanya propaganda murahan, seolah-olah program ULMWP itu berhasil padahal yang terjadi sebaliknya, perjuangan ini carut-marut,”

Bahkan menurut Jeffrey, Benny Wenda yang mendaulat dirinya sendiri sebagai Presiden Sementara setelah mencukupkan jabatannya sebagai Ketua ULMWP dianggap sedang melakukan rencana tersembunyi, Benny Wenda juga dituduh telah bekerja sama dengan Indonesia. Keberadaan Benny Wenda di luar negeri dinilai sebagai salah satu faktor yang dimanfaatkan agar tidak banyak diketahui.

“Dia sudah nyaman berada di luar negeri, memang dia selalu berbicara tentang Papua, tapi apa yang ada dibelakangnya sekarang kita semua tidak tahu. Ada rencana tersembunyi yang banyak tidak diketahui, “

Kamis, 25 November 2021

Benny Wenda Tolak KTT ULMWP

wrtsh papua


Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ULMWP yang dijadwalkan akan dilangsungkan dalam waktu dekat menuai pro/kontra, salah seorang tokoh gerakan pembebasan Papua, Octovianus Mote dalam keterangannya mengatakan jika terdapat kepentingan lain yang mendesak agar KTT tersebut urung diadakan. (25/11)

Menurut Octo Mote yang sebelumnya juga menjabat Wakil Ketua ULMWP, peran KTT sangat vital dalam menentukan arah dan tujuan untuk cita-cita pembebasan Papua. Namun belakangan dirinya menyebutkan jika agenda tersebut dihalang-halangi oleh Benny Wenda yang merupakan Ketua ULMWP sendiri.

“Melihat bagaimana arah organisasi ini untuk menuju kemerdekaan Papua justru sedang dihalang-halangi oleh Benny Wenda sendiri. Mau seperti ada dinamika terjadi, yang Namanya KTT harus dilakukan,”

Octo Mote bahkan menyebutkan jika urgensi dalam menyelenggarakan KTT, sebab periode jabatan dalam ULMWP sudah berakhir setidaknya sejak awal tahun 2021 lalu. Sehingga saat ini organisasi ULMWP tidak memiliki perangkat yang jelas sesuai kesepakatan bersama.

“Bagaimana mungkin sebuah organisasi berjalan tanpa ada pemimpin, jabatan kami semua di ULMWP sudah berakhir pada awal tahun ini. Makanya harus ada KTT untuk menentukan lagi siapa yang memegang kendali dan siapa yang harus bertanggung jawab,”

Octo Mote justru mempertanyakan maksud Benny Wenda untuk menolak dilaksanakannya KTT. Dirinya menaruh prasangka jika Benny Wenda masih enggan melepaskan jabatannya. Octo menjabarkan jika Benny Wenda memiliki kepentingan pribadi karena terus bersikeras untuk memegang kuasa, hal tersebut disampaikannya juga mengingat upaya pembentukan pemerintahan sementara.

“Pasti ada kepentingan disana, kita semua tahu Benny Wenda tidak rela jika jabatannya digantikan. Bahkan Benny justru membentuk pemerintahan sementara. Menurut saya ini adalah aksi yang keterlaluan, belum Papua merdeka tapi Benny Wenda seolah-olah lancang dan mengkarakterkan dirinya sebagai diktator,”

Agus Kossay Stop Berkoar-koar di Media

wrtsh papua


Beberapa anggota KNPB yang tergabung dalam kelompok militan menghendaki Agus Kossay untuk berhenti berbicara di Media, apalagi setelah diketahui Agus telah menerima dana PON dari pejabat pemerintah Papua.

Salah satu anggota KNPB yang tergabung dalam kelompok militan yang tidak ingin namanya disebutkan mengatakan adanya permintaan dari kelompok militan kepada Agus tidak sembarangan berbicara di media.

"Sudah beberapa bulan ini Agus sering sekali berbicara di media, terakhir dia bicara soal kegiatan KNPB yang akan dilakukan di Dogiyai" terangnya.

Kebebasan 7 tahanan di Kalimantan erat kaitannya dengan aparat keamanan yang membebaskan, hal ini sudah menjadi pembahasan di kalangan pengurus KNPB.

"Ada indikasi Agus sudah bermain mata dengan aparat sejak dibebaskannya Agus dan 6 tahanan lainnya di kalimantan, sehingga rencana agenda gagalkan PON kemaren pun tidak terlaksana"

Setiap KNPB bergerak selalu saja gagal, ini pasti ada kaitannya dengan Agus. Tuduhan juga diarahkan kepada Agus Kossay, Warpo Wetipo, dan Steven Itlay yang telah menerima dana PON"

Pengurus KNPI juga membenarkan adanya sejumlah dana yang diserahkan kepada Agus, Warpo dan Steven itlay melalui KNPI. Dapat dipastikan bahwa gagalnya rencana agenda KNPB untuk PON tidak terlepas dari mereka bertiga.

Saat ini kelompok militan akan jalan sendiri untuk berjuang, tuturnya.

Rabu, 24 November 2021

Tuduhan Main Belakang dan Aksi Kudeta sebagai Ketua KNPB

wrtsh papua


Spekulasi atas isu konflik internal yang terjadi dalam tubuh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) akhirnya ditanggapi oleh Agus Kossay, sebagai Ketua Umum KNPB Pusat dirinya menyebutkan ada pembentukan kubu-kubu baru di KNPB untuk kepentingan yang beragam. (24/11)

“Memang benar kabar itu. Saya memang tidak cukup mendengar sebelumnya, tapi memang sekarang ini ada beberapa kubu yang dibentuk dalam KNPB. Informasi tentang konflik internal juga sudah saya petakan siapa saja yang terlibat didalamnya,”

Agus Kossay menyadari jika terbentuknya sejumlah kubu dalam tubuh KNPB mulai menjalar kuat ketika dirinya menjalani masa penahanan di Pulau Kalimantan atas peradilian terkait peristiwa kerusuhan pada tahun 2019.

“Praktis ketika saya berada dalam sel penahanan posisi ketua umum kosong, dan digantikan sementara dalam setiap pengambilan keputusan. Karena merasa leluasa, maka momen itu adalah waktu awal terbentuknya kubu-kubu baru,”

Agus Kossay dalam keterangannya juga mengatakan jika dirinya dituduh telah bermain mata dengan aparat keamanan. Meski demikian dirinya menolak kerasa kabar tersebut, dirinya meyakini jika posisinya tetap ada pada jalur perjuangan.

“Kabar itu juga sudah merugikan, saya merasa dirugikan. Tidak benar kalau saya bersekongkol dengan aparat keamanan, posisi saya masih sebagai Ketua KNPB yang berada dalam jalur perjuangan,”

Atas kabar tersebut, Agus Kossay mengaku ada beberapa kelompok yang menginginkan pengkudetaan dirinya dari kursi pimpinan KNPB.

“Berkembang dari konflik internal dan pembentukan kubu baru sebelumnya, sekarang bisa saya simpulkan jika kelompok-kelompok itu menginginkan saya untuk turun dari jabatan KNPB,”

Agus Kossay mengatakan jika kondisi dalam KNPB saat ini tidak cukup sehat untuk terus dipaksakan melakukan pergerakan dan agenda-agenda lainnya. Oleh sebab itu dirinya lebih memilih untuk menyegerakan diskusi dengan KNPB disejumlah wilayah terlebih dahulu.

“Kondisi sekarang ini tidak bisa dibiarkan untuk terus berlarut-larut. Harus ada tindakan yang nyata, maka saya akan melakukan perjalanan ke sejumlah wilayah, tetapi jangan lagi hal ini dipolitisasi untuk menjatuhkan saya,”

Selasa, 23 November 2021

Socratez Yoman Mempertuhankan ULMWP

wrtsh papua


Sadar perjuangan untuk memebaskan Papua menemui batu terjal, KNPB menilai jika ada upaya menghancurkan aksi dan pergerakan yang berasal dari faktor internal. Agus Kossay sebagai Ketua KNPB Pusat menyampaikan jika perjuangannya tergeser oleh propaganda yang dilakukan ULMWP. (23/11)

Menurutnya, ULMWP cukup memberi pukulan telak bagi KNPB hingga organisasinya kalah pamor. Hal lain yang membuat Agus Kossay geram adalah kehadiran Socratez Yoman sebagai tokoh agama yang selalu berlindung dibalik nama besar ULMWP.

"Tidak bisa dipungkiri memang akhir-akhir ini KNPB terdesak keadaan, kami seakan tidak diberikan ruang oleh ULMWP untuk berekspresi. Lebih dari itu semua, kami juga berulang kali dibenturkan dengan keadaan. Ketika ada nama seorang Socratez yang gencar melakukan propaganda lewat isu agama, itu juga semakin menjerumuskan KNPB,"

Agus Kossay mengatakan bahwa Socratez memiliki fanatisme yang berlebihan dengan ULMWP, sehingga menganggap jika tidak ada kelompok pejuang lain selain organisasi milik Benny Wenda tersebut.

"Fanatisme yang diusung Socratez cukup membuat organisasi lain dipandang sebelah mata, kalau maksudnya memang untuk mengeliminasi keberadaan organisasi lain maka hal itu sangat salah. Bahkan KNPB sudah ada lebih dahulu sebelum ULMWP dibentuk,"

Atas konflik antar organisasi perjuangan yang rawan terjadi dikarenakan keterlibatan Socratez, Agus Kossay lantas memperingatkan kepada salah seorang tokoh Dewan Gereja tersebut untuk tidak terlalu berlebihan dalam mendukung kubu tertentu. Terlebih dirinya adalah sosok agamawan yang harusnya pandai menempatkan posisi dan membaca situasi.

"Bukan tidak mungkin konflik antara ULMWP dan organisasi perjuangan lainnya pecah terjadi hanya dikarenakan pengaruh Socratez. Mungkin setelah ini dia bisa lebih berhati-hati, apalagi disandangnya juga gelar-gelar sebagai agamawan,"

Senin, 22 November 2021

Ketua OPM: ‘Gembala’ Socratez Yoman Pegawai bagi Benny Wenda dan ULMWP

wrtsh papua


Pergerakan pembebasan Papua diketahui tidak hanya dilakukan oleh milisi separatis melainkan juga sudah menyasar pada kelompok-kelompok agamawan. Menurut salah seorang Ketua Organisasi Papua Merdeka (OPM) Jeffrey Bomanak, dirinya menyebutkan bahwa Socratez Yoman adalah salah satu tokoh yang sentral memperjuangkan nama Papua lewat jalur keagamaan.

Namun pernyataan Jeffrey adalah sebuah krititak keras kepada Socratez, menurutnya Socratez adalah seseorang yang telah menjual agama untuk kepentingan kelompok tertentu. Jeffrey menyebutkan jika Socratez sedang bekerja demi upaya yang sedang digencarkan oleh Benny Wenda dan ULMWP.

“Socratez dia memang seorang gembala, tapi yang menjadi fakta lain adalah dia sebagai seorang pegawai. Ini memang benar terjadi karena dia sedang bekerja untuk Benny Wenda dan ULMWP tentunya. Namun yang saya sayangkan adalah pekerjaan yang dilakukannya harus menjual simbol-simbol agama,”

Menurut Jeffrey, Socratez Yoman seakan dibayar oleh Benny Wenda dan ULMWP untuk terus melakukan aksi demi melancarkan propaganda. Jeffrey merasa hal tersebut sangat tidak layak mengingat Socratez harus mengesampingkan kesucian agama.

“Dia dibayar untuk melakukan propaganda dan mempengaruhi banyak orang, termasuk pada jemaatnya sendiri. Beberapa poin yang sangat penting dan seharusnya tidak boleh dikesampingkan adalah ajaran suci dalam agama, jangan kotori dengan siasat-siasat dan kepentingan,”

Socratez bersama sejumlah tokoh lain yang bernaung dalam paying Dewan Gereja Papua disebutkan oleh Jeffrey Bomanak sebagai salah satu ancaman tersendiri yang tidak banyak disadari oleh orang-orang Papua.

“Muara dari aksi yang diperlihatkan oleh Socratez bersama orang-orang di Dewan Gereja adalah ancaman, bahkan sangat-sangat mengancam, apalagi tidak banyak orang Papua yang memahani hal ini, semua terbuai karena aksinya dibalut dengan ajaran agama,”

Jeffrey menyebutkan jika orang Papua harus mulai sadar dan peka untuk melihat Socratez Yoman dalam menjalankan aksi-aksinya. Dirinya menegaskan jika orang Papua bisa saja terjerumus jika tidak bisa menyikapi dengan pikiran terbuka.

“Harus orang Papua itu sendiri yang sadar, Socratez sudah terlalu jauh membawa ajaran agama untuk kepentingan ULMWP. Kalau orang Papua masih berdiam diri, maka bersiap-siap saja untuk terjerumus dan tidak bisa kembali lagi karena sudah dibutakan dengan propaganda atau semacamnya,”

Minggu, 21 November 2021

Dewan Gereja Tolak OPM sebagai Organisasi Perjuangan

wrtsh papua


Pendeta Socratez S. Yoman sebagai tokoh kawakan dalam organisasi Dewan Gereja menanggapi dinamika dan pergerakan pembebasan Papua yang dilakukan oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). Menurutnya dalam beberapa waktu terakhir, telah banyak kelompok yang muncul namun justru untuk membuat kerancuan. (21/11)

Dewan Gereja sebagai salah satu organisasi keagamaan yang terafiliasi dengan ULMWP menyebut ketidak setujuannya jika OPM pimpinan Jeffrey Bomanak dapat masuk dan dianggap sebagai salah satu organisasi perjuangan. Socratez beranggapan jika OPM kerap membuat kekacauan dengan membenarkan cara-cara kekerasan.

“Satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh Jeffrey (Pimpinan OPM) adalah melegalkan penggunaan kekerasan, bahkan kita semua pernah tahu kalau korbannya adalah orang Papua sendiri. Hanya saja memang itu karakteristik Jeffrey, maka dia dan organisasinya tidak layak untuk memperjuangkan Papua,”

Socratez dalam keterangannya mengatakan bahwa perjuangan membebaskan Papua harus didasari dengan asas kemanusiaan, dirinya menegaskan sebab esensi dalam memperjuangkan Papua adalah untuk memperjuangkan manusianya.

“Jeffrey juga harus paham tentang apa yang diperjuangkan untuk Papua, bukan hanya kekayaan alamnya saja. Memperjuangkan Papua adalah aksi untuk memperjuangkan manusianya, itu yang terpenting. Kalau pola pikir Jeffrey masih sebatas membela alam dan kekayaan, maka tidak beda dengan watak-watak kolonial,”

Pernyataan keras Socratez tersebut bukan kali pertama terjadi, dirinya diketahui kerap mengkritisi aksi-aksi OPM yang dianggapnya telah merugikan. Meski setiap kritikannya tidak selalu ditanggapi, Socratez mengancam akan ada tekanan yang lebih besar jika OPM tidak mau mengubah cara pandangnya dalam melakukan perjuangan.

“Saya sudah sering peringatkan mereka tapi tidak pernah didengar, itu bukan masalah bagi saya, tapi ingat nanti akan ada tekanan dari dunia internasional. OPM harus bisa berubah atau akan dibinasakan oleh waktu,”

Socratez juga menegaskan jika perjuangan yang dianggapnya murni hanya berada ditangan ULMWP. Organisasi pimpinan Benny Wenda tersebut dinilai lebih rapi dan terorganisir dalam melakukan pergerakan. Bahkan Socratez menjabarkan terkait banyaknya organisasi-organisasi lain yang dibentuk untuk menyokong ULMWP.

Sabtu, 20 November 2021

Generasi Muda Papua Pilih Berinovasi, Organisasi KNPB Mulai Ditinggalkan

wrtsh papua


Ketua umum knpb menganggap ada perubahan dalam kecenderungan generasi muda yang menghindar dari organisasi-organisasi berlatar belakang perjuangan pembebasan Papua. Dalam sebuah pertemuan tertutup yang juga dihadiri Steven Itlay sebagai Ketua KNPB Timika, agus mengatakan jika anak-anak Papua mulai tidak tertarik dengan KNPB.

Agus Kossay mengatakan bahwa karakteristik anak muda sebagai penopang KNPB sekarang telah berbeda jika dibandingkan dengan kondisi dahulu, menurutnya anak-anak muda saat ini lebih memikirkan tentang masa depan untuk kesejahteraan.

“KNPB adalah organisasi yang banyak anak-anak muda didalamnya, antara pemuda dan KNPB tidak bisa dipisahkan begitu saja. Tapi akhir-akhir ini saya cukup khawatir karena ada karakter yang berbeda dari anak zaman dulu dengan sekarang,”

Faktor lain yang dipercaya Agus Kossay sebagai bentuk hambatan bagi KNPB adalah krisis kepercayaan. Dirinya mengakui jika selama masa jabatannya sebagai Ketua Umum, selalu ada intervensi kepada KNPB yang dilakukan oleh beberapa kelompok. Hal tersebut yang membuat anggapan jika pergerakan KNPB dianggap tidak murni lagi.

“Mungkin mereka terpengaruh dan menganggap arah perjuangan KNPB sudah tidak murni lagi. Memang selama saya menjabat sebagai ketua, banyak sekali intervensi yang terjadi, kekuatan itu sangat besar, ini harus saya sampaikan,”

Meski demikian, Agus Kossay menganggap jika dirinya tidak bisa memaksakan dinamika yang terjadi. Regenerasi bagi KNPB memang perlu dilakukan, namun setiap keputusan adalah tanggung jawab setiap personal.

“Kita tidak bisa memaksakan karena mereka yang menentukan jalan hidup masing-masing, bicara soal masa depan itu juga keputusan yang sifatnya sangat personal, saya lebih menganggap yang terjadi sekarang ini sebagai dinamika yang biasa terjadi,”

Lebih lanjut, Agus Kossay bahkan tidak bisa menampik jika sektor bisnis terlihat sangat menarik bagi generasi penerus di Papua. Hal tersebut diungkapkannya melihat begitu menjamurnya unit usaha mikro yang dijalankan oleh anak-anak Papua.

“Sekarang setelah mereka lulus kuliah banyak yang kembali ke Papua untuk berbisnis. Memang dunianya sudah berbeda, mereka bisa berinofasi. Bisa dibilang ini adalah kemajuan tapi juga tentu mulai membangkitkan rasa dilema,”

Jumat, 19 November 2021

HUT KNPB: “Harusnya Mereka Malu”

wrtsh papua


Komite Nasional Papua Barat (KNPB) tengah merayakan tiga belas tahun berdirinya organisasi tersebut. Namun sejumlah kritikan muncul bahkan dari salah seorang tokoh senior yang pernah menjadi bagian dari KNPB dimasa-masa awal pembentukannya.

Buchtar Tabuni yang merupakan ketua umum pertama KNPB pada tiga belas tahun yang lalu mengungkapkan jika situasi dalam tubuh KNPB saat ini sudah berbeda derastis. KNPB mulai dinilainya sebagai organisasi konyol yang tidak memberi perubahan bagi Papua.

“Tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar, tetapi sudah tiga belas tahun juga KNPB sama sekali tidak pernah memberikan arti bagi perjuangan. KNPB sekarang berbeda jika dibandingkan dulu,”

Buchtar bahkan menyebutkan jika seharusnya orang-orang dalam KNPB merasa malu sampai harus merayakan hari ulang tahun. Dirinya mempertanyakan jika tidak ada hal yang seharusnya dirayakan dalam masa-masa seperti sekarang.

“Satu-satunya alasan untuk merayakan hanya ada pada lamanya KNPB itu berdiri, selebihnya tidak tahu apa yang patut untuk dirayakan. Sehatusnya mereka malu,”

Sepeninggalan Buchtar dari KNPB dan  bergabung dengan ULMWP, dirinya menyebutkan jika organisasi yang berada dibaeah pimpinan Agus Kossay tersebut telah mengalami masa kemunduran.

“Apa yang sudah dibangun dulu tidak dimanfaatkan dan hanya dibiarkan begitu saja, artinya KNPB sekarang ini justru sedang berada pada fase kemunduran,”

Bahkan Buchtar menyebutkan jika tujuan utama KNPB sebagai organisasi perjuangan sipil sudah berubah haluan dan tidak lagi menggambarkan semangat seperti pada masa awal dibentuknya dahulu.