Senin, 27 September 2021

Tokoh Agama Kecam KKB atas Aksi Teror di Hari Minggu

wrtsh papua


Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua adalah organisasi separatis yang selalu menciptakan ketakutan akibat aksi teror yang dilakukan. Kelompok ini juga dianggap tidak merepresentasikan perjuangan bagi Papua karena aksi biadabnya hanya akan menghambat proses pembangunan dan terus merusak kesejahteraan di Papua. 

Menurut Pdt. Nason Gobay sebagai tokoh gereja di Kabupaten Mimika, aksi penembakan yang dilakukan KKB hingga menewaskan aparat keamanan pada hari Minggu 26 September lalu adalah bentuk penentangan atas hukum Tuhan. (27/9)

Dikatakan oleh Pdt. Nason Gobay bahwa hari Minggu seharusnya menjadi hari dimana seluruh umat berbondong-bondong ke gereja untuk beribadah. Terlebih di Papua, hari Minggu adalah sebuah hari yang sakral dan dihormati.

“Hari Minggu adalah waktu yang sangat dihormati oleh seluruh orang di Papua. Kabar tentang aksi penembakan yang dilakukan KKB kemarin itu adalah bentuk penentangan terhadap hukum Tuhan dan moyang bangsa Papua,”

Pdt. Nason menambahkan jika seharusnya hari Minggu harus diisi dengan kedamaian dan saling mengasihi, bukan menebar teror yang akhirnya hanya akan menimbulkan ketakutan dan kesedihan.

“Hari Minggu saya tercoreng aksi yang akhirnya membuat saya berduka, padahal hari Minggu seharusnya menjadi hari yang penuh kasih dengan segala berkat yang sudah diberikan oleh Tuhan,”

Menurut Pdt. Nason, bahwa jangan pernah ada anggapan untuk mendukung aksi KKB di Papua. Dirinya meyakinkan jika kelompok tersebut tidak sedang memperjuangkan suara orang Papua. Tokoh gereja tersebut justru menilai jika KKB hanya beraksi atas kepentingan dari segelintir kelompok yang akhirnya telah mengorbankan banyak kepentingan orang Papua sendiri.

“Mereka ada hanya untuk kepentingan kelompok tertentu, karena tidak semua orang Papua sepakat dengan aksi-aksi biadab yang terus dilakukan. Lihatlah ada berapa banyak orang Papua yang akhirnya harus mengalah karena permasalah KKB ini tidak kunjung selesai,”

Minggu, 26 September 2021

KKB Jangan Putar Balik Fakta tentang Penyerangan Tenaga Medis di Pegunungan Bintang

wrtsh papua


Kondisi seorang tenaga Kesehatan (nakes) Gerald Sokoy yang sebelumnya melarikan diri ke hutan sesaat terjadi penyerangan di Puskesmas Kiwirok, Kabupaten Pagunungan Bintang, dikabarkan dalam kondisi sehat, meski ditawan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) hampir dua pekan lamanya.

“Sebelumnya kKami sangat berharap yang terbaik untuk Gerald Sokoy, tentunya ini juga karena statusnya sebagai tenaga medis yang harusnya selalu dihormati peranannya dalam kondisi perang sekalipun,” ungkap Seni Uopdana sebagai tokoh masyarakat di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Dirinya bersama dengan sejumlah tokoh lain di Pegubin mengaku telah melakukan koordinasi agar Gerald Sokoy dipulangkan ke keluarganya. Dirinya juga berharap agar semua pihak bisa saling menjaga kondisi agar tetap aman dan kondusif.

“Tidak ada permintaan lain, kami hanya berharap Gerald segera dipulangkan. Kalau saja dari kemarin-kemarin sudah dipulangkan semua akan aman,”

Meski demikian, Seni juga menegaskan jika aksi KKB sudah cukup merugikan banyak pihak. Dirinya mengatakan jika KKB juga tidak boleh mengaburkan fakta terkait penyarangan dan teror yang dilakukan.

“Ini semua bermula dari penyerangan, mereka memang sudah merencanakan aksi untuk membunuh para tenaga medis, ini sebuah fakta yang tidak bisa dibantah. Apalagi korban lainnya sudah sempat dianiaya dan dibunuh,”

Seni mengatakan jika KKB sudah terdesak dan dianggap salah, sehingga satu-satunya cara untuk membela diri adalah dengan mengklaim sedang menyelamatkan Gerald Sokoy.

“Saya minta semua pahami jika Gerald Sokoy itu kan korban juga, dia sempat lari ke hutan, kemudian dia tertangkap. Nah ini yang jadi pertanyaan sekarang, kenapa tiba-tiba KKB berdalih sedang menyelamatkan Gerald,”

Atas peristiwa tersebut, sangat disayangkan KKB yang selalu menantang perang tidak mengerti aturan tentang hukum humaniter. Sehingga tekanan-tekanan dari pihak luar inilah yang pada akhirnya membuat Gerald Sokoy berhasil diserahkan walaupun dengan syarat-syarat lain yang harus diberikan kepada KKB.

Sabtu, 25 September 2021

Dewan Gereja Papua Adalah Serigala Berbulu Domba, Kebusukan Mereka Terlihat Nyata

wrtsh papua


Dewan Gereja adalah salah satu perhimpunan antar gereja dunia yang dibentuk untuk menghimpun kesatuan, namun oleh Dewan Gereja Papua, mereka justru merusak perhimpunan tersebut dengan mendorong berbagai perpecahan lewat provokasi yang dilakukan oleh pengurus-pengurusnya.

Dewan Gereja Papua dianggap hanya menumpang nama dan tidak turut dalam struktur yang resmi. Bahkan menurut tokoh agama Joop Suebu bahwa di Papua lebih dikenal organisasi lain Bernama persekutuan gerejagereja Papua (PGGP).

“Dewan Gereja Papua memang sudah berkiprah diluar negeri, tapi Dewan Gereja Papua itu baru ada tahun 2020 lalu, tapi secara tidak langsung dalam waktu singkat itu mereka sudah membuat sedikit kegaduhan. Padahal di Papua kita semua sudah lebih mengenal PGGP,”

Menurut sejumlah tokoh, Dewan Gereja Papua hanya upaya terselubung dari sejumlah tokoh separatis yang mendukung aksi kekerasan lewat misi keagamaan.

“Dewan Gereja Papua itu isinya orang-orang separatis semua. Menjual nama agama untuk mendukung aksi terorisme. Jangan ada yang percaya nama-nama seperti Socratez, Benny Giay, atau Dorman. Mereka itu domba berbulu serigala,” ungkap Franz Korwa sebagai salah seorang tokoh senior Papua.

Korwa juga meyakinkan jika orang-orang di Dewan Gereja Papua adalah bagian dari kelompok separatis di Papua yang sudah terbukti selalu menciptakan ancaman kekerasan atau segala bentuk aksi pelanggaran HAM. Kelompok ini disebutkan selalu mendukung KKB yang telah merenggut nyawa orang-orang lewat aksi penembakan biadabnya.

Bahkan pernyataan tersebut tergambar dari sikap Dewan Gereja Papua atas peristiwa penyerangan terhadap para tenaga kesehatan di Puskesmas Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang. Dewan Gereja Papua tidak pernah sama sekali melontarkan pernyataan atas kecaman.

“Omong kosong orang-orang disana, mereka busuk semua, berdiri di dua kaki. Mana yang bisa memberi kekayaan, itu yang mereka dukung. Mereka tidak menggambarkan sama sekali bagaimana ajaran Kristen itu sehatusnya hadir,”

KNPB Coba Ganggu PON Papua, “Mereka Berhadapan dengan Hukum”

wrtsh papua


Aksi-aksi gangguan keamanan di Papua sering terjadi akibat eksisnya kelompok separatis seperti Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Oleh karena itu sejumlah tokoh meminta kepada masyarakat untuk tidak terpancing hasutan atau provokasi yang bersumber dari kelompok tersebut.

“KNPB jadi salah satu organisasi yang harus dilawan oleh orang Papua karena mereka selalu menimbulkan kekacauan. Mereka terus berusaha untuk mengganggu keamanan di Papua,” ungkap pengamat dan tokoh senior Papua Eli Huby.

Sebagai penduduk Wamena, Eli mengatakan jika kelompok seperti KNPB sudah menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi bersama demi terciptanya keamanan yang kondusif. Terlebih KNPB memiliki basis anggota yang rentang usianya masih muda, sebab KNPB dinilai cukup aktif melakukan kaderisasi pada kelompok mahasiswa.

Eli menegaskan akan mendorong penolakan terhadap aksi dan ajakan dari KNPB dan mahasiswa eksodus, hal tersebut diungkapkannya melihat KNPB adalah otak dari kekacauan dan kerusuhan di Papua.

“Jangan pernah mudah terhasut dengan aksi yang disebarkan KNPB atau mahasiswa, kalau kita lihat kejadian tahun 2019 kemarin, itu seharusnya sudah bisa menyadarkan kita semua untuk tegas menolak kelompok ini,”

Eli menambahkan jika penyelenggaraan PON di Papua sebagai bentuk pertaruhan harga diri dan martabat orang Papua. Dirinya juga mengandaikan jika baik dan buruknya pelaksanaan PON akan berdampak bagi orang Papua sendiri.

“Kalau PON itu bisa berjalan baik, nanti orang Papua sendiri yang akan memetik buahnya. Momen ini bisa mendorong kegiatan masyarakat untuk menunjang kesejahteraannya nanti. Untuk itu kita harus mendukung PON ini agar aman dan damai,”

Eli lantas menegaskan kepada KNPB dan mahasiswa eksodus untuk tidak membuat kekacauan dalam pelaksanaan PON. Pihaknya juga memberi dukungan kepada aparat keamanan agar dapat membantu keberhasilan jalannya PON Papua.

“Jadi intinya kalau sudah ada yang mau mengacaukan, siap-siap saja mereka berhadapan dengan hukum. Ada ribuan tantara dan polisi yang sudah disiagakan untuk mendukung suksesnya PON ini. KNPB dan mahasiswa eksodus jangan buat gerakan tambahan,”

Jumat, 24 September 2021

Jubir KKB Sabby Sambom Cuci Tangan atas Penyerangan Nakes di Kiwirok

wrtsh papua


Pernyataan Juru Bicara Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), Sabby Sambom diragukan dalam keterangan yang menyebutkan telah melindungi Gerald Sokoy sebagai mantri Puskesmas Kiwirok, di Pegunungan Bintang, Papua. 

Menurut Pakar Terorisme UNNES, Juan Rismantoro menganggap jika Sebby Sambom hanya sedang berupaya membersihkan nama baik organisasinya setelah mendapat banyak kecaman atas aksi biadab terkait penyerangan terhadap tenaga Kesehatan.

“Ini cuma upaya cuci tangan saja, karena sudah banyak yang mengecam jadi mereka berusaha bersihkan nama. Tapi saya yakin upaya ini tdak mungkin berhasil, tindakan KKB sudah sangat biadab dan tidak bisa ditoleransi lagi,”

Alasan-alasan yang disampaikan Sambom mulai dipertanyakan, hal tersebut disebutkan oleh Juan mengingat KKB hanya melakukan penyanderaan terhadap Gerald Sokoy, sedangkan tenaga kesehatan yang lain terlanjur mendapat penyiksaan dan pembunuhan dengan keji.

“Omong kosong Sebby Sambom, jangan coba membalikkan kebenaran. Sudah ada korban nyawa, korban lain juga mendapatkan luka serius disekujur tubuh,”

KKB dalam tahun ke tahun dianggap sebagai organisasi yang sudah sangat meresahkan aktivitas masyarakat di Papua, beberapa peristiwa pembunuhan sudah sangat sering terjadi. Tak jarang aksi-aksinya selalu menimbulkan amarah karena perilaku biadabnya.

“Atas serangkaian aksi biadab yang dilakukan, saya minta kepada aparat TNI Polri untuk segera menuntaskan teror KKB. tentu ini semua untuk masyarakat Papua sendiri,”

Dorman Wandikbo Hilang Moral atas Kasus Penyerangan di Kiwirok

wrtsh papua


Dorman Wandikbo sebagai tokoh Gereja Injil di Indonesia (GIDI) dianggap tidak peduli dengan kondisi dan permasalahan masayarakat di Papua. Padahal GIDI merupakan denominasi gereja yang cukup mayoritas bagi masyarakat di pegunungan.

Hal tersebut tersirat dalam aksi pembunuhan tenaga Kesehatan (nakes) Puskesmas Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang yang dilakukan oleh gerombolan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

“Sebagai salah satu tokoh agama harusnya Dorman bisa membangun rasa damai di lingkungan masyarakat lewat pengaruh keagamaan, tapi hal itu tidak nampak saat terjadi peristiwa biadab berupa pembunuhan nakes di Kiwirok,” kata Tokoh Senior Papua Agustinus R.

Berbagai pertanyaan muncul terkait dimana moral seorang Dorman sebagai tokoh gereja, terlebih Dorman sendiri kerap berbicara menyinggung sikap anti kekerasan terhadap umat manusia.

“Kita banyak temui pernyataannya dalam sikap menolak kekerasan di Tanah Papua, tapi sampai dengan hari ini, tidak ada sama sekali kita mendengar itu lagi. Padahal peristiwa di Kiwirok sudah begitu badab dan keji dilakukan,”

Jika peristiwa berupa penyerangan terhadap tenaga kesehatan saja tidak nampak di mata Dorman Wandikbo, lalu peristiwa biadab seperti apa lagi yang harus terulang dan mampu meluluhkan hati kerasnya.

“Sebagai orang Papua, sudah hilang rasa hormat kepada Dorman. Kalau memang tidak bisa mengemban kehormatan sebagai pendeta yang bisa memberi rasa damai, berhenti saja,”

Kamis, 23 September 2021

Tokoh Papua Perjelas Benny Giay sebagai Simpatisan Separatis di Papua

wrtsh papua


Tidakkah Benny Giay merupakan sosok yang berpengaruh dari Papua, bahkan dirinya pernah bicara banyak soal tanah ini disaluran televisi nasional. Namun sangat disayangkan, ketokohannya yang juga merupakan seorang pendeta tidak lantas membuat pribadinya menerapkan kebesaran nilai agama.

Benny Giay dikenal publik sebagai tokoh yang selalu membela aspirasi orang Papua, meski tak jarang aksinya kerap menyinggung dukungan terhadap gerakan separatisme di Papua. 

Bahkan Benny giay dianggap sebagai pribadi yang tidak tahu malu, mencampuri urusan lain untuk kepentingan pribadi. Padahal didalam namanya terdapat tanggung jawab jabatan sebagai Pendeta, sebagai hamba Tuhan.

“Pendeta itu besar tanggung jawabnya, pendeta juga harus bisa melihat sisi baik dan buruk. Tidak boleh membawa kepentingan untuk dirinya atas masalah yang sedang terjadi, hal ini yang tidak terlihat darinya atas penyerangan nakes di Kiwirok,” ungkap Franz Kowa sebagai tokoh senior Papua.

Dalam sebuah keterangan, Benny Giay sebagai seorang pendukung Gerakan separatisme pernah meminta agar kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) segera diselesaikan. Tentu pernyataan tersebut sangat berbanding terbalik dengan peristiwa saat saat ini terjadi.

“Itu juga yang harus diperhatikan, dulu bicara bagaimana dan sekarang faktanya bagaimana. Hanya saja, dunia ini tidak akan terbalik, hukum alam akan berjalan dengan sendirinya, dan akan semakin memperjelas siapa orang baik dan siapa orang jahat,”

Penyerangan terhadap tenaga kesehatan di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, telah membuat banyak mata merasa marah. Selain pelakukan adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) fungsi tenaga kesehatan sangat dirasa vital bagi masyarakat setempat.

“Tidak banyak orang yang mampu mengabdi di wilayah terpencil seperti Kiwirok. Kehadiran nakes seharusnya mendapat apresiasi, bukan justru dibunuh dengan tuduhan yang tidak pernah akan terbukti,”

Dunia Internasional Harus Paham Keterlibatan Victor Yeimo sebagai Aktor Kerusuhan Papua

wrtsh papua


Kondisi Kesehatan yang dialami Victor Yeimo dalam beberapa hari terakhir sudah dinyatakan pulih, itu artinya Victor bersiap untuk melanjutkan proses hukumnya yang sebelumnya sempat tertunda. Pihak RSUD Jayapura telah mengkonfirmasi jika penyakit yang dialami Victor bukan permasalahan serius.

“Sudah sepenuhnya sehat, penyakit yang dialami juga bukan permasalahan yang cukup serius. Ini hanya pengaruh dari gaya hidup Victor saja,”

Terkait hal tersebut, justru banyak kabar miring yang tak jarang menciptakan kegaduhan. Menurut tokoh Senior Papua, Agustinus R mengatakan jika kasus Victor Yeimo penuh dengan rekayasa.

“Pejabat selevel dunia tentu tidak punya data akurat tentang situasi, yang mereka dapat hanya laporan-laporan rekayasa yang dibuat oleh para simpatisan kelompok separatis seperti KNPB sendiri. Juga kepada Benny Wenda, sudah bisa dipastikan tidak akan sesuai fakta, karena mereka punya kepentingan lain,”

Menurut Agustinus bahwa PBB tidak memahami konteks secara menyeluruh terkait kasus di Papua. Mereka hanya membuka diri atas laporan yang sifatnya dari pihak korban. Padahal baik itu KNPB, mereka juga kawanan pelaku kejahatan.

“Kita persoalkan tentang kerusuhan yang terjadi di Jayapura pada tahun 2019 sampai ada aksi pembakaran bahkan terjadi juga ancaman terhadap orang-orang pendatang. Ini juga masalah rasis kan?”

Agustinus menambahkan jika aksi KNPB yang menyuarakan anti rasisme dan kekerasan justru menimbulkan permasalahan lain terkait rasisme dan kekerasan juga. Sebab pelaku rasis di Kota Surabaya diketahui sudah diringkus dan diproses hukum.

“Kalau pelaku sudah diproses seharusnya semua pihak bisa menahan diri, bukan malah merancang aksi tandingan yang berakibat kerusuhan. Aksi demo anarkis itu sudah pasti melanggar hukum,”

Perlu diingat jika KNPB dan Victor Yeimo adalah aktor yang merancang aksi kerusuhan di Kota Jayapura dan Wamena hingga mengakibatkan puluhan orang korban tewas. Saat ini, dikatakan Agustinus bahwa KNPB sedang melakukan aksi perlawanan untuk mengaburkan fakta terkait kerusuhan tahun 2019 sebelumnya.

“Semua adalah aksi yang dirancang, ini bagian dari politisasi untuk mengaburkan fakta jika KNPB adalah organisasi biadab. Peristiwa 2019 akan terus teringat karena korbannya saja sampai puluhan orang,”

Agustinus menambahkan jika seharusnya pemerintah bisa mengeluarkan keputusan yang tegas terhadap KNPB untuk bisa dilarang dan dibubarkan keberadaannya. Dirinya berharap KNPB di Papua bisa ditindak seperti FPI sebagai organisasi yang merugikan.

Rabu, 22 September 2021

Socratez Yoman Tutup Mata atas Penyerangan KKB terhadap Nakes

wrtsh papua


Sebagai seorang tokoh gereja seharusnya Socratez Yoman mampu menjadi penengah dalam konflik yang terjadi di Papua. Kita tahu masyarakat Papua sangat menghargai kedudukan seorang tokoh. Namun yang diperlihatkan Socratez Yoman sudah sangat berbeda, kehadirannya hanya memupuk konflik berkepanjangan.

Peristiwa biadab atas pembunuhan yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap tenaga kesehatan sampai saat ini tidak pernah menyentuh hati keras yang dimiliki Socratez. Franz Korwa dalam keterangannya menyebut jika Socratez tidak layak disebut sebagai gembala.

“Dia tidak sedang melayani, dia hanya seorang manusia berketerbatasan yang pandai melakukan provokasi,”

Tokoh-tokoh sepetri Socratez dianggap sebagai biang kekacauan di Papua. Melalui pengaruhnya kekerasan dalam bentuk perlawanan dirasa sebagai hal yang lumrah terjadi.

“Bodoh dan dia memang bodoh, mengambil peran agama sebagai jalan keluar sebuah masalah untuk dibelokkan pada kesesatan. Socratez harus bisa bertobat untuk dirinya sendiri,”

Aksi penyerangan KKB terhadap tenaga kesehatan (nakes) di Distrik Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang disebutkan telah menghambat program kesehatan. Padahal menurut dr. Ronald sebagai Ketua IDI Papua, pihaknya menyebutkan jika wilayah Pegunungan Bintang adalah salah satu wilayah vital membutuhkan fasilitas Kesehatan.

“Ada dua hal yang seharusnya beriringan dan saling menguntungkan. Pertama masyarakat yang mendapatkan fasilitas kesehatan, dan kedua adalah terjaminnya rasa aman bagi para tenaga kesehatan yang mengabdikan diri mereka,”

Sebelumnya dua nakes di Papua dikabarkan hilang dalam penyerangan KKB di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Senin (13/9). Setelah melakukan pencarian, aparat menemukan dua orang nakes di jurang. Satu orang nakes Gabriella Meilani ditemukan dalam keadaan tewas. Adapun satu orang lainnya, Kristina Sampe, masih dalam keadaan hidup.

Alih-alih Bicara Penyerangan Kiwirok, Theo Hesegem Justru Dikecam atas Pernyataannya

wrtsh papua


Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (Pembela HAM) Theo Hesegem buka suara soal penyerangan Puskesmas Kiwirok di Kabupaten Pegunungan Bintang. Dirinya mengatakan jika tenaga kesehatan seharusnya harus dihargai dalam tugasnya.

“Setiap orang baik itu Papua ataupun non-Papua, semua berhak untuk hidup di atas tanah ini, terutama bagi mereka para tenaga medis yang bekerja atas dasar kemanusiaan,”

Theo Hesegem juga berharap agar dibentuk tim independen untuk mengungkap kasus penyerangan di Distrik Kiwirok yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sebelumnya. Namun pernyataan Theo tersebut justru menimbulkan polemik baru terkait aksi separatisme di Papua.

Menurut pengamat bidang keamanan Universitas Indonesia, Dian Sucipto menyebut jika pernyataan terkait pembentukan tim independen dinilai sebagai upaya pengalihan fakta terkait penyerangan yang dilakukan KKB. Menurutnya aksi tersebut cukup mendapatkan timbal balik berupa kecaman dan upaya penindakan oleh TNI/Polri.

“Saya rasa ini agak rancu, untuk apa lagi dilakukan penyelidikan oleh tim independen. Bukti sudah ada, korban sudah bersuara, bahkan sudah ada pihak pelaku yang mengakui. Tidak heran juga sebenarnya, Theo Hesegem memang seperti itu orangnya, mungkin dia punya kedekatan dengan aksi separatis. Jadi pernyataannya hanya diputar-putar ke hal sedangkal itu,”

Dian menambahkan jika pernyataan yang dilontarkan Theo hanya omong kosong belaka, bahkan cenderung akan membangkitkan pedih bagi para korban dan segenap tenaga kesehatan Indonesia.

“Apakah Theo ini tidak sadar jika pernyataannya hanya akan membangkitkan ingatan dan duka bagi keluarga atau juga bagi para tenaga kesehatan di Indonesia?”

Theo dianggap terlalu jauh dalam mempolitisasi peristiwa malang yang dialami suster Gabriela Meilan, seolah Theo masih berharap untuk mencari sudut pandang lain atas penyerangan di Distrik Kiwirok. 

“Ini adalah momen duka di langit Papua, cukup sudah kekerasan demi kekerasan terjadi. Saya agak kritisi dia tentang pernyataan-pernyataannya yang melenceng. Jangan coba mencari sudut pandang lain sehingga dapat menciptakan opini untuk membenarkan aksi biadab itu,”

Sebab Theo Hesegem dengan gamblang mengungkit kembali peristiwa penyerangan yang bukan kali ini saja terjadi. Theo menyebut telah ada beberapa wilayah yang seperti Nduga, Intan Jaya, Puncak, Yahukimo, Mimika, Maybrat, yang sebelumnya terjadi peristiwa nahas secara berulang.

“Kalau seperti iu memang berarti Theo yang biadab, dia tidak punya hati karena telah membanding-bandingkan peristiwa yang notabene telah memakan korban. Cara pandang yang salah, pernyataan seperti itu tidak elok keluar dari mulut pegiat HAM,”