Minggu, 18 April 2021

Kesaksian Tokoh di Beoga atas Kekejaman Teroris Papua

wrtsh papua


Aksi kekejaman yang dilakukan oleh kelompok teroris Papua di Kabupaten Puncak terus mendapat kecaman dari berbagai pihak. Bahkan aksi brutalnya dinilai sangat merugikan bagi orang asli Papua setempat.

Hal tersebut disampaikan oleh salah seorang pemuka agama di Distrik Beoga, Pdt. Jupinus Wama yang menjumpai aparat keamanan dalam sela-sela olah kerjadian perkara di bekas sekolah yang dibakar oleh teroris.

“Kami para Gembala merasa tidak dihargai lagi dengan kedatangan teroris, wilayah kami menjadi hitam, banyak kejadian pembunuhan dan kekacauan terjadi,”

Baca Juga: 

Politikus Nasional Desak Berangus Teroris Papua Sebelum Makin Berbahaya

Jupinus menganggap jika tindakan yang dilakukan oleh teroris sudah diluar moral dan melewati batas kewajaran yang melawan adat. Dirinya menyesali tindakan pengrusakan, pembunuhan, dan aksi biadab seperti memperkosa anak anak perempuan.

“Tidak hanya kami yang marah, tapi juga tuan tanah, Tuhan juga marah, semua marah dengan aksi teroris di Beoga. Seluruh Distrik hancur, Gedung hancur, anak-anak perempuan kami juga hancur. Mereka datang untuk menghancurkan semuanya,”

Gembala bahkan bersaksi jika sebelum kelompok teroris datang ke Beoga, wilayahnya adalah salah satu tempat yang paling nyaman dan aman. Aktivitas masyarakat berjalan dengan harmonis. Berbeda dengan situasi yang terjadi saat ini dimana masyarakat terpaksa berlarian dan mengungsi ke hutan.

Baca Juga: 

Kritik Negara, Amnesti International Indonesia Dukung Kebiadaban Teroris Papua

“Sebelum mereka datang kampung (dan distrik) kami ini aman, masyarakat menikmati hidupnya dengan bersekolah, berkebun, semua kedamaian ada disini. Tetapi sekarang kita semua tahu mereka lari ke hutan karena takut,”

Disampaikan juga oleh Pdt. Jupinus bahwa tokoh-tokoh di Beoga sangat berterima kasih atas kehadiran aparat keamanan TNI dan Polri. Dikatakan jika kehadiran aparat juga telah memberi semangat dan mengurungkan rasa takut dari masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih karena bapak-bapak (TNI-Polri) datang ke Beoga, kami sudah merasa lebih baik baik sekarang. Situasi yang sekarang sudah aman, kami akan mengajak lagi masyarakat yang lari ke hutan, kami juga undang lagi pemerintah daerah untuk bisa datang, untuk guru-guru juga agar bisa kembali lagi mengajar,”

Politikus Nasional Desak Berangus Teroris Papua Sebelum Makin Berbahaya

wrtsh papua


Aksi biadab dari kelompok teroris Papua semakin menjadi, salah seorang Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin pun meminta kepada aparat keamanan untuk segera menindak pelanggaran hukum yang terjadi. Dirinya beranggapan jika kelompok teroris masih dibiarkan, khawatir dampaknya akan semakin berbahaya. (18/4)

“Saya sangat prihatin dengan situasi yang terjadi di Puncak, kelompok ini segera harus diselesaikan. Tentu Polisi dan TNI harus bertindak untuk mengatasi masalah ini, karena jika kondisi seperti ini terus berlarut akan berbahaya nanti,”

Politikus PDIP itu juga mengusulkan adanya dialog antara pemerintah pusat dan tokoh-tokoh di Papua. Menurutnya, dialog ini salah satu cara yang pas untuk menyelesaikan masalah.

“Adanya anggapan tidak perlunya dialog karena kasus ini adalah pemberontakan juga bisa dipikirkan ulang. Ini bukan tentang pemberontak, anggap saja ini dialog antara pemerintah pusat dengan daerah, sebab mau seperti apa juga pemerintah daerah lebih memahami kondisi di Papua,”

Baca Juga: 

Kritik Negara, Amnesti International Indonesia Dukung Kebiadaban Teroris Papua

TB Hasanuddin juga menilai jika target dari keganasan teroris tidak hanya kepada arat keamanan. Pihaknya percaya jika banyak elemen lain juga berpotensi menjadi korban. Hal tersebut terbukti karena korban juga merupakan guru, pengojek, bahkan siswa sekolah.

“Ya ini juga harus diperhatikan, kasus sebelumnya sudah membuktikan jika kelompok ini adalah musuh bersama. Bagaimana tidak, mereka sudah membunuh guru, tukang ojek, dan siswa. Ini sangat tidak manusiawi,”

Diketahui, dalam sepekan terakhir ini, ulah Teroris Papua telah mengakibatkan empat nyawa melayang, bahkan bangunan sekolah, rumah warga, dan rumah anggota DPRD di Beoga juga menjadi sasaran. Pada Kamis (8/4), seorang guru SD atas nama Oktavianus Rayo (43) tewas ditembak KKB di Kampung Julukoma. Pada Jumat (9/4), guru SMP bernama Yonathan Randen tewas ditembak KKB. Tukang ojek bernama Udin (41) tewas ditembak KKB di Pasar Ilaga, pada Rabu (14/4). Pada Kamis (15/4), seorang pelajar SMA di Ilaga tewas ditembak KKB.

Kabar terbaru bahwa eksistensi teroris Papua di Kabupaten Puncak juga disebut melakukan kekerasan seksual dengan memperkosa gadis-gadis desa. Atas aksi tersebut para tokoh-tokoh dari Distrik Beoga geram dan mengutuk kelompok tersebut.

Sabtu, 17 April 2021

Kritik Negara, Amnesti International Indonesia Dukung Kebiadaban Teroris Papua

wrtsh papua


Ulah kelompok teroris di Papua mendapat memang mendapat tanggapan aliansi pendukung Hak Asasi Manusia (HAM), Amnesty Internasional Indonesia (AII). Melalui unggahan AII pada media sosial @amnestyindo, justru berkesan menyalahkan aparat keamanan dan memojokkan Kepolisian Indonesia.

"Aparat keamanan mempunyai sejarah panjang melakukan aksi balasan yang berakhir dengan warga sebagai korban," tulis AII. 

Atas pernyataan tersebut, banyak pegiat media sosial mengkritisi AII yang dirasa justru membela kekejaman dari teroris Papua. Tidak terkecuali oleh politisi Dedek Prayudi yang justru mempertanyakan tindakan AII yang sama tidak menyinggung aksi pembunuhan oleh kelompok teroris.

"Kok begini sih, Amnesty International? Tidak sedikitpun mengecam KKB OPM, malah balik men-demonize aparat yang notabene adalah lawan dari pelanggar HAM yang sedang dibicarakan di utasnya. Ampun deh,"

Baca Juga: 

Teror TPNPB di Puncak mendapat Kecaman dari Aktivis Papua

Dedek Prayudi juga menyesalkan cuitan Amnesty Internasional Indonesia yang tidak mengecam tindakan KKB, yang justru melanggar HAM. 

"Cuitan Amnesty cuma usut agar gak terjadi pelanggaran HAM baru disertai twist pre-emptive. Belum sekejap, udah ada lagi pelanggaran HAM baru oleh KKB lagi, skr korbannya pelajar. Masih gak mau kecam KKB? Pelajar Tewas Ditembak KKB Papua, Motor Dibakar,"

Hal senada juga dicuitkan Ferdinand Hutahaean. Pada cuitannya di akun @FerdinandHaean3 menyinggung rangkaian cuitan Amnesty Internasional Indonesia sama sekali tak mengecam tindakan KKB yang melanggar HAM. 

"Dari rangkaian tweet ini, AII sama sekali tdk menyinggung dan sama sekali tdk mengecam kekerasan dan pembunuhan warga sipil yg dilakukan olh KKB," tulis Ferdinand. 

Baca Juga: 

Socratez ungkap TPNPB dan KNPB sebagai Organisasi “Iblis dan Anti-Krist”

Ia menyesalkan cuitan Amnesty Internasional Indonesia justru menyudutkan polisi yang menindak KKB Papua, sebagai pelanggar HAM dan pembunuhan serta kekerasan pada warga sipil. 

"Yg ada malah lbh menyudutkan Aparat TNI POLRI seolah TNI POLRI hrs menghormati KKB. Gen penghianat tolong dibersihkanlah..!!"

Seperti diketahui aksi terorisme di Papua beberapa kali telah dapat dikatakan sebagai bentuk pelanggaran HAM. Hal tersebut lantaran kelompok teroris juga melakukan penembakan terhadap masyarakat sipil. Sebelumnya teroris Papua telah melakukan penembakan terhadap dua guru di distrik Beoga, penembakan terhadap pengojek, dan seorang pelajar SMA. Atas peristiwa tersebut kelompok teroris juga telah memberi rasa takut di masyarakat.

Teror TPNPB di Puncak mendapat Kecaman dari Aktivis Papua

wrtsh papua


Dalam 7 hari terakhir, kelompok teroris selalu memberi ketakutan dan ancaman terhadap masayarakat di Kabupaten Puncak, Papua. Atas ancaman tersebut korban jiwa dan korban materiil tak terhindarkan, bahkan sebagian masyarakat memilih meninggalkan Puncak dan mengamankan diri ke Kota Timika.

Atas kegaduhan yang terjadi, salah seorang tokoh West Papua National Authority (WPNA) wilayah Domberai, Markus Yenu dalam tanggapannya mengatakan ketidak sepahamannya dengan aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok TPNPB-OPM sebagai milisi bersenjata.

“Dari diri saya sendiri, tentu saya tidak sependapat dengan aksi yang dilakukan oleh TPNPB. Dari kabar yang beredar lewat hubungan keluarga dari Puncak, ada banyak kesalah pahaman yang terjadi. Tentu ini menyakitkan sebab korban sudah terlanjur berjatuhan,”

Menurut Yenu, TPNPB-OPM bertindak sangat ceroboh dan tidak dalam pertimbangan yang cukup matang. Meski pihaknya mengklaim jika korban yang telah dibunuh adalah bagian dari mata-mata aparat keamanan, namun tindakan semacam itu justru merugikan.

Baca Juga: 

Socratez ungkap TPNPB dan KNPB sebagai Organisasi “Iblis dan Anti-Krist”

Hal tersebut diungkapkan oleh Yenu sebab dirinya merasa tindakan keji dari TPNPB akan meruntuhkan perjuangan yang sedang ia bangun. Dikatakan jika Markus Yenu adalah aktivis yang juga memperjuangan nama ‘Papua’ lewat jalur kemanusiaan.

“Kami sadar jika pertumpahan darah tidak akan memberikan kebebasan, kalaupun bebas kita sudah kehilangan anggota keluarga sendiri akibat dari penembakan-penembakan yang terjadi. Saya menilai TPNPB sudah diluar batas dalam melakukan pergerakannya,”

Diketahui sebelumnya bahwa kelompok TPNPB telah melakukan pembunuhan terhadap dua orang guru pada tanggal 8 dan 9 April. Kemudian pada tanggal 11 kelompok tersebut membakar sebuah helikopter milik PT.  Ersa Eastern Aviation, pada tanggal 14 April terjadi penembakan terhadap pengojek, dan kisah pilu terjadi pada 15 April dimana salah seorang siswa SMA ditembak dan disiksa hingga jasadnya ditemukan mengenaskan.

Socratez ungkap TPNPB dan KNPB sebagai Organisasi “Iblis dan Anti-Krist”

wrtsh papua


Perjuangan Papua dikenal memiliki banyak ideologi. Berbagai bentuk dan sifat kenegaraan juga menawarkan beragam aliran sesuai dengan kepentingan dan paham dari masing-masing organisasi pengusungnya.

Seperti contoh, NRFPB mendorong pembentukan negara federal, kelompok Melanesia Barat mengangkat bentuk kesatuan, atau kabar yang pernah beredar jika kelompok KNPB condong mengusung paham komunisme.

Atas riuhnya kabar tersebut, Socratez S. Yoman menuding ada muatan lain yang dibawa oleh kelompok-kelompok tersebut. Dalam narasi singkatnya Socratez mengungkit ada misteri lain dari hadirnya TPNPB dan KNPB dalam pergerakan perjuangan Papua.

Baca Juga: 

Teroris Papua Tembak Seorang Siswa SMA di Kabuoaten Puncak

Socratez menilai ada penyimbolan kejahatan yang diusung dua organisasi sebelumnya. Dirinya menyiratkan jika angka ‘666’ lekat dengan organisasi yang dipimpin oleh Goliath Tabuni dan Agus Kossay tersebut. Socratez pun mengutip wahyu 13:18 terkait penafsirannya tentang Nero Caesar tersebut.

“Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam,”

Selain bilangan 666, Alkitab juga memiliki angka misteri yaitu bilangan "6" Selain dianggap bilangan yang berhubungan dengan Hari dimana diciptakan dan hukum manusia bekerja, juga bilangan "6" merupakan 6 Tahun pelayanan sebelum pembebasan budak, bahkan bilangan 6 juga dianggap sebagai "anti-krist" ketika Raja Nebukadnezar hendak menyamai Allah dengan membuat patung dengan tinggi 60 Hasta dan lebar 6 Hasta.

Socratez kembali menafsirkan hadirnya KNPB dan TPNPB dengan Gematria, dalam penyampaiannya (huruf) KNPB dapat dijabarkan dengan simbol angka K=11, N=14, P=16, dan B=2, yang seluruhnya berjumlah 43. Sedangkan penajabaran TPNPB menjadi 68. Socratez menganggap jika keduanya digabungkan akan mengungkap keterkaitan angka 111.

Baca Juga: 

Kasus Penembakan Guru Belum Usai, Teroris Papua kembali Bunuh Pengojek

Atas jumlah tersebut, dikalikan dengan '6' menjadi 666, Socratez menuturkan jika “666” adalah implikasi dari 111 yang memiliki arti “Binatang” atau bahkan “Anti-Krist”. Socratez juga menilik dalam alkitab terkait susunan pertama dalam Perjanjian baru Yohanes (1:11).

Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Ia mendatangi kepunyaan-Nya, tetapi kepunyaan-Nya itu tidak menerima Dia. Maka datanglah Ia kepada milik-Nya sendiri, dan orang yang dimiliki-Nya itu pun tiada menerima Dia.

“Menggambarkan bahwa mereka manusia yang di milki Tuhan, Namun pada saat Didatangi Tuhan sendiri mereka malah menolak dan bahkan Tiada menerima-Dia. Meski jangan terlalu khawatir, selain Yohanes 1:11 masih banyak surat untuk dipilih sesuai bilangan tersebut, bisa juga mendapat ayat yang baik,” tulis Socrates dalam catatan digitalnya.

Jumat, 16 April 2021

Teroris Papua Tembak Seorang Siswa SMA di Kabuoaten Puncak

wrtsh papua


Aksi teror berupa penembakan masih terus terjadi, kabar terbaru seorang warga sipil yang merupakan siswa SMA 1 Ilaga, Kabupaten Puncak tewas tertembak kelompok teroris Papua. (16/4)

Diketahui bahwa korban bernama Ali Mom yang berstatus sebagai pelajar tersebut ditembak mati oleh teroris pimpinan Lekagak Telenggen di Kampung Tagaloa, Distrik Ilaga pada 15 April 2021 pukul 20.00 malam.

Atas peristiwa tersebut, Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal mengaku geram dengan aksi-aksi teror yang mengancam keselamatan di Kabupaten Puncak. Wagub sangat berharap kepada aparat keamanan untuk bisa segera mengendalikan situasi agar segera kondusif sehingga masyarakat bisa beraktivitas dengan nyaman.

Baca Juga: 

Kasus Penembakan Guru Belum Usai, Teroris Papua kembali Bunuh Pengojek

Peristiwa sebelumnya, setidaknya 40 warga pendatang di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak telah dievakuiasi ke Kabupaten Mimika. Hal tersebut sebagai buntut dari rentetat aksi teror berupa penembakan dalam sepekan terakhir.

“Kami harap pihak keamanan bisa mengendalikan situasi di Puncak, masyarakat juga saya mohon untuk bisa sama-sama menjaga keselamatan bersama. Kami memaklumi tentang evakuasi kepada guru dan nakes (tenaga Kesehatan) karena memang mereka cukup merasa terancam,”

Klemen dalam penyampaiannya mengutuk keras tindakan yang dilakukan oleh kelompok teroris. Menurutnya tindak kekerasan yang selama ini diperlihatkan adalah cara yang salah.

Baca Juga: 

Guru Pekerjaan Kemanusiaan, Kelompok Teroris Papua sangat Biadab

“Tentu cara-cara seperti itu tidak dibenarkan, apalagi korbannya adalah guru yang berjuang untuk mencerdaskan anak-anak generasi penerus bangsa di Papua,”

Wagub kembali menegaskan jika tidak boleh lagi ada aksi kekerasan yang mengacaukan aktivitas warga di Puncak, utamanya pendidikan, Kesehatan, atau berbagai aktivitas lainnya yang berimplikasi pada perputaran ekonomi masyarakat.

“Di wilayah pegunungan sudah terlambat pendidikannya, aksesnya semua serba terbatas. Jadi jangan kecaukan pendidikan supaya anak-anak disana bisa maju dan mengerti dunia luar,”

Kamis, 15 April 2021

Kasus Penembakan Guru Belum Usai, Teroris Papua kembali Bunuh Pengojek

wrtsh papua


Sepekan terakhir bumi Papua dirundung awan kelam atas tindakan kelompok teroris yang terus menebar ancaman dan teror. Beberapa peristiwa teror terjadi, mulai dari penembakan dua orang guru di Beoga, pembakaran sekolah, pembakaran helikopter, dan penembakan terhadap warga sipil yang berprofesi sebagai pengojek.

Insiden penembakan terhadap pengojek bernama Udin di kampung Eromaga, Kabupaten Puncak tersebut terjadi pada Rabu 14 April 2021.  Korban yang mendapat serangan dari kelompok teroris lantas meninggal dunia dan tergeletak di lokasi kejadian, bersama dengan kendaraannya.

Atas insiden tersebut Kepala Sekretariat Perwakilan Komnas HAM di Papua, Fritz Ramandey mengatakan jika perlu dilakukan upaya dan penanganan secara serius dalam rentetan kasus yang selalu melibatkan kelompok teroris.

Baca Juga: 

Guru Pekerjaan Kemanusiaan, Kelompok Teroris Papua sangat Biadab

“Lagi-lagi terjadi, setelah sebelumnya ada peristiwa di Beoga, kemudian pembakaran helikopter, sekarang kita semua dibuat berduka dengan kabar penembakan seorang ojek. Perlu adanya upaya penanganan serius atas rentetan peristiwa ini,”

Disinggung terkait upaya yang perlu dilakukan, pihaknya menyadari bahwa dominasi penanganan tetap harus melibatkan aparat keamanan, sebab kelompok teroris juga sangat berpotensi melakukan perlawanan atas penggunaan senjata.

“Tidak bisa dibantah jika keterlibatan TNI Polri memang diperlukan karena mereka (kelompok teroris) juga siap dengan senjata yang dimiliki. Insiden terakhir ini sebagai dasar yang kuat untuk dilakukan upaya penindakan secara tegas,”

Salah seorang pengamat Papua, Franz Korwa ketika ditemui redaksi, dinilai cukup geram mendengar kabar aksi biadab yang selalu dipertontonkan oleh kelompok teroris. Dengan nada yang agak meninggi Franz keras mengatakan jika kelompok teroris harus dibasmi dan dihilangkan dari tanah Papua.

Baca Juga: 

Wagub Papua Kecam Aksi di Beoga, Theo Hesegem Dianggap Asal Bicara

“Semua sadar kalau kelompok teroris ini tidak memberikan arti penting dalam kehidupan di Papua. Jika ada yang mendukung tindakannya, maka dia bagian dari teroris yang harus dihilangkan. Saya sangat mendukung tindakan tegas kepada mereka,”

Franz menambahkan jika tindakan TNI Polri dalam menangani teroris Papua tidak akan bisa dibenturkan dengan isu pelanggaran HAM. Menurutnya kelompok teroris adalah satu-satunya sumber konflik yang menjadikan Papua selalu bergejolak.

“Ya, kalau tidak ada mereka (kelompok teroris) Papua ini akan tenang, aparat TNI Polri tidak akan seramai ini. Saya juga merasa aneh jika setiap tindakan aparat keamanan selama ini kerap dibatasi oleh isu HAM, padahal teroris itulah yang selalu melanggar HAM. Buktinya sudah banyat terjadi, termasuk penembakan terhadap tukang ojek ini,”

Rabu, 14 April 2021

Guru Pekerjaan Kemanusiaan, Kelompok Teroris Papua sangat Biadab

wrtsh papua


Hampir sepekan aksi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan oleh kelompok teroris Papua kepada dua orang guru di Kabupaten Puncak, Papua, terus mendapat kecaman dari serbagai pihak. Aksi keji tersebut juga memantik amarah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sorong, Papua Barat, Petrus Korisano, S.Pd., M.M.Pd. (14/3)

Menurutnya aksi kelompok separatis selalu mengundang pertikaian dan konflik berkepanjangan di Papua. Atas aksi di Distri Beoga sebelumnya, Petrus mengecam dengan keras kasus yang harus merenggut nyawa Oktovianus Rayo dan Yonatan Rende tersebut.

“Dua rekan guru kami berpulang, atas tindakan tidak manusiawi yang dilakukan itu, kami mengutuk dengna keras yang dibuat oleh kelompok teroris,”

Dalam penyampaiannya, Petrus memohon kepada aparat keamanan TNI/Polri untuk segera melakukan tindakan. Dikatakan, perlu dilakukan upaya pengejaran dan penangkapan terhadap pelaku pembunuhan.

Baca Juga: 

Wagub Papua Kecam Aksi di Beoga, Theo Hesegem Dianggap Asal Bicara

“Saya mohon kepada aparat baik TNI ataupu Polri, untuk segera menangkap pelaku pembunuhan. Ini demi tegaknya hukum dan keamanan di Tanah Papua,”

Petrus menyerukan jika profesi guru dan medis merupakan pekerjaan kemanusiaan. Oleh sebab itu pihaknya sangat menyayangkan aksi biadab yang dilakukan oleh organisasi separatis di Papua.

“Sebagai seorang guru atau medis, dua pekerjaan itu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Namun ketika mendapat perlakuan yang tidak pantas, tentu banyak pihak akan marah dan tidak terima,”

Dikabarkan sebelumnya bahwa kelompok teroris pimpinan Lekagak Telenggen telah melakukan penyerangan kepada dua orang guru sekolah menengah di Distrik Beoga Kabupaten Puncak Papua. Tak hanya membunuh guru, gerombolan teroris juga membakar fasilitas pendidikan berupa Gedung sekolah.

Selasa, 13 April 2021

Wagub Papua Kecam Aksi di Beoga, Theo Hesegem Dianggap Asal Bicara

wrtsh papua


Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal mengecam penembakan terhadap guru dan pembakaran fasilitas sekolah di Distrik Beoga, Puncak, yang dilakukan oleh kelompok teroris Papua.

“Biadab, mereka (kelompok teroris) tak pantas dan tak layak melakukan hal seperti ini. Mereka sudah jelas-jelas melakukan tindakan kriminal. Biadab, tak boleh seperti itu,”

Selaku orang nomor dua dalam kedudukan jabatan di Papua, Klemen meminta kepada TNI dan Polri untuk segera menangkap pelaku pembunuhan terhadap guru dan pembakaran sekolah. Yang terjadi.

“Kami mengutuk penembakan guru dan pembakaran sekolah. Kejar mereka. Ini tindakan yang sangat biadab. Kami akan berkoordinasi dengan Polda dan Kodam terkait tindak lanjut untuk menyelesaikan kasus ini. Saya minta tindakan tegas harus dilakukan,”

Baca Juga: 

Aktivis HAM Papua Desak Investigasi atas Pembunuhan 2 Guru di Beoga, Puncak

Dalam penuturan lain, Kapolda Papua Irjen Pol Mathius Fakhiri menyebutkan aksi yang dilakukan KKB di Beoga, akan berdampak pada masa depan generasi muda di Papua.

“Bagaimana jika mereka melakukan di tempat lain? Ini akan membuat masa depan penerus Papua suram. Kami harap hal serupa tak lagi terjadi. Tentu dengan segala upaya kami akan menekan kelompok teroris ini,” ujarnya.

Aksi keji yang dilakukan oleh kelompok teroris di Papua bukan pertama kali terjadi, jauh sebelumnya kelompok tersebut terus-menerus melakukan aksi pelanggaran HAM. Atas insiden berulang tersebut, aktivis HAM Papua, Theo Hesegem turut mendesak berbagai pihak untuk segera menuntaskan kasus tersebut.

“Kami mengecam aksi brutal yang dilakukan oleh kelompok teroris, apa untungnya membunuh guru? Segera dorong tim investigasi untuk hal ini,”

Baca Juga: 

Komnas HAM Papua: Media Separatis Sebarkan Kebohongan atas Penembakan Guru

Namun pernyataan Theo tersebut lntas dipertanyakan dan tak lewat dari dari cemoohan oleh berbagai pengamat di Papua. Salah satunya adalah Franz Korwa sebagai tokoh senior di Papua. Pernyataan Theo dianggap tidak mendasar dan hanya akan membuang-buang waktu.

“Kalimat yang keluar dari mulut Theo ini cuma bualan yang tidak akan mempengaruhi, omong kosong saja itu. Saya yakin jika dia tidak akan melakukannya dengan pasti. Justru apa yang dikatakan itu semakin memperlihatkan kalau Theo adalah bagian dari teroris. Dia hanya berlindung dibalik nama pembela HAM,”

Franz menuturkan jika aksi pelanggaran HAM sudah jelas dilakukan oleh kelompok teroris, sehingga upaya Theo untuk membentuk tim investigasi dianggap aksi percuma.

“Semua juga sudah tahu kalau aksi kemarin dilakukan kelompok teroris, lalu untuk apa dilakukan investigasi? Theo ini tidak paham atau hanya sedang berkelik? Tokoh seperti dia ini sangat percuma,”

Senin, 12 April 2021

Aktivis HAM Papua Desak Investigasi atas Pembunuhan 2 Guru di Beoga, Puncak

wrtsh papua


Aksi brutal kelompok teroris Papua dalam aksi pembunuhan terhadap dua orang tenaga pendidik di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, mendapat kecaman dari aktivis pembela hak asasi manusia (HAM), Theo Hesegem.

Menurut Theo aksi yang menewaskan Oktovianus Rayo dan Yonatan Rende tersebut sudah diluar batas kemanusiaan. Dikatakan jika aksi yang dilakukan oleh kelompok teroris Papua tersebut terlalu gegabah dan sudah sangat mengancam.

“Sebagai pengajar khususnya di Papua, seharusnya komponen pendidik harus diberikan apresiasi yang tinggi. Terlebih mereka juga sebagai warga sipil yang tidak terlibat dalam permasalahan yang terjadi,”

Baca Juga: 

Komnas HAM Papua: Media Separatis Sebarkan Kebohongan atas Penembakan Guru

Dalam keterangan tertulisnya, Theo juga mempertanyakan latar belakang dilakukannya aksi keji tersebut. Menurutnya setiap orang memiliki hak hidup yang setara dengan orang lainnya.

“Tentu sebagai pembela HAM saya sangat menyesali tindakan brutal yang dilakukan oleh kelompok teroris. Sebagai warga negara, mereka juga memiliki kesetaraan hak hidup dengan orang-orang lainnya, termasuk di Papua,”

Theo menambahkan jika pembunuhan tersebut adalah tindakan yang tidak terukur dan merugikan. Menurutnya hal yang paling dirugikan adalah generasi penerus yang berada di Distrik Beoga, terlebih korban pembunuhan adalah guru yang berprestasi dalam karir mengajarnya.

Baca Juga: 

Dua Warga SIpil Dibunuh Teroris Papua, Keluarga Korban Gertak Komnas HAM

“Tindakan yang dilakukan memang tidak terukur dan sangat merugikan, terutama anak-anak di Beoga. Tanpa guru maka masa depan mereka dipertaruhkan dengan cuma-cuma. Saya juga mendapat kabar jika korban adalah salah satu guru yang cukup berpengaruh di Beoga,”

Ditambahkan Theo, untuk membuk atabir atas kasus pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok teroris tersebut perlu dibentuk tim investigasi yang dikendalikan Pemerintah Provinsi. 

"Sehingga hasil investigasi hasilnya dibawa ke Jakarta. Agar ada upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah pusat. Tim yang dimaksud dibentuk secara independen dan profesional, sehingga melibatkan pihak gereja, LSM, Komnas HAM, termasuk pemerhati HAM. sehingga kerja juga dapat terukur dan profesional,"